Wajah Sinetron Kita Hari Ini: Menanti Azab Akibat Dzolim
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 20 September 2018 15:00
Cobalah nonton siaran TV nasional kita--terutama Indosiar dan MNCTV--dari pagi hingga malam. Maka, akan Anda temukan sinetron-sinetron berjudul sebagai berikut: 

- "Gadis Pemutus Silaturahmi, Tali Kafannya Terputus dan Liang Lahatnya Dipenuhi Lumpur", 
- "Suami Tukang Maksiat Yang Terlantarkan Keluarga Kerandanya Terseret Angin Kencang dan Jatuh ke Jurang", 
- "Merampas Warisan Anak, Jenazah Ibu Tiri Hanyut Terbawa Banjir Bandang", 
- "kain Kafan Menghitam dan Tersedot Lumpur Hidup Akibat Menjual Kerupuk Kulit dari Limbah Sepatu", 
- "Istri Pencemburu Penyiksa Anak Tiri, Jenazahnya Tidak Bisa Keluar dari Keranda dan Kuburannya Terlilit Akar", 
- "Jenazah mandor Kejam Terkubur Coran Beton dan Tertimpa Meteor."

Jangan tertawa. Judul-judul sinetron di atas nyata adanya. Itu adalah judul-judul dari program FTV (film televisi) alias sinetron lepas bertajuk "Azab" (Indosiar) dan "Dzolim" (MNCTV). Selain dua bendara sinetron lepas itu, masih ada "Kisah Nyata" yang punya judul macam "Aku Bersuami, Tapi Seperti Tak Bersuami" atau "Anakku Anak Suamiku, Tapi Bukan Anakku". Juga tayangan bertajuk "Sinema" dengan judul seperti "Aku Bersalah Menyia-nyiakan Istri yang Setia" atau "Rumah Tanggaku Dibayangi Mendiang Istri Suamiku". Isinya semuanya sama, kisah suami/istri/mertua/anak/orangtua durhaka pada suami/istri/mertua/anak/orangtua yang kemudian taubat setelah diazab Tuhan. Tidak cuma isinya, para pemainnya juga keseringan itu-itu saja. Begitu pula soundtrack-nya.    

Sayang beribu sayang, sinetron-sinetron jenis ini tak pernah memuat tema atau judul macam "Akibat Menilap Uang Rakyat, Keranda Napi Koruptor Hangus Terbakar Tertimpa Tiang Listrik" atau "Pemimpin Tak Penuhi Janji Kampanye, Mayat Bau Kotoran Kambing". Kenapa tema-tema politis dan perilaku koruptif pejabat jarang dibuat sinetronnya? Kenapa melulu menceritakan nasib rakyat kecil yang dzolim dan didzolimi?  
   
Beberapa waktu lalu, judul-judul sinetron lepas Indosiar ini sempat jadi olok-olok di media sosial. Namun, seiring waktu, olok-olok itu mereda digantikan olok-olok dan meme lain. Sinetron jenis ini malah makin kencang popularitasnya, diputar dari pagi hingga malam dan diekori stasiun TV lain. Lantas, kenapa bisa sinetron jenis ini banyak ditonton orang banyak? 

Sebetulnya, bukan sekali ini wajah pertelevisian kita diisi sinetron berbau religi berisi azab akibat perbuatan dzolim. Pada pertengahan 2000-an ramai tren sinetron religi yang dimulai oleh Rahasia Ilahi (TPI, nama MNCTV dahulu). Sebuah penelitian mencatat, pada 2005-2007 tercatat 44 judul sinetron berjenis ini. Selain yang sudah disebut ada Takdir Ilahi (TPI), Astagfirullah (SCTV), Kuasa Ilahi (SCTV) hingga Pintu Hidayah (RCTI). Sebelum merambah ke TV, cerita model di sinetron religi dimulai oleh penerbitan majalah Hidayah yang booming di sekitar masa itu. Apakah niatan sinetron-sinetron religi dari dulu hingga sekarang demi unsur dakwah atau kepentingan komersil?    

Bukan tanpa alasan kita patut curiga ada praktek komodifikasi agama di TV kita. Telah banyak penelitian menyimpulkan agama, khususnya Islam, telah menjadi komoditas yang sangat digemari industri televisi Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, meski pengguna internet terus meningkat, televisi tetap jadi media paling banyak dikonsumsi orang Indonesia. 

Berdasar data e-Marketer, televisi masih mendominasi kue iklan dengan mengambil jatah sebesar US$1,68 miliar atau sebesar Rp23,07 triliun sepanjang 2017 dari total belanja iklan media di Indonesia diperkirakan mencapai US$2,8 miliar atau Rp38 triliun. Penetrasi TV mencapai 96 persen menurut Nielsen dan 77 persen orang masih mengakses konten lewat TV. Dan tentu saja, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, konten yang dekat dengan nuansa keagamaan--mulai dari ceramah Mamah Dedeh hingga sinetron religi--bisa jadi jualan yang bagus di TV.  

Yang patut dicatat sebetulnya, menginjak akhir dekade 2000-an tren sinetron religi menyurut, digantikan tren lain. Maka menjadi tanya penting, apa kita sedang menyaksikan sebuah tren sesaat yang tak ada hubungannya dengan misi dakwah mengajak orang agar tak berbuat dzolim?

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Menurut saya, film atau sinetron seperti itu merupakan bentuk pembodohan terhadap masyarakat. Ada dua hal kenapa saya mengatakan hal ini:

Pertama, dari sisi agama, tidak ada satupun teks agama yang menyatakan bahwa balasan dari Tuhan terhadap perilaku manusia itu datang dalam bentuk seperti yang digambarkan oleh sinetron-sinetron tersebut. Ya, Islam memang mengenal balasan, baik di dunia maupaun di akhirat. Tapi, pada kenyataannya, balasan Tuhan tidak berbentuk seperti yang digambarkan dalam sinetron. 

Mungkin para pembuat sinetron tersebut berdalih bahwa dengan memberikan penggambaran mengerikan terhadap pelaku kejahatan akan memberi efek positif pada masyarakat. Masalahnya, asumsi ini tidak terukur, hingga alih-alih memberi efek jera, sinetron itu bisa malah membuat masyarakat makin menjauhi agama karena dianggap Tuhan kejam.

Yang kedua, hal ini hanya akan memuaskan rasa dendam pada pelaku kejahatan. Timbul pikiran, pelaku kejahatan memang harus disiksa dengan mengerikan. Ada dendam yang sepertinya terbalaskan. 

Padahal, agama lebih menyukai pelaku itu bertobat dan memperbaiki kelakuannya di masa lalu. Etika inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi SAW. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen jurusan film Universitas Bina Nusantara

Sinetron atau film dibikin salah satunya karena ada demand pasar. Kasarnya, sejelek atau sebusuk apapun bila ada yang nonton pasti tetap dibuat. Saat saya ikut nonton sinetron religi macam azab ini bersama orang-orang yang sedang mengantri di sebuah tempat pijat, saya melihat mereka menonton sinetron itu dengan serius.

Artinya, mereka relate dengan tayangan itu. Mereka mungkin merasa bersyukur karena tidak memiliki nasib seperti orang-orang di sinetron itu. Atau mungkin ada juga yang berpikir, meski hidup susah ternyata uang bukan segalanya. 

Di sinetron macam begini juga pihak jahat dapat balasan. Penonton suka melihat kejahatan dapat balasan langsung di dunia. Saya belum riset, tapi yang saya lihat, penonton ini dari kalangan menengah ke bawah, kelompok ekonomi C dan D. 

Dalam kenyataan, hidup mereka masih penuh perjuangan atau penuh cobaan, misalnya pernah didzolimi, sementara di sinetron yang mereka tonton perbuatan jahat langsung dibalas. Mereka berpikir, yang telah dzolim pada mereka akan dibalas. Fantasi atau hasrat mereka terpenuhi dari tayangan sinetron model begini. 

Kenapa sinetron macam begitu marak kini? Sekarang sedang laku jualan agama, terutama Islam. Tapi kalau ditanya kenapa pejsbat yang korupsi tak dibuat sinetron model begini, menurut saya soalnya bukan pejabat atau non-pejabat. 

Masalah korupsi tak jelas simbol Islam-nya. Sejak awal 2000-an MUI sudah memfatwa korupsi haram, tapi tak banyak orang tahu fatwa itu. Karena di situ tak ada "kata kunci" yang melambangkan simbol agama. Contoh kata kunci antara lain jihad, seruan takbir, munafik dll. Rata-rata di judul sinetron itu ada kata kunci yang berorientasi syariah (simbol agama) seperti "Ibu durhaka" dan semacamnya. 

Di Islam sebetulnya ada nilai-nilai seperti kejujuran, integritas. Perilaku korupsi bertentangan dengan itu. Namun itu tak dilihat. Yang dilihat lebih pada simbol fisik: jilbab, sholat, tidak makan babi dan lain-lain. 

Apa akan ada yang jadi insaf lewat tayangan itu harus dicari lewat riset. Mungkin ada. Namun, mungkin juga hanya menimbulkan reaksi mengecam si jahat, "Mampus, rasain, lo!" Sebatas merefleksi pada diri sendiri: bila pernah jadi korban kejahatan, orang yang berbuat jahat akan bernasib seperti di sinetron. 

Sebagai perumpamaan, sutradara Imam Tantowi pernah bilang, di zaman Orde Baru film horor menggambarkan setan-setan dibasmi, karena waktu itu kita tak bebas mengkritik. Setan atau monster dibikin untuk dibunuhi. Maka, dihubungkan ke sinetron religi bertema azab, bisa jadi di dunia nyata penonton tak bisa membalas penderitaan yang dialami, karena terlalu miskin atau tak punya power, lewat tayangan sinetron khayalan mereka terlampiaskan.

Mengutip Kuntowijoyo, masyarakat kita terbagi dalam tiga fase yang berjalan bersamaan yakni, mitis,  ideologis, dan ilmu. Mitis adalah kepercayaan pada keajaiban atau kekuatan alam. Pada masyarakat yang lapis terendah, akhirnya hanya berharap ada kekuatan mitis yang menolong mereka, yaitu hukuman dari yang gaib, entah Tuhan atau dihukum karena karma.    

Porsi terbesar niatan tayangan sinetron ini tetap jualan. Karena di TV, rating adalah tuhan. Rating yang dikejar karena dari situ akan datang iklan dan sponsor. Ujung dari tayangan ini adalah ketika orang tak nonton lagi.
Maka tak ada yang mau lagi beriklan. Tayangan jenis ini akan ditinggalkan bukan pula karena masyarakat kita telah cerdas, tapi pada satu titik mereka akan merasa bosan. 

Telah banyak contohnya. Misalnya, tren film horor yang dibuat asal-asalan macam "ngesot-ngesotan". Film jenis itu ditonton 300 ribu orang sidah dapat untung karena bujetnya minim dan dibuat cukup seminggu syuting jadi. Tapi lama-lama orang bosan melihat film sejenis itu terus. Maka, harus ada terobosan. Jadi, tayangan sinetron religi macam ini kita tunggu saja sampai orang bosan dan ditinggalkan. (ade)                  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF