Video Bunuh Diri di Lampung Tunjukkan Masyarakat Apatis?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 28 February 2019 14:00
Watyutink.com - Kasus bunuh diri seorang remaja laki-laki bernama Tyas Sancana Ramadhan (21), yang melompat dari atap gedung Transmart Bandar Lampung masih menjadi perbincangan hangat masyarakat. Pasalnya, video bunuh diri korban yang direkam, dan disebar di media sosial, menjadi viral di dunia maya, hingga menjadi sorotan publik.

Mirisnya, saat peristiwa itu terjadi, ada banyak orang yang menyaksikan detik-detik mahasiswa Itera Lampung tersebut melompat, namun tak ada satu pun yang berusaha untuk menolong. Mereka justru lebih sibuk merekam aksi bunuh diri itu dan menyebarnya di media sosial. Padahal, peristiwa itu seharusnya dapat dicegah.

Tak hanya itu, yang lebih memprihatinkan, tersebar video yang direkam dari dalam mobil, kemudian terdengar suara wanita yang berteriak "loncat, loncat, ayolah" sambil diiringi tawa. Lalu terdengar suara wanita lain yang menimpali teriakan itu. Apakah artinya masyarakat kita saat ini telah menjadi apatis dengan hal semacam itu? Dan, apakah mereka telah kehilangan sisi kemanusiaan?

Kasus bunuh diri yang direkam kemudian disebar di media sosial pada dasarnya sudah terjadi berkali-kali. Seperti misalnya video kakak beradik yang bunuh diri dengan melompat dari lantai 5A Apartemen Gateway, Bandung, dan menjadi viral. Dalam video tersebut juga terlihat banyak orang yang berlalu lalang dan bersikap acuh seolah tak terjadi apa-apa, sementara yang lainnya sibuk merekam dengan ponsel genggam mereka.

Padahal video yang tersebar sangat tidak layak ditonton. Seolah menjadi viral lebih penting dibanding menjadi penolong. Apa yang sebenarnya menyebabkan masyarakat dapat bersikap apatis dan lebih mementingkan untuk mendokumentasikan peristiwa mengerikan itu dibanding menolong korban yang pada dasarnya masih dapat ditolong?

Bahkan tak sedikit dari mereka yang mencibir, menghina, dan justru memprovokasi dengan menantang korban untuk bunuh diri. Padahal kita tahu bahwa kejiwaan korban sedang tidak stabil. Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang peduli dan berusaha menyelamatkan nyawa korban. Apakah ini karena ketidaktahuan masyarakat dalam mengatasi seseorang yang depresi dan ingin bunuh diri? Lantas, seperti apa cara yang efektif agar dapat menyelamatkan seseorang yang ingin bunuh diri?

Selain itu, membiarkan orang yang bunuh diri adalah perbuatan yang melanggar hukum. Ancaman perbuatan tersebut diatur dalam Pasal 531 KUHP. Barangsiapa menyaksikan sendiri ada orang di dalam keadaan bahaya maut, lalai memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikannya atau diadakannya dengan tidak menguatirkan, bahwa ia sendiri atau orang lain akan kena bahaya, dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500 jika orang yang perlu ditolong itu mati.

Jika demikian, bukankah seharusnya pihak berwenang dapat bertindak tegas terhadap orang-orang yang melihat aksi bunuh diri tersebut tanpa berusaha memberikan pertolongan? Bukankah mereka yang merekam dan menyebarkan juga dapat dipidana? Tapi mengapa selama ini tak pernah ada tindakan nyata terhadap mereka yang acuh?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Pada dasarnya, bunuh diri umumnya terkait dengan gangguan mood depresi. Gangguan ini bagaikan silent killer yang dapat membuat seseorang kehilangan minat untuk beraktivitas, kehilangan minat dan merasa tidak bahagia. Disebut silent killer karena tidak kasat mata dan Kerap diabaikan sampai semakin berat.

Keluarga dan masyarakat yang tidak paham, kerap memberikan penilaian yang judgemental, apatis, sarkastik bahkan bullying yang semakin mendorong terjadinya bunuh diri. Begitu pula dengan tindakan merekam dan menyebarkan, yang merupakan bagian dari ketidakpedulian yang sudah termasuk dalam pelanggaran hukum.

Semua kembali kepada kualitas mental atau profil psikologis seseorang, ada yang semata mata memiliki kecerdasan intelektual rendah, ada yang mungkin memiliki kecerdasan sosial rendah, ada pula yang mungkin memiliki kecerdasan mental rendah, atau bahkan memiliki ketiganya.

Orang yang acuh juga bisa dipengaruhi oleh ketidakmampuan mengendalikan dorongan dan mengambil keputusan yang tepat. Mencibir, menghina, merendahkan, tidak peduli, tidak empati, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, memprovokasi sampai menantang orang lain yang sedang memiliki masalah depresi dan sedang menuju upaya bunuh diri, adalah bentuk perilaku kekerasan terhadap orang lain.

Masalahnya ketika sebuah tanggung jawab berada di tangan beberapa orang di tempat yang sama dalam kasus bunuh diri seperti yang telah beberapa kali terjadi, sering terjadi perilaku shared responsibility, artinya mereka berbagi tanggung jawab. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog, Pengurus Yayasan Pulih

Jika berbicara mengenai kasus bunuh diri yang viral di media sosial dan pertanyaan seputar kenapa orang bisa dengan sangat tega merekam aksi bunuh diri serta menyebarkannya hingga viral, kita bisa membahas ini dari dua sisi. Pertama, pengaruh media sosial bagi masyarakat saat ini. Kedua, kurang tingginya kepekaan dan informasi mengenai kesehatan mental.

Pengaruh media sosial saat ini sangat berpengaruh dalam kehidupan kita dan dia seperti pedang bermata dua, memiliki pengaruh positif dan juga pengaruh negatif. Tidak dapat dihindari bahwa media sosial serta berkembangnya teknologi pada dasarnya dapat membantu keseharian kita dalam bekerja, mencari informasi,  berkomunikasi dengan teman-teman lama, sampai dengan memamerkan kehidupan sosial ke khalayak luas agar kita merasa diri kita merasa lebih baik.

Secara umum, jika kita bijak menggunakan sosial media tentunya kita dapat membawa perubahan yang positif bagi diri kita maupun orang lain. Kata bijak di sini mengandung arti bahwa kita tidak terlalu menggantungkan kehidupan kita dengan teknologi tersebut dan juga dengan media sosial. Kita masih menyempatkan diri untuk melakukan interaksi dengan orang-orang lain secara tatap muka.

Sayangnya, saat ini masyarakat lebih banyak yang menggantungkan dirinya ke dalam sosial media dan perkembangan teknologi. Masyarakat menjadi lebih nyaman jika harus berkomunikasi secara maya dibanding secara langsung karena mereka tidak perlu repot-repot untuk menunjukkan ketulusan mereka saat berinteraksi dengan orang lain atau pun tidak perlu repot-repot untuk menutupi kekesalan mereka. Pasalnya, jika berinteraksi di media sosial kita bisa dengan mudahnya marah serta menyerang orang lain, tanpa orang tersebut tahu keberadaan kita dan wajah kita seperti apa.

Media sosial sendiri memiliki pengaruh secara psikologis bagi diri kita, terutama jika kita menggunakannya secara berlebih. Contohnya ketika kita aktif di media sosial dan mengikuti teman ataupun publik figur yang memiliki kehidupan diatas kita, kita selalu melihat postingan-postingan mereka yang cenderung lebih indah dari kehidupan kita, apa yang biasanya kita rasakan? Iri, muncul pertanyaan dalam diri, apakah saya kurang oke? Atau hal apa lagi yang biasanya muncul? Belum lagi, jika kita berbicara mengenai pengakuan dan keberhargaan diri yang diukur melalui likes, views, dan comments

Mau tidak mau ini mempengaruhi kita secara psikologis. Pada akhirnya terkadang kita rela menjadi “palsu” agar orang lain juga memiliki pandangan yang positif akan diri kita. Kita berupaya dan berlomba-lomba dengan masyarakat lainnya untuk mendapatkan konten bagus, agar kita merasa berharga dan berhasil menangkap momen penting yang berpotensi viral. Sayangnya, terkadang momen yang kita rekam ini bukanlah sebuah momen yang tepat untuk kita rekam dan sebar melalui media sosial. Salah satu contohnya adalah konten video bunuh diri yang belakangan terjadi di Lampung. 

Pembahasan kedua adalah masalah kurangnya kesadaran masyarakat akan gangguan kesehatan mental dan pentingnya menjaga kesehatan mental itu sendiri. Saat ini masih banyak yang mengganggap ketika berbicara mengenai masalah kesehatan mental, itu artinya sedang membahas orang “gila” dan ketika ada orang yang mencari pertolongan profesional untuk mengatasi masalah gangguan kesehatan mentalnya, secara otomatis akan di cap sebagai “orang gila”. Padahal bukan seperti itu seharusnya yang terjadi.

Kesehatan mental menjadi penting dan sangat perlu kita jaga. Di sini peran media juga menjadi penting untuk menyebarkan informasi-informasi yang tepat serta sumber rujukan yang sesuai, sehingga masyarakat menjadi lebih menyadari dan memahami bahwa berbicara mengenai kesehatan mental bukan sesuatu yang tabu. Justru kita perlu meningkatkan kepekaan diri kita sendiri dan juga peka terhadap orang lain yang sedang mengalami masalah. Bukan justru mencibir, menghina, dan justru memprovokasi dengan menantang korban untuk bunuh diri.

Selain meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan mental serta gangguan-gangguan kesehatan mental, menjadi penting juga untuk memberikan langkah praktis yang dapat mereka lakukan jika melihat ataupun menemui orang yang ingin bunuh diri. Misalnya saja:

Bertanya langsung apakah seseorang benar-benar ingin mengakhiri hidupnya. Cara ini bisa menjadi salah satu cara efektif untuk mengidentifikasi keinginan bunuh diri.

Dengarkan dengan empatik ketika ia bercerita dan jangan meninggalkan mereka sendirian. Berikan juga respons yang tepat serta tidak menyalahkan.

Hindari provokasi dan menyalahkan keinginan mereka untuk bunuh diri.

Segera hubungi suicide hotline atau pihak keamanan untuk mendapatkan bantuan profesional.

Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut bisa membawanya ke psikolog.

Beritahukan keluarga atau orang-orang terdekat yang dipercayanya agar ada orang lain yang dapat menjaganya, ketika kita tidak bisa ada di sekitarnya.

Berikan informasi rujukan yang tepat bagi orang lain yang mengalami masalah serupa.

Penting juga peran media online untuk menyebarkan konten-konten yang tidak memprovokasi tentang bunuh diri, karena dalam peliputan peristiwa traumatis perlu sekali mempertimbangkan trauma sekunder yang mungkin dialami oleh para pembacanya.

Berikan informasi yang tepat serta sumber rujukan yang dapat dipercaya, agar masyarakat semakin menyadari bahwa masalah kesehatan mental bukanlah sesuatu yang tabu dan penting untuk mendapatkan pertolongan profesional jika memang membutuhkan. 

Pihak kepolisian juga perlu dibekali dengan pandangan dan pemahaman yang tepat mengenai kesehatan mental agar mereka bisa bertindak secara tepat jika menemui kasus serupa. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF