Idul Fitri DI Yogyakarta, Warga Lakukan Lockdown
berita
InfoTink
Sumber Foto: kompas.com 25 May 2020 17:30
Penulis
Memasuki hari kedua hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H (25/05/2020), sebagian besar warga masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih melakukan lockdown atau pembatasan kunjungan bagi warga yang hendak berkunjung ke rumah kerabat dalam rangka silaturrahmi Hari Raya. 

Lockdown tersebut dilakukan antara lain oleh warga masyarakat di Desa Tambakbayan Babarsari Kelurahan Caturtunggal-Kecamatan Depok Sleman, Kelurahan Sardonohardjo-kecamatan Ngaglik, Sleman, Kelurahan Tamanan dan Kelurahan Baturetno-Kecamatan Banguntapan, Bantul DIY dan Kelurahan Prenggan Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.

Pembatasan kunjungan dilakukan dengan melarang warga luar wilayah masing-masing untuk datang berkunjung ke rumah kerabat setempat. Hal tersebut dilakukan oleh warga dalam upaya menghindari merebaknya wabah covid-19. Namun di beberapa lokasi masih diizinkan masuk dengan protokol pencegahan yang ketat dan warga yang dibatasi jumlahnya.  

Di Yogyakarta sendiri sampai dengan 23 Mei 2020 kasus positif covid-19 bertambah lima orang sehingga total kasus menjadi 225 kasus positif di DIY.

Penambahan lima kasus tersebut tiga di antaranya dari klaster Indogrosir, Sleman DIY.

Mujimin (53 thn) tokoh warga Desa Pelem Kidul Baturetno, Kecamatan Banguntapan yang wilayahnya melakukan lockdown bagi kunjungan tamu hari raya menyatakan, pembatasan kunjungan tersebut adalah dalam rangka mencegah penumpukan banyak warga di satu lokasi yang berisiko terjangkit sebaran wabah covid-19 di wilayahnya.

“Hal itu tidak menjadi masalah dan tidak mengurangi kekhidmatan suasana Hari Raya Idul Fitri kali ini. Justru warga melakukan pembatasan karena terkait situasi dan kondisi negara yang sedang terjangkiti wabah covid-19. Silaturrahmi lebaran bisa diatasi oleh penggunaan teknologi digital HP dan lainnya. Toh ini sementara saja sifatnya” Ujar Mujimin. 

Hal senada juga dikatakan oleh Suryadi (55 th) warga masyarakat Desa Sardonohardjo, Ngaglik Sleman DIY yang meskipun tidak begitu efektif dalam mengurangi sebaran covid-19, namun mendukung dilakukannya lockdown terbatas di kampung-kampung Di DIY.

“Warga DIY punya kesadaran yang tinggi, meskipun tetap ramai beraktivitas, namun selalu mematuhi prokotol pencegahan wabah covid-19. Adanya lockdown saat ini tidak mengurangi kekhidmatan perayaan Idul Fitri 1441 H.” tandas pengusaha garment yang rajin berkeliling di wilayah DIY.  

Sementara itu Ketua Majelis Ulama (MUI) wilayah DIY KH. Thoha Abdurrahman ketika dihubungi hari ini (25/5/2020) menyatakan, tidak masalah adanya penerapan lockdown di desa-desa di DIY selama hari raya Idul Fitri 1441 H. 

“Hal itu bagi ummat Islam tidak menjadi problem, karena tidak mengurangi kekhidmatan silaturrahim lebaran. Justru menunjukkan kontribusi umat Islam dalam ikut berupaya menanggulangi penyebaran wabah berbahaya covid-19”. Ujar KH Thoha Abdurrahman.

Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Dr.M. Supraja menyatakan masyarakat Yogyakarta amat toleran. Upaya Lockdown selama hari raya saat ini diyakini bersumber dari upaya kreatif warga Yogyakarta dalam ikut mencegah penyebaran wabah covid-19 di wilayah DIY.

“Hal itu juga akibat dari kurangnya sosialisasi Pemerintah Pusat yang seharusnya melakukan perluasan informasi protokol pencegahan covid-19 sampai ke tingkatan desa. Lockdown atau pembatasan di kampung-kampung terlebih pada masa hari raya Idul Fitri saat ini adalah upaya kreatif warga yang melaksanakan upaya mandiri pada tingkatan desa di DIY”. Ujar pengajar Fisipol UGM tersebut. 

“Oleh karenanya, upaya masyarakat tersebut patut diarahkan lebih lanjut oleh Pemerintah Provinsi DIY agar terjaga efektivitasnya dalam ikut mencegah perluasan penyebaran wabah covid-19” Tambah M.Supraja. (Pril Huseno)

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI