Pangkalan dan Pasir Pogor
berita
Pikiran Bebas
Pasir Pogor, dokumentasi pribadi 16 January 2020 17:00
Penulis

Guru MTs-MA Riyadlul Jannah, Cikundul, Sukabumi.

Beberapa hari lalu, di perjalanan pulang, saya sengaja melewati dua perkampungan, Pangkalan dan Pasir Pogor. Kecuali dekat dengan rumah, perkampungan ini tidak dapat lepas dengan kehidupan saya saat kecil. Jika ditelusuri, kakek buyut saya merupakan “pituin/asli” orang Pangkalan. Malahan, kampung Pangkalan ini tidak dapat lepas dengan kehidupan hingga meninggalnya orang-orang Balandongan, sebuah pemakaman umum yang cukup besar ada di kampung ini.

Sampai penghujung tahun 80-an, dua perkampungan tadi belum terjamah oleh program Listrik Masuk Desa. Tak ayal kedua kampung ini sering mendapatkan ledekan atau cemoohan orang lain yang telah terlebih dahulu dapat menikmati energi listrik lebih awal pada saat itu. Sebagian orang menyebut perkampungan yang belum terjamah arus listrik dengan sebutan ‘nehi’ atau negara hieum (gelap), sebagian lagi menyebutnya dengan sebutan ‘negara beling’. Sebutan terakhir ini bukan disebabkan di kampung-kampung tersebut diproduksi barang-barang dari kaca atau barang pecah belah. Negara beling merupakan istilah atau sebutan sebuah perkampungan saat masyarakat telah terbiasa membuang serpihan kaca, piring dan gelas pecah ke tempat pembuangan sampah komunal atau jarian.

Sebutan yang sebanding dengan negara beling untuk sebuah perkampungan tradisional yaitu negara hieum (gelap). Dalam hal ini, orang perkotaan memiliki prasangka tidak tepat seolah tempat-tempat angker, gelap, dan hieum selalu diisi oleh mahluk halus, lelembut, dedemit, dan jurig. Sebetulnya tidak demikian, sebuah perkampungan disebut “hieum atau gelap” karena di daerah rural perdesaan masih ditumbuhi oleh pepohonan berukuran tinggi dan besar. Dalam konteks lingkungan, hal tersebut merupakan sebuah kebaikan, masyarakat perdesaan masih memiliki sikap ramah terhadap lingkungan. Konotasi negara hieum sebenarnya disebabkan oleh sumber tenaga listri belum masuk ke perkampungan. Tentu saja saat matahari terbenam hingga terbit lagi suasana malam di perkampungan selalu lebih gelap dari perkotaan.

Perkembangan jaman telah mengubah dua perkampungan tadi, baik dari konteks atau secara fakta inderawi. Masyarakat telah menggunakan listrik sebagai sumber energi penggerak perkakas dan alat-alat di dalam kehidupan. Suasana malam antara tahun 80-an dengan sekarang jelas sekali sangat jauh berbeda. Pemerintah telah memasang Penerangan Jalan Umum di titik-titik tertentu, lokasi-lokasi yang pernah dianggap angker beberada dekade sebelumnya.

Pangkalan, Kuburan, dan Tempat Mangkal

Kakek dan nenek saya pernah menuturkan, kampung Pangkalan diberi nama demikian sebab di sebelah selatan perkampungan terdapat pemakaman umum. Orang-orang kecuali para penganut atheisme memiliki pandangan, pemakaman atau kuburan merupakan tempat mangkal atau peristirahatan manusia sebelum mereka kembali kepada Allah SWT. Dalam terma keislaman disebut alam barzakh, para kyai dan ajengan mendefinisikan alam ini sebagai tempat transit sementara  atau alam antara dunia dan akhirat.

Fenomena sosial dan tampak sangat ganjil pernah terjadi di masyarakat di era orde baru dan awal reformasi. Kuburan dan pemakaman umum menjadi tempat masyarakat pecinta Porkas dan Togel mencari angka jitu. Ada yang sengaja memawa bekal dari rumah, konon hantu atau jurig sangat menyukai asap dan rokok semacam cerutu (lisong), mereka dengan sengaja menaruh keperluan “pencarian kode dan angka jitu” pada kuburan-kuburan.

Hal lebih gila yang dilakukan oleh para pecinta undian berhadiah adalah dengan berjalan-jalan di pemakaman dalam kondisi telanjang. Begitulah, undian berhadiah yang melibatkan angka-angka secara matematis pun di masyarakat yang telah tergila-gila oleh cara mudah memperoleh uang disikapi dengan hal-hal gila. Semuanya telah berlalu, dan bagi masyarakat milenial-rasional seperti sekarang, kesemuanya itu hanya menjadi bahan tertawaan.

Di era milenial-rasional, tempat pemakaman umum atau kuburan akan disesaki oleh masyarakat dan para peziarah di waktu-waktu tertentu; tiga sampai sehari sebelum puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pemakaman menjadi lebih ramai dari pagi sampai pukul 09.00 WIB. Tidak berbeda dengan generasi sebelumnya, masyarakat milenial-rasional pun telah terbiasa melakukan praktik-praktik nyeleneh di kuburan, misalnya selfie dan wefie, mengupload foto saat berziarah, dan dapat saja mereka berpacaran di areal pemakaman. Memang bukan budaya tetapi trendnya memang demikian.

Hal yang masih berkembang di masyarakat kita sampai saat ini yaitu mayoritas orang akan merasa takut saat melewati pemakaman umum di malam hari. Kenapa hal tersebut muncul dalam diri manusia? Di masyarakat tradisional ketakutan tersebut bermula dari komikisasi dan dokumentasi hantu-hantu yang keluar dari kuburan. Saat ruang-ruang kegaiban dibukukan dan difilmkan, alam bawah sadar manusia merekamnya, sejak dini telah tertanam sebagai perangkat lunak, maka alam bawah sadar pun menyimpulkan di kuburan-kuburan tersebut dihuni oleh hantu.

Hal lain yang memberikan pengaruh besar adalah di dalam DNA manusia memang telah tertanam rasa takut terhadap kematian. Hampir setiap orang akan berusaha mati-matian untuk menghindari kematian. Metode pengobatan ditempuh, rumah sakit dan klinik dididirikan, meskipun kematian itu ditakuti dan terus dihindari, alibi yang sering kita dengar adalah manusia membuat upaya pengobatan bukan untuk menghindari kematian namun untuk memperpanjang angka harapan hidup. Hanya sebuah negasi dan permainan kata saja.

Kenapa setiap manusia, termasuk penulis akan berusaha menghindari kematian? Satu lagi DNA yang diwariskan oleh nenek moyang kita adalah bagaimana cara kita tetap survive dan bertahan hidup. Sejak berbentuk sperma, sifat ini telah ditanamkan, hanya sperma unggul dan bertahan dapat membuahi ovum di dalam rahim. Lantas lahirlah pemikiran yang kontradiktif dalam diri manusia, mencoba menghindari kematian tetapi manusia akan merasa takut saat manusia mati hidup lagi. Absurditas seperti ini telah mengilhami Albert Camus mencoba bermain-main dengan kematian. Di Indonesia, novel Aki karya Idrus dapat kita telaah tentang hal ini.

Pasir Pogor

Penamaan sebuah tempat atau toponimi di Tatar Sunda sering  tidak pernah lepas dengan  kondisi lingkungannya. Pemberian nama Pasir Pogor juga demikian, sampai akhir tahun 90-an, di sebuah bukit kecil atau pasir sebelah selatan perkampungan banyak ditumbuhi oleh pohon arena tau pogor. Beberapa ahli filologi menyebutkan penamaan Bogor pun berasal dari  kata pogor. Karena perkampungan tersebut berdekatan dengan Pasir Pogor atau bukit tempat penanaman pohon aren, orang tua dulu dengan sederhana menisbatkan nama tersebut untuk menamai kampungnya.

Di dalam tradisi masyarakat Sunda, selain kata pogor dan bogor ada istilah lain sebagai bentuk cognate (serumpun) dengan dua kata ini tetapi memiliki makna berbeda yaitu “mogor”. Jika ditelaah, istilah mogor ini lahir di era kolonial dan secara gramatikal istilah mogor merupakan kata berimbuhan (rarangkén). Imbuhan N+Pogor (Bogor), dalam Basa Sunda saat prefix N menghadapi kata berawalan huruf P atau B akan berubah menjadi M, misalnya N+Baca menjadi Maca, N+Palu menjadi malu. Tentu saja pemaknaan istilah ‘mogor’ bukan berarti seseorang yang ‘mogor’ artinya sedang berteduh di bawah pohon aren. Istilah mogor merupakan metafora bagi orang-orang daerah yang datang ke perkotaan kemudian bermalam di kota tersebut. Di era kolonial, Bogor merupakan sebuah residen yang membawahi Sukabumi dan sekitarnya, para ambteenar saat diberi tugas berangkat ke bogor akan mengatakan, arék mogor, moal langsung balik deui (Mau ke Bogor, tidak akan langsung pulang lagi).

Istilah ini pada akhirnya memiliki makna luas, mogor tidak hanya berarti orang-orang pergi ke Bogor, juga dijadikan kebiasaan masyarakat saat mereka mendatangi kekasih, sanak keluarga, atau orang-orang terdekat. Beberapa waktu lalu kita mungkin pernah mendengar seseorang berkata seperti ini: urang mah arék mogoran hela bébéné, ah! (Saya mau ngapelin dulu kekasih, ah!). Tentu saja istilah ini semakin jarang diungkapkan karena dipengaruhi oleh faktor kesejarahan dan konotasi yang kurang baik dari kata mogor. Masyarakat  kemudian memilih kata apel agar kesannya terlihat lebih formil dari istilah jadul.

Orang Pasir Pogor - terutama para generasi milenial- akan mengernyitkan kening dan bertanya, apakah benar di bukit sebelah selatan itu ditumbuhi oleh banyak pohon aren? Kenapa nenek moyang mereka menanam pohon aren di bukit? Tentu saja penanaman pohon oleh orang tua dulu tidak tanpa alasan. Karena  bukit di  Pasir Pogor merupakan  lapisan tanah yang dipenuhi oleh kerikil dan bersifat kering, penanaman pohon aren merupakan upaya menyelamatkan air agar tetap terserap oleh pohon aren, jenis tanaman yang dapat tumbuh baik di tempat kering.

Lantas mengapa saat ini kita tidak menjumpai pohon aren tumbuh di Pasir Pogor. Perubahan cara pandang dan pola pikir masyarakat dari agraris ke industri tidak dapat dihindarkan. Pohon aren jika ditanam dalam skala kecil sama sekali kurang memiliki nilai tambah secara ekonomi. Pemilik kebun atau lahan garapan lebih memiliki menanam pohon lain seperti Jabon yang dapat dipanen setiap lima sampai sepuluh tahun. Saat nilai tambah telah menjadi alasan maka konsep-konsep yang telah diterapkan oleh nenek moyang manusia akan dipandang tidak berlaku lagi bagi masyarakat industri. Masalah air dan kesulitan air di musim kemarau bukan urusan pemilik lahan. ”Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”, artinya negaralah yang harus menyiapkan fasilitas agar air mudah didapat oleh rakyat. Itulah pandangan kita saat ini.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF