Black Panther, Superhero Kulit Hitam di Zaman Trump
berita
Humaniora

Sumber Foto: Marvel Studio via Movie and TV Series What's On

21 February 2018 16:00
Oktober 2014. Marvel Studio mengumumkan superhero milik Marvel, Black Panther, bakal dibuatkan film solo (stand alone movie). Sebuah studio film Hollywood milik konglomerasi Disney yang eksekutif puncaknya kebanyakan kulit putih berniat bikin film superhero yang jagoan utamanya kulit hitam dan ber-setting Afrika.

Rasanya, waktu itu, ini bukan kabar yang besar betul. Kita ingat, di dunia nyata, Barack Obama, pria keturunan Afrika-Amerika menduduki jabatan tertinggi di AS: Presiden. Superhero di film tak ada apa-apanya dibanding presiden negara adidaya. 

Kita ingat juga, pengumuman film solo Black Panther itu berbarengan juga dengan intensitas gerakan Black Lives Matter. Warga kulit hitam AS turun ke jalan memprotes kebrutalan perilaku polisi yang menewaskan sejumlah warga minoritas. Artinya, membuat film pahlawan super kulit hitam sebentuk upaya bersimpati pada golongan tersebut. 

BACA JUGA: Orang Betawi Berpolemik Soal Si Pitung: Tunggal Atau Tujuh?

Namun, tiga tahun kemudian, angin politik AS berbalik arah 180 derajat. Obama diganti Donald Trump. Pengusaha yang bekas bintang reality show ini adalah anti-tesis Obama: kulit putih, konservatif, anti-imigran, phobia Islam, tak percaya pemanasan global, dan lain-lain. Kemenangan Trump juga memberi angin segar bagi gerakan supremasi kulit putih. Golongan minoritas, termasuk kulit hitam, dipinggirkan. 

Di titik ini, perilisan Black Panther jadi penting. Ia bukan superhero kulit hitam pertama bikinan Hollywood. Hollywood telah membuat Blade (Wesley Snipes), Hancock (Will Smith), hingga Cat Woman (2004) versi Halle Berry yang buruk. Black Panther jadi suara bagi kaum yang terpinggirkan di jagat politik AS. Untuk kali pertama, film yang disutradarai dan mayoritas dibintangi orang kulit hitam, ditujukan bagi pasar mainstream dan global. Black Panther bukan jenis film kulit hitam untuk pasar kulit hitam. Ia jadi bagian franchise Marvel Cinematic Universe yang merajai box office dunia, mengumpulkan 13,5 miliar dolar AS atau setara Rp180,2 triliun. Ada pertaruhan besar di sini. Bujetnya saja 200 juta dolar AS atau Rp2,6 triliun.    

Pertanyaan besarnya lalu, apa Black Panther versi film telah menempatkan ras kulit hitam dengan terhormat di filmnya?

BACA JUGA: Bias Gender Di Film Horor Kita  

Tidak lama sejak film ditemukan, yang dijual film adalah eskapisme. Film jadi jembatan penonton lari dari kenyataan hidup. Itu sebabnya yang disajikan film kebanyakan adalah mimpi: jadi orang kaya, sukses, pintar, cantik, tampan, dan lain sebagainya yang tak teraih di dunia nyata. Di Black Panther, mimpi yang dijual adalah orang Afrika-Amerika punya kuasa dan kekuatan super. Padahal, pada kenyataannya, rata-rata penghasilan mereka hanya 17.600 dolar AS setahun. Bandingkan dengan rata-rata penghasilan warga kulit putih setahun: 171 ribu dolar AS. Berhasilkah Black Panther menyajikan mimpi penonton kulit hitam? 

BACA JUGA: Marlina, Antara Koboi Sate Dan Perempuan Jagoan

Saat ini hampir 40 persen warga AS tergolong kelompok minoritas. Artinya, sebuah film superhero megah tentang golongan minoritas tentulah akan disukai golongan ini, sambil tetap menghibur orang kebanyakan. Artinya, bagi Disney, apa Black Panther semata praktik ekonomi: menggaet sebanyak mungkin penonton baik mayoritas dan minoritas?     

Sekali lagi fakta bicara. Di tiga hari pertama film ini mengumpulkan 192 juta dolar AS (Rp2,5 triliun) di Amerika saja. Pertanda warga Afro-Amerika suka?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pekerja dan penggemar film, rutin menulis ulasan film di medsosnya

Sebagai superhero Marvel yang pertama dari Afrika, Black Panther membawa sekoper beban harapan yang berat. Yang terberat dari harapan itu berkaitan dengan isu representasi atau keterwakilan. Banyak orang memandang Black Panther sebagai penyelamat. 

Di zaman ketika peran-peran non-kulit putih dimainkan aktor kulit putih jadi perbincangan hangat (ingat, Ghost in the Shellred), kini saatnya kaum minoritas dijadikan bintang utamanya. Di filmnya sendiri mereka tak hanya mengisi karakter protagonis, namun juga karakter penjahat tragis, yang rasanya layak disebut (salah satu) bagian terbaik persembahan Marvel sejauh ini.   

(Sutradara) Ryan Coogler angkat nama sebagai sineas berbakat dengan kejelian mengisahkan cerita multi-plot. Setelah dua karyanya yang luar biasa, Fruitvale Station dan Creed, dia kembali dan sekali lagi membuktikan bahwa ia sutradara muda paling berbakat saat ini. 

Menurut saya film ini tak semata dibuat Disney untuk kepentingan ekonomi. Mungkin lebih pas sebagai kejelian mereka membaca pasar dan juga dengan mandat Marvel untuk selalu membuat sesuatu yang baru dengan karakter-karakternya. Black Panther adalah salah satu tokoh Marvel yang paling relevan saat ini. Dan juga, sebelum diumumkan film ini akan dibuat tahun 2014 lalu, ia film yang paling di-request oleh fans Marvel selain Doctor Strange. Jadi dari ‘survey’ tersebut mungkin Marvel makin pede memproduksi Black Panther

Dengan berjalannya waktu dan berhasil digaetnya Ryan Coogler, maka relevansi Black Panther hadir di masa pemerintahan Trump di AS makin terasa. Ingat, untuk Black Panther, sebelumnya Marvel bernegosiasi juga dengan (sutradara perempuan kulit hitam, pembuat Selma--red) Ava DuVernay yang selalu membuat film sarat pesan moral, tapi sayangnya gagal. 

Black Panther tidak hanya bicara tentang pahlawan super, tapi juga bicara tentang isu rasisme, kolonialisme, kesukuan, dan debat yang tak kunjung habis soal modernisme versus tradisionalisme. Filmnya begitu padat hingga terasa penuh dan jelas sekali inilah film Marvel dengan tema paling berat hingga saat ini. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dermatologist, Kritikus film, kolektor film dan memorabilia, wartawan film dan kesehatan harian Waspada 

Bicara representasi Afrika-Amerika atau lebih populer disebut “black movies” dalam kultur sinema, kita harus melihat sejarahnya. Upaya-upaya diversity ini sudah lama dilakukan dan beberapa di antaranya malah berhasil mencatat sejarah bukan saja dalam masalah penerimaan, tapi juga di ajang-ajang awarding seperti Academy Awards.

Namun salah satu tonggaknya memang ada di arus blaxploitation di era’70-an, yang membuat etnisnya mengeksplorasi identitas mereka sendiri terhadap berbagai genre dari action, martial arts hingga horor, juga merambah Asia dengan status well-known atas beberapa nama aktor kulit hitam seperti Fred Williamson, Jim Kelly, atau Richard Roundtree.

Kultur ini semakin berkembang di akhir ’80 ke awal ‘90-an yang bisa dikatakan awal kebangkitan sinema mereka lewat nama-nama sineas Spike Lee dan John Singleton. Membawa representasi kultur yang lebih kuat dalam relevansi-relevansi sosial, mereka juga menunjukkan bahwa pangsa pasarnya memang ada; dengan sejumlah film dalam segmentasi black movies yang selalu bisa menempati posisi teratas box office di minggu pertama perilisannya. 

Di era ini pula, selain semakin banyak aktor berkulit hitam yang bisa diterima jauh lebih luas, mulai muncul film-film superhero kulit hitam seperti The Meteor Man dan Blankman (yang terakhir ini lebih mengarah ke komedi), namun segmentasinya masih sangat terbatas ke ranah black movies.

Selanjutnya muncul Spawn, Blade, Catwoman, dan Hancock di ranah yang lebih diverse – bukan lagi di segmentasi black movies. Namun film-film ini memang hanya menempatkan identitas karakter ketimbang representasi kultur. Saat perjuangan-antirasisme kemudian semakin mendapat dukungan dan kesadaran luas di zaman Obama, era Trump membawa kultur sinema ini menjadi sebuah perlawanan secara lebih besar lagi, termasuk dalam gerakan menggugat Oscars So White.

Di situlah lantas Black Panther menjadi sangat relevan. Di saat tetap banyak film yang menjual karakter kulit hitam semata hanya untuk menggaet pangsanya, sebagai elemen penting di MCU, Kevin Feige (bos Marvel Studio) membawa konsep representasi benar-benar terasa bukan sebagai latar atau sempalan. Ia memang tetap berada di pakem film superhero Marvel, namun juga punya kehebatan konsep yang membuat Marvel selalu bisa menghadirkan introduksi kuat terhadap karakter-karakter superhero-nya. 

Walau tetap bermain di ranah fantasi, kerajaan fiktif Wakanda mampu mereka jadikan latar relevan untuk merepresentasikan kultur Afrika secara keseluruhan di atas diversifikasi bentukan karakter multi-dimensional dan ketepatan cast-nya. Masing-masing punya background, motivasi dan perubahan terhadap plot yang jelas berbicara soal bentrokan pola pikir lintas generasi, juga memuat ide pemberdayaan perempuan etnisnya dengan kuat. Ini bukan saja jadi sebuah pencapaian lebih buat MCU, tapi juga menempatkan etnis mereka dengan penuh respek.

Dan terlebih dalam genre superhero, Black Panther juga berhasil menyajikan mimpi tak hanya bagi etnisnya, tapi juga golongan yang ada di garis-garis minoritas lainnya. Bahwa gambaran Wakanda yang sekilas terlihat terbelakang namun secara tersembunyi punya teknologi super dan lantas menjadi inti konflik buat menentukan arah penggunaannya, dengan sendirinya membuat semangat kepahlawanan dalam konsep dasar kisah-kisah superhero muncul dengan solid. Dan lagi, ini semua dibesut di level produksi kelas satu blockbuster Hollywood. Di ranah black movies yang bukan hanya punya satu-dua karakter kulit hitam, Black Panther jelas merupakan pionir yang bisa mendobrak segmentasi itu.

Selebihnya adalah momentum. Bahwa era Trump memang tengah membangkitkan banyak perlawanan yang bukan saja hanya jadi urusan ras atau etnisnya, memang membuat Black Panther mendapatkan momentum yang pas untuk sebuah semangat pembaruan. Hype dari kalangan etnis dan para pendukungnya, fans Marvel yang memang jadi standar tertinggi genre superhero sekarang, wom (word-of-mouth) yang bergerak pesat lewat rekor box office minggu pembuka, jelas membuat Black Panther menjadi pemenang yang layak. Paling tidak, black movies tak lagi identik dengan treatment non-blockbusters karena persepsi-persepsi segmentasi itu sudah berhasil didobrak. 

Black lives matter, dan Black Panther sudah melakukan representasinya dengan tepat. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh