Bias Gender di Film Horor Kita
berita
Humaniora

Dok. Rapi Film

21 October 2017 16:30
Film Pengabdi Setan versi anyar karya Joko Anwar dinobatkan sebagai film horor Indonesia terlaris sepanjang masa. Penonton kita rupanya suka ditakut-takuti sosok ibu yang menyeramkan di film tersebut. 

Orang lantas lupa Pengabdi Setan versi 2017 sebetulnya juga menyentuh soal gender. Tengok alasan si ibu (diperankan Ayu Laksmi) sakit lantas jadi hantu. Diceritakan, semula pernikahan si ibu tak direstui lantaran profesi ibu sebagai penyanyi atau seniman. Kemudian, untuk punya anak, si ibu sampai bergabung dengan sekte pengabdi setan. Joko memperlihatkan budaya patriarki yang memandang rendah perempuan seniman dan tekanan bagi perempuan untuk punya anak. Si ibu sakit bertahun-tahun, mungkin lantaran merasa tertekan dan tak rela anak bungsu yang ia lahirkan harus diserahkan (atau memimpin) sekte pengabdi setan. 

Tafsir gender pada Pengabdi Setan tak hanya sampai situ. Setelah meninggal, ibu jadi hantu. Di versi aslinya juga demikian. Joko tak banyak melakukan perubahan kecuali memberi dasar cerita yang lebih logis kenapa si ibu jadi hantu. Yang tak berubah, setelah 37 tahun tetap perempuan yang digambarkan sebagai hantu. 

Ini menarik dikaji. Dalam tradisi cerita misteri kita, hantu paling sering diwujudkan dalam sosok perempuan ketimbang laki-laki. Kita mengenal kuntilanak serta sundel bolong. Ada juga kisah hantu "Si Manis Jembatan Ancol" yang menurut legendanya perempuan yang tewas diperkosa. Baik kuntilanak, sundel bolong, dan Si Manis Jembatan Ancol telah berkali-kali difilmkan. Kita tentu mengenal Suzzanna yang dinobatkan sebagai Ratu Horor. Jagat perfilman kita tak mengenal Raja Horor. Nah, ini mengundang tanya: kenapa terjadi begitu? 

Di Hollywood yang melegenda jadi bintang film horor justru pria. Sejarah film mencatat Bela Lugosi dan Boris Karloff sebagai langganan film horor, memerankan Dracula, mumi hingga monster Frankenstein. Di budaya pop Barat, hantu relatif tak bias gender. Hantu tak dominan diisi satu jenis kelamin, tingkatan usia maupun profesi. Ada film vampir yang pria, Casper si hantu anak-anak dan bahkan hantu biarawati Valak. Lalu, kenapa hal demikian tak terjadi di Indonesia serta Asia secara umum (ingat film The Ring? Sadako juga hantu perempuan)? Apa ini ada kaitannya dengan perempuan sebagai warga kelas dua dalam budaya patriarki masyarakat Asia (baca: Timur)? 

Mungkin sekali, hantu perempuan adalah bentuk perlawanan halus. Ketika di dunia nyata mereka dikalahkan kaum laki-laki, kaum perempuan membalaskan dendam di dunia rekaan dan mitos. Atau, hantu-hantu perempuan ini justru diciptakan kaum laki-laki. Perempuan yang jadi hantu biasanya arwah penasaran yang punya dendam. Pada akhirnya, sebagaimana lazimnya film-film horor Indonesia era Orde Baru, hantu perempuan dikalahkan kyai (baca: laki-laki). Si hantu dinasihati agar sadar dan kembali ke jalan yang benar. Lagi-lagi pada akhirnya lelaki yang jadi pahlawan. 

Lantas, sampai kapan perempuan jadi hantu dan lelaki jadi pahlawan? Pengabdi Setan versi 2017 yang meraup 3 jutaan penonton pun tak hendak mendobrak kebiasaan ini. Kapan soal hantu ini terbebas dari bias gender?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)      

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penulis buku

Hantu muncul untuk menjelaskan hal-hal yang tidak bisa dinalar, yang tidak jelas, misterius, atau ambigu. Sebagaimana kita tahu di Indonesia begitu banyak hal yang tidak jelas. Mulai dari urusan hukum hingga sosial ekonomi. Selain itu juga ketidakberdayaan. Masyarakat merasa tak berdaya dalam menjalani kehidupannya. Hantu jadi cara mudah untuk menjelaskan hal-hal yang sifatnya misteri. 

Menariknya, justru nama-nama hantu sangat jelas. Kita bisa spesifik menamai perempuan meninggal saat melahirkan dinamakan kuntilanak. Lalu, ada Suster Ngesot yang katanya suster korban perkosaan dan kakinya dimutilasi. Juga ada genderuwo, tuyul, sundel bolong yang masing-masing punya cerita sendiri. Kecenderungan itu terjadi karena masyarakat sulit menjelaskan yang terjadi di kehidupan (nyata) akhirnya beralih pada hal-hal imajinatif. 

Konsep hantu ada juga karena masyarakat kita religius. Saya pernah baca hasil peneliti Belanda tahun 2014 yang melakukan studi pada kelompok religius dan non-religius. Si peneliti menyebut konsep "iblis", "setan, "hantu", dan sebagainya. Kelompok religius terpengaruh konsep-konsep yang disodorkan itu, sementara buat yang tidak religius tidak terlalu berpengaruh. Masyarakat kita yang religius percaya pada banyak sekali hal-hal yang tidak bisa dilihat, yang gaib, antara lain hantu. Dan hal itu memang ada doktrinnya dalam agama. Misalnya ada ayat yang menjelaskan "Aku ciptakan jin dan manusia..." Maka, orang yang beriman cenderung percaya pada hantu. 

Akhirnya orang cenderung expecting melihat hantu. Terjemahan "expecting" ini bukan ingin, tapi rasa yang kita tak mau namun kita seperti menunggu (kedatangannya). Misal, ketika masuk tempat gelap, kita menduga atau expecting bakal melihat hantu. 

Hantu juga bisa diartikan sebagai hasrat masyarakat untuk keadilan. Secara nurani kita merasa ada yang salah bila melihat perempuan korban perkosaan tewas. Atau ada perempuan yang meninggal saat melahirkan karena tidak mendapat layanan kesehatan memadai. Sebagai manusia, orang terusik. Di tengah ketidakjelasan dan ketidakberdayaan ini timbul cerita-cerita hantu. 

Di sisi lain, orang senang nonton film horor karena menimbulkan thrill, perasaan deg-degan, seperti saat naik wahana roller coaster di Dufan. Kenapa senang? Kenapa terasa asyik? Sebab, orang-orang itu tahu mereka tak sedang menghadapi pengalaman berbahaya yang sesungguhnya. Nyawa mereka tak terancam. Hal ini juga menjelaskan posisi ketakberdayaan masyarakat. Cerita-cerita hantu diwariskan secara umum untuk membalaskan ketidakadilan. Namun di saat bersamaan mereka juga tahu (hantu) itu bukan ancaman yang nyata. Mereka tahu hantu hanya menakuti, tak bisa membunuh. Jadi sebetulnya, bila dibilang untuk melawan ketidakadilan, hantu perempuan kurang dari cukup. Karena sebatas itu saja perannya (menakut-nakuti). Tidak ada implikasi terhadap perbaikan untuk membebaskan perempuan dari kekerasan, misalnya.

Kondisi ini mungkin ada kaitannya dengan kekuasaan. Kebetulan kekuasaan kebanyakan terdistribusi pada lelaki. Tidak semua lelaki jahat dan melakukan kekerasan pada perempuan, namun pihak-pihak yang berkuasa cenderung melanggengkan kekuasaan. Artinya, kekuatan cerita hantu hanya di tataran (fiksi, mitos) itu saja, tidak cukup kuat melawan pihak-pihak yang berkuasa. Cerita dan mitos hanya bagian kecil. Dan mungkin juga tidak ada orang yang bersungguh-sungguh menjadikan itu sebagai mekanisme perlawanan. Cerita hantu sebatas menggelitik. Tidak ada gerakan untuk mengubah keadaan. Cerita dan mitos bisa juga diartikan untuk memelihara kemapanan.

Cerita hantu jadi jalan keluar ketika di realitas mentok. Di Indonesia, atau di budaya Timur, karena perempuan sulit mendapat jalan keluar di dunia nyata, maka solusi yang mudah lewat (cerita) imajinasi. Kemungkinan lain, hantu perempuan lahir sebagai perwujudan rasa bersalah kaum lelaki. Hantu perempuan di Indonesia muncul dari rasa bersalah kolektif masyarakat yang patriarkal.

Kesimpulannya, hantu perempuan lahir dari ketidakadilan, namun sama sekali bukan bentuk perlawanan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sejarawan, pemerhati isu perempuan, kordinator dan peneliti di Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Indonesia  

Pertanyaan "mengapa hantu kebanyakan perempuan" bisa disederhanakan menjadi ada apa dengan perempuan dan mengapa mereka jadi hantu? Cerita-cerita soal hantu di masyarakat biasanya punya pola yang sama, muncul dari bawah (masyarakat) dan menjadi memori kolektif berupa sejarah lisan tentang suatu peristiwa tertentu. 

Misalnya, bagaimana legenda Nyi Roro Kidul muncul sebagai pertanda Sultan Agung yang mulai kehilangan daerah kekuasaannya di pantai Utara yang dikuasai VOC dan kemudian 'pernikahan gaib' dengan Ratu Kidul dilangsungkan sebagai pelanggeng kekuasaan di laut Jawa. Atau mitos tentang tuyul yang hadir akibat kekeringan dan kemiskinan akibat gagal panen/susah tanam yang menimbulkan kecurigaan ketika dalam masa yang susah, ada orang yang menjadi kaya mendadak.

Cerita hantu di masyarakat sebagai sejarah lisan dan ketika menjadi film tentu selalu berbeda-beda. Dalam film, tokoh dan peristiwa sudah mengalami intepretasi pembuatnya seperti bagaimana cerita tersebut banyak berubah dan diadaptasi oleh beberapa generasi. Misalnya dalam penelitian saya tentang Kuntilanak, Kuntilanak bisa jadi tanpa gender di awal kemunculannya. Namun kemudian dilekatkan gender perempuan karena beberapa hal, bisa jadi karena asosiasi rambut panjang di hari ini identik dengan perempuan atau dikaitkan dengan momok kematian ibu melahirkan di Pontianak. Nama Kuntilanak yang berasal dari Kunthien yang berarti pohon besar bisa menjadi hantu perempuan Kuntilanak (kunti mati beranak).

Identifikasi gender yang terjadi juga bisa dilihat tidak hanya pada fenomena hantu, tapi juga panggilan. Kita yang sebelumnya tidak menggunakan gender sebagai identifikasi, sekarang semakin sering menggunakannya sebagai kategori. Bagaimana kata 'tuan' sekarang dilekatkan pada laki-laki, padahal kata tuan sebagaimana ditemukan dalam lirik lagu Ismail Marzuki bermakna tanpa gender. Ini memunculkan pertanyaan berikutnya: mengapa perempuan lebih sering menjadi hantu? 

Berbeda dengan laki-laki, perempuan diposisikan sebagai manusia kelas dua. Secara general laki-laki tidak butuh menjelaskan bahwa dirinya manusia laki-laki sedangkan perempuan harus menjelaskan identifikasi gendernya baru dia dilekatkan identitas manusia. Perempuan hidup dalam dunia yang dibuat dan dikendalikan oleh pikiran lelaki. Faktanya, hampir 97 persen perempuan pernah mengalami kekerasan seksual berupa catcalling (digoda, dipanggil, disiul di jalanan). Yang terburuk mungkin terjadi pada "Si Manis Jembatan Ancol", karena dia mati diperkosa dalam balutan kebaya tapi hidup kembali dengan dress modern ketat. 

Hampir setiap perempuan mengalami masalah seksualisasi dan kekerasan seksual. Menjadi hantu adalah cara untuk marah atas ketidakadilan yang terjadi akibat identitas keperempuannya.

Kita sadar terhadap ketidakadilan yang terjadi kepada perempuan, tapi berusaha membalutnya menjadi sesuatu yang menyeramkan, melanggengkannya menjadi hantu dalam sinema, alih-alih menyelesaikan masalah sosial yang terjadi.

Masalah-masalah sosial perempuan seperti kematian ibu melahirkan, keadilan bagi korban pemerkosaan, stigma buruk bagi perempuan yang dilacurkan, keamanan perempuan berjalan sendirian dianggap bukan prioritas utama untuk diselesaikan. Sampai hari ini saja masih banyak orang berpikir perempuan berasal dari tulang rusuk padahal jelas-jelas semua manusia lahir dari vagina perempuan, hal sederhana tersebut adalah contoh bagaimana perempuan dipinggirkan dan dibungkam suaranya tentang ketidakadilan yang menimpanya. Perempuan akan terus menjadi hantu karena kita yang menjadikannya begitu, semakin masyarakat tidak peduli pada feminisme dan dunia yang lebih adil bagi perempuan, perempuan akan terus menghantui. Hidup ataupun mati. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara

Gender memang akan selalu bias selama manusia belum mono gender. Bias gender juga bisa dilihat dari perspektif yang berbeda. Kaum laki-laki juga bisa protes mengapa tidak seperti film horor Hollywood yang punya tokoh hantu seperti Freddy Krueger, Jason, ataupun Bogeyman. Di film horor Indonesia selalu saja perempuan yang jadi setannya sehingga menutup kesempatan berakting di film bagi laki laki untuk berperan sebagai setan.

Soal perfilman horor, film film horor Hollywood justru jauh lebih ahistoris ketimbang film horor bikinan Indonesia. Soal hantu atau setan perempuan, sadar atau tidak, perfilman Indonesia justru paling "nyambung" dengan kisah sejarah tua peradaban manusia di masa Babilonia dan Sumeria yang mengenal tokoh antagonis, sosok perempuan bernama Lilith.

Konon, Lilith adalah isteri pertama Adam sebelum Hawa yang diciptakan secara bersamaan dengan Adam.

Dalam berbagai kisah kuno, Lilith merupakan manifestasi dan representasi dari kebinalan, kesundalan, kebobrokan, kekacauan, dan kefasikan. Ia paling piawai membangun ilusi yang memutar balik realita pada kesadaran manusia melalui berbagai mantra dan kutuk yang ditebar ke udara untuk menjadikan keseksian, kecantikan sebagai berhala yang mampu menundukkan kekuasaan.

Banyak yang meyakini bahwa kisah awal tentang perempuan yang tergoda setan dalam kisah buah kuldi di taman firdaus sesungguhnya bercerita tentang kisah penghianatan Lilith terhadap Adam yang kemudian kabur menjadi gendakan setan.

Wajar jika setelah Lilith minggat dengan setan lalu Hawa diciptakan menyusul dari tulang rusuk Adam dengan harapan tidak khianat dan selingkuh seperti Lilith.

Tokoh Semiramis yang ibu juga isteri Nimrod, juga dalam kisah Ramayana ada pula sosok Sarpakenaka adik Rahwana, ataupun di kalangan kadewataan ada Betari Durga isteri Betara Kala seperti halnya di Mahabharata ada Gandhari isteri Dretaratha, rasanya cukup bisa mewakili personifikasi dari kebinalan, kesundalan, kebobrokan, kekacauan, dan kefasikan sosok Lilith.

Jikapun kisah kuno ini juga dianggap sebagai bias gender, mungkin memang Lilith adalah sosok yang paling harus bertanggung jawab atas bias gender terhadap perempuan yang terjadi saat ini. (jim)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)