Agus Lenon Buku dan Jejaring
berita
Pikiran Bebas
Agus Lenon, akuratnews.com 17 January 2020 09:40
Penulis

Aktivis 1980-an

Tiba-tiba Lenon (demikian panggilanku dengan nama asli Agus Edi Santoso) menghubungiku karena ada warga Madura besok pagi datang ke Yogyakarta dan mau aksi ke DPR/MPR Jakarta sekitar awal tahun 90-an.

"Prak besok pagi ada warga madura mau demo ke Jakarta, kamu bantu si Kacik (alm). (aktivis mahasiswa Surabaya) ya" --dan diharapkan bisa menemani, sebab Kacik baru pertama kali ini ikut aksi. "Kamu dampingi dia ya..." demikian dialog saya dengan Lenon waktu itu di depan kampus Karang Malang.

Terus paginya benar, para petani Madura datang lalu diinapkan di GMKI dibilangan Yogyakarta, setelah di jamin aktivis GMKI. Lalu malamnya kami berangkat ke Jakarta dengan tiga bus yang isinya semua petani dan didampingi beberapa mahasiswa (lupa namanya semua, kecuali Kacik).

Dari perjalanan semalam akhirnya bus sampai gedung DPR pada pagi hari, tapi kami berhenti di Tol untuk siap menuju DPR dan pukul 08.00 langsung menuju daerah Senayan lalu masuk ke halaman, bus parkir dan kami semua rombongan masuk ke lobby, lalu masuk ruangan yang dingin karena AC central yang sudah dipersiapkan. Kemudian kami berdialog dengan  beberapa perwakilan lalu menyampaikan permasalahannya di DPR. Setelah dialog yang cukup lama, lalu kami semua pulang ketika DPR telah menjamin bahwa kasus tanah petani akan segera ditindak lanjuti dan di selesaikan. Tapi Agus Lenon mengajak aku tinggal di Jakarta sebentar, sebab bus langsung ke Surabaya.

Itulah Agus Lenon ketika melakukan advokasi, para aktivis mahasiswa di kota mana saja selalu menjadi "korban" provokasinya dan tidak bisa menolak. Sebab Lenon selalu "membaca" siapa yang akan jadi target sasaran selanjutnya, dan semua aktivis tidak ada yang marah maupun menolak. Dari hal di atas adalah salah satu contoh begitu dekatnya Lenon dengan aktivis dimana saja. Itulah Lenon banyak sekali hal-hal yang menarik untuk diceritakan.

Lenon juga selalu hadir dan memberikan buku sebagai bahan diskusi selanjutnya. Bahkan kalau ada buku baru Lenon selalu memberikan info utama. Lalu kalau dia ketemu Lenon selalu mengatakan :

"buku apa yang sudah kamu baca?" lalu diajaknya diskusi mengenai buku itu,

sebab Lenon selalu membawa buku baru yang belum saya miliki.

Membuka Jejaring dan Penerbitan Buku

Sebagai aktivis mahasiswa saya banyak sekali dibantu Lenon untuk anjang sana, anjang sini. Hal itu dilakukan karena Lenon ingin mengajak saya kenal dan belajar dengan para tokoh politik tanpa melihat latar belakang dan suati saat bisa ketemu sendiri dan diskusi.

Seperti di Jakarta, saya selalu diajak menginap di Skephi tempat markasnya mas Indro Tjahyono aktivis 77/78 yang waktu itu banyak aktivis ngumpul disana, ada Saleh, Tya, Semsar, Yenny, Santi, Daniel, Anung, Hira, Dedi Bogor, bahkan para pejuang Tim-Tim, OPM dan lain-lain mulai dari Tebet sampai Skephi pindah di Liga Mas Pancoran. Kalau sudah ketemu Agus Lenon selalu diajak tour --istilaku menemui para tokoh, antara lain Hariman, Joebar Ayup (Lekra), Nurcholis Madjid, Jopi Lasut bahkan diajak ke penjara Salemba menjenguk Kolonel Latif, Soebandrio dan tahanan lainnya. Setelah itu bertemu dengan para mahasiswa Timor-timor yang ingin memperjuangkan kemerdekaannya. Bahkan dia membuat Lembaga PIPHAM di Gg. Langgar di jalan Dewi Sartika, juga menjadi markas para aktivis dari luar kota. Sebab dari kantor PIPHAM advokasi 21 Mahasiswa yang ditangkap dan dipenjara (khususnya yang di luar kota) dari kontrakan PIPHAM yang kecil tapi sangat strategis kalau koordinasi. Ke 21 Mahasiswa tersebut di tangkap karena demo ke MPR/DPR dengan organ FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia) tahun 1993 dengan membentangkan spanduk "Seret Soeharto ke Sidang Istimewa MPR". Dari kasus tersebut PIPHAM lembaga Lenon jadi markas sementara aktivis luar kota.

Lenon juga selalu memberi kesempatan para aktivis pergi keberbagai kota di Indonesia ataupun mancanegara. Sebab Lenon menginginkan para aktivis bisa menyampaikan tentang kondisi politik orde baru yang banyak sekali pelanggaran HAM-nya. Dari PIPHAM-ah Lenon kemudian membuat lembaga LAPASIF dan sebagainya.

Sebagai orang yang selalu konsisten dengan buku dan penerbitan, Agus Lenon melakukan banyak penerbitan pledoi aktivis yang ditahan maupun menerbitkan beberapa buku dari Che Guivera, Tan Malaka, Soe Hoo Gie dan lain-lain dengan bendera TEPLOK Pres atau FFF (Frantz Fanon Foudation)

Dari hal di atas ada beberapa buku yang diterbitkan Agus Lenon dalam dunia penerbitan. Buku tentang Transformasi Masyarakat Indonesia yang diterbitkan Kelompok Studi Proklamasi dan Agus Lenon menjadi salah satu penggagas ketika kelompok studi menjadi salah satu pilihan mahasiswa mengkritisi Orde Baru. Lalu Agus Lenon juga mengedit dan menerbitkan tulisan-tulisan Nurcholis Madjid yang kemudian menjadi sangat dekat, karena Agus Lenon adalah jebolan IAIN Suka (UIN Yogyakarta) dan juga mantan Sekjen PB HMI tahun 80-an.

Dari penerbitan di atas, Agus Lenon sendiri juga menerbitkan buku "Di Bawah Lentera Merah" karya Soe Hok Gie yang diterbitkan pertama kali oleh Frantz Fanon Foundation (sebuah lembaga tanpa kantor). Edisi pertama sebelum dicetak oleh Bentang Pustaka. Buku ini diterbitkan oleh FFF bentuknya buku kecil. Buku ini beredar di ujung masa Orde Baru, menjadi bacaan aktivis anti Soeharto dan buku itu salah list buku yang dilarang oleh Kejaksaan Agung. dengan FFF-nya Lenon juga menerbitkan pledoi Bambang Isti Nuhroho yang dipenjara karena menjual nobel karya Pramodya Ananta Toer.

Adapun buku selanjutnya adalah "Demokrasi Untuk Indonesia" karya Hasan Muhammad Tiro diterbitkan Teplok Press setelah Soeharto jatuh. Berbarengan dengan tuntutan referendum Aceh. Penerbit Teplok Press juga menerbitkan Madilog Tan Malaka, Das Kapital dan beberapa buku politik lainnya. Itulah Lenon, di samping sebagai "penggiat demokrasi" Lenon juga aktif diskusi-diskusi diberbagai daerah tentang buku dan HAM.

Usil dan Lucu

Sekilas memang kita cukup marah dengan banyaknya intrik dan provikasinya Lenon. Tetapi dengan caranya yang humoris, semua hal menjadi lucu. Suatu hari kami menjenguk tahanan di Salemba, kemudian uang kami pas-pasan hanya buat ongkos naik angkot saja. Kemudian Nunik salah satu mahasiswi teriak "Lenon perutku lapar.." kemudian didukung oleh semua sahabat yang kebetulan bertujuh minta mampir warung. Kemudian Lenon masuk warung dan kami masuk semua lalu duduk. Tiba-tiba Lenon mengambil tusuk gigi lalu Lenon keluar lagi dan jalan dengan tenangnya. Kemudian pada marah sama Lenon dan sampai Pipham Lenon menjawab dengan santai "Siapa yang ngajak makan, saya kan cuma ambil tusuk gigi saja..." semua jadi tidak marah malah tertawa sambil ngedumel semua.

Itulah salah satu yang membuat Lenon sulit dilupakan oleh para sahabatnya dan saya semakin yakin bahwa apa yang saya alami, bisa jadi dialami sama yang lain.

Lenon kita masih punya janji sebelum kepergianmu selamanya, main catur di Tji Liwoeng Coffee, tapi belum terlaksana dan kamu telah lebih dulu meninggalkanku. "Aku didatangi Mulyana, Amir dan pengke" katamu ketika aku membesukmu di kamar 2512, RS. jantung Harapan Kita, tanggal 7 Januari 2020, sebelum Santoso, Rinjani dan Desi ke kamarmu.Kamu sendiri tertidur dan aku duduk, lalu aku foto kamu dan kamu bangun cari kacamatamu dan kuambilkan diatas kulkas, lalu kamu lihat aku dan senyum seperti biasanya. Ketika mereka pada masuk kamu sangat riang dan kami semua sempat selfie dan kamu, aku dan Santoz dengan gaya membuka jari kelima, lalu Desi bilang "Kok jari lima dengan gaya Dada..." Itulah foto kita terakhir dan cukup mengharukan Tapi aku yakin Tuhan lebih sayang kamu dari pada kami. Selamat jalan Lenon pertemuan kita terakhir di kamar 2512 memberikan banyak inspirasi baru dan ternyata surga adalah tempat keabadianmu, Aamiin.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF