Via Vallen dan Jakartanisasi Penyanyi Dangdut Daerah
berita
Humaniora

Dok. Instagram/viavallen

02 November 2017 19:00
"Sayang, opo kuwe krungu jerit e ati ku… "
           --Via Vallen, lagu "Sayang"--
 
Ada idola baru di jagat dangdut. Zaman keemasan Ayu Ting Ting dan Cita Citata boleh dikatakan berakhir. Idola zaman now adalah Via Vallen, penyanyi perempuan asal Sidoarjo, Jawa Timur. Pertengahan Oktober lalu ia mengandaskan Ayu dan Cita di ajang Indonesian Dangdut Awards 2017 digelari Penyanyi Dangdut Solo Wanita Terpopuler. 

Sesuai zaman, Via jadi primadona lewat situs berbagi video Youtube. Ini beda dengan popularitas Inul Daratista, juga asal Jawa Timur, yang tenar lewat VCD pada awal 2000-an. Sejak diunggah delapan bulan lalu, lagu Via "Sayang" telah ditonton lebih dari 80 juta kali. Mengikuti tren di Youtube, ia juga menyanyikan ulang lagu terkenal milik orang lain alias cover seperti "Despacito", "Akad" (Payung Teduh), serta "Asal Kau Bahagia" (Armada). Semua dibawakan dengan gaya khasnya: versi dangdut koplo.

BACA JUGA: Bias Gender Di Film Horor Kita

Dicatat Andrew N. Weintraub di buku Dangdut Stories (2010) dangdut koplo sub-genre yang baru marak pasca-Orde Baru. Setelah jadi musik populer yang merakyat, masing-masing daerah mengembangkan dangdut dengan ciri kedaerahan masing-masing. Di Sumbar ada dangdut minang, di pesisir pantura Jawa Barat lahir tarling Cirebonan. Di Jawa Timur berkembang dangdut koplo.

Koplo sendiri diambil dari nama pil murah meriah yang dipercaya bisa bikin fly. Mendengar dangdut koplo dipercaya melahirkan sensasi seperti nge-fly. Ciri lain dangdut koplo nuansa sensual yang seakan melekat pada penyanyinya. Inul dan goyang ngebornya jadi ikon sub-genre ini. Awal 2003 goyangan Inul menimbulkan kontroversi. Goyangan seksinya dianggap merusak moral saat populer di ranah nasional. Via mungkin belajar dari Inul. Ia tak bermain di ranah goyang seksi. Citra yang muncul darinya: Isyana versi dangdut. Apa itu lahir dari strategi marketing atau pembawaan aslinya? 

BACA JUGA: Memaknai Ulang `The Power Of Emak-Emak`

Meski tak mendatangkan kontroversi macam Inul, Via juga menghadapi sebuah keniscayaan serupa Inul: ter-Jakartanisasi. Puluhan juta penonton videonya tak mungkin diabaikan media dan TV nasional yang berpusat di Jakarta. Via kini saban hari muncul di infotainment dan telah diganjar penghargaan. Ia resmi jadi artis Jakarta. Baikkah itu?

Kita ingat, ketika Inul atau Soimah ter-Jakartanisasi keduanya tampil lebih glamour, sopan dan meninggalkan ciri kedaerahan yang eksotis, natural dan sedikit nakal. Apa gejala serupa telah kita saksikan pada Via? Bisakah tenar di Jakarta dengan tetap mencirikan sebagai artis daerah?

BACA JUGA: LGBT Dan Interseks, Bom Waktu Yang Abai Disadari

Lantas, bila Via sendiri bercita-cita ingin terkenal di Jakarta, salahkah itu? Kita telah menganggap tenar di Jakarta sebagai ukuran sukses. Jangan-jangan pandangan model begini yang harus kita ubah? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Musik Dangdut, Penyiar Radio

Tren musik dangdut mengikuti teori pasar. Pasar juga yang menentukan lebih banyak regenerasi penyanyi dangdut wanita ketimbang pria. Artinya, penonton dangdut lebih menyukai penyanyi perempuan. Kalaupun ada yang menyukai pedangdut pria, paling penyanyi senior seperti Rhoma Irama, Mansyur S, Jaja Mihardja, dan lain sebagainya. Paling mentok penyanyi lelaki yang dicari itu Irvan Mansyur. Misal ada penyanyi dangdut pria hasil kontes bakat kayak D'Academy seperti Danang, ada masanya. Begitu ada angkatan baru, dia bakal tenggelam diganti orang lain. 

Selera pasar penonton dangdut di acara off-air memang penyanyi wanita. Delapan puluh persen penonton off-air dangdut memang pria. Maka jadi aneh kalau pria nonton pria. Yang mereka ingin tonton penyanyi perempuan. Itu sebabnya lebih banyak penyanyi dangdut wanita ketimbang pria. 

Via Vallen terkenal lewat Youtube. Tapi sebetulnya pedangdut yang menggunakan teknologi itu bukan hanya Via. Dia juga bukan yang pertama. Mem-posting video di Youtube sudah jauh dilakukan sebelumnya oleh Erie Susan, Ikke Nurjanah, dan lain-lain. Saat ini kebetulan booming penyanyi dangdut di Youtube, salah satunya Via Vallen lewat lagu "Sayang" dan "Selingkuh". 

Kenapa disukai? Sebenarnya bukan faktor (penyanyi) Via Vallen-nya. Buat saya, lagunya easy listening. Pendengar dangdut sekarang sudah bosan dengan dangdut yang jedag-jedug (house music). Tiga tahun lalu masanya house music. Sekarang yang lagi tren musik-musik seperti iramanya Didi Kempot dan Via Vallen. Tren musik yang berubah itu bisa dilihat dari rating radio dangdut. Yang merajai rating sekarang adalah radio yang banyak memutar lagu-lagu dangdut original (asli, seperti musik Rhoma Irama--red) dan musik-musik ala Didi Kempot dan Via. Radio lain yang bertahan dengan dangdut house music rating-nya di bawah. 

Kalau bicara penyanyi daerah yang ke Jakarta, sebelum Via ada Lilin Herlina. Juga ada Wiwik Sagita. Memang, secara manajerial, Via punya keberuntungan tersendiri. Lilin Herlina tanpa manajemen, dipegang oleh suami sendiri. Wiwik Sagita juga seperti itu. Via Vallen kebetulan dipegang satu organisasi manajemen yang mumpuni. Lilin sempat booming di Jakarta empat tahun lalu, tapi kemudian hilang. Dia sempat berusaha booming lagi dengan lagunya "Bawang Merah" tapi karena tidak di-manage dengan baik, jadi hilang begitu saja. Manajemen Via Vallen sangat rajin berkunjung ke radio, media daring, dan cetak. Kesuksesan Via Vallen sekarang tak lepas dari strategi marketing saja, kok.     

Maka, bila manajemen Via tak ikut berubah dengan perubahan dangdut ke depan, ia juga bisa tenggelam. Sebab, Via Vallen belum punya kaki kuat. Beda soalnya dengan Elvi Sukaesih, Ikke Nurjanah, Iis Dahlia,dan lain sebagainya. Mereka sudah punya karakter dan ciri khas tersendiri yang kuat. Ada regenerasi atau tren baru apapun di dangdut, mereka tetap dikenal orang.    

Artinya, untuk teman-teman penyanyi yang belum punya kaki harus waspada. Bisa jadi paling lama dua tahun ke depan sudah tersingkir oleh yang baru. Sebab banyak penyanyi dangdut yang ibarat kopi, kopi instan. Nggak dimasak dulu. Dalam kesenian apapun, buat saya, yang dibutuhkan itu adalah proses. Persis seperti kopi. Kopi instan langsung matang, tapi setelah diminum, "glek", selesai. Kalau kopi hitam dimasak dulu airnya, kopinya digarang dulu. Memang prosesnya lama. Tapi rasanya beda. Enak banget. (ade)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati budaya pop, penulis skenario

Kehadiran Via vallen beda dengan Inul Daratista di awal 2000-an yang tenar lewat media VCD. Youtube sudah jadi aspirasi di mana-mana, sampai pelosok. Meskipun istilah "pelosok" ini pun mesti hati-hati. Saya nggak punya data yang mumpuni tentang seberapa jauh penetrasi Youtube ke daerah. Karena saya rasa masih lebih banyak lagi orang Indonesia yang bahkan tak punya akses internet.

Dari segi audiens, saya juga tak berani klaim. Tapi ditengok-tengok, mereka ini punya aspirasi untuk jadi lebih "keren". Pilihan Via untuk tampil elegan bahkan disebut Isyana-nya dangdut itu lahir dari kesadaran untuk men-Jakarta? kesadaran untuk men-Jakarta ini agak spekulatif, meskipun masuk akal. Tapi minimal kesadaran untuk "lebih bisa dipahami" di luar daerahnya, pasti ada.

Kita ingat, ketika Inul atau Soimah ter-Jakartanisasi, keduanya tampil lebih glamour, sopan, dan meninggalkan ciri kedaerahan yang eksotis, natural dan sedikit nakal. Harusnya bisa tenar di Jakarta dengan tetap mencirikan sebagai artis daerah. Tapi saya curiga kok jadinya kembali ke kemampuan individu artisnya/manajemennya untuk branding.

Sekilas, saya melihat kayak kontes D'Academy di Indosiar itu, kedaerahannya masih terasa kuat meskipun glamournya setipe semua. Tapi memang, kalau Indosiar audiensnya berasa di level menengah ke bawah. Sementara untuk meraup perhatian menengah ke atas, biasanya memang kata kuncinya elegan. Apakah identitas daerahnya lepas atau enggak, tergantung jagonya si artis dalam branding.

Bisa jadi musik "daerah" Via Vallen disenangi orang Jakarta (baca: kota), artinya di dalam diri orang Jakarta, terutama yang sedaerah dengan Via, tersimpan sisa-sisa kekampungan mereka. Musik Via atau Didi Kempot juga, misalnya, memenuhi rasa kangen mereka.

Orang Jakarta (bukan Betawi ya) rasanya orang-orang yang tercabut dari akarnya. Dan beda sama orang Betawi yang juga sebetulnya kosmopolit (gabungan Tiongkok-Eropa-Arab dan sebagainya), Homo Jakartanensis (meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma untuk menyebut "orang Jakarta") kayaknya belum kunjung bisa bikin akar baru yang sama kuatnya. 

Soal kesopanan Via Vallen, saya malah curiga lebih ke soal makin mainstream-nya wacana beragama yang konservatif. Tahun 2000-an sampai pertengahan, arenanya masih ramai. Antara yang sopan dan yang nakal sama-sama punya suara. Kalau di film saya ingat komedi seks lagi banyak-banyaknya pas pertengahan dekade pertama 2000-an. Dengan makin mainstream dan me-nasional-nya wacana yang konservatif, kesopanan dan kesalehan jadi makin menjual. Saya intip komen-komen di videonya Via Vallen, rata-rata muji penampilannya yang sopan.

Kalau soal elegan, saya melihatnya sebagai salah satu jalur dari dua: Pertama, yang mau terkenal di kalangan menengah ke bawah, akan mempertahankan kenakalannya. Kedua, yang mau terkenal di kalangan menengah ke atas, akan jadi elegan.Dan itu dua-duanya lewat Jakarta, terlepas dari faktor wacana beragama. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

Revolusi Akhlak Kiai Juned

25 November 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF