Tren Siswa SMP Sayat Diri Sendiri, Gejala Apa?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 October 2018 17:00
Ada tren baru di kalangan siswa SMP yang mengkhawatirkan. Self-injury alias melukai diri sendiri saat ini sedang menjadi tren, bahkan menjadi kebiasaan anak-anak yang sedang mengalami depresi atau hanya sekadar mengikuti tren di media sosial. Hal itu mengingatkan kita pada permainan Blue Whale yang sempat menghebohkan dunia, dimana anak-anak ditantang untuk melukai diri mereka, hingga berakhir pada kematian. Kasus sayat tangan ini sendiri telah sudah terjadi untuk ketiga kalinya dalam satu bulan terakhir.

Kasus pertama terjadi di awal bulan September, sebanyak 56 siswa di salah satu SMP di Surabaya memiliki kebiasaan menyayat tangan mereka menggunakan silet. Ketika diselidiki diketahui bahwa sebagian besar siswa di sekolah tersebut memiliki masalah atau menderita depresi. Sehingga melukai diri dijadikan sebagai cara bagi anak-anak untuk melampiaskan depresinya. Tidakkah hal ini seharusnya disadari oleh para pendidik yang berperan sebagai orangtua mereka di sekolah?

Kasus kedua terjadi di pertengahan September, lagi-lagi 56 siswa di salah satu SMP di Pekanbaru dilaporkan menyayat tangan mereka. Kemudian pohak sekolah melakukan assesment medis terhadap puluhan siswa tersebut. Dari hasil assesment diketahui bahwa mereka menyayat tangan untuk mengikuti trend atau viral di media sosial. 

Kasus ketiga, terjadi baru-baru ini, dimana 41 siswa di SMPN 1 Gunung Sugih, Lampung Tengah, diketahui melukai diri mereka dengan cara yang sama, yakni menyayat tangan. Namun motif sayat tangan yang dilakukan puluhan siswa tersebut masih simpang siur. Ada yang menyebut bahwa mereka berada di bawah pengaruh zat benzodiazepine (Benzo) yang terkandung di minuman kemasan, tetapi hal itu masih dalam penyelidikan.

Terlepas dari bagaimana pun motif anak-anak dalam melukai diri mereka. Hal itu jelas harus menjadi perhatian dari pihak sekolah, khususnya para pendidik. Dari ketiga kasus tersebut, apakah itu artinya para pendidik selama ini kurang memperhatikan kondisi mental anak-anak didiknya? Bukankah tugas mereka tak hanya memberikan pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan membangun mental anak-anak?

Selain itu, hampir setiap sekolah memiliki guru yang bertugas khusus untuk memberikan konseling (BK) kepada siswanya yang bermasalah. Lantas, mengapa sampai ada puluhan siswa depresi yang tak mendapatkan bimbingan konseling dengan baik? Apakah selama ini peran guru BK di sekolah belum mampu mengatasi permasalahan anak-anak?

Tidak menutup kemungkinan masalah tersebut juga terjadi pada anak-anak di sekolah lainnya. Tekanan atau masalah di rumah, serta pergaulan yang salah dapat menjadi faktor anak-anak mengambil tindakan yang salah guna menyelesaikan masalah. Terlebih anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dibanding di rumah. Sehingga peran guru sebagai orangtua kedua sangatlah diperlukan. Lalu, apa yang harus dilakukan para pendidik agar dapat mencegah masalah serupa?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Pertama, KPAI mengapresiasi guru dan Kepala SMPN 18 Kota Pekanbaru yang sudah memiliki kepekaan dan menindaklanjuti hasil temuan dari puluhan siswanya yang melakukan sayat tangan. Sidak handphone dan laporan ke BNNK Pekanbaru oleh pihak sekolah adalah langkah tepat sehingga penyebab siswa menyayat tangan menjadi terang, bahwa hal itu dilakukan karena pengaruh video sayat tangan dengan benda tajam yang dilihat dari Instagram dan WhatsApp. Adapun tujuannya adalah untuk melampiaskan sakit hati atas masalah yang dialaminya.

Sekolah jangan berhenti sampai disini, sekolah harus segera berkoordinasi dengan para orangtua dari puluhan siswa tersebut, agar dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak-anak tersebut serta mencari stratagi yang tepat membantu anak-anak tersebut menyelesaikan masalahnya.

Para wali kelas dan guru BP/BK di sekolah dapat diberdayakan untuk membantu puluhan anak tersebut menghadapi masalahnya dan berupaya menyelesaikannya, bukan dengan lari dari masalah dan kemudian melakukan tindakan yang justru berbahaya bagi keselamatannya.

Kedua, kasus ini harus menjadi kewaspadaan bagi para orangtua yang memiliki anak-anak usia puber, mereka harus didampingi oleh orangtuanya dalam tumbuh kembangnya, karena diusia tersebut anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mencoba banyak hal.  Orangtua harus memiliki kepekaan terhadap perubahan sikap dan perilaku anak-anaknya.

Orangtua perlu meningkatkan kontrol terhadap anak-anaknya dan meningkatkan kualitas pertemanan dengan anak-anaknya sehingga anak selalu terbuka menceritakan setiap masalah yang dihadapinya dan orangtua selalu bersedia membimbing anak menyelesaikan persoalan yang dihadapinya hingga anak bisa mandiri.

Ketiga, fakta bahwa 56 siswa di Pekanbaru melakukan  sayat tangan dan mempercayai hal itu tidak akan menimbulkan rasa sakit sebagaimana isi video yang disaksikannya bahkan dapat melampiaskan kemarahan yang dirasakannya, maka fakta ini perlu ditindaklanjuti oleh instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas PPPA dan P2TP2A Kota Pekan Baru.

Harus ada langkah konkrit untuk melakukan rehabilitasi psikologis dan rehabilitasi kesehatan terhadap 56 siswa tersebut dan harus ada sosialisasi untuk mencegah dan memastikan bahwa siswa lainnya untuk tidak akan melakukan tindakan sayat tangan ketika sedang menghadapi masalah.

Keempat, KPAI akan bersurat kepada pemerintah kota Pekanbaru untuk mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan bersinergi melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah lainnya sebagai upaya mencegah anak lain di berbagai sekolah meniru adegan yang membahayakan di video tersebut dengan menyayat tangan.

Kelima, KPAI akan bersurat kepada Kemeninfo untuk memblokir video-video sejenis yang mengandung adegan berbahaya bagi anak-anak yang menyaksikannya, apalagi 70 persen perilaku anak adalah meniru apa yang dia lihat di lingkungannya dan di media sosialnya. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengajar dan Aktivis Pendidikan

Sulit untuk mengatakan apakah guru ini kurang memperhatikan anak-anak di sekolah atau tidak, tetapi dalam kasus ini memang sekolah harus terlibat untuk melakukan penanganan. Kasus ini sebenarnya sudah lama terjadi, dan ini bukanlah hal yang baru. Namun kasus yang baru terjadi ini memang sangat mengejutkan, karena dilakukan oleh puluhan siswa dalam satu sekolah.

Meski demikian, tak dapat dikatakan juga bahwa sekolah abai akan hal ini, karena pada akhirnya sekolah pun tahu apa yang dilakukan siswanya walau terlambat. Jadi, ada baiknya jika sekolah dapat memberikan perhatian lebih kepada siswanya, khususnya anak-anak yang bermasalah.

Biasanya anak-anak yang bermasalah ini mudah diketahui oleh beberapa guru yang memang memperhatikan setiap siswanya. Selain itu, kepala sekolah juga harus bekerjasama dengan para guru untuk dapat melaporkan masalah apa yang dihadapi oleh anak-anak, khususnya anak-anak bermasalah yang membutuhkan perhatian khusus.

Kemudian terkait dengan peran dari guru BK dalam kasus ini, dapat dikatakan bahwa fungsi guru BK di tiga sekolah tersebut belum berjalan dengan baik. Hal itu terlihat dari banyaknya siswa melakukan sayat tangan, entah karena depresi maupun hanya sekadar mengikuti tren.

Inilah yang harus dicaritahu mengenai bagaimana sebenarnya peran dan fungsi dari keberadaan guru BK itu sendiri. Karena berdasarkan sejumlah pengalaman, selalu melakukan hal yang normatif saja kepada anak-anak yang bermasalah. Padahal dalam menangani anak-anak yang bermasalah, guru BK harus bisa memberikan bimbingan konseling dengan wawancara mendalam untuk mengorek masalah dari akarnya.

Sementara itu, untuk mencegah agar masalah serupa tak terjadi lagi, para guru atau pendidik harus dapat membuat anak-anak agar lebih terbuka dengan mereka. Kemudian menciptakan suasana yang nyaman, agar anak-anak yang memiliki sikap tertutup dapat membaur dan membuka diri kepada teman-temannya atau pun gurunya.

Suasana keterbukaan dan suasana saling percaya itulah yang harus dihadirkan di sekolah. Tentu saja tak perlu semua guru yang harus melakukannya, cukup beberapa guru saja yang sekiranya dapat lebih mudah akrab dengan anak-anak. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Dalam dua bulan terakhir ini setidaknya telah terungkap aksi para pelajar di tiga daerah berbeda yang melakukan aksi sayat tangan sendiri. Yakni sebanyak 56 pelajar SMPN di Surabaya, 56 pelajar di SMPN 18 Pekan Baru, dan 41 pelajar di SMPN 1 Gunung Sugih Lampung Tengah. Entah, apakah aksi sayat diri sendiri yang di setiap tempat melibatkan puluhan anak juga berlangsung di tempat dan sekolah lainnya yang belum terungkap? 

Dari pendalaman kasus, diketahui para pelajar itu umumnya terinspirasi setelah menonton video aksi sayat tangan yang beredar di media sosial. Dan umumnya para pelajar itu punya masalah pribadi tapi tak mendapat pendampingan untuk pemecahannya, kurang mendapat perhatian selayaknya dari keluarga dan orang-orang sekitar, dan tidak menemukan figur tepat untuk curhat. 

Aksi menyayat diri sendiri ini memang berbeda dengan aksi yang sempat ngetren di kalangan pelajar pada awal-awal tahun 2017. Yakni “skip challenge” atau “pass out challenge”, yang dilakukan lebih dari satu anak atau sekelompok anak. Biasanya bergantian, diselingi ketawa-ketiwi anak- yang menyaksikan seakan itu atraksi seru-seruan biasa, padahal berpotensi membahayakan keselamatan dan kesehatan, bahkan kematian. 

Bagaimana tidak bahaya, daerah dada anak ditekan kuat-kuat beberapa saat oleh anak lain, sehingga pasokan oksigen ke otak berkurang atau malah terhenti. Lalu anak itu kejang-kejang, berlanjut hilangnya kesadaran (pingsan) sesaat. Beberapa saat setelah itu, biasanya si anak kembali siuman. Tak sedikit anak memperoleh sensasi “ngeri-ngeri sedap”, menegangkan, sekaligus "menyenangkan". Padahal aksi itu sungguh membahayakan kesehatan dan keselamatan anak.

Tidak seperti skip challenge, pada aksi sayat tangan, seorang anak bisa melakukan sendiri, tidak berkelompok yang diselingi ketawa-ketiwi yang menyaksikannya, dan tidak harus dilakukan sampai pingsan. Namun tetap saja aksi sayat tangan ini harus ekstra diwaspadai mengingat bisa saja memicu tindakan lanjutan yang bisa mengarah kepada tindakan yang lebih nekat, seperti aksi bunuh diri dengan menyayat nadi hingga putus. 

Aksi sayat tangan para pelajar itu memang menggambarkan bahwa mereka sesungguhnya mewakili anak-anak yang galau dan rapuh ketika harus menerima kenyataan menghadapi permasalahan kehidupan pribadi yang tak seindah harapannya justru di saat usianya masih belia. Anak-anak itu butuh pendampingan yang prima dalam menghadapi persoalan yang dihadapinya. Jumlah anak yang seperti itu boleh jadi jutaan, bahkan mungkin puluhan jutaan di negeri kita. 

Mereka butuh figur otoritatif, baik itu orangtua maupun guru atau keluarga, yang asyik diajak curhat, tidak jutek, dan mampu menjadi penyuluh bagi penguatan langkahnya ke arah yang benar, bukan yang menyesatkan. Mereka juga butuh teman yang tidak sekadar hangat dalam pergaulan dan empatik terhadap dirinya, melainkan juga memiliki cara berpikir positif dalam memandang sebuah permasalahan, bukan teman yang berpikir negatif yang bisanya cuma memberi inspirasi menyayat tangan saat sebuah masalah menghadang. 

Saya pikir sudah saatnya mulai saat ini dan seterusnya secara permanen, setiap sekolah setingkat SMP dan SMA harus: 

Pertama memiliki guru-guru konseling yang handal dan senantiasa diupdate pengetahuan dan keterampilan tekniknya lewat diklat-diklat berkualitas yang dianggarkan dinas pendidikan setempat. Para guru konseling itu harus benar-benar proaktif mengidentifikasi dan menyolusi permasalahan yang secara umum dan tiap hari berkembang di kalangan pergaulan siswa-siswinya. 

Selain itu, para guru juga harus proaktif mencari solusi dari masalah pribadi yang dialami siswa-siswinya secara bijak dengan pendekatan gaul ala "kids jaman now". Dalam konteks guru konseling ini, saya melihat banyak guru konseling di banyak sekolah yang tidak proaktif dan juga belum memperbaharui keterampilan komunikasi dan pendekatan dalam rangka mengikuti perkembangan generasi "kids jaman now".

Kedua, memiliki PIK-(Pusat Informasi Konseling Remaja) yang dikelola oleh para pelajar di sekolah itu sendiri yang harus dilatih secara secara berkelanjutan lewat pelatihan pendampingan dan konseling yang berkualitas dan dianggarkan oleh dinas pendidikan setempat. 

Saya melihat betapa masih amat banyak sekolah yang belum memiliki PIK-R, atau jika pun punya tidak difungsikan secara proaktif. Dan dari yang ada pun, SDM remaja yang jadi pengurus PIK-R juga belum difasilitasi dalam pelatihan-pelatihan berjenjang pendampingan dan konseling yang amat berguna bagi dirinya saat mendampingi pelajar lain yang butuh pendampingan. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Edan. Ini benar-benar edan. Ya, benar. Semakin gila. Ini memang sudah zaman edan. Ya. Begitulah reaksi banyak orang ketika mendengar atau menyaksikan kasus-kasus perilaku anak yang semakin menyimpang selama ini. Apalagi, ketika membaca tulisan Galuh Ratnatika, bertajuk “Tren Siswa SMP Sayat Diri Sendiri, Gejala Apa?”, membuat hati ini seperti teriris-iris, pedih, prihatin dan bertanya-tanya, mengapa kasus-kasus seperti itu kini terjadi? Ya, mengapa perilaku menyakit diri di kalangan anak-anak yang masih usia SMP itu bisa terjadi dan berulang, walau bukan pada anak-anak yang sama. Kasus-kasus menyakiti diri bukan hanya terjadi di satu tempat, tetapi terjadi di beberapa tempat dan bukan lagi kasuistik, tetapi dikatakan menjadi tren. Sangat memprihatinkan bukan?

Ya, jelas sangat memprihatinkan. Kasus-kasus seperti itu tidak selayaknya terjadi, apalagi di kalangan pelajar yang masih usia sekolah. Namun, apa mau dikata, ibarat kata pepatah, nasi telah jadi bubur. Bukan hanya sekali yang terjadi, tetapi malah sudah terlanjur berkali-kali. Lalu, ketika perilaku buruk ini terjadi dan terjadi lagi, sayangnya tidak ada pihak yang mau disalahkan. Bahkan orang tua yang diberikan Allah tanggung jawab untuk mendidik, merawat, menjaga dan melindungi anak, secara serta merta menyalahkan pihak sekolah. Coba telaah paragraph di bawah ini.

Terlepas dari bagaimana pun motif anak-anak dalam melukai diri mereka. Hal itu jelas harus menjadi perhatian dari pihak sekolah, khususnya para pendidik. Dari ketiga kasus tersebut, apakah itu artinya para pendidik selama ini kurang memperhatikan kondisi mental anak-anak didiknya? Bukankah tugas mereka tak hanya memberikan pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan membangun mental anak-anak? Selain itu, hampir setiap sekolah memiliki guru yang bertugas khusus untuk memberikan konseling (BK) kepada siswanya yang bermasalah. Lantas, mengapa sampai ada puluhan siswa depresi yang tak mendapatkan bimbingan konseling dengan baik? Apakah selama ini peran guru BK di sekolah belum mampu mengatasi permasalahan anak-anak?”

Membaca paragraph di atas, sangatlah tidak adil bila kita semua meletakkan kesalahan kebobrokan moral anak kepada guru di sekolah. Dikatakan demikian, karena sesungguhnya tanggung jawab utama untuk mendidik dan membentuk perilaku anak yang baik adalah di keluarga. Sebab, baik dan buruknya  moralitas anak, sesungguhnya berawal dari rumah (keluarga). Oleh sebab itu, selayaknya pula kita bertanya, dimana letak tanggung jawab orang tua? Bukankah mentalitas atau moralitas anak rusak dan mengalami depresi lebih banyak disebabkan oleh faktor persoalan rumah tangga yang telah  merusak jiwa anak?

Harus diakui bahwa kasus anak drepresi banyak bersumber dari factor orang tua, hancurnya mahligai rumah tangga. Drepresi anak yang bersumber dari kehancuran rumah tangga, yang seharusnya disembuhkan oleh kedua orang tua yang mendapat amanah untuk mendidik, melindungi dan memberikan kesempatan anak untuk berkembang. Rumah tangga memiliki tanggung jawab yang pertama dan utama dalam mendidikan anak, namun betapa ironisnya kalau banyak orang tua meletakkan tanggung jawab itu bulat-bulat di pundak guru. Cobalah hitung alokasi waktu anak di sekolah dan di rumah. Berapa lama anak-anak berada di sekolah? Berapa lama anak berada dalam dekapan orang tua? Bukankah waktu di rumah lebih lama dibandingkan di sekolah?

Kita juga lupa bahwa factor lingkungan (meliu) yang semakin apatis terhadap perkembangan anak merupakan fakor eksternal yang semakin besar kontribusinya terhadap kerusakan moralitas anak dewasa ini. Jadi, harus dipahami bahwa munculnya kasus-kasus anak menyakiti diri, tidak disebabkan oleh single factor dan single actor, tetapi multi factors dan multi actors. Maka, akan lebih bijak, bila kita secara bersama melakukan refleksi dan mengambil kembali tanggung jawab mendidik anak tersebut sesuai porsi masing-masing. Sinergikan kembali tri pusat pendidikan untuk mengedukasi anak-anak, agar tidak menjadi destruktif dan self-injured. (grh)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas