Organisasi Profesi Kesehatan di Indonesia Menolak Kerjasama Foundation for a Smoke-free World dan Afiliasinya
berita
InfoTink
21 November 2019 17:15
Jakarta, 21 November 2019 – Hari ini, sejumlah perhimpunan dokter di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan sikapnya terhadap industri rokok yang mengajak bekerja sama dalam bentuk organisasi kesehatan “bayangan” yang berusaha mengecoh dengan program yang seakan dibentuk untuk kesehatan. Pernyataan sikap itu disampaikan bersama di Kantor Pengurus Besar IDI, Jakarta.

Pada September 2017, sebuah yayasan dunia yang bernama Foundation for a Smoke-free World (FSW) didirikan oleh Philip Morris Internasional (PMI), salah satu industri rokok raksasa asal Amerika. Yayasan ini seakan-akan mempromosikan upaya untuk berhenti dan mendukung usaha negara-negara di seluruh dunia untuk bebas dari “asap“ rokok yang dibakar.  FSW menerima US $4,5 juta pada 2017 dan $80 juta per tahun pada 2018 selama 12 tahun untuk mendukung produk tembakau baru yang dipanaskan (Heated Tobacco Products) yang akan dilansir dengan penelitian antara lain tentang pengurangan dampak buruk merokok konvensional, dan proyek alih tanam bagi petani tembakau. Foundation for a Smoke-free World  memberikan dana-dana penelitian dan kampanye ke lembaga-lembaga riset kesehatan, akademisi, universitas, dan sebagainya, seakan-akan mendukung upaya membebaskan dunia dari rokok.

Perlu diketahui, apa yang dimaksud dengan “dunia bebas asap rokok” bukanlah “dunia bebas rokok (produk tembakau)” seperti yang kita kira. Istilah “dunia bebas asap rokok” merupakan strategi bisnis PMI dengan menggunakan istilah kesehatan “smoke-free” yang sangat mengecoh. Produk tembakau baru yang dikeluarkan PMI bernama IQOS. Untuk mendukung bisnis baru itulah, PMI membentuk Foundation for Smoke-free World yang akan mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk mengintrodusir dan memasarkan produk barunya agar diterima oleh masyarakat dan regulator.

FSW yang didirikan PMI adalah upaya untuk mempersiapkan konsumen di seluruh dunia dengan dalih untuk berpindah ke produk baru yang diklaim lebih aman untuk kesehatan, yang sesungguhnya merupakan pengembangan produk rokok konvensional yang telah ada. Sampai saat ini, mereka masih tetap memproduksi, mengiklankan, dan menjual rokok (konvensional), terutama di negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

Melihat keadaan ini, maka praktisi kesehatan di Indonesia diharapkan cukup terinformasi dan waspada terhadap taktik yang dilakukan PMI melalui Foundation for a Smoke-free World. Disinyalir, saat ini FSW telah masuk ke Indonesia melalui organisasi-organisasi “bayangan” yang mendekati dan membujuk lembaga-lembaga riset, akademisi, dan universitas untuk melakukan penelitian atau kampanye seputar “dunia tanpa asap rokok” untuk mendukung bisnis baru produk tembakau tembakau yang dipanaskan yang merupakan ancaman baru bagi kesehatan masyarakat.

Sehubungan dengan hal tersebut, hari ini, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengadakan diskusi dengan seluruh anggota IDI, yaitu organisasi-organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis dan Perhimpunan Dokter Seminat (PDSM) untuk membicarakan hal ini. Dalam kesempatan yang sama, mereka membuat pernyataan sikap terhadap kehadiran FSW dan afiliasinya di Indonesia.

“Sebagai front liner dalam menjaga kesehatan masyarakat, dokter harus mengetahui ancaman-ancaman lain yang bisa jadi muncul dari industri yang membahayakan kesehatan. Setelah kami berdiskusi, kami sepakat menyatakan sikap untuk menolak bekerja sama dengan industri rokok, termasuk Foundation for Smoke-free World dan afiliasinya, dalam bentuk apapun demi melindungi generasi yang akan datang,” ungkap  Dr. Daeng M Faqih, SH, MH., Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia. 

Sebagai hasil diskusi tersebut, organisasi-organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis (PDSP) dan Perhimpunan Dokter Seminat (PDSM) menyatakan sikapnya untuk menolak Foundation for Smoke-free World dan afiliasinya karena aktivitasnya akan berpengaruh kepada kesehatan Indonesia. Lembar pernyataan sikap dalam penyempurnaan dan akan diedarkan menyusul setelah diskusi hari ini.

Informasi lebih lanjut:
Kantor PB Ikatan Dokter Indonesia
Jl. Sam Ratulangie No. 29 Menteng, Jakarta Pusat
Telp. (021)3150679 / (021)3900277 |Email:  pbidi@idionline.org

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir