Subsidi LPG 3 Kg Jadi Juara Subsidi 2019
berita
Pikiran Bebas
ilustrasi gie watyutink.com 18 September 2019 09:15
Penulis

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

Aneh bin ajaib, harga gas stagnan dan cenderung turun dalam lima tahun erakhir, namun subsidi LPG 3 kg menjadi juara dalam ukuran besaran subsidi pada tahun 2019. Hal ini menjadi anomali di saat produksi gas nasional meningkat dan mengalahkan produksi minyak. Bahkan Indonesia telah menjadi salah satu produsen gas utama dan salah satu negara eksportir gas terbesar di dunia. 

Namun ternyata kekayaan gas melimpah ternyata mewariskan beban yang selalu dikeluhkan pemerintah yakni subsidi. Bahkan subsidi LPG 3 kg tahun 2019 mencapai Rp69,64 triliun, jauh meninggalkan atau mengalahkan subsidi lainnya, seperti subsidi premium 0 rupiah, subsidi solar dan minyak tanah Rp31,4 triliun, subsidi listrik Rp59,3 triliun. 

* Subsidi dalam triliunan rupiah

Beban subsidi yang dikeluhkan pemerintah adalah berasal dari selisih perhitungan harga keekonomian produsen LPG, dalam hal ini Pertamina (sekarang pertamina gas berada di bawah PGN), dengan harga yang ditetapkan pemerintah. 

Pertanyaannya adalah: apakah biaya produksi LPG yang terlampau mahal? Atau apakah harga yang ditetapkan pemerintah yang terlalu murah? Atau apakah asumsi asumsi yang dibuat pemerintah dalam menentukan besaran subsidi yang salah atau meleset? Tiga tiganya bisa benar semua. 

Sebagaimana diketahui bahwa subsidi tahun 2019 termasuk subsidi LPG tabung 3 kg tersebut menggunakan asumsi dan parameter antara lain:

(1) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar Rp15.000/ dolar AS;

(2) Asumsi ICP sebesar 70 doral AS/barel;

(3) Volume BBM bersubsidi sebesar 15.110 ribu kiloliter;

(4) Subsidi terbatas minyak solar sebesar Rp2.000/liter; dan

(5) volume LPG tabung 3 kg sebesar 6,97 miliar kg.

Volume LPG 3 kilogram (kg) subsidi tahun ini mengalami kenaikan 7 persen dalam APBN 2019 menjadi 6,97 miliar kg dari realisasi 2018 sebesar 6,55 miliar kg. Dua asumsi utama yakni ICP dan nilai tukar meleset jauh. 

Dalam kondisi APBN yang terus memburuk dalam tahun ini dan tahun tahun mendatang, besarnya subsidi LPG 3 kg akan menjadi masalah besar bagi Perusahaan Gas Negara (PGN) di masa mendatang. Beban subsidi akan ditanggung oleh PGN sangat besar terutama jika pemerintah tak sanggup membayar subsidinya. Mengingat harga LPG 3 kilogram ditetapkan oleh pemerintah. Nasib LPG bisa seperti BBM premium. Harga ditetapkan pemerintah namun subsidinya nol rupiah. Kalau begini PGN bisa ambruk.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF