Seandainya Kita Bisa Mencipta Sejarah Alternatif 21 Februari
berita
Pikiran Bebas
. 21 February 2020 09:10
Penulis

Penulis buku Seandainya Tuhan Bisa Mengubah Sejarah terbit di 75 th RI

Pada tahun 1848, Karl Marx dan Fredrich Engels menerbitkan buku Manifesto Komunis, yang akan sempat  mempengaruhi sepertiga umat manusia di dunia untuk menguji coba Marxisme komunisme selama 74 tahun, sejak 1917 di Rusia sampai bubarnya Uni Soviet 1991.

Sedangkan pada tahun 1921 lahirnya filsuf politik aliran liberal Jown Rawls di AS, yang memberikan sintesis teori sosial demokrasi liberal yang menghargai meritokrasi sambil tetap menyantuni kelompok masyarakat yang tertinggal, tanpa menghambat konstestasi individual berbasis equal klaim akan kesempatan luar terbuka dalam persaingan produktivitas. Tahun 1999  dalam buku Law of the People Rawls seolah meramalkan bahwa dalam mandala global, kekuatan lebih yang dimiliki oleh negara demokrasi boleh dipakai untuk mendemokratiskan negara gagal, yang membiarkan pelanggaran HAM berat democide terhadap rakyatnya sendiri .

Kemudian pada tahun 1957, Presiden Sukarno mengumumkan Konsepsi Presiden untuk menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin sebagai alternatif dari demokrasi liberal Barat, yang tidak cocok untuk Indonesia. Presiden mengusulkan pembentukan Kabinet Gotong Royong kaki-4, mengikutsertakan semua partai terutama empat besar pemenang pemilu 1955. Waktu itu kabinet Ali Roem Idham hasil Pemilu 1955 hanya koalisi PNI Masyumi dan NU serta mengucilkan PKI di luar kabinet.

Presiden juga mengusulkan pembentukan Dewan Nasional memberdayakan golongan fungsional di samping partai politik dan kabinet. By the way pada 20 Februari 1957 adalah lahirnya Astra dan 21 Februari 1957 adalah berdirinya Bank  Central Asia, yang dalam sejarahnya pernah mempunyai Komisaris  bernama Hasan Din, ayahanda Ibu Negara Fatmawati. Tentu saja itu sejarah lama era 1950-an ketika Jenderal Soeharto hanya jadi Panglima Diponegoro. Nasib dua konglomerat pendiri Astra dan pendiri BCA berbeda, tapi sangat saling terdampak dengan dinasti politik Indonesia. Tahun 1957 pada 10 Desember juga adalah lahirnya Permina dibawah Ibnu Sutowo yang akan menggurita jadi cikal bakal Pertamina.

Konsepsi Presiden itu memang akan terwujud secara “terpaksa” setelah Kabinet Ali jatuh Maret 1957, dan digantikan oleh Kabinet Karya Juanda yang disusun oleh Presiden Sukarno sendiri sebagai formatur memicu ketidakpuasan berupa  pemberontakan PRRI Permesta, 15 Februari 1958. Dekrit Preiden kembali ke UUD 1945 pada 5 Juli 1959 mengukuhkan doktrin Konsepsi Presiden 21 Februari dengan dibentuknya Kabinet Kerja dipimpin Presiden Sukarno sendiri sebagai Perdana Menteri dan mantan PM Ir Juanda jadi Menteri Pertama.

Ideologi komunisme sedang mengalami pasang naik 1957, karena Uni Soviet mengorbitkan Sputnik dan mengorbitkan kosmonaut Uni Soviet mendahului AS. PKI memenangkan pemilu DPRD 1957 dan beberapa kursi Gubenur seperti Bali dan Walikota Solo diduduki oleh kader atau diusung  oleh PKI.  Perjuangan Irian Barat menutupi  konflik api dalam sekam antara TNI/AD membendung PKI, setelah pembubaran Masyumi/PSI 1960. 

PKI mengklaim sebagai partai komunis terbesar diluar RRT dan Uni Soviet dalam acara HUT 45 tahun PKI 20 Mei 1965 di Stadion Utama. Tapi klaim arogan itu bagaikan balon meletus ketika kudeta G30S ditumpas habis oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto, pada 1 Oktober 1965. Dalam 100 hari sejak 1 Oktober, situasi Indonesia memburuk dan sanering Rp1.000 uang lama diganti Rp 1 uang baru pada 13 Desember 1965. Hal ini memicu demo besar mulai 10 Januari 1966, yang hanya memakan waktu 60 hari lagi untuk memaksa Bung Karno mengeluarkan Supersemar, membuka peluang bagi Soeharto untuk secara bertahap melengserkan kudeta merayap.

Bung Karno kembali melakukan blunder ketika memecat Menko Hankam, KASAB Jenderal A H Nasution pada reshuffle Kabinet Dwikora II 24 Februari 966,  memicu demo yang menewaskan Pahlawan Ampera Arief Rahman Hakim.

Dengan Supersemar, Soeharto menahan 15 Menteri Kabinet Dwikora II dan menciutkan jadi Kabinet Dwikora III, serta merombak Kabinet 100 menteri dengan menurunkan pangkat separuh menteri jadi deputy menteri (termasuk bekas Menko Maritim Ali Sadikin). Untung  Bung Karno sempat mengangkat Ali Sadikin sebagai Gubernur pada 28 April 1966 sebelum Sidang Umum KeIII MPRSyang  mengubah status Supersemar dari sekadar perintah presiden menjadi Ketetapan MPRS, yang justru akan dipergunakan oleh Soeharto sebagai keris Empu Gandring untuk mencabut kekuasaan Presiden Sukarno secara bertahap melalui MPRS.

Melalui proses SU III MPRS 22 Juni-5 Juli 1966, TAP MPRS mewajibkan Presiden Sukarno membentuk Kabinet Ampera  dengan Jenderal Soeharto sebagai Ketua Presidium Kabinet. Maka Kabinet Dwikora III diganti Kabinet Ampera 25 Juli 1966. 

Laporan Pertanggungjawaban Presiden Sukarno yang diberi judul Nawaksara ditolak oleh MPRS dan DPRGR, dan kemudian memproses pemakzulan sejak 9 Februari 1967 setelah penjelasan tambahan Presiden Sukarno Pelengkap Nawaksara juga ditolak MPRS pada 10 Januari 1967. Maka pada 20 Februari 1967, Bung Karno menyerahkan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto selaku Pengemban Supersemat. Penyerahan kekuasaan 20 Februari diumumkan 21 Februari, dan Soeharto dikukuhkan menjadi Pejabat Presiden oleh MPRS pada 12 Maret 1967.

Fast forward ke 1972, 21 -28 Februari  Presiden Nixon melakukan lawatan terobosan ke Beijing, ber-KTT dengan Ketua Mao Zedong.

Semua peristiwa itu telah menjadi sejarah yang tidak bisa diubah oleh siapapun. Yang ingin saya tekankan dengan mazhab alternative history, yang mulai berkembang setelah terbitnya buku What If  Jesus Have Never Been Born oleh James Kennedy 1994 dan What If oleh Robert Cowley 2003, adalah seandainya beberapa putusan yang kemudian akan jadi blunder sejarah itu bisa dihindari oleh yang bersangkutan, tentu catatan sejarah akan berbeda.

Tapi seperti dikata kuncikan oleh Hendrik Willem van Loon, yang wafat 11 Maret 1944, bahwa Even God Cannot Change History.  Kita dan bahkan Tuhan tidak bisa mengubah sejarah, tapi kita semua bisa membuat dan mengambil kebijakan sekarang berdasar pengalaman masa lalu, agar sejarah masa depan kita tidak sekedar daur ulang blunder sejarah masa lampau.

Dengan catatan itu saya kirimkan kolom ini kapada Bapak Jenderal AM Hendropriyono dan ibu Taty beserta Mas Andhika mas Diaz, anak cucu cicit sekalian. Selamat bersyukur memasuki Kawin Emas semoga tetap bahagia di masa depan, melintasi usia seabad yang sudah menjadi standar WHO bahwa manusia akan bisa menuju Homo Deus berusia seabad.

Semoga prediksi itu tidak dikalahkan oleh Covid-19. Tapi kalau membaca sejarah tentang 21 Februari  yang masih banyak bisa digali kita harus tetap optimis, beriman dan bersyukur serta berpengharapan dan bekinerja untuk turut menciptakan Sejarah yang lebih bahagia dan terutama tidak mendaur ulang blunder masa lalu. God bless us all.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)