Tercyduk Kelakuan Kids Jaman Now yang Memprihatinkan
berita
Humaniora

Dok. Facebook

20 October 2017 18:22
Hari-hari ini kita sering dengar istilah kekinian: kids jaman now. Secara tata bahasa, baik Indonesia maupun Inggris, amburadul. Bagaimana bisa istilah "anak zaman sekarang" main diubah ke bahasa Inggris begitu. Namun, istilah "kids jaman now" sungguh menggambarkan perangai anak-anak sekarang yang, mau bagaimana lagi, amburadul tata nilainya. 
Silakan ketik "kids jaman now" di mesin pencari, maka Anda akan menemukan banyak meme yang menunjukkan kelakuan keblinger anak zaman sekarang. 

Anak zaman sekarang, yang dulu kita sebut ABG (anak baru gede) tak sungkan mengekspresikan diri di media sosial. Ada-ada saja kelakuannya yang bikin siapapun geleng-geleng kepala. Misalnya anak-anak zaman sekarang gemar curhat soal cinta di media sosial disertai kata-kata atau foto yang tak pantas. Mereka seolah sudah paham benar soal cinta padahal ada yang masih di bawah umur. Ada anak SD pacaran sudah panggil papi-mami. Ada pula ABG yang pamer seolah sedang mengiris nadi tangannya sambil buat status perasaan sayang pada sang pacar.

BACA JUGA: Memaknai Ulang `The Power Of Emak-Emak`    

Itu soal kelakuan. Yang bikin geleng kepala juga perkara anak-anak ini mempermainkan bahasa. Di sosmed banyak kata-kata ajaib lahir dari anak-anak ini: bikes (bikin kesal), u know what yang i mean, khanmaen (bukan main), ya Lord (ya ampun), HQQ (hakiki, ekspresi melihat sesuatu yang keren banget), tercyduk (terciduk, tertangkap tangan, ketahuan, kedapatan, kena batunya), dan lain sebagainya. 

Yang jadi tanya kemudian: gejala sosial apa ini? Apa nilai-nilai yang jadi pegangan bangsa kita telah demikian tergeser sampai-sampai anak SD telah pacaran selayaknya orang dewasa? 

BACA JUGA: Agar Tak Ada Lagi Generasi Gaptek

Kids jaman now tumbuh di tengah bangsa yang tak memahami literasi media. Tambahan pula minat baca bangsa kita rendah. Studi The World’s Most Literate Nation yang dilakukan oleh The Central Connecticut State University tahun lalu menempatkan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara yang diteliti. Artinya, kids jaman now tak buta huruf, namun yang mereka baca timeline Facebook alih-alih buku. Waktu luang mereka diisi nonton sinetron ABG mesra-mesraan bukan diisi dengan membaca buku. 

Jika sudah begini, kondisi jaman now ini salah siapa? Masak kita mau salahkan Mark Zuckerberg yang mencipta Facebook. Jangan-jangan ada jurang komunikasi yang begitu dalam antara orangtua dan anak-anaknya. Apa ini akibat orangtua gagal paham menyikapi perkembangan tekonologi, terutama dunia maya dan medsos hingga anak-anak seperti itik tak punya induk seolah dibiarkan jadi liar? Di mana peran sekolah?  Ke mana guru anak-anak ini hingga membiarkan mereka tak lagi memegang adat ketimuran maupun berbahasa dengan baik dan benar? Atau ini bukti kegagalan pendidikan formal akibat kebijakan yang selalu berubah seiring pergantian menteri pendidikan.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Kemunculan fenomena “kids jaman now” yang menghinggapi anak-anak bau kencur generasi digital natives (pribumi digital) saat ini, lengkap dengan perilaku kebablasannya yang jauh dari substansi nilai-nilai prestatif yang meluhurkan dan membanggakan proses tumbuhkembangnya sebagai anak, wajib menjadi intropeksi semua pihak yang mengaku sebagai orang dewasa di negeri ini.

Fenomena “kids jaman now” itu tak hanya memperlihatkan hasil akhir berupa terbentuknya perilaku menyimpang dan memprihatinkan dari anak-anak itu, tapi kita pun sedang menyaksikan proses penghancuran salah satu identitas konstitusional kita sebagai bangsa, yakni Bahasa Indonesia. Terlepas dari manapun awal munculnya istilah “kids jaman now”, penggunaan istilah itu harus segera dihentikan, karena merendahkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan.

Terhadap maraknya perilaku nyeleneh anak yang tercermin lewat fenomena “kids jaman now” itu, langkah awal terbaik bagi kita adalah mengakui sepenuh hati bahwa ini memang lebih banyak kesalahan kita, dosa besar kolektif kita selaku orang dewasa, selaku orangtua, guru, dan pemerintah.

Semua pihak tidak memiliki jangkauan terjauh sekaligus tidak segera bahu-membahu untuk bersama-sama dalam mengantisipasi dan memproteksi aspek-aspek luhur dan fundamental dari nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia yang amat memungkinkan diporakporandakan oleh perkembangan teknologi informasi yang menyeruak ke setiap rumah di dalam keluarga.

Ketika dalam waktu lebih satu dekade terakhir ini perkembangan teknologi informasi berlangsung amat pesat di negeri kita, pada saat yang sama justru diiringi kelalaian kita dalam hal strategi dan metode yang teruji dan dapat diandalkan dalam mengiringi proses pembentukan nilai-nilai mulia bagi anak serta proses penciptaan lingkungan sosial yang kondusif di sekitar anak. Baik itu di rumah, di sekolah, dan di luar keduanya, yang diharapkan berujung pada pembentukan karakter dan perilaku yang meluhurkan anak-anak tersebut dalam proses tumbuh-kembangnya sebagai anak.

Dalam konteks penggunaan bahasa Indonesia yang keliru serta maraknya perilaku keblinger anak yang mengiringi fenomena “kids jaman now” itu, setidaknya ada beberapa catatan saya.

Pertama, dalam hal penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, betapa selama ini kita sebagai masyarakat dan bangsa terlalu permisif terhadap kekeliruan penggunaan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. Sebagai contoh, syair lagu dinyanyikan almarhum Julia Perez (Jupe) beberapa tahun lalu berjudul “Aku Rapopo”, justru menjadi populer meski syairnya dari segi bahasa Indonesia amat merusak.

Kedua, banyak institusi pendidikan tinggi di negeri kita yang justru tidak mempromosikan kebanggaan berbahasa Indonesia, tidak bersikap positif terhadap Bahasa Indonesia, tidak mendorong pengembangannya, bahkan berkhianat terhadap Bahasa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari gedung pertemuan di banyak kampus justru dinamai Convention Hall ataupun Convention Center, misalnya. Ada pula kampus bernama MBA Business Research Center Institut Teknologi Bandung, gedung Science Park Universitas Indonesia, dan gedung Gadjah Mada University Club, dan sebagainya.

Ketiga, terus melemahnya peran para orangtua dan para pendidik anak dalam fungsi sejatinya sebagai figur otoritas pembentuk nilai-nilai terpuji anak lewat metode yang baik dan benar mengedepankan cinta. Imbasnya, anak kemudian menjadikan apapun yang ada di internet dan media sosial yang bebas nilai dan permisif itu sebagai figur otoritas pengganti orangtua dan yang jadi panduan perilaku dan gaya hidup mereka, meskipun perilaku dan gaya hidup itu tidak pantas bagi anak-anak tersebut.

Lantas yang menjadi pertanyaan, bersediakah kita mengakui segenap kesalahan-kesalahan kita tersebut untuk kemudian beranjak untuk bersama-sama merumuskan formula yang tepat dan memperbaiki keadaan demi proses pembentukan karakter dan perialku luhur bagi anak-anak kita, wahai para orangtua, para pendidik, dan para pemangku kekuasaan negara? (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog Klinis Dewasa di Pusat informasi dan Rumah Konsultasi Tiga Generasi Jakarta

Perilaku yang dimaksud dalam "kids jaman now" biasanya merujuk pada perilaku  anak-anak pra-remaja dan remaja yang secara terbuka memperlihatkan perasaan atau perilaku mereka yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku di masyarakat setempat. Tidak dapat dipungkiri, anak-anak masa kini banyak terpapar berbagai informasi dan budaya di luar budaya Indonesia. Sangat mudah bagi mereka mengakses perilaku para idola mereka di luar negeri, dan menirunya.  

Masa remaja sendiri masa sedang mencari jati diri dengan mengeksplorasi berbagai macam hal di luar lingkungan keluarga. Mereka juga sedang mencoba mengetahui batasan dari aturan sosial yang ada, sehingga seringkali terlihat seperti sengaja melanggar aturan atau norma yang berlaku. Pada masa ini, mereka juga seringkali tidak berpikir panjang konsekuensi perilakunya (termasuk dalam mengunggah pesan/gambar/video di medsos) baik pada diri sendiri maupun orang lain. 

Gabungan keleluasaan informasi, paparan berbagai budaya di luar budaya setempat, teknologi yang mendukung, masa remaja mencari jati diri sekaligus mencoba-coba batasan yang ada, dan belum matangnya pertimbangan akan konsekuensi dari tingkah lakunya, kelihatannya sama-sama berkontribusi dalam hal ini. 

Saya pikir kondisi ini bukan salah siapa-siapa, karena kondisi ini dipengaruhi perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang pesat. Manusia memang memiliki kebutuhan untuk terkoneksi atau terhubung dengan orang lain. Otak manusia dirancang membangun koneksi dengan manusia lain, sehingga pengalaman ini (perasaan terhubung) memberikan kepuasan psikologis atau emosi tertentu. Dengan adanya kemajuan teknologi, kebutuhan untuk terhubung jadi dapat difasilitasi melalui media sosial, sehingga banyak sekali orang kemudian memanfaatkan media ini untuk terkoneksi dengan orang lain. 

Fenomena ini sebenarnya tidak jauh berbeda ketika beberapa dekade yang lalu, ketika telepon di rumah mulai umum di mana-mana, para remaja di zaman itu sering sekali bertelepon dengan teman-teman dan pacarnya, perilaku yang di generasi sebelumnya tidak pernah ada. Hanya saja, media sosial sekarang memungkinkan terkoneksi pada banyak orang sekaligus dan tidak hanya melalui suara, tetapi juga gambar baik berupa foto maupun video. 

Terkait dengan topik ini, orangtua yang sama sekali tidak memahami teknologi dan tidak memanfaatkannya memang mungkin menjadi lebih sulit mengerti bagaimana anak-anaknya berinteraksi melalui media ini. Akibatnya, bisa jadi mereka tidak terlalu efektif memberikan bimbingan maupun batasan dalam penggunaan sosial media, termasuk dalam memberikan masukan mengenai batasan mengenai apa yang sebaiknya di posting, dan apa yang tidak.  

Akan lebih baik jika orangtua juga memahami dunia maya dan medsos yang ada, termasuk berbagai situs yang sedang menjadi minat anak-anak mereka, agar mereka dapat mengetahui dampak positif atau negatif dari informasi yang ada di sana, serta memberikan bimbingan yang tepat. Orang tua yang melek teknologi juga dapat memberikan batasan seperti membatasi akses pada situs tertentu, mem-blok akun, dan lain sebagainya. Peran orangtua membimbing dan memahami anak-anaknya, terutama di masa remaja, memang masih sangat diperlukan, walaupun dengan cara yang berbeda.  

Pendidikan mengenai nilai-nilai sosial, termasuk mana yang benar dan salah, peran semua orang, baik sekolah, keluarga maupun masyarakat secara umum. Saya pikir, menyalahkan pihak sekolah atau orang tua, bukanlah hal yang bijak dalam hal ini. Sekolah berperan  dalam memberikan pendidikan formal yang bersifat kognitif bagi para murid. Untuk pendidikan mengenai etika, nilai-nilai atau hal-hal yang terkait dengan respons emosi dan sosial (bagaimana berperilaku), adalah tugas semua pihak (sekolah, orang tua, masyarakat pada umumnya). Idealnya, sekolah memang memberikan bimbingan dalam perilaku yang efektif dalam bermasyarakat (termasuk dalam etika dalam menggunakan sosial media), namun hal ini bukan semata-mata tugas mereka (sekolah) saja, tetapi juga semua pihak yang terkait. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pegiat Literasi Bagi Anak-Anak di Daerah Terpencil, Penulis Cerita Anak Dalam Bahasa Inggris, Pengajar Bahasa Inggris

Jelas teknologi tidak bisa dipersalahkan, dia adalah gelombang yang membawa kita ke masa depan. Lalu siapa yang salah?

Stakeholders dalam pembentukan karakter anak jaman manapun adalah orangtua, orang sekitar anak, guru, lingkungan nyata maupun maya. Siapapun bisa dipersalahkan. Namun pengaruh terkuat menurut saya datang dari orangtua (yang egois).

Orangtua sangat bisa mempengaruhi pertumbuhan karakter anak melalui teladan sehari-hari. Kebiasaan menggunakan kata-kata kasar akan diterima anak sebagai wajar dan sangat mudah ditiru. Orangtua (egois) yang lebih suka main hape daripada bercengkerama dengan anak akan memberi keyakinan pada anak bahwa hape dan benda teknologi modern adalah tuhan kedua yang sangat dibutuhkannya.

Orangtua yang sering membaca dan suka membacakan cerita pada anaknya sejak usia dini, akan membantu anaknya tumbuh dengan keyakinan bahwa membaca buku termasuk kebutuhan penting dalam hidupnya. Anak yang banyak membaca lebih mudah menangkap pelajaran, mempunyai pengetahuan umum yang luas, dan lebih kritis terhadap kejadian-kejadian sekitarnya, sehingga lebih bisa membedakan yang patut dari yang tidak patut untuk ditiru.

Kata-kata tidak santun ‘kids jaman now’ pastinya bukan diciptakan anak itu sendiri. Kurangnya perhatian orangtua mendorong anak-anak untuk lari ke dunia maya. Di sinilah anak merasa menemukan ‘home’ dan dengan mudah mengadaptasi budaya kasar tanpa halangan.

Lalu bagaimana solusi masalah ‘kids jaman now’? Siapa yang harus di-‘perbaiki’?

Menurut saya, bagi anak-anak yang sudah terlanjur menjadi ‘kids jaman now’, harus ada ‘perbaikan’ dalam kerjasama orangtua dan guru, mereka harus bisa mencontohkan tutur kata santun dan kendali diri dalam pemakaian hape. Perlu penyuluhan (oleh siapa?) bagi para orangtua, baik bagi yang kurang pendidikan maupun yang berpendidikan tinggi, untuk tidak terlalu dini dan terlalu mudah memberikan hape pada anak-anaknya. Juga perlu peningkatan pendidikan guru (oleh siapa?) agar guru sadar bahwa dirinya bukan hanya seorang pengajar tapi juga seorang pendidik.

Bagi anak-anak usia dini, peran orangtua adalah paling utama. Orangtua harus diyakinkan bahwa bercengkerama dengan anak jauh lebih penting daripada ber-hape-ria. Orangtua juga harus diyakinkan bahwa memperkenalkan membaca (jangan hape!) sedini mungkin, mencontohkan banyak membaca, serta rajin membacakan cerita pada anak-anaknya akan sangat membantu membentuk karakter anak yang baik dan santun. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang