LNG Disia-siakan, LPG Impor Dibesar-besarkan, Mafia Impor Minyak Masih Berkuasa?
berita
Pikiran Bebas
Ilustrasi kan watyutink.com 15 October 2019 08:30
Penulis

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

Lebih dari 7 miliar kilogram Liquid Petroleum Gas (LPG) disubsidi setiap tahun oleh pemerintah kepada konsumen. Nilai subsidi LPG di dalam APBN mencapai Rp69 triliun lebih. Menduduki peringkat energi dengan subsidi terbesar berada di atas subsidi solar, di atas subsidi minyak  tanah dan  di atas subsidi listrik.

Padahal LPG adalah barang impor. Lebih dari 70 persen LPG yang dikonsumsi masyarakat Indonesia diimpor dari luar negeri. Indonesia menjadi salah satu Negara importir LPG terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan ke 9 negara importir LPG terbesar di dunia. Sebagian besar berasal dari Negara Negara timur tengah. LPG adalah produk turunan dari minyak. Penghasil dan eksportir LPG terbesar di dunia adalah Saudi Arabia, Qatar dan USA. Semua Negara penghasil minyak terbesar adalah eksportir LPG terbesar.  

LPG mendapat prioritas dari pemerintah, dengan alasan untuk pengmetatan impor minyak tanah. Program pengalihan konsumsi minyak tanah ke LPG dilakukan secara masiv. Hal ini tampak dari subsidi LPG yang meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2012. Padahal pengalihan konsumsi minyak tanah ke LPG sama sama menggantikan energy impor yang satu ke energy impor yang lain.

Akibatnya Indonesia menjadi salah satu Negara Negara dengan konsumsi LPG terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan ke 13 sebagai Negara dengan konsumsi LPG terbesar. Konsumsi LPG Indonesia lebih dari 160 ribu setara barel minyak sehari.

Padahal Indonesia adalah Negara memiliki sumber energy gas lain yakni Liquid Natural Gas (LNG). Indonesia merupakan salah satu Negara pemain LNG yang sangat diperhitungkan dalam hal pemasok energy global. Namun sumber energy tampaknya disia siakan alias tidak dikembangkan sebagaimana mestinya. LGN seolah jalan ditempat ditengah meningkatnya kebutuhan energy nasional. Apakah ini disengaja? Apakah ini bagian dari permainan para mafia impor minyak?

Indonesia adalah salah satu Negara eksportir LNG terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan teratas sebagai Negara pengekspor LNG bersama Qatar, Australia, Malaysia, Nigeria dan rusia. Indonesia. Jika rencana gas Blok Masela benar benar benar terealisasi maka Indonesia akan menjadi eksportir terbesar di dunia.

Dengan kekayaan sumber energi LNG yang begitu besar yang dimiliki Indonesia, seharusnya energi LNG ini memperoleh prioritas dari pemerintah untuk menjadi sumber energi nasional. Namun sayangnya LNG diprioritaskan untuk ekspor. Energi yang seharusnya lebih bersih dan ramah lingkungan digunakan secara masif untuk pembangkit listrik, mendukung industri, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Tentu saja didukung dengan riset, development dan pengembangan infrastruktur yang memadai. Tentu juga harus didukung oleh kebijakan dan anggaran yang signifikan. Namun sayangnya ini tidak terjadi. Ini karena mafia impor minyak masih kuasa di Republik Indonesia?

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Krisis APBN Kian Mendekat

24 February 2020

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF