Wajarkah Pendidikan Anak Dikorbankan untuk Asian Games 2018?
berita
Humaniora

Sumber Foto : antarafoto.com (gie/watyutink.com)

08 August 2018 11:00

Rencana pemerintah meliburkan sekolah selama 9 hari saat Asian Games 2018 berlangsung menimbulkan polemik. Banyak guru dan orangtua yang resah. Mereka khawatir pendidikan anak akan terlantar karena terlalu lama meninggalkan pelajaran.

Terlebih sampai saat ini, sejumlah sekolah belum menerima surat perintah resmi meliburkan sekolah dari Dinas Pendidikan DKI maupun Kementerian Pendidikan. Oleh sebab itu, pihak sekolah sepakat tidak akan meliburkan jika sampai pada hari H Asian Games 2018, surat belum juga diterima.

Ada ribuan pelajar dari 70 sekolah di Jakarta yang diliburkan saat Asian Games 2018. Salah satu alasannya agar dapat mengurangi kemacetan selama event berlangsung. Karena para atlet diberikan target waktu 30 menit untuk menempuh perjalanan ke sejumlah venue. Masalah tersebut juga telah dikaji Ditlantas Polda Metro Jaya, Dinas Perhubungan DKI, dan Dinas Pendidikan, yang juga berkoordinasi langsung dengan INASGOC.

Pemerintah juga beralasan, diliburkannya sekolah membuat siswa-siswi dapat ikut menonton dan berpartisipasi langsung memeriahkan acara tersebut. Tapi siapa yang menjamin siswa akan menonton pertandingan Asian Games secara langsung?

Bisa saja anak-anak akan lebih memilih untuk bermain, dan jalan-jalan, dibanding menonton perhelatan Asian Games 2018. Belum tentu fasilitas 25.000 tiket gratis yang diberikan kepada siswa yang diliburkan akan digunakan dengan baik.

Menurut psikolog Roslina Verauli, anak-anak akan lebih cenderung melakukan hobinya pada saat liburan, seperti bermain bola, bersepeda, dan sebagainya. Sedangkan beberapa anak lainnya akan memilih untuk pergi ke tempat wisata atau pusat perbelanjaan.

Sebelumnya, pihak sekolah juga diketahui akan memberikan tugas selama liburan berlangsung untuk mengejar ketertinggalan pelajaran. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana tugas sekolah dapat efektif untuk mengejar ketertinggalan tanpa adanya bimbingan guru?

Lalu, benarkah meliburkan sekolah dapat mengurangi kemacetan? Tidak cukupkah hanya dengan diberlakukan sistem genap ganjil di sejumlah ruas jalan dan juga penutupan beberapa pintu keluar masuk tol dalam kota, demi kelancaran lalu lintas pada saat Asian Games berlangsung.

Pada dasarnya, memang ada banyak keuntungan yang bisa didapat negara dari event Asian Games 2018, seperti meningkatkan perekonomian, memunculkan prestasi anak bangsa untuk bersaing di dunia internasional khususnya dalam bidang olahraga, dan sebagainya. Namun apakah harus mengorbankan pendidikan anak bangsa? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Olahraga, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

"Maka oleh karena itu, aku minta kepada seluruh rakyat Indonesia supaya melatih badannya, terutama sekali dalam lapangan olahraga, agar supaya dalam sepuluh tahun, paling banyak sepuluh tahun, Indonesia benar-benar memegang mercusuar olahraga, bangsa Indonesia bangkit kembali menjadi bangsa yang sigap dan badannya kuat." (Soekarno)

Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno menyampaikan kata-kata tersebut pada tanggal 25 November 1964 di Gelora Bung Karno dalam peringatan ekawarsa Games of The New Emerging Forces (Ganefo). Setahun sebelumnya, Indonesia menjadi tuan rumah Ganefo, sebuah pesta olahraga yang tidak hanya sekadar perayaan olahraga, namun simbol perlawanan terhadap neo kolonialisme yang masih mencengkeram olahraga. Setahun sebelum Ganefo, tepatnya di tahun 1964, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Bung Karno secara efektif menjadikan Asian Games sebagai media menggelorakan nasionalisme, serempak juga melawan neo kolonialisme dengan menolak keikutsertaan Taiwan dan Israel. Bung Karno telah memberikan pendidikan politik bagi rakyat Indonesia bahwa olahraga harus terlepas dari neo kolonialisme.

Kita harus melihat bahwa penyelenggaraan Asian Games di Indonesia tahun 2018 ini dalam konteks yang luas, bukan sekadar pesta olahraga. Asian Games adalah kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi apa yang disebut oleh Bung Karno sebagai mercusuar olahraga. 

Kita telah menyaksikan bahwa prestasi olahraga Indonesia telah merosot tajam pasca krisis ekonomi tahun 1998. Di tingkat Asia Tenggara saja kita susah mengulangi kejayaan sebagai mercusuar olahraga, apalagi di tingkat Asia.

Meliburkan siswa saat Asian Games sebaiknya dilihat dalam perspektif menggelorakan semangat olahraga kepada murid-murid, setidaknya agar mereka memiliki mimpi dan cita-cita menjadi olahragawan. Coba kalau kita bertanya kepada anak-anak tentang cita-citanya, jawaban mereka yang bercita-cita menjadi olahragawan tentu adalah jawaban yang minor. Artinya bahwa mereka belum membayangkan olahraga menjadi imajinasi masa depan mereka.

Meliburkan peserta didik saat Asian Games sebaiknya direncanakan dengan baik. Panitia Asian Games, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dinas Pendidikan serta pemerintah daerah perlu duduk satu meja. Lebih baik lagi melibatkan sekolah, terutama guru olahraga. Dengan duduk dan berdiskusi bersama, bisa dirancang koordinasi antar pemangku kepentingan dalam  menyiapkan tugas yang akan diberikan kepada siswa saat Asian Games. Jangan sampai hanya diliburkan, namun tidak ada perencanaan untuk aktivitas peserta didik saat Asian Games. 

Dengan demikian, akan ada integrasi mata pelajaran olahraga dengan aktivitas anak selama Asian Games. Sekaligus juga meminimalkan implikasi negatif dari peliburan, seperti capaian pembelajaran dalam berbagai mata pelajaran yang tertinggal akibat peliburan.

Jadi poin pentingnya adalah bahwa Asian Games bukan sekadar jumlah medali yang diperoleh, meskipun ini menjadi indikator keberhasilan kontingen Indonesia. Juga bukan sekadar meliburkan siswa untuk bersorak di tribun mendukung kontingen Indonesia. Hal yang paling penting adalah menggelorakan semangat kecintaan olahraga kepada anak-anak. Prestasi olahraga hanya bisa diraih jika ada semangat berolahraga di kalangan anak-anak yang di masa depan menjadi olahragawan.

Pidato Bung Karno di atas telah menggariskan sebuah asa tentang bangsa yang memiliki jiwa "sport-minded". Sayangnya selama puluhan tahun, "sport-minded" ini belum bisa diwujudkan. Asian Games tahun 2018 ini adalah momentum terbaik untuk mewujudkan asa yang pernah disampaikan oleh Bung Karno.

Jika kita lihat, bangsa-bangsa yang mengkilap prestasinya di lapangan olahraga selalu bangsa yang "sport-minded". Untuk menginisiasi dan menumbuhkembangkan pemikiran yang berorientasi kepada olahraga ini, diantara dengan menanamkan kecintaan berolahraga kepada anak-anak. Memfasilitasi para murid, entah dengan sekolah diliburkan atau tidak, datang ke arena olahraga Asian Games merupakan cara terbaik. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Rencana kebijakan Pemprov DKI Jakarta meliburkan 70 sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK selama 9 hari pada Asian Games, lantaran sekolah itu terletak di dekat rute para atlet menuju venue yang berpotensi menimbulkan kemacetan jika tidak diliburkan, memang dilatari kesemerawutan masalah multisektor yang sangat pelik dan telah berurat-berakar dalam kurun waktu panjang, yang gagal disolusikan secara tepat dan beradab oleh para pembuat kebijakan selama ini.

Bukankah masalah kemacetan di Ibukota yang menjadi santapan sehari-hari warga Jakarta disebabkan oleh kelambanan membangun transformasi massal yang nyaman di satu sisi, dan ketidakberhasilan membudayakan penggunaan transformasi massal kepada masyarakat? 

Selain juga disebabkan karena kebijakan pemerintah terkait kepemilikan mobil dan sepeda motor yang condong melihat sisi pemasukan pajaknya saja tanpa mempertimbangkan daya dukung jalan dan pertumbuhan jalan yang stagnan di dalam kota.

Sehingga dengan begitu kebijakan meliburkan sekolah  selama event Asian Games, sementara ini sebaiknya memang tidak dipandang  sebagai kebijakan dilematis, layaknya makan buah simalakama. Dalam artian tidak disederhanakan menjadi: jika tidak diliburkan akan menimbulkan kemacetan yang mengganggu para atlet mancanegara yang akan berlaga, sehingga memalukan  kita sebagai tuan rumah di mata dunia. Dan jika diliburkan akan menelantarkan proses pembelajaran para siswa tersebut.

Taruhlah benar, bahwa sekolah-sekolah itu memang diliburkan, maka pertanyaannya apakah proses pembelajaran yang efektif terhadap para siswa itu juga harus terhenti selama liburan? Jika jawabannya ya, maka itu kesalahan besar dari pembuat kebijakan tersebut yang layak mendapat kecaman sekeras-kerasnya karena tidak memuliakan  pendidikan.

Menurut saya, perhelatan besar seperti Asian Games ini amat disayangkan jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Kemendikbud dan Pemprov DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Pendidikan maupun pihak sekolah. Asian Games ini bisa menjadi momentum yang baik dalam merangsang dan melejitkan minat dan beragam kecerdasan majemuk para siswa secara lebih baik lagi, terlebih siswa yang sekolahnya diliburkan, ketika para siswa itu bisa dilibatkan langsung terkait hal-hal yang berhubungan dengan event tersebut.

Kemendikbud  atau Dinas Pendidikan DKI Jakarta harus memfasilitasi para siswa dan guru yang sekolahnya diliburkan dengan menggelar kegiatan yang bersifat menyenangkan dan edukatif, misalnya: bertemu dan berbincang dengan yang berlaga di Asian Games, dan lain sebagainya.

Selain difasilitasi, semua kegiatan tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga menyenangkan dan edukatif. Dengan begitu, beragam inspirasi dan kehendak akan bermunculan di pikiran para siswa karena mereka mengalaminya secara langsung. 

Dan kegiatan-kegiatan itu pun tentu bisa diringi dengan tugas pembuatan laporan yang relevan dan disesuaikan dengan mata pelajaran maupun jenjang sekolah para siswa, atau bisa pula dalam bentuk menceritakan kembali hal-hal yang diperoleh para siswa dalam kegiatan tersebut.

Saya pikir jika kegiatan-kegiatan itu bisa dilakukan dan difasilitasi, maka proses pembelajaran saat sekolah diliburkan akan berjalan lebih efektif dan memunculkan efek kuantum ketimbang sekedar memberi tugas secara online seperti disampaikan Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta Bowo Irianto. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Melibatkan Institusi Polri dalam Politik Birokrasi Sangat Berbahaya             IPW Tak Yakin Syafruddin Bisa Selesaikan Masalah Birokrasi Di Indonesia             Susahnya Wujudkan Birokrasi yang Profesional dan Netral             Implementasi Ekonomi Kerakyatan, Berharap Kepada BPIP             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-1)             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-2)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-1)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-2)             Jadikan Asian Games 2018 Titik Awal Merubah Kebiasaan Buruk             Pendidikan Budi Pekerti Sangat Penting!