Tagar `#uninstallTraveloka`: Sentimen Agama atau Taktik Kotor Bisnis?
berita
Humaniora

Sumber Foto: afa.net

16 November 2017 19:00
Kisah walk out pemusik Ananda Sukarlan ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato di acara ulang tahun sekolah Kolese Kanisius akhir pekan lalu ternyata belum usai. Di jagat sosial media dan percakapan dunia maya muncul tagar "#uninstallTraveloka" sebagai bentuk protes lantaran CTO yang juga salah satu pendiri Traveloka, Derianto Kusuma, disebut mendukung aksi Sukarlan. 

Masalahnya kemudian, diketahui kalau bos Traveloka bukan saja tak mendukung, bahkan ia pun tak hadir di acara tersebut. Memang, Derianto malam itu dapat penghargaan dari Kanisius, tapi ia berhalangan hadir. Lantas, bagaimana bisa muncul gerakan boikot pada Traveloka? Lalu, kenapa pula gerakan boikot ini mengincar Traveloka? Bukankah yang jelas-jelas memboikot Anies adalah Ananda Sukarlan? Kenapa tak ada gerakan memboikotnya, membakar CD albumnya (kalau ada) atau ogah datang ke konsernya (kalau juga ada)? 

Sejak awal, ketika aksi walk out ini viral, yang segera tercium adalah nuansa SARA: seorang gubernur muslim diprotes musisi non-muslim di acara sekolah khusus non-muslim. Isu SARA paling mudah membakar emosi. Masalahnya, tak banyak orang kenal Ananda Sukarlan. Jangan-jangan di luar sana ada yang berniat memborong CD Ananda lalu membakarnya sebagai bentuk protes, tapi tak kunjung menemukannya.

Maka, Traveloka, yang disebut turut menerima penghargaan di acara ultah malam itu, jadi sasaran paling gampang. Seperti sang musisi, Traveloka dianggap jadi bagian kelompok non-muslim yang menolak Anies. 

Itu logika gampangnya. Tapi, tak salah juga bila kita bertanya, bukankah ada yang cacat dari logika itu? Kenapa orang begitu mudah terbawa emosi turut menyalahkan Traveloka? Bukankah dalam Islam ada proses bernama tabayyun, mencari kejelasan tentang suatu duduk persoalan?

Kenapa hal itu tak dilakukan dan banyak orang terjebak dalam rimba hoaks? Apakah ini akibat kebanyakan orang hanya membaca berita setengah-setengah, malas menyelidik, dan menggunakan akal sehat? 

Perlu juga dijabarkan di sini Traveloka adalah layanan travelling dunia maya bikinan anak negeri sendiri paling ternama saat ini. Aplikasinya telah diunduh hingga 6 juta kali, menjadikannya sebagai aplikasi terpopuler di App Store dan Play Store di kategori travel. Bulan April lalu, total pengunjung situs Traveloka berjumlah 15,2 juta – tertinggi di antara online travel web di Indonesia. Saban hari, 500 ribu pengunjung bertandang ke situsnya. Melihat fakta ini, tidakkah orang berpikir kampanye boikot Traveloka bisa jadi dimanfaatkan oleh pesaingnya? Bisa saja kan kampanye boikot ini sekadar strategi dagang dengan memanfaatkan sentimen agama? 

Pada orang-orang yang memboikot Traveloka demi sentimen agama, kita juga berhak bertanya: sebegitu mudahkah kalian terhasut? Memangnya kenapa bila orang tak seagama punya bisnis yang sukses? Dan, tidakkah terpikir juga di perusahaan milik lain golongan itu, ada karyawan-karyawan yang satu agama dengan kalian? Bila gerakan boikot kalian membuat perusahaannya ambruk, bukankah mereka--yang seagama ini--jadi korban PHK? Tidakkah itu turut dipikirkan sebelum mencuit tagar boikot?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sastrawan, budayawan

Pemboikotan terhadap Traveloka tidak berdiri sendiri. Ada peristiwa walk out yang dilakukan Ananda Sukarlan di acara Kanisius. Kita juga boleh bertanya, apakah tindakan Ananda itu sudah menggambarkan nilai yang diajarkan di Kanisius? Sedangkan untuk boikot pada Traveloka oleh orang-orang itu apakah hanya persoalan moral, bisnis, atau politik? Segalanya serba kabur. 

Sekarang kita berhadapan dengan hal-hal yang sangat kabur, samar, padahal kita tak bisa sembunyi. Saat ini tempat pergi kita sangat banyak tapi di saat bersamaan kita tak punya tempat untuk sembunyi. Maksudnya, saat ini begitu banyak sumber informasi. Tapi kita juga begitu mudah dibohongi. Itu maksudnya kita tak bisa sembunyi. 

Menurut saya, ini bukan persoalan agama, melainkan ada gerakan dari sebagian orang untuk mengacaukan masyarakat kita dari sisi manapun. Ini bukan persoalan agama, tapi ada yang memanfaatkan ini jadi persoalan (agama) itu. Sentimen agama dipakai untuk mencapai target tertentu. Segala kemungkinan bisa terjadi. Misalnya bisa saja gerakan boikot ini datang dari pesaing Traveloka. Tapi bisa juga justru dari Traveloka sendiri yang ciptakan. Kedua-duanya memungkinkan dan juga tidak memungkinkan. 

Gerakan boikot ini akan terus ada. Mereka akan terus mencoba. Misalnya yang sekarang tak berhasil, nanti dicoba lagi. Sementara itu masyarakat kita belum terlalu siap menghadapi hal-hal ini secara mental. Bagaimanapun produk teknologi komunikasi ini seharusnya dinikmati masyarakat high class, sedangkan kita belum sampai tahapan high class itu. Satu dekade terakhir kita sibuk mencari cara bagaimana menggerakkan minat baca. Sementara itu di masyarakat yang lebih maju, gerakan itu sudah lama berlangsung. Mereka justru mengkampanyekan bagaimana punya literasi media atau digital. Artinya, kita tertinggal. Dan akhirnya kita tak bisa mengikuti perkembangan yang cepat ini. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi

Gerakan tagar #UninstallTraveloka tak terlepas dari konteks politik. Dilihat dari peristiwa yang menyertai gerakan boikot itu adalah aksi walk out di sebuah acara, yang bagi orang-orang yang mendukung aksi itu, dianggap langkah berani dan heroic. Tapi bagi yang mendukung Gubernur Anies itu dianggap langkah melecehkan. 

Di sini kemudian muncul mentalitas beraninya ramai-ramai. Seakan orang ramai tergerak cari cara bagaimana untuk membalasnya. Lucunya, yang membalas ini mengatasnamakan Islam secara keseluruhan. Mereka menganggap yang melecehkan gubernur kemarin berarti menghina Islam pula secara keseluruhan.  

Gerakan boikot ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya menimpa Sari Roti. Sekarang brand jadi rentan untuk berada memihak di satu posisi. Trigger-nya ternyata memang ada yang memprovokasi gerakan boikot Traveloka ini. Pelaku utamanya kan Ananda Sukarlan. Tapi memang tak ada yang bisa diboikot dari Ananda Sukarlan ini. Kebetulan disebut juga nama Traveloka di acara tersebut.   

Kalau kita lihat underlying problem-nya seolah ada ketidak-percayaan diri, di mana (kelompok) mayoritas justru merasa terancam. Kelompok masyarakat yang jumlahnya mayoritas ini justru menjadi unsur masyarakat yang lemah. Dari sini ada rasa ketidak-percayaan diri yang berusaha ditampilkan dengan menunjukkan "Lihat kita ini (jumlahnya) banyak!" bukan dengan cara bersaing di bidangnya. Misalnya, di bidang akademis. Ternyata di bidang-bidang itu tak banyak yang menonjol. Yang akhirnya yang bisa dilakukan banyak-banyakan orang untuk dijadikan salah satu senjata.     

Saya tak melihat di balik ini ada taktik bisnis kotor dari pesaing Traveloka. Justru dari peristiwa ini malah banyak yang jadinya mendukung Traveloka. Yang tadinya nggak instal, malah instal. Peristiwa ini malah bisa dijadikan publikasi gratis, sebenarnya. Yang bisa dicermati dari peristiwa ini adalah ketidaksetujuan, entah pada pemerintah atau seorang tokoh, itu wajar, akan tetapi preferensi kita sekarang diwarnai oleh konteks politik. Jadi ada kubu-kubuan.

Yang jadi masalah bila preferensi itu dibangun atas dasar hoaks dan tanpa diteliti dulu sebab-sebabnya. Seperti sebelum ini kan ada kasus boikot Sari Roti yang ternyata pihak Sari Roti tak terlibat. Begitu juga kasus Traveloka ini ternyata bos travel agent tersebut tak ada di acara itu. 

Pada umumnya bisnis seharusnya tidak mengenal politik. Pemilik bisnis tidak membeda-bedakan konsumennya. Maka dari itu kita sebagai masyarakat harus bisa lebih bijak lagi sebagai pengguna media sosial. Jangan buru-buru ikutan menyebarkan tagar. Pas ternyata salah, kan malu.   

Brand terganggu atau tidak aksi boikot ini? Ujung-ujungnya yang berpengaruh pada sebuah brand adalah layanan dan produknya sendiri. Masyarakat Indonesia sebenarnya kurang loyal terhadap brand. Masyarakat Indonesia cenderung mencari yang lebih murah dan yang paling menguntungkan.             

Akan tetapi tetap saja gerakan boikot ini tak sehat. Setiap kali ada gerakan boikot dari agama atau golongan tertentu, dan akhirnya nggak berhasil (menumbangkan yang diboikot), artinya yang diboikot tak terpengaruh, akan melahirkan rasa semakin tidak percaya diri tadi. Maka dari itu energi yang disalurkan untuk boikot-boikot ini disalurkan untuk sesuatu yang lebih berarti, lebih positif dan produktif. Kalau mau bikin bisnis ya bikin bisnis yang bagus atau berkarya di berbagai bidang. Jangan ikut boikot-boikotan yang tak ada hasilnya pula. (ade)      
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sastrawan, budayawan.

Ini gerakan boikot yang ke berapa ya? Sejak boikot Starbucks, Sari Roti dan ada beberapa lagi. Saya memandang ini fenomena masyarakat kerumunan dalam dunia maya, crowded society. Apa yang disebut Manuel Castells tentang masyarakat jaringan atau network society, di Indonesia, yang warga net-nya konon 130 juta, tidak berlaku. Yang tetap bekerja di sini adalah masyarakat kerumunan. Seperti ikut ke mana angin kencang. Ada boikot, ikut boikot. Ini kasus kecil saja yang bisa membuktikan betapa netizen kita berangkat dari budaya baca atau nalar literasi yang sangat rendah. Menurut penelitian, budaya baca kita berada di urutan ke-60 dari 61 negara yang di-survey. 

Yang ingin saya katakan, walaupun di dunia maya kita menulis teks, tapi sebenarnya perkakas yang kita gunakan masih tradisi lisan, tradisi gosip, atau tradisi ngerumpi.Kita tidak biasa melakukan verifikasi, konfirmasi. Yang kita lakukan hari ini, kita menerima apa yang saya sebut "hantu" dan di dunia maya kita merasa harus jadi orang yang pertama men-share setiap informasi. Pokoknya harus jadi yang pertama tanpa harus tahu info itu datangnya dari mana, diverfikasi atau tidak. Ini ciri masyarakat kerumunan. Diibaratkan, di kampung ada orang ngangon bebek bawa galah kayu, ke mana galah diarahkan, ke situ bebek bergerak.  

Insan terdidik yang terbiasa berdalam-dalam menggali informasi dan melakukan verifikasi jumlahnya sangat sedikit. Kita mengikuti hukum supply and demand. Yang bekerja di dunia maya hari ini menurut saya,melihat kasus uninstall Traveloka ini, kalau dicermati pasarnya kan ada. Industri kabar bohong dan informasi yang sudah didesain dengan framing politik tertentu menjadi sangat subur karena ada pasarnya. Yang diuntungkan, misalnya kini pekerjaan buzzering telah jadi profesi, lalu penyebaran informasi negatif juga telah jadi industri. Intinya, distribusi di dunia digital menurut saya adalah mencari pembaca sebanyak-banyaknya, bukan mencari pembaca yang suka kedalaman. Pembaca atau pemirsa yang banyak itu pasti tak suka yang dalam-dalam. 

Saya kebetulan basisnya santri. Dalam keilmuan Islam, misalnya hadits, ada ilmu musthalah hadits mempelajari urut-urutan kronologis perawi hadits dari sumber yang pertama sampai ke mana ia diriwayatkan. Dari satu rawi ke rawi yang lain nggak boleh terputus sama sekali, kalau terputus bisa jadi hadits lemah dan tak boleh dipercaya. Sedangkan hadits mutawatir adalah hadits-hadits yang perawinya tidak diragukan kejujurannya, sanad-nya tidak terputus, dan dengan begitu bisa dipercaya. Tapi kenapa, mohon maaf, kelompok Islam ini seakan abai pada hal itu? Apakah mereka tidak membaca, ya? Mengaku sebagai cendekiawan muslim atau pembela Islam tapi tidak menggunakan metodelogi verifikasi informasi. Seharusnya kita kritis pada sebuah informasi. 

Solusinya bagi saya, kita harus meningkatkan nalar literasi, bukan nalar obrol, bukan nalar kelisanan. Jawabannya ada pada pendidikan. Kita belum siap pada budaya baca yang matang, sekarang sudah datang revolusi digital. Terlalu cepat kita naik kelas. kalau orang Amerika mereka sudah mengembangkan budaya literasi. Kita masih mengembangkan budaya ngobrol. Dalam bahasa ekstrim, bodoh saja kita belum. Kita masih di level pra-bodoh. Apalagi pintar.   

Oleh karena itu, orang-orang yang punya keislaman yang matang dan kritis, seharusnya ikut mengambil bagian di dunia digital. Jangan menarik diri dan menjauhi. Karena ia bisa menjadi pen-syarah atau yang bisa menjelaskan dan mem-verifikasi. Kita kini terkepung dalam parameter yang benar adalah yang didukung orang banyak. Padahal, dalam tradisi keilmuan, nggak apa-apa nggak didukung oarng banyak. Kebenaran nggak akan berubah dan menyusut. Bagi saya itu masalah. Kebenaran tak harus didukung banyak orang. Kebenaran akan tetap jadi benar walau didukung oleh satu orang.

Maka, fenomena tagar #UninstallTraveloka bagian dari ketidak-siapan kita memasuki dunia digital karena kita masih berada dalam tradisi lisan. Secara fisik saja kita mengetik, tapi sebenarnya kita hanya mengobrol seperti ibu-ibu berkumpul di sekitar tukang sayur. Di situ itu kan semakin digosok, semakin kena, semakin asyik. Akhirnya jadi bergunjing. (ade)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional