Webinar INDEF: 'Mungkinkah Investasi dan Perdagangan di tengah Ancaman Resesi'
berita
InfoTink
Sumber Foto: Twitter @IndefEconomics 15 August 2020 06:30
Penulis
"Saat ini Indonesia terkesan tidak mempunyai strategi dalam menyikapi merosotnya pertumbuhan ekonomi. Tidak nampak strategi yang evidence base, semuanya seperti asal jadi saja,” Demikian paparan pakar ekonomi Prof Dr Didik J Rachbini pada webinar INDEF "Mungkinkah Investasi dan Perdagangan di tengah Ancaman Resesi,” pada Rabu (12/08/2020) yang diikuti para jurnalis, akademisi dan pemerhati ekonomi.

Menurut Didik J Rachbini, seharusnya pemerintah RI bisa meniru langkah-langkah yang dilakukan oleh para teknokrat orde baru, ketika terjadi krisis Pertamina pada 1980-1984. Ketika itu Indonesia hampir bangkrut, sehingga pertumbuhan ekonomi RI sempat hanya 2 persen saja. 

“Para teknokrat orde baru langsung menyusun strategi outward looking dengan mengintensifkan ekspor sebesar-besarnya. Debirokratisasi, deregulasi dan insentif ekspor dilakukan dengan konsisten dan berani. Sampai-sampai Presiden Suharto meminta SGS sebagai lembaga surveyor asing menangani bea cukai, menggantikan peran bea cukai yang ada. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi RI membaik dengan sangat bagus. Itulah periode emas pertumbuhan ekonomi Indonesia,” sambung Didik J Rachbini.  

Pada 1985 Pemerintah RI memang memberlakukan Inpres No.4/1985 yang mengalihkan tugas dan wewenang Ditjen Bea dan Cukai (BC) dalam pemeriksaan barang ke surveyor asing “SGS” dalam memeriksa barang. Terbitnyanya Inpres   No.4/1985 tersebut sebagai reaksi atas penyalahgunaan wewenang oleh BC yang banyak diributkan oleh dunia usaha.
Didik J Rachbini amat menyayangkan strategi “asal jadi” yang dilakukan otoritas perekonomian dan keuangan saat ini. Padahal, sebelum pandemi sempat diterapkan langkah pengawasan dan perbaikan ke dalam birokrasi ekpor impor untuk menunjang dunia usaha.

“Perbaikan iklim usaha, debirokratisasi dan pengawasan ke tubuh birokrasi ekspor impor memang sempat dilakukan pada masa sebelum pandemi. “EoDB” Indonesia sempat ada perbaikan posisi dan investasi juga lumayan, tetapi anehnya pertumbuhan ekonomi terus turun,” Kata Didik J Rachbini lagi.

Terus menurunnya pertumbuhan ekonomi sebelum dan selama pandemi berlangsung akibat tidak adanya strategi terpadu yang mumpuni. Akibatnya, semua perbaikan yang dilakukan menjadi percuma, ICOR Indonesia juga masih  tinggi, dan tidak ada outcome yang muncul.

“Sebagai contoh ketika di masa pandemi angka pertumbuhan transaksi Infokom melonjak tinggi, tetapi tidak ada strategi yang dilakukan Kementerian Infokom untuk memanfaatkan momentum tersebut. Sebelum krisis, seluruh birokrasi pemerintahan dan juga DPR malah sibuk menyiapkan UU Omnibus Law, alih-alih menyiapkan strategi ekspor. Setelah masuk krisis, tidak ada lagi yang bisa dilakukan,” pungkas Didik J Rachbini.

Sementara itu Prof Mudrajat Kuncoro Phd., Rektor Universitas Trilogi yang juga menjadi pembicara pada webinar tersebut menyampaikan bahwa tren perdagangan global dunia memang sudah mulai turun sebelum pandemi. 

“Proyeksi menyebutkan tren perdagangan dunia mengalami penurunan drastis sejak 2019. Paska pandemi covid-19 global trade turun lagi sebesar 13-32 persen pada 2020 ini. Pandemi saat ini memang berdampak amat negatif pada ekonomi rumah tangga, manusia dan perekonomian seluruh negara di dunia,” kata Mundrajat Kuncoro.

Mundrajat juga menyebutkan, masalah terbesar perekonomian dunia saat ini bukanlah kelangkaan barang, tetapi kelangkaan fasilitas transportasi antar daerah dan antar negara yang amat jauh menurun.  

“Angka shipment antar daerah dan antar negara anjlok drastis. Tidak ada pergerakan pengangkutan barang. Tidak heran kalau hal itu menjadi salah satu penyebab dari menurun jauhnya tingkat perdagangan dunia 13 – 32 persen,”Ujar Mundrajat lebih lanjut.

Sektor-sektor yang paling terdampak di masa pandemi menurut Prof Mundrajat adalah transportasi, termasuk BBM, dan pariwisata yang juga mengalami penurunan paling parah, termasuk perhotelan. 

“Namun dari semua sektor yang mengalami kontraksi dan penurunan tajam tersebut, sektor pertanian pertama kali mengalami pertumbuhan paling bagus yakni 10 persen, begitu juga sektor makanan dan infokom. Hal itu karena permintaan konsumen yang diantaranya menggunakan Go-food sebagai tren baru masa pandemi,” kata Mundrajat menambahkan.

Selain itu, sektor infokom mengalami kenaikan tajam dari penggunaan media sosial dan internet untuk transaksi, juga kegiatan belajar mengajar dan seminar/webinar menggunakan media zoom. 

“Penggunaan zoom meeting di seluruh dunia naik tajam, dari 10 juta partisipan pada Desember 2019, menjadi 300 juta partisipan pada April 2020,” papar Mundrajat.  

Menurut Mundrajat, hal tersebut tentu saja menjadi peluang yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi. (Pso)

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI