De Civitate Dei: Keruntuhan Romawi oleh Bangsa Visigoth
berita
Pikiran Bebas
Augustinus, Sumber: wikipedia 18 February 2020 09:00
Penulis

Guru MTs-MA Riyadlul Jannah, Cikundul, Sukabumi.

Sedang musim apa di jagat maya? Masih membicarakan residu perdebatan Pilpres, kah? Peran kita di perhelatan demokrasi lima tahunan menjadi apa, sekadar menjadi komentator, atau menjadi tim suskes pasangan calon? Bagi pengguna media sosial dapat saja mereka berperan dan berperang –paling tidak menjadi komentator-, tapi bagi masyarakat di perkampungan hanya bisa menonton adegan-adegan hingga drama-drama politik di televisi saja.

Saya sama sekali tidak sedang berapatis dan bersinisme ria. Namun sedang mencoba menempatkan diri berada pada posisi yang tepat, sedikit menjauh dari hiruk-pikuk perdebatan agar setiap permasalahan dapat dilihat secara proporsional.

Beberapa bulan lalu saya sengaja ke Perpustakaan Umum Daerah Kota Sukabumi, mencari-cari sebuah buku klasik abad pertengahan karya Augustinus, De Civitate Dei versi Bahasa Indonesia. Sayang sekali saya tidak menemukannya. Mungkin buku ini  merupakan buku langka diterbitkan dalam jumlah terbatas. Beruntung sekali, Guttenberg Project menyediakan secara lengkap kumpulan buku-buku klasik, salah satunya De Civitate Dei  dan telah diterjemahkan dari bahasa aslinya, Bahasa Latin ke Bahasa Inggris.

Kenapa keberadaan buku-buku klasik abad pertengahan entah itu yang ditulis oleh para sarjana Eropa atau Muslim harus dihadirkan di masa kini? Ini tidak terlepas dari saling silang pengaruh antara masa lalu dan masa kini. Dihadirkan masa lalu dalam rangkaian kalimat sejarah di buku-buku sejarah sebenarnya memang ada kepentingan dari siapa pun untuk menghadirkannya. Sebagai contoh, kenapa sejarah masa lalu nenek moyang kita harus dikisahkan kepada generasi sekarang? Kepentingannya adalah agar generasi sekarang sadar terhadap kejayaan masa lalu.

Posisi abad pertengahan bagi kita

Bagi kita, abad pertengahan dapat dikatakan memiliki peran penting dalam salah satu episode perkembangan sejarah manusia. Di dunia Islam, dari semenanjung Arabia sampai ke Afrika di bagian selatan, dan sebagian Russia di sebelah timur, abad pertengahan merupakan satu fase ketika nilai-nilai dalam Al-Quran dibumikan oleh para sarjana muslim ke dalam beragam pengetahuan. Proyek ilmiah para sarjana muslim tidak hanya selesai dan dikembangkan di wilayah-wilayah muslim saja,  juga melebar sampai ke Eropa Selatan.

Pertarungan pemikiran para sarjana berlangsung melalui buku-buku yang mereka terbitkan. Hal paling penting darinya, ilmu tidak dibatasi oleh keyakinan. Sarjana-sarjana muslim seperti Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Al-Kindi, Ibu Sina, dan Al-Ghazali mendapat tempat penting dalam peradaban Eropa. Eropa menjuluki Avveroes sebagai The Great Commentator (sang penafsir) karena dapat menafsirkan karya-karya Aristoteles sebagai jembatan dipahaminya pandangan-pandangan Aristoteles di Eropa.

Tentang Augustinus, dalam sejarah disebutkan, dia tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Seorang manusia biasa, pernah menjadi seorang penganut paganisme sebelum mengonversi keyakinannya menjadi pemeluk Kristen yang taat. Kesalahan atau dosa selama hidupnya dibahasakan sendiri dalam salah satu bukunya, Confession (pengakuan diri). Ia sangat memahami, hidup dan kehidupan manusia bukan sebuah penggaris yang dapat saja lurus, atau seperti air di sungai, mengalir ke dataran rendah. Baginya, hidup dipenuhi oleh jalan berliku, berbatu, terjal, dan curam.

Kota Ilahi

Karya monumental seorang Augustinus yaitu De Civitate Dei (Kota Tuhan), dituntaskan pada abad ke-5 M. Buku ini memuat 22 bagian. Untuk memahami isi buku ini secara keseluruhan melalui penelitian dan memberikan komentar secara mendalam mungkin memerlukan waktu yang cukup lama. Sambil belajar, mungkin saya akan mencoba mengulas sedikit demi sedikit dan memberikan komentar terhadap pokok bahasan Augustinus dalam buku Kota  Ilahi tersebut.

Secara harfiah, De Civitate Dei berarti Kota Tuhan, dalam versi Bahasa Inggris diberi judul The City of God. Memerhatikan arti kata, civitate berasal dari kata civic yaitu hal-hal yang berhubungan dengan masalah keduniawian. Pada perkembangan selanjutnya, kata civic ini diturunkan menjadi civil (sipil) dan digunakan oleh masyarakat modern sebagai sebutan bagi komunitas yang telah memiliki peradaban dalam kehidupan.

Dapat dikatakan wajar jika Augustinus menggunakan kata Civitate Dei pada kumpulan risalahnya. Karena di dalam keyakinan Kristen disebutkan sorga akan terbangun di bumi ini saat nilai-nilai ilahi telah memenuhi realita di dalam kehidupan. Idealisme Augustinus sangat besar dipengaruhi oleh Neo Platonisme, salah satu aliran filsafat yang memiliki tujuan  merealisasikan kembali pemikiran Platon.

Intisari De Civitate Dei

Bagian pertama dalam De Civitate Dei memaparkan keruntuhan kekaisaran Romawi oleh komunitas pagan, Visigoth. Saat kekuasaan dikendalikan oleh sebuah bangsa yang jauh dari nilai ketuhanan, negara dipenuhi oleh potensi-potensi kejahatan. Augustinus menuliskan sebuah kalimat, Many of them, indeed, being reclaimed from their ungodly error (mayoritas manusia memperlihatkan kesalahannya secara kasat mata atau terang-terangan)

Sebagai seseorang yang baru saja melakukan pertobatan, ia merasa heran, kenapa kekaisaran Romawi yang telah lama menguasai sebagian besar dunia dan telah mengonversikan keyakinan dari paganisme kepada Kristen dapat dikalahkan oleh bangsa baru? Bahkan, bangsa Visigoth dapat disetarakan dengan bangsa barbar.

Augustinus memberikan pandangan terhadap sikap orang-orang Romawi sebagai sekelompok manusia seolah-olah merasa bangga dan hidup dalam sikap angkuh dengan keyakinan Kristen, padahal nyata-nyata kehidupan mereka bergelimpangan mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya.They attribute not to our Christ, but to their own good luck, ungkap Augustinus. Masyarakat juga memiliki ketakutan berlebihan jiga popularitas tidak mereka raih. Sikap seperti ini, karena mementingkan kemasyhuran diri, telah menjauhkan mereka dari kebersamaan. Masyarakat hidup dengan penuh rasa curiga, dengki, dan hasudan.

Jangankan memiliki semangat untuk membela kekaisaran, manusia-manusia seperti ini, dalam pandangan Augustinus saat terjadi serangan dari Visigoth lebih memilih menghindar dari pusat kekuasaan, menjauh ke daerah-daerah pinggiran.

Ibnu Khaldun pernah membahas mentalitas manusia seperti pernah dialami oleh kekaisaran Romawi di dalam Mukadimah. Dua hal dapat menjadi penyebab sebuah bangsa mewujud menjadi masyarakat yang jatuh pada kehancuran. Pertama, ketika anggota masyarakat sudah tidak dapat mengendalikan sikap agresif kebinatangan di dalam dirinya. Artinya, di dalam tubuh masyarakat  seperti itu sudah tidak ada lagi tokoh atau panutan yang dapat dijadikan tauladan oleh anggota masyarakat lainnya.

Kedua, Ibnu Khaldun mengelaborasi teori siklus saat melakukan penelitian terhadap kondisi masyarakat perkotaan (urban). Kaum urban ini memiliki kencenderungan lebih mementingkan diri sendiri daripada menguatkan solidaritas kelompok. Hal tersebut seperti yang telah dialami oleh orang-orang Romawi, mereka kehilangan semangat dalam membela sesama. Apa yang dialami oleh kekaisaran Romawi, disebutkan oleh Augustinus, orang-orang Romawi telah jauh dari norma kehidupan, aturan-aturan ilahi yang seharusnya berlaku di hari kemudian, sebagai penetapan dari Tuhan, oleh manusia-manusia pendompleng keyakinan diwujudkan di dunia. Sebagai contoh, pembakaran para pelaku bid’ah, penganut ajaran sesat, dan penghukuman secara verbal kepada penganut keyakinan lain sebagai orang-orang sesat merupakan hak Tuhan yang dirampok oleh manusia.

Romawi telah dijadikan kekaisaran yang sangat besar tapi kurang bersyukur kepada Tuhan. Seperti kalimat yang ditulis oleh Augstinus: Therefore ought they to give God thanks, and with sincere confession flee for refuge to His name, that so they may escape the punishment of eternal fire -- they who with lying lips took upon them this name, that they might escape the punishment of present destruction. Seharusnya mereka bersungkur di hadapan-Nya.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila