Urban Farming: Solusi Pangan Perkotaan
berita
Humaniora

Sumber Foto: idnews.co.id  (gie/Watyutink.com)

 

31 March 2018 15:00
Tren pertumbuhan penduduk di perkotaan amat pesat. Kota-kota di Indonesia tumbuh rata-rata 4,1 persen per tahun. Tahun 2016, Bank Dunia mencatat 52 persen dari total populasi penduduk Indonesia tinggal di area perkotaan. Bank Dunia memprediksi pada 2025 ada sekitar 68 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. 

Dampak tingginya pertumbuhan penduduk di perkotaan (urbanisasi) adalah desa kekurangan sumber daya manusia, terutama pengolahan pertanian. Jika pertanian sudah terbengkalai, bagaimana nasib pangan Indonesia? Tahun 2015, Indonesia berstatus darurat pangan berdasarkan informasi Badan Intelegen Negara (BIN) Ketahanan Pangan. Apa solusi negara hanya mengandalkan impor pangan di tengah budaya pertanian di Indonesia? Mau sampai kapan?

BACA JUGA: Negara Agraris Tapi Defisit Petani

Urban farming atau pertanian perkotaan adalah solusi pangan yang layak dikaji. Premisnya, ketika defisit petani dan lahan pertanian di pedesaan, kenapa tak bertani dan bercocok tanam di kota?

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) tahun 2016, Indonesia memiliki 37.407 hektar kawasan pemukiman kumuh yang tersebar di berbagai perkotaan di tanah air. Jika pemukiman semakin sempit dan jumlah penduduk semakin meledak, urban farming menjadi solusi pangan perkotaan. Berlin dan Bangkok adalah kota besar di dunia yang sudah menerapkan urban farming seperti berkebun di atas atap dan dinding sebagian besar rumah. Bahkan, di Kanada dan Inggris, urban farming  diterapkan dalam peraturan dan perencanaan tata kota.

BACA JUGA: Salah Data, Petani Sengsara

Ironisnya, tren urban farming belum menjadi perhatian pemerintah kita, karena masih menganggap lahan pertanian di masing- masing desa masih luas. Padahal pertumbuhan kehidupan di kota yang pesat sudah menunjukkan sumber daya manusia di desa berkurang. Saat ini kita mengalami defisit. Pemerintah pernah menyebut ada 5 juta rumah tangga tak lagi bertani. Artinya, jadi petani tak lagi menjanjikan dan buntutnya kebutuhan pangan diselesaikan dengan impor. Rantai masalah ini seharusnya bisa diselesaikan dengan urban farming, 'kan?  

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

(win)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Petani kota, Pendiri Genus Organik

Menurut saya, urban farming atau kita sebut pertanian perkotaan saat ini sebagai sebuah semangat masih belum tersebar sebagaimana mestinya misi kami sebagai orang yang terlibat mengembangkan urban farming. Semangat ini memang perlu didorong dengan cara yang lebih intens, mengingat hal mendasar yang dilakukan adalah mengubah cara berpikir, sikap hidup bahkan pemahaman terhadap kehidupan terutama keseimbangan manusia dan alam yang tersedia.

Pada dasarnya kami berusaha mewadahi semangat urban farming dalam sebuah model yang kami bangun dengan pemahaman terhadap fungsi sebuah kebun pertanian organik di kawasan urban. Jadi prioritas kami tidak hanya produksi saja tetapi juga harus bisa berfungsi sebagai tempat edukasi dan wisata.

Sebagai penjaga semangat agar tetap hidup, kami juga berusaha menjual hasil kebun, media tanam, pupuk, program edukasi hingga kolaborasi dengan komunitas lain. Juga sebagai tenaga ahli untuk menyiapkan kebun untuk siapa saja yang tergerak untuk memulai. Tantangan utamanya adalah membangun kesadaran akan pentingnya pangan sehat untuk kualitas generasi penerus dan lingkungan kepada warga di sekitar kebun, karena ini semangat utama berorganik yaitu lokalitas, karena semangat ini harus bermuara pada kesadaran dan kebutuhan akan pangan sehat yang juga ditanam sendiri baik individu maupun komunitas sebagai bentuk membangun kembali kualitas sosial masyarakat urban. 

Sangat disayangkan, sejauh ini urban farming hanyalah sebagai gaya hidup semata. Saya juga mengakui hal itu karena memang awareness harus dihidupkan dari banyak sisi mulai dari pangan sehat, pangan lokal, pertanian alami hingga tentang persoalan-persoalan khas urban. Interaksi sosial juga perlu ditumbuhkan seperti kesadaran anak-anak masyarakat perkotaan akan kebutuhan pangan yang ideal untuk pertumbuhannya. 

Untuk itu, kita harus lakukan semangat urban farming bersama-sama dari bermacam komunitas dan kompetensi agar menjadi sebuah tawaran alternatif sikap hidup yang menjadi antitesis sikap hidup masyarakat kota yang industrialis. 

Kita hanya perlu political will yang mumpuni karena ini akan berhadapan langsung dengan kepentingan ekonomi industri. Jadi harapan kami nantinya selain di rumah, juga ada banyakkebun-kebun kecil organik yang tersebar di berbagai pelosok kota sebagai pemasok kebutuhan pangan warganya sendiri.

Sebagai penggerak“zero waste dan zero carbon foot print”, ciri utama kebun kota yang ideal adalah pertama mengubah paradigma yang sudah mengakar dalam masyarakat perkotaan tentang kemudahan dan segala instan adalah pekerjaan yang tidak mudah. Untuk mencapai kehidupan yang baik dan sehat, kita harus bisa selaras dengan semua hal. Ini butuh sebuah proses yang tidak mungkin instan. Manusia dari hidupnya yang serba mudah dan praktis, menjadi butuh usaha untuk segala sesuatunya termasuk urusan pangan. 

Walaupun menjaga warisan lingkungan yang baik sangatlah sulit untuk masyarakat metro-urban, tetapi saya percaya dengan usaha kita bisa melakukannya. Tentu tidak hanya kita yang berjuang untuk meningkatkan pertanian perkotaan, pemerintah juga harus andil secara tegas dalam peraturan tata kota ataupun perihal pangan perkotaan. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pegiat Kebun Kumara

Anak-anak perkotaan semakin terputus dari interaksi yang penuh makna bersama alam. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk mengeksplorasi pengalaman belajar bersama alam yang interaktif dan konstruktif. Juga tidak mudah untuk memahami cara-cara sederhana merawat alam dalam kehidupan sehari-hari.

Perma kultur yaitu konsep menanam dan mengkondisikan kebun sebagaimana alam bekerja juga prinsip bagaimana tanaman itu bisa tumbuh dan berkembang. Berkebun di daerah perkotaan adalah kebutuhan kita saat ini di tengah kumuhnya perkotaan. Berkebun di perkotaan bisa menjadi solusi darurat pangan terutama penekanan urbanisasi tertinggi yang berakibat pertanian desa ditinggalkan. 

Kekhawatiran terbesar kita saat ini juga laju pemanasan global yang sudah tak terhentikan. Berdasarkan penelitian yang menjadi dasar Agreement Paris, peningkatan suhu Bumi sudah mencapai di atas 1°C sejak masa industrialisasi, dan jika melebihi 2°C kehidupan tidak akan seperti sekarang ini. 

Kita memulai edukasi bertani di perkotaan ataupun memanfaatkan lahan tanah di manapun untuk berkebun di mulai dari edukasi dini terutama anak sekolah dasar. Menyemai benih, merawat bibit sayur dan mendaur-ulang sampah adalah proses belajar nyata yang perlu dialami untuk membangkitkan kesadaran akan ketergantungan manusia terhadap alam dan peran kita dalam melestarikannya.

Manusia yang mampu merawat alam adalah manusia yang turut merawat sesama manusia. Membantu generasi muda meraih gaya hidup yang seimbang di mana hubungan empati dengan alam menjadi kebiasaan yang dijaga. Saya ingat saat Presiden Jokowi menyambut kebun di perkotaan yang saya dan teman-teman gagas bernama Kebun Kumara, begini katanya “Saya kira pemikiran ini, pemikiran anak muda seperti ini yang kita tunggu dengan pertanian cara-cara modern itulah kita nantinya bisa menguasai pangan karena anak-anak muda tertarik untuk jadi petani-petani modern ke depan."
 
Pendidikan lingkungan hidup dan pelestarian alam yang mengembangkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman nyata. Begitu ironis ketika anak-anak tidak dibiasakan mengenal asal-usul maupun proses di balik makanan yang biasa mereka santap. Berkebun atau bercocok tanam adalah langkah awal yang paling sederhana untuk memumpuk kesadaran akan betapa besarnya peran alam untuk manusia. Lima puluh persen sampah kita adalah organik, ke mana semua itu pergi? Kita bisa mengelola sampah organik kita dengan meniru cara alam mengatur siklus kehidupan yang sempurna dengan mempelajari kompos. Dengan begitu, kita merawat alam, sesama masyarakat dan diri kita sendiri dari bahaya pencemaran lingkungan.

Mengatasi polusi plastik dengan inovasi kreatif. Indonesia adalah penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan. Sedangkan kita tahu plastik tidak bisa hilang dari ekosistem karena unsur kimianya. Eco brick merupakan solusi agar  plastik tidak mencemari alam kita dan membahayakan kesehatan manusia. Program Recycle Rangers bertekad untuk memberdayakan masyarakat kota dalam mempraktekkan daur ulan gsampah sebagai bentuk pelestarian lingkungan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari serta melahirkan perspektif baru akan sampah sebagai alat barter alternatif. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)