De Civitate Dei: Kekuasaan yang Dibangun oleh Sebuah Mitos
berita
Pikiran Bebas
Santo Augustinus, sumber: wikipedia 19 February 2020 15:00
Penulis

Guru MTs-MA Riyadlul Jannah, Cikundul, Sukabumi.

There are histories of numberless wars, both before the building of Rome and since its rise and the extension of its dominion. – Augustinus-

Pada bagian kedua dan ketiga buku pertama De Civitate Dei, Augustinus mengelaborasi dan memberikan penekanan pada salah satu persoalan penting tentang sejarah kemanusiaan. Berdiri dan runtuhnya sebuah tempat, negara, kerajaan, dan peradaban selalu beririsan dengan peperangan. Artinya, dunia tidak pernah sepi oleh konflik dan perseteruan. Hadirnya peperangan di dalam kehidupan merupakan pelajaran kepada manusia agar mereka dapat berpikir jernih, kehidupan damai dan tenteram merupakan modal besar dalam membangun peradaban satu wilayah.

Augustinus menyatakan, kekaisaran Romawi berdiri dan mengalami era keemasan tidak lepas dari pengaruh mitologi Yunani Kuno: Perang Troya, perang dahsyat yang diciptakan dan diskenariokan oleh para dewa dan dewi yang bersemayam di Olympus. Tiga dewi: Athena, Hera, dan Aphrodit memperdebatkan siapa sebenarnya dewi tercantik di alam kahyangan?

Dalam mitologi tersebut diceritakan, dengan cara melemparkan “apel emas”, Aphrodit terpilih sebagai dewi tercantik. Peristiwa ini membawa pengaruh terhadap kehidupan  baik di kahyangan atau di Bumi. Athena, Hera, dan Aphrodit memiliki tugas mendatangi Helena. Kedatangan mereka mengakibatkan Helena mewujud menjadi perempuan tercantik di Bumi. Dalam Illiad dikisahkah Helena diculik oleh Paris saat perempuan itu telah menjadi permaisuri Menelaos.

Peristiwa penculikan tersebut telah mengganggu bangsa Sparta, mereka merasa harga dirinya diinjak-injak oleh bangsa Troya. Pasukan Sparta mengepung Troya selama sepuluh tahun dan mendapatkan dukungan dari Ares, dewa perang dalam mitologi Yunani Kuno. Dalam peperangan tersebut, Sparta membuat strategi bagaimana cara mereka memasuki kota Troya yang memiliki benteng pertahanan sangat kokoh. Sparta membuat patung kuda berukuran besar, bala tentaranya memasuki patung kuda tersebut.

Sampai saat ini, patung kuda yang digunakan untuk menyusupkan tentara Sparta ke kota Troya disebut sebagai “Kuda Troya”. Dengan sukarela, warga Troya mempersilahkan pasukan Sparta memasuki kotanya sendiri. Troya menjumapi takdirnya sendiri,  memang seharusnya kota ini dimusnahkan oleh Sparta. Perang Troya  telah mengakibatkan bencana kemanusia yang sangat hebat.

Orang-orang yang selamat selama perang Troya diajak oleh Aeneas menempati sebuah wilayah sebagai cikal bakal Kota Roma. Para veteran perang Troya menciptakan kekuasaan baru, selanjutnya diberi nama Romawi. Kecuali dari mitologi tadi, ada juga cerita yang menyebutkan Romawi berdiri  sebagaimana tercatat dalam kisah Remus dan Romulus. Yang jelas, dalam pandangan Augustinus, Romawi didirikan bukan oleh penduduk asli tempat itu. Karena pendirian kekaisaran Romawi  dilatarbelakangi oleh peperangan, bukan hal aneh, sebagai sebuah siklus kausalitas, pada fase sejarah berikutnya, Romawi diluluhlantakkan oleh sebuah bangsa kecil bernama Visigoth.

Setelah membangun sebuah kota sampai mengalami perkembangan menjadi imperium besar, Aeneas menciptakan beberapa tempat pemujaan dan altar persembahan kepada para dewa yang diyakininya dapat menjaga dan memberikan apa pun yang dibutuhkan oleh Romawi. Kuil Minerva, dewi kemakmuran, dewi ilmu pengetahuan Romawi kuno didirikan oleh Aeneas dan orang-orang Romawi. Melalui pemujaan kepada Minerva, bangsa Romawi akan menemukan kesejahteraan dan kemasyhuran dalam hidup. Sampai pada era keemasannya, keyakinan yang dianut oleh Romawi adalah konsep trinitas yang diadopsi dari Mesir dan Yunani Kuno. Dewa Jupiter, Yuno, dan Minerva merupakan tiga dewa-dewi yang dipuja oleh orang Romawi saat itu.

Augustinus mengemukakan  pandangan, tradisi jeung kayakinan Romawi Kuno dipenuhi oleh kepalsuan. Masyarakat seperti memuja dan memuji dewa dan dewi namun sebetulnya disertai oleh rasa takut, bukan atas dasar keikhlasan. Masyarakat seperti bersimpuh dan bersujud kepada para dewa padahal tidak lain mereka sedang menyembah iblis yang telah menyebarkan virus ketakutan kepada bangsa lain oleh imperium Romawi saat mereka mencaplok dan merampok tanah-tanah milik orang lain. Para kaisar Romawi mengatakan, tindakan mereka merupakan perintah langsung dari para dewa. Indeed, to worship conquered gods as protectors and champions, what is this but to worship, not good divinities, but evil omens?

Ibnu Khaldun memberikan pandangan, berdirinya sebuah negara memiliki maksud agar sikap agresif umat manusia dapat terkendali dan terkoordinir dalam satu kekuasaan. Saat sekumpulan manusia tidak dapat lagi dikoordinir oleh kekuasaan yang akan lahir dalam kondisi seperti itu adalah kecamuk pertikaian dan perang tanding. Sesama manusia saling cakar.

Di sini, ada dua hal berbeda antara kisah-kisah dalam mitologi dengan pandangan Ibnu Khaldun, yaitu: mitologi mempertegas bahwa berdirinya satu negara diawali oleh adanya perang tanding. Sementara itu dalam padangan Ibnu Khladun sebuah negara berdiri justru untuk menjauhkan umat manusia pada kondisi saling memangsa satu sama lain.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF