Dinasti Menteng & 14 Capres Ke-8
berita
Pikiran Bebas
Ilustrasi kan watyutink.com 16 January 2020 21:00
Penulis

Penulis buku Seandainya Tuhan Bisa Mengubah Sejarah terbit di 75 th RI

Presiden Jokowi akan merampungkan masa jabatan Presiden ke-7 RI pada 20 Oktober 2024, dan Indonesia akan memilih Presiden ke-8 yang merupakan kontestasi free for all.

Tidak ada putra mahkota atau calon anak emas, semuanya berpijak pada platform setara. Barangkali jabatan menteri atau gubernur bisa memberi advantage kepada seorang capres, tapi akhirnya akan kembali kepada nasib pre destinasi providensial, meskipun trayektori rekam jejak pasti berperanan substantif pula.

PDBI telahmengkaji personalia elite Indonesia dan menemukan kecenderungan dinastik yang lebih demokratis ketimbang Tiongkok dan Jepang.

Di Tiongkok beredar buku tentang Princielings, para putra mahkota kerabat elite Politbiro Partai Komunis Tiongkok, yaitu anak cucu Mao Zedong sampai Xi Jinping. Buku itu mencatat 226 elite kerabat Zongnanhai, yang merupakan kawasan elite Beijing mirip Menteng di Jakarta.

Sedang di Jepang, banyak studi menemukan bahwa 27 dari 30 PM Jepang berasal dari kerabat mantan PM. 45 persen Legislator Jepang juga turun temurun jadi anggota DPR Jepang.

Di Indonesia, penelurusan PDBI dari total 745  jumlah orang yang pernah menjadi menteri kabinet,mulai dari 7 presiden, 13 wapres dan 8 perdana menteri, hanya 69 yang memiliki ikatan kekerabatan.

Apabila kita pakai istilah dinasti Menteng, sebab Bung Karno tingggal dirumah jalan Pegangsaan Timur 56 Menteng. Sayang rumbah itu sudah dibongkarlenyap jadi pelataran gedung Pola. Soeharto juga berumah tinggal di jalan Haji Agus Salim, kemudian jalan Cendana. Habibie langsung jadi Menristek tinggal dikawasan elite Kuningan (perluasan Menteng zaman Belanda). Rumah ayahanda Gus Dur di Matraman dekat rumah Bung Karno di Jalan Proklamasi. Megawati jelas putri mahkota sang proklamator.

SBY adalah menantu Kolonel Sarwo Edie, yang pada tahun 1965 terlalu populer, sehingga Soeharto merasa “terancam tersaingi”. Maka Sarwo disingkirkan dari Jakarta, jadi Pangdam di Medan lalu mengamankan Pepera di Irian Barat 1969, dan tidak pernah jadi menteri kabinet. DNA politik menurun ke putrinya Ibu Ani Yudhoyono, yang menjadi campaign manager suami, sehingga SBY melejit mengalahkan petahana Presiden ke-5, putri proklamator itu.

Nah, munculnya Jokowi dari anak bantaran sungai Bengawan Solo.  Benar-benar merupakan reinkarnasi dari pendiri Mataram. Dari orang biasa melejit jadi Senapati, terus jadi leluhur Sunan Mataram. Tidak kepalang tanggung proletar Jokowi mengalahkan borjuis Letjen Prabowo Subianto, putra begawan ekonomi Sumitro Joyohadikusumo, dari dinasti Menteng juga. Ayah beranak ini mempunyai keajaian bisa hidup lagi dari “matisuri politik”. Sumitro mengembara 10 tahun diluar negeri karena terlibat PRRI/Permesta, tapi langsung jadi menteri ketika pulang tahun 1968. Prabowo melejit jadi capres penantang meski dipecat dari ABRI, karena The Rape of Jakarta, Mei 1998, yang sampai detik ini masih misterius dan tidak tertuntaskan.

Prabowo akan berusia 73 tahun pada 2024. Tapi di era Mahathir jadi PM pada usia 93, maka usia 73 masih belia dan bisa maju lagi jadi capres. Tidak jelas apa PDIP rela mengusung duet Prabowo-Puan untuk Pilpres 2024.

Siapa kandidat potensial lain dari para ketum partai, atau menteri, atau gubernur yang berbobot dan berpeluang melejit kepanggung pilpres ke-8?

Apakah ideologi atau dikotomi sara masih berperanan setelah Prabowo jadi Menhan Jokowi. Dalam ilmu, strategi dan taktik leveraging bargaining dengan dunia luar, Indonesia sering terjebak dalam kubangan “sara domestik” yang menyandra kelincahan berdiplomasi optimal untuk meraih advantage maximal bagi Indonesia Inc., sebagai nation state yang bersaing ditengah percaturan geopolitik kompleks.

Apakah jalur “agama” Pilgub DKI 2017 masih bisa laku di Pilpres 2024? Apakah jalur populis marhaen model Jokowi masih laku di 2024? Kelas menengah Indonesia penuh dengan Ken Arok satu sama lain, jarang yang sportif dan ksatria mengakui meritokrasi lawan dan atau pesaing politik secara fair. Tidak ada sifat magnanimous, atau menang tanpo ngasorake. Semua pandai mengutip peribahasa Jawa, seperti Pak Harto tapi dalam praktiknya adalah monster hibrida Brutus Ken Arok Machiavelli 3 in1.

Ya, memang kalau sudah perebutan kepemimpinan bisa terjadi perpecahan seperti Gus Dur Mega 1999- 2001.

Karikatur Kompas hari ini 15 Jan 2020 mengkontraskan kekuatan armada RRT vs RI yang mencolok reot vs kokoh. Para nelayan Natuna malah menolak kehadiran nelayan dari pantura yang akan diutus oleh pemerintah pusat. Bagaimana kabinet akan menyelesaikan reaksi tak terduga dari nelayan lokal karena kebijakan reaktif isu Natuna ini

 Whats in it for me, kata rakyat. Selama ini yang akan memperoleh manfaat ya capres yang bakal menang terpilih. Nah, siapa yang layak jual dan layak pilih masuk kontestasi Capres 2024.

Berikut ini nama dan usia kandidat   berpotensi jadi capres ke-8:

Jalur eselon 1 kabinet

1. Menkeu Sri Mulyani Indrawati, 26 Agustus 1962 usia 62

2. Mendagr,i Tito Karnavian, 28 Oktober 1964, usia 60

3. Kepala  BIN Budi Gunawan, 11 Desember 1959, usia 65

4. KSAD Andhika Perkasa, 21 Desember 1964, usia 60

Jalur Gubernur

5. Anies Baswedan,1969 usia 55

6. Ganjar Pranowo, 1968 usia 56

7. Ridwan Kamil, 4 Oktober 1971, usia 53

8. Khofifah, 19 Mei 1965, usia 61

Jalur Ketum Partai

9. Puan Maharani, 6 September 1973, usia 51

10. Prabowo Subianto, 17 Oktober 1951, usia 73

11. Airlangga Hartarto, 1 Oktober 1962, usia 62

12. Muhaimin Iskandar 24 Aep 1966, usia 62

13. AHY, 1978 usia 46

14. Grace Natalie, 4 Juli 1982, usia 42

15. Ketum Nasdem hanya mau jadi king maker, idem ditto PAN, PKS, PPP.

16. Calon lain di luar 14 nama di atas, masih belum tampak di cakrawala 2020.

Kontestasi ini sudah dimulai sekarang dan akan terus menghangat dengan pilkada serentak 2022 sampai Pilpres 2024. Bahkan Pilwalkot Solo dan Medan merupakan gambling bagi dinasti Presiden Jokowi, apakah popularitas kerabat menjamin keterpilihan demokratis populis. Taruhannya adalah bila kalah terancam tenggelam seperti AHY di Pillkada DKI. Tapi tampaknya Gibran sangat percaya diri, barangkali sudah memiliki resep mengulangi sukses ayahandanya. 

PDBI akan terus memantau dan memberikan perspektif percaturan dinasti politik Indonesia, yang meski baru mengukuhkan masa jabatan kedua untuk Presiden ke-7 sudah dilaman demam pemilihan Capres ke-8.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF