Unas – Ponpes Darussalam Rajapolah Kerjasama dan Kembangkan Eco-Pesantren
berita
InfoTink
. 13 January 2020 16:20
Penulis
TASIKMALAYA - Universitas Nasional menjalin kerjasama dengan Pondok Pesantren Darussalam untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh pesantren terutama bidang sumber daya alam dan manusia atau eco-pesantren agar pusat pendidikan muslim ini mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Penandatanganan kerjasama itu dilakukan oleh Direktur Sekolah Pascasarjana Unas, Maswadi Rauf yang diwakili oleh Wakil Direktur Firdaus Syam, hadir turut menyaksikan tim CSR  Mediacomm, Dekan Fakultas Biologi Unas Tatang M. Setia, Kepala Pusat Pengkajian Islam Unas, Fachruddin Mangunjaya dan Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika Unas, Noverita, sementara dari pihak Ponpes Darussalam, Rajapolah, Tasikmalaya dihadiri oleh Pimpinan Ponpes KH Ahmad Dani Rustandi, sesepuh Ponpes KH Asep Dudung dan KH Asep Nawawi. 

Dalam kesempatan itu  Wadir Sekolah Pascasarjana Unas, Firdaus Syam mengungkapkan bahwa selama ini mindset (pola pikir) masyarakat Indonesia masih tertuju pada pesantren sebagai tempat untuk mengkaji ilmu agama secara lebih khusus dan mendalam.

“Padahal banyak hal yang bisa dilakukan oleh pesantren, terutama dalam bidang sumber daya alam dan manusia yang dimilikinya. Oleh karena itu Unas sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia melihat potensi ini dan berupaya untuk mengembangkannya agar potensinya mampu memberi kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan ekonomi nasional,” kata Firdaus, di Tasik, kemarin.

Firdaus melanjutkan, banyak hal yang bisa diteliti dan dikembangkan dari sumber daya yang dimiliki oleh pesantren seperti Ponpes Darussalam Rajapolah yang memiliki pusat pengembangan ternak ayam campuran antara negeri dan kampung, areal tanaman obat, sumber air panas alami dan pabrik roti.

“Bayangkan jika Fakultas Teknik kerjasama dengan sumber daya air panas, Fakultas Peternakan dan Biologi bekerjasama dalam pengembangan ras ayam campuran, lalu pabrik roti bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi pasti hasil yang diperoleh akan jauh lebih baik ke depannya,” ujar Firdaus.

Ajakan kerjasama ini disambut baik oleh pimpinan Ponpes Darussalam Rajapolah KH Ahmad Dani Rustandi yang mengungkapkan pihaknya sangat terbuka dengan kalangan perguruan tinggi terutama Unas agar kedepannya potensi pesantren dapat lebih berkembang dan diterima oleh masyarakat baik domestik maupun internasional.

“Pemerintah sebenarnya telah punya program eco-pesantren atau pengembangan potensi ekonomi pesantren, namun hal itu sepertinya belum menjadi prioritas. Ini yang harus menjadi perhatian serius,” katanya.

Sementara itu, CEO Mediacomm, Fetty Aziza mengungkapkan pesantren adalah simpul pendidikan dan kekuatan rill umat Islam di Indonesia dan sangat berdasar jika gerakan mencintai lingkungan terus digaungkan dan diajarkan sebagai salah satu bidang di sekolah, terutama pesantren.

Hal ini, kata Fetty, sesuai dengan Firman Allah SWT Wa m? arsaln?ka ill? ra?matal lil-'?lam?n (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam/Al-Anbiya: 107).

“Eco-pesantren merupakan salah satu jawaban agar para santri muda dapat meningkatkan sikap hormat, melindungi dan menjaga ekosistem dapat meningkatkan integritas moral muslimin serta muslim," ucap Fetty. 

Menurut Fetty musibah banjir yang menimpa sejumlah wilayah di Indonesia, belakangan ini terjadi karena kesalahan umat manusia dalam menjaga serta melestarikan lingkungan.

Hal senada dikemukakan oleh Kepala Pusat Pengkajian Islam Unas Fachruddin Mangunjaya yang mengatakan bahwa banyak pesantren di Indonesia yang telah menerapkan pola pendidikan modern seperti penggunaan dwi bahasa (Arab dan Inggris) dalam kesehariannya, begitu pula dalam pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki. 

“Oleh karena itu keterlibatan Unas sebagai perguruan tinggi sangat penting terutama untuk lebih memperdalam penelitian produk, pengembangan dan distribusinya,” kata Fachruddin.

Sedangkan Dekan Fakultas Biologi Unas, Tatang M. Setia menyampaikan bahwa dalam mengelola potensi sumber daya alam, setiap insan harus memiliki etika, karena tanpa etika alam akan memberikan respon yang tidak baik bagi manusia. 

“Kalau kita mengambil dan mengeksplorasi hasil hutan, sudah sewajibnya kita beretika untuk menjaga keseimbangan alam dengan menanam kembali, kalau tidak alam akan merespon hal yang negatif bagi umat manusia,” ujarnya.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF