De Civitate Dei: Sebuah Paradoks, Agama dan Perang
berita
Pikiran Bebas
Santo Augustinus, Sumber: wikipedia 21 February 2020 10:00
Penulis

Guru MTs-MA Riyadlul Jannah, Cikundul, Sukabumi.

Troy itself, the mother of the Roman people, was not able, as I have said, to protect its own citizens in the sacred places of their gods from the fire and sword of the Greeks, though the Greeks worshipped the same gods.

Pada bagian keempat buku pertama, Augustinus menyebutkan meskipun bangsa Troya dan Sparta menyembah dewa dan dewi yang sama, namun tetap saja kedua bangsa ini larut dalam kecamuk perang dan pertempuran. Meskipun mereka memegang satu keyakinan, dalam kondisi perang, pedang dan senjata akan lebih memihak kepada kaum biadab. Artinya, para dewa seolah membiarkan begitu saja terhadap pertumpahan darah yang dialami oleh sesama manusia meskipun memegang keyakinan yang sama.

Hal ini tentu kita pandang merupakan sebuah parakdoks, dua hal saling bertolak belakang antara kasih sayang para dewa dengan sikap bengisnya. Kenapa umat manusia sebagai para pemuja dewa dan dewi dibunuh oleh manusia lain sebagai pemuja dewa juga? Bencana kemanusiaan seperti ini memang sudah terhempas jauh dari permasalahan keyakinan. Keyakinan atau agama yang dianut oleh manusia ditempatkan di belakang tujuan-tujuan politik dan kekuasaan.

Contoh yang memiliki kemiripan dengan kondisi di atas adalah saat Ibnu Ziyad membunuh Husein. Sebelum dibunuh, Husein berkata kepada Ibnu Ziyad, kenapa kita harus mengakhiri segalanya dengan pertumpahan darah, antara saya dengan majikanmu masih satu garis keturunan, darah Bani Hasyim dan Bani Umayah masih satu?

Husein berkata lagi, masih kurang yakin dengan alasan bahwa aku dan Yazid masih satu garus keturunan, aku dengan kamu dan klan Umayah masih satu keyakinan, memegang agama Islam, bersembah sujud kepada Alloh, tuhan manusia, bukan begitu? Namun tetap saja, dua hal yang ditawarkan oleh Husein untuk mengehtikan pertumpahan darah dari nilai kemanusiaan hingga nilai keilahian tidak dapat mencegah manusia untuk melampiaskan angkaranya.

Pandangan Augustinus dan penggalan kisah pembunuhan Husein sudah menjadi realitas dalam kehidupan, kapan dan di mana pun selalu memiliki kemiripan, politik dan kekuasaan menjadi salah satu hal yang dapat meruntuhkan sisi-sisi kemanusian dan keilahian. Oleh persoalan politis dan rebutan kekuasaan, manusia meskipun mereka satu keyakinan, satu bendera, satu kota, satu keturunan, satu keluarga, satu negara, dapat saling singgung dan larus dalam pertikaian.

Hal paradoks lainnya dicontohkan kembali oleh Augustinus, jauh sebelum Imperium Romawi mengalami keruntuhan, gereja-gereja dipenuhi oleh harta, emas, dan makanan hasil merampas dari wilayah taklukan. Apakah maksud sebenarnya, manusia memadati tempat suci dengan barang-barang yang dihasilkan dari cara-cara kotor dan haram? Apa maksud manusia mendirikan tempat memuja Tuhan tapi dibiayai dengan harta rampasan?

Dalam kehidupan sehari-hari –di zaman sekarang- banyak sekali contoh paradoks dalam kehidupan manusia jika kita pikir secara jernih. Manusia membangun rumah ibadah, bahan yang digunakan dan dibutuhkan antara lain, kayu berasal dari pegunungan, pasir, batu, semen, dan bahan-bahan lainnya yang dikeruk dari dalam bumi. Setelah selesai dibangun, rumah-rumah ibadah tersebut dijadikan tempat pemujaan kepada Tuhan oleh manusia.

Pada suatu saat timbul bencana, kemarau panjang, air susah didapat, selanjutnya manusia mengajukan permohonan kepada Tuhan agar diturunkan hujan. Padahal kekeringan tersebut disebabkan oleh manusia yang menebangi pepohonan di hutan sebagai bahan bangunan untuk tempat tinggal dan rumah-rumah ibadah.

Augustinus mengungkapkan: In fine, the gentle Greeks appropriated that temple of Juno to the purposes of their own avarice and pride; while these churches of Christ were chosen even by the savage barbarians as the fit scenes for humility and mercy. Pranata-pranata keagamaan dapat dijadikan alat keserakahan manusia seolah memperlihatkan sikap santun dan baik padahal di balik itu ada kelicikan yang siap mencekik leher siapa pun. Pranata keagamaan juga dapat digunakan tempat persembunyian oleh manusia-manusia biadab dan kasar untuk menyamarkan kebiadan dan kejahatannya. 

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF