Erros Djarot Rilis Single 1&2 Bukan Segalanya dan Politisi Zaman Edan
berita
InfoTink
25 March 2019 15:30
Watyutink.com - Erros Djarot turun gunung. Prihatin atas kondisi negeri yang terbelah pada pilihan politik antara Capres nomor urut 01 dan 02, ia mencipta karya seni yang menunjukkan kegelisahannya. Hasilnya jadilah dua single: 1&2 Bukan Segalanya dan Politisi Zaman Edan. 

Siapa tak kenal Erros Djarot. Dia legenda hidup baik di bidang seni musik dan film. Pada tahun 1970-an ia melahirkan Badai Pasti Berlalu yang abadi hingga kini. Namanya juga turut berkontribusi pada karya-karya legendaris lain, mulai dari Guruh Soekarno Putra, Chrisye, hingga Yockie Soerjoprajogo. Tak heran majalah Rolling Stone Indonesia turut menahbiskannya sebagai salah satu dari 25 musisi terbesar Indonesia dan karyanya masuk daftar teratas 150 Album Indonesia Terbaik sepanjang masa. 

Di bidang film, ia melahirkan Tjoet Nja Dhien, salah satu film Indonesia terbaik dan jadi yang pertama masuk festival film Cannes. 

Selain sebagai seniman ia juga dikenal sebagai politisi, budayawan dan tokoh pers. Ia pernah jadi penasihat politik Megawati Soekarnoputeri dan turut membidani kelahiran PDI Perjuangan. Ia sendiri pernah mendirikan partai PNBK (Partai Nasionalis Bung Karno). Di bidang pers, Erros menerbitkan tabloid Detik yang dibredel Soeharto. Kini, ia pemimpin umum Watyutink.com.

Di tengah kesibukannya, Erros Djarot tak pernah berhenti berkarya. Karya teranyarnya ini lahir di tengah hiruk-pikuk Pilpres dan Pemilu 2019. Ia gelisah menyaksikan perilaku politisi yang menggiring rakyat jadi terbelah dalam dua kelompok pilihan politik yang saling bermusuhan. 

Di lagu pertama, ia mengingatkan angka 1 dan 2 bukan angka sempurna. Itu hanya angka piliham untuk lima tahun ke depan. Ada angka lebih sempurna, 17-08-1945. Itu angka keramat yang merupakan dasar keberadaan kita semua. Angka itu harus dijaga dengan persatuan dalam semangat kekeluargaan.

Sedang di lagu yang kedua, Politisi Zaman Edan, ia menyoroti politik transaksional yang telah jadi praktek umum politisi negeri ini. Frasa "Wani piro?!" alias "Berani bayar berapa?" didengungkan sepanjang lagu ini.

Melalui dua lagu tersebut, Erros Djarot berharap bangsa Indonesia tetap kritis saat melakukan pilihan di pilpres dan pemilu 2019. "Jangan biarkan mereka memecah belah kita lewat politik, agama, dan budaya!" pesannya.  

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Karena Tak Melibatkan Ahli Kesehatan             Perlu Rekayasa Kebijakan Naikkan Daya Beli             Civil Society Perlu Awasi Hitung Suara             Holding BUMN Penerbangan             Saatnya Rekonsiliasi             Klaim Prabowo-Sandi Perlu Dibuktikan             Perlu Sikap Kesatria Merespons Kekalahan Pilpres             KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha