Suku Bunga Kredit dan Pemulihan Ekonomi
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid watyutink.com 09 April 2021 21:35
Watyutink.com – Gravitasi di Tanah Air cenderung rendah untuk urusan tingkat suku bunga kredit. Debitur kecil maupun besar sudah mengeluh mengenai masih tingginya tingkat suku bunga, ia masih saja melayang-layang di atas, sulit turun merendah.

Bank Indonesia sudah gregetan dengan masih tingginya tingkat suku bunga kredit. Dalam satu tahun terakhir, berbarengan dengan merebaknya pandemi Covid-19, BI gencar menurunkan suku bunga acuan BI-7DRRR. Dalam beberapa kali penurunan yang totalnya mencapai 125 basis poin, telah membawa suku bunga acuan berada di level terendah sepanjang sejarah bank sentral, yakni 3,50 persen.

BI tidak tinggal diam untuk membantu ekonomi cepat pulih setelah babak belur dilanda pandemi Covid-19 dengan cara menurunkan suku bunga yang menjadi kewenangan BI sebagai pemegang otoritas moneter di Tanah Air.

Sayang, kebijakan BI tersebut belum  ditransmisikan dengan baik oleh perbankan di Tanah Air untuk pada akhirnya dirasakan oleh masyarakat pengguna dana sebagai debitur. Bank-bank cenderung lambat merespon kebijakan BI, terutama dalam hal penurunan suku bunga kredit.

Pemangkasan suku bunga acuan ke level 3,5 persen menjadi salah satu alasan BI agar bank bersedia menurunkan suku bunganya. BI mengharapkan perbankan dapat mempercepat penurunan suku bunga kredit sebagai upaya bersama untuk mendorong kredit/pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi nasional.

Namun tugas BI jangan hanya berhenti di situ.  Penurunan suku bunga acuan yes, tetapi perlu ditindaklanjuti dengan pemantauan mengapa tingkat suku bunga di perbankan masih tetap tinggi. BI harus menetapkan sejumlah cara agar bank lebih cepat menurunkan suku bunga kredit. Dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah diharapkan mampu mendorong permintaan kredit dari masyarakat yang selama pandemi Covid-19 turun drastis.

Setidaknya BI harus melakukan asesmen terhadap suku bunga kredit berdasarkan suku bunga dasar kredit (SBDK) dan selisih SBDK. Dari situ ditetapkan tingkat suku bunga acuan (benchmark rate) sebagai patokan bagi bank-bank dalam menetapkan tingkat suku bunga kredit. Acuan tersebut juga bisa menjadi alat bagi BI atau Otoritas Jasa Keuangan untuk menyemprit bank yang melebihi batasan yang ditetapkan.

Dengan begitu transmisi suku bunga rendah ke perbankan akan berjalan efektif.

Suku bunga kredit memang dibentuk oleh SBDK dan premi risiko. SBDK terdiri dari beberapa unsur antara lain biaya dana (cost of fund), biaya overhead bank, margin keuntungan bank. Sementara premi menyangkut faktor risiko yang dihadapi bank.

Dari hasil kajian, salah satu komponen yang angkanya masih tinggi adalah SBDK perbankan. Selama penurunan suku bunga acuan BI-7DRRR dan deposito 1 bulan, SBDK perbankan baru turun sebesar 75 bps menjadi 10,11 persen.  Lambatnya penurunan SBDK menjadi sebab masih tingginya spread SBDK dengan suku bunga BI7DRR dan deposito 1 bulan, masing-masing sebesar 6,36 persen dan 5,84 persen. Pantas saja debitur menjerit tercekik suku bunga kredit yang masih tinggi.

Setelah nanti perbankan dapat menurunkan tingkat suku bunganya untuk membantu mendongkrak pertumbuhan kredit dalam menopang pemulihan ekonomi, pemerintah secara bersamaan harus mendorong kenaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan daya beli secara signifikan.

Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada tahun ini masih sangat dibutuhkan untuk menstimulasi ekonomi. Pemerintah masih harus mengalokasikan anggaran relatif besar untuk bantuan sosial, bantuan langsung tunai, dan program padat karya. Program tersebut menjadi cara yang efektif, terbaik, cepat, dan relatif mudah implementasinya di lapangan.

PEN cukup efektif meningkatkan belanja masyarakat level bawah karena kecenderungan mengonsumsi (marginal propensity to consume/MPO)-nya tinggi. Masyarakat level bawah dan rentan miskin jika mendapatkan uang akan langsung dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, realisasi dana PEN pada tahun ini harus lebih baik lagi agar dapat mengakselerasi permintaan yang relatif lemah pada periode sebelumnya. Realokasi anggaran ke sektor yang terbukti efektif menaikkan permintaan domestik harus diprioritaskan. Semoga.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF