Revolusi Industri 4.0: Peluang Tujuan Ekspor Dan Masyarakat Ekonomi Asean
berita
Pikiran Bebas
ilustrasi gie watyutink.com 19 March 2019 10:00
Penulis

Pengajar Internasional Politics and Economics of MNC, Jurusan HI, Universitas BINUS

Perdagangan internasional memiliki sejarah panjang dalam peradaban dunia. Mulai dari era merkantilisme sampai pada era revolusi 4.0. Perdagangan internasional berdampak besar terhadap penumpukan modal sebuah bangsa. Kaum merkantilis menggunakan surplus perdagangan dan modalnya untuk semakin memperkuat pengaruhnya dengan memperkuat power militer maupun power ekonominya. Sehingga ekspor tak hanya terbatas pada masalah ekonomi, tetapi sekaligus mempengaruhi kondisi politik internasional.

Kaum merkantilis atau nasionalis menjadikan campur tangan pemerintah sebagai alat untuk memperbanyak surplus perdangangan dan modalnya, sedangkan kaum liberalis menghendaki campur tangan pemerintah semakin dijauhkan dari urusan harga pasar. Berawal dari keterangan dan penjelasan singkat merkantilisme (nasionalisme) dan liberalisme ini sangat kontradiktif dengan fenomena hari ini. Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal sebagai pelopor perdagangan bebas justru membuat kebijakan yang semakin protektif terutama pada industri baja dan alumunium dari China. Hal yang kemudian berlanjut dengan perang dagang AS vs China.

Dampak perang dagang ini mengakibatkan performa ekonomi Indonesia turun. Ekspor kita pada Januari 2019 turun 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini karena tiga negara pasar tradisional ekspor Indonesia yaitu AS, China dan Jepang mengalami penurunan hingga 430 juta dolar AS. Seperti yang disampaikan oleh Menko Darmin Nasution (Republika,17/3/2019). Sehingga dalam perang dagang AS vs China praktis indonesia tidak mampu mencegah. Yang bisa dilakukan adalah mengantisipasi dengan baik. Seperti yang disampaikan oleh Dirjen Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Roberto Azevedo pada pertemuan World Bank dan IMF(Kontan, 2018).

Secara teori, peningkatan ekspor akan berdampak pada peningkatan investasi. Peningkatan investasi akan meningkatkan terciptanya lapangan pekerjaan. Ekspor, dan investasi merupakan komponen penting yang berdampak terhadap penerimaan negara.

Ekspor dari sektor manufaktur menyumbang 70 persen, pertanian 10 persen. Mineral dan migas 15 persen, sedang sisanya dari berbagai jenis komoditas dari total perdagangan dunia (WTO, 2017). Sektor manufaktur sebagai penyumbang penting Ekspor dan Investasi.

Arsitektural International Production Network (IPN) menyebutkan, secara internasional pusat pasar expor terbesar adalah Amerika dan Eropa. Kedua pasar tersebut dipenuhi oleh tiga negara besar yaitu China, Jepang dan Korsel. Kemudian  masih ditopang oleh negara-negara ASEAN termasuk Indonesia salah satunya. Sehingga saat AS melakukan proteksi terhadap China maka Indonesia akan terdampak secara otomatis. Jaringan ini merupakan bagian dari sistem Global Supply Chain (GSC). Kontribusi Indonesia dalam GSC masih kecil dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya. Tercatat oleh WTO, indeks kontribusi Indonesia sebesar 43,5 di bawah rata-rata kontribusi agregat negara berkembang sebesar 48,5. Ditambah dengan kondisi sektor manufaktur yang Index Industrinya pada 2018 terjadi penurunan dibandingkan 2017, dari 52.02 persen menjadi 51.92 persen (Tempo,2018).

Dari gambaran di atas bisa disimpulkan bahwa Indonesia menghadapi dua masalah utama yaitu pertama, Indek industri (manufaktur) yang semakin menurun. Kedua, Keterlibatan pada jaringan global production dan global supply chain (pasar ekspor) yang masih kecil serta terbatas hanya pada beberapa pasar tradisional.

Untuk meningkatkan industrialisasi dan perdagangan Internasional, adalah dengan meningkatkan Comparative Advantage dari sisi pemerintah Indonesia dan sekaligus meningkatkan competitive advantage dari sisi swasta/industrialis di Indonesia. 

Comparative Adavantage Indonesia di bandingkan dengan negara lain di dunia seharusnya memiliki potensi yang baik apalagi dengan Vietnam, Thailand dan Malaysia. Sumber Daya Alam, luas tanah maupun kuantitas sumber daya manusia kita jauh diatas mereka.Tetapi kenyataannya keterlibatan Indonesia dalam GVC maupun ekspor berada di bawah tiga negara tersebut.

Untuk membantu menjelaskan, maka melakukan komparasi dengan Vietnam menjadi menarik untuk digunakan sebagai bahan pelajaran. Vietnam merupakan salah satu negara yang dianggap paling cepat melakukan adaptasi pada era krisis ekonomi global 2008. Sehingga mampu bangkit dan menjadi pemain penting dalam ASEAN Economic Community (AEC). Seperti yang disampaikan oleh Jonathan Pincus seorang scholar economics dari Fulbright yang juga seorang pengajar kuliah kolaboratif antara Harvard Kennedy School dengan the Economics University of Ho Chi Minh City dalam atikelnya “Sustaining Growth in Difficult Times” yang dipublikasikan di ASEAN Economic Bulletin Volume 26, Number 1, April 2009.

Vietnam mendorong ekspor barang yang berasal dari Usaha Kecil Menengah (UKM), sehingga UKM menjadi positif kontribusinya terhadap PDB. Hal ini terbukti pada 2017, pertumbuhan ekspor melampaui pertumbuhan impor. Bank sentral, membuat kebijakan dengan subsidi suku bunga. Pada tahun 2016 dengan memangkas suku bunga pinjaman komersial sebesar 0,5 persen -1,0 persen. Akibatnya, kredit tumbuh sekitar 19 persen. Surplus transaksi berjalan diperkirakan sama dengan 3,3 persen dari PDB.

Menurut data Asian Development Bank 2017, Ekspor barang dagangan meningkat sekitar 8,5 persen, sedangkan pertumbuhan impor melambat tajam menjadi sekitar 4,6 persen.

Performa Ekspor Indonesia pada tahun 2013 adalah sekitar 369 miliar dolar AS sedangkan Vietnam sekitar 265 miliar dolar AS. Pada 2017, Indonesia sekitar 326 miliar dolar AS sedangkan Vietnam menjadi 424 miliar dolar AS.

Sehingga kurun 2013-2017 Indonesia mengalami penurunan sebesar 43 miliar dolar AS, sedangkan Vietnam mengalami pertumbuhan 159 miliar dolar AS. Hal ini karena adanya konsep yang jelas dari pemerintah Vietnam dengan menurunkan suku bunga plus mendorong UKM untuk ekspor.

Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia pada 2013 adalah 18,443 miliar dolar AS sedangkan Vietnam  8,900 miliar dolar AS. Pada 2017 PMA Indonesia 23,063.6 dolar AS dan Vietnam 14,100 dolar AS. Sehingga pada periode 2013-2017 investasi asing Indonesia tumbuh 4.620 miliar dolar AS sedangkan Vietnam tumbuh sebesar 5.200 miliar dolar ASUSD (Asean Statistical Year book, 2018). Nominal pertumbuhan investasi Vietnam menunjukan bahwa Investor Vietnam memiliki Comparative Advantage yang lebih baik daripada Indonesia.

Competitive Advantage adalah kemampuan industri baik skala besar maupun UKM dalam meningkatkan daya saingnya terhadap pasar global. Terutama kemampuan menjangkau keterlibatan dan kontribusi dalam IPN dan GVC.

Hal ini terbukti bahwa export ASEAN termasuk Indonesia, Vietnam, Thailand dan lainnya porsi terbesarnya adalah “Electrical machinery and equipment and parts thereof; sound recorders and reproducers; television image and sound recorders and reproducers, parts and accessories of such articles” yang memiliki kontribusi sebesar 26 persen dari seluruh total ekspor negara anggota ASEAN (Asean Statiscal Year book, 2018).

Dengan banyaknya ekspor dan investasi di bidang komoditas ini bisa disimpulkan Indonesia kalah bersaing baik secara kebijakan pemerintah maupun pelaku industri dalam memenuhi kebutuhan pasar tersebut.

Solusi yang perlu dipertimbangkan adalah:

Pertama, pemerintah harus fokus pada peningkatan Industri dalam negeri dengan insentif dan meningkatkan keterlibatan dalam GVC. Membuka kerjasama dengan negara-negara di luar market tradisional. Sangat disarankan untuk memperkuat jaringan produksi dan GVC intra AEC.

Perdagangan intra ASEAN. Indonesia memiliki potensi menjadi pemain penting karena memiliki modal wilayah, jumlah SDM dan SDA terbesar di ASEAN. Peluang merealisasikan Single Market And Production Base. Karena 98 persen pelaku ekonominya adalah sektor informal dan UKM.

Di era Revolusi industri 4.0 dan Business to Customer (B2C), maka UKM memiliki potensi besar untuk berkiprah meramaikan pasar domestik ASEAN. Insentif bisa berupa modal, akses pasar dan pelatihan yang terintegrasi dengan pendekatan people to people antar pelaku di wilayah ASEAN sendiri. Pendekatan bapak angkat seperti era orde baru layak dipertimbangkan untuk dihidupkan kembali atau Sogo Shosa, sebuah konsep pengembangan industri dengan pola kerjasama home Industry dengan Konglomerat Jepang  Sehingga konsep revolusi 4.0 yang kolaboratif dan sharing economy menjadi lebih mendekatkan proses integrasi ekonomi ASEAN dan bukan menjadi musuh bagi pelaku UKM. Tetapi justru menjadi salah satu solusi untuk me leverage UKM.

Kedua, kapasitas kemampuan Industri harus ditingkatkan menjadi lebih kompetitif, karena era Revolusi Industri 4.0 sudah tidak bisa ditunggu. Beberapa negara bahkan sudah beranjak ke level Revolusi Industri berikutnya.

Daya saing yang diperlukan adalah kemampuan beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang berubah. Tata kelola operasional bisnis “Small but powerfull” seperti yang ramalkan oleh John Naisbitt dalam bukunya yang sangat terkenal di awal milenial “Megatrend 2000” ternyata saat ini menjadi kenyataan. Banyak peluang UKM terlibat dalam perdagangan internasional, terutama yang kreatif dan berorientasi pada produk jadi. (pso)

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Karena Tak Melibatkan Ahli Kesehatan             Perlu Rekayasa Kebijakan Naikkan Daya Beli             Civil Society Perlu Awasi Hitung Suara             Holding BUMN Penerbangan             Saatnya Rekonsiliasi             Klaim Prabowo-Sandi Perlu Dibuktikan             Perlu Sikap Kesatria Merespons Kekalahan Pilpres             KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha