Redenominasi atau Dolarisasi Rupiah
berita
Pikiran Bebas
Ilustasi Anatomi 75 Tahun Rupiah - Christianto Wibisono 08 July 2020 07:00
Penulis

Penulis buku Wawancara Imajiner dengan Bung Karno, 1977

After eight defaults, it needs a currency that it can’t print, game or otherwise defile. By Mac Margolis, Bloomberg, October 30, 2019.

25 Federal Reserve Bank of Chicago Since Argentina is in practice already quite close to being fully dollarized, it presents a good illustration of what is (and is not) required for a successful dollarization and what are the costs and benefits associated with it.

We first present the facts about Argentina's case, in particular the historical background to Argentina's peg to the dollar since 1991. We then describe the possible forms that dollarization could take, present the benefits that have been suggested, consider possible costs and objections, and carry out a rough cost benefit comparison.

At the turn of the twentieth century, Argentina was one of the ten or 15 richest countries, and its gross domestic product (GDP) per capita was only 40 percent lower than that of the world leader (the United Kingdom).

 

Hari Selasa, 7 Juli 2020, mulai merebak  ide Redenominasi di medsos dan media mainstream. Bung Karno (BK) segera menggelar Sarasehan Indonesian Presidents Club. Jenderal Soeharto muncul dengan battle dress. Habibie pakai safari birokrat dan Gus Dur santai pakai sarung dan baju koko. Bung Karno tetap necis  pakai jas dan peci memegang tongkat  komando tapi gaya santai.

BK: Lho, Anda ngapain pakai battle dress Jenderal Harto?

Soeharto: Saya tahu kalau bicara redenominasi pasti bakal emosional. Saya karena itu pakai battle dress lapangan sebab memang ternyata musuh kita selama 75 tahun republik itu ya inefisiensi bangsa kita. Yang kita semua punya andil dalam mengakumulasi kinerja memble, yang sebetulnya simple mempertahankan nilai mata uang dengan ekspor, ekspor dan ekspor! Anda harus ekspor atau mati.

Indonesia 200 tahun diurus oleh 31 Gubernur Jenderal VOC, 35 Gubernur Jenderal Hindia Belanda termasuk peralihan Inggris di bawah Raffles. Setelah VOC bubar bangkrut karena korupsi maka didirikan De Javasche Bank (cikal bakal Bank Indonesia dengan 16 Gubernur).

Tahun 1950 Menkeu Syafrudin dari Masyumi menggunting uang, maka konflik dengan DJB dan dinasionalisasi 1953 (dibeli pakai harga nominal saham di bursa Amsterdam dan Jakarta, lho). Maka Syafrudin  menjadi Gubernur  De Javasche Bank ke-17, dilanjutkan jadi Gubenur Bank Indonesia 1953-1958. Tahun itu Syafrudin ikut PRRI, diganti Mr Lukman Hakim dari PNI.

Nah, tahun 1959 ketika saya diberhentikan karena dianggap smokel nyelundup hasil bumi barter, Pemerintah PM Juanda dan Menkeu Notohamprojo sanering mata uang Rp1.000 danRp 500 dihapus nolnya. Itu buat teknokrat cuma hapus angka, buat rakyat daya beli tinggal 10 persen. Gubernur BI Lukman Hakim mengundurkan diri sebagai protes diganti oleh Sutikno Slamet. 

Ekonomi terus memburuk karena biaya operasi pemadaman pemberontakan PRRI/Permesta dan nasionalisasi perusahaan Belanda. Saya dipercaya jadi Panglima Mandala Operasi Pembebasan Irian Barat , tapi  untung sudah didamaikan oleh Presiden Kennedy. Tapi Bapak operasi ganyang Malaysia dan situasi politik memanas konflik TNI-PKI,  semuanya sudah jadi sejarah. 

Yang akan menurunkan nilai rupiah secara drastis untuk ketiga kalinya adalah  Menkeu Sumarno, yang menjadi Gubernur BI ke-4, diganti oleh Jusuf Muda Dalam sebagai Gubernu BI ke-5. Dua orang inilah yang sebetulnya memudahkan hok gie saya naik tahta, karena sanering 13 Desember 1965 Rp1.000 jadi Rp 1 uang baru justru mempercepat lengsernya Bapak. Jadi saya nostalgia pakai battle dress menghadapi situasi politik konflik konfrontasi dan Tritura.

Saya siap tempur, keki kenapa 2 presiden jatuh karena rupiah. Masak ini situasi mau diputar sama dengan 1966 dan 1998 lagi. Itu sebabnya saya nostalgia pakai battle dress mau mempertahankan presiden konstitusional ke-7. Mas Jokowi agar tidak dijatuhkan oleh isu 7 Juli 2020 redenominasi. Monggo Bapak yang lebih intelektual menguraikan lebih ilmiah.

BK: Saya belajar dari sejarah, tapi kadang-kadang situasi eksternal yang menjerumuskan saya. Dan memang kadang- kadang memang saya terlalu percaya menteri kabinet, akhirnya salah putuskan kebijakan 13 Desember 1965, lalu saya reshuffe kabinet 21 Februari 1966 memecat Jenderal Nasution yang kemudian anda orbitkan jadi Ketua MPRS. Kemudian Supersemar bikinan saya kamu jadikan TAP MPRS, malah untuk melengserkan saya. Semua itu terjadi juga karena faktor predestinasi geopolitik yang merupakan misteri  Tuhan.

Kenapa saya terjebak pada konfrontasi Malaysia. Kenapa terjadi perang saudara PKI dan TNI, dengan akibat ekonomi memburuk. Tapi Orde Baru juga jatuh karena tidak mampu mempertahankan ekspor setelah rezeki minyak dan kayu  memberi nikmat mewah pada kontraktor migas dan operator HPH.

Ada raja migas Ibnu Sutowo yang Anda pakai 10 tahun, lalu raya kayu lapis Bob Hasan, anak angkat Gatot Subroto, dan tentunya hopeng Anda Oom Liem yang waktu mendirikan BCA masih memakai nama mertua saya (Hasandin, ayahanda Fatmawati) dalam jajaran komisaris. Nah kenapa 1998 itu seolah kalian pecah kongsi, suami istri pecah, rupiah ambruk dan semua konglomerat bangkrut karena utang naik 7 kali lipat dengan naiknya kurs dolar AS jadi 7 kali lipat. Kenapa bulan madu itu lenyap dalam 10 bulan sejak krisis baht, 2 Juli 1997.

Habibie menyelak: Mohon izin Pak. Sebetulnya memang krismon Asia Timur 1997 itu kan dialami oleh Korea dan Thailand, lalu semua minta bantuan IMF. RI masih tenang dan kita pidato fundamental ekonomi kuat, bahkan waktu Sidang Gabungan Bank Dunia-IMF di Hongkong Oktober 1997. Malah terbit buku The East Asian Miracle memuja muji kinerja Asia Timur, 4 macan Asia dan kloter 3 dari Angsa Terbang, The Flying Geese. Jepang memimpin kebangkitan Asia, lalu disusul 4 macan Korea, Taiwan, Hongkong, Singapore. Lalu disusul oleh ASEAN 5.

Nah, sebetulnya inti masalah fiskal moneter itu generik dan universal. Anda harus jangan besar pasak daripada tiang. Anda harus bisa ekspor. Anda harus bisa surplus. Maka, Anda bisa punya cadangan devisa dan mata uang anda menguat sewajarnya, yang penting tetap berdaya saing.

Ada opsi suatu bank sentral independen, ada juga Currency Board System (CBS ) yang dipraktikkan oleh Hongkong dan Singapore dengan sukses. Nah, waktu krisis rupiah sudah sangat memburuk, dan IMF sudah turun tangan, resep independensi BI dan usulan pembentukan CBS oleh Steve Hanke terlambat dilakukan. Mungkin sekarang Presiden Jokowi bisa mengerahkan koalisi dengan Prabowo untuk merumuskan suatu kebijakan sinergi dan sinkronisasi pendekatan kebijakan secara sistemik.

Gus Dur: Saya membaca sejarah Argentina yang pada awal abad XX sudah jadi negara kaya First World, tapi menjadi satu satunya negara yang turun kelas. Ironis negara lain susah payah naik kelas ke pendapatan menengah dengan kegagalan seperti diungkap di istilah The Middle Income Trap

Jadi di saat kita gembira memperoleh kenaikan kelas, dari negara kelas menengah bawah ke negara menengah atas, tentu harus berkontemplasi juga. Bagaimana kita tidak mendaur ulang 3 kali sanering zaman Bung Karno dan 5 kali devaluasi Pak Harto dalam siklus 75 tahun Rupiah RI. Tim ini jangan cuma melihat ego sektoral segitiga Kemenkeu, BI dan OJK. Tapi bisa meniru Inggris waktu membentuk OJK (Financial Service Authority) yang hanya berumur 12 tahun, 2001-2013. Sedang kita meniru telat baru mulai 2013 ketika kebijakan pisah Bank of England  (BoE)dan FSA diberlakukan karena kekalahan BoE oleh George Soros 1992. 

Mungkin untuk mencegah Redenominasi melahirkan kepanikan trauma paranoid sanering, gunting uang dan devaluasi maka perlu sekaligus melakukan “Dolarisasi”.  Mata uang Rupiah baru setara dolar, hanya dicetak berdasarkan kemampuan ekspor Indonesia. Kita harus berkinerja menjual produk barang atau jasa ke pasar global untuk menghasilkan devisa. Bank Indonesia hanya akan mencetak uang, sesuai dengan posisi cadangan devisa real konkret menghindari inflasi. Pokoknya meniru ketika RRT membangun Yuan yang kokoh, tapi malah tidak mau revaluasi seperti Yen yang dipaksa Yendaka Plaza Accord Yen menguat 2 kali lipat 1985. Sampai sekarang Jepang terjebak resesi karena Yendaka 1985

BK: Ya, kita lebih baik bicara tuntas dan mengambil kebijakan sinergis yang harmonis, dan eklektik terbaik. Kita sering takut dengan nama dan istilah. Misalnya takut federal, padahal embahnya federal karena otonomi diberikan kepada counties (derah tingkat dua) yang di AS dan Jerman.Mereka malah bilang Indonesia itu pidato anti dan takut federal dianggap van Mook, tapi otonom ke tingkat dua itu malah embahnya federal.

Katanya tidak suka liberal, tapi mestinya dwipartai saja lebih efisien daripada multipartai gurem hanya cari posisi menteri saja. Makanya kalau istilahnya dolarisasi ya kita pakai istilah itu, tapi yang jelas maksudnya. Rupiah baru dikaitkan dengan basket mata uang misalnya dengan moda CBS.

Jadi, daripada Presiden ke-7 ini mengambil risiko mendaur ulang 3 sanering saya dan 5 devaluasi Soeharto, lebih baik belajar dari pengalaman sejarah empiris dari Tiongkok, Argentina dan Inggris serta Jepang dan AS sekarang. Segala teori mudah dipelajari dan harus fleksible untk eklektik the best, jangan tabu dengan istilah. 

Riwayat Argentina yang turun kelas dari negara kaya, balik jadi negara menengah bawah patut dipelajari Riwayat deneminasi dipelbagai negara, yang akhirnya juga akan balik ke hukum besi ekonomi, ekspor atau mati.  Jadi memang kita harus dalam semangat tempur battle dress, tapi seharusnya perang itu bukan antara Sukarno- Soeharto, Prabowo- Jokowi, tapi harus antara Indonesia Inc  dengan High inefficient ICOR kita sendiri.

Kita harus berperang bukan rebutan quota ekspor benur atau posisi komisaris dan menteri kabinet, kita sebagai Indonesia Inc harus mempertahankan rupiah secara terhormat. Kalau perlu Dolarisasi itu mungkin paling aman dari manipulasi dan pasar gelap kurs di zaman kontrol devisa dulu. Teorinya ada kontrol devisa tapi tetap terkuras karena memang perlu impor, tidak bisa menutup keran impor total.

Jadi mumpung mau reshuffle dan mengubah kelembagaan, harus tuntas soal rupiah ini jangan sampai cuma mendaur ulang sejarah masa lampau. Apalagi mau ulangi lengser 1966 dan 1998 di 2020. Itu yang harus dipikirkan oleh semua elite oligarki yang punya power sekarang ini.

Kita berempat sudah mantan manusia, sudah selesai dengan diri kita. Kita hanya ingin mewariskan Indonesia Seabad No. 4 sedunia pada 2045, bukan malah jadi Argentina. Kita berempat menyerukan setop segala bentuk sanering dan devaluasi yang usang. Kalau mau redenominasi supaya jangan jadi sanering harus simultan sinergi dolarisasi. Pahami bahwa penyakit kita adalah ICOR tinggi, Stupid. Itulah slogan kampanye Bill Clinton 1992 mengalahkan George W Bush. Its the Economy,stupid!

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila