Stunting Meningkat, 2030 Indonesia Jadi Negeri Kaum Hobbit
berita
Humaniora

Sumber Foto: bharian.com.my  (gie/Watyutink.com)

08 April 2018 13:00
Penulis
Gawat. Indonesia terancam dipenuhi orang kerdil. Pasalnya, saat ini kasus stunting atau bertubuh pendek di Indonesia cenderung meningkat. Menurut riset kesehatan dasar pada 2007, 2010, dan 2013 menunjukkan bahwa prevelensi anak balita stunting masing-masing adalah 36,8 persen, 35,6 persen, dan 37,2 persen. Artinya jika pada 2013 di Indonesia terdapat 24 juta balita, maka 9 juta di antaranya adalah balita stunting.

Badan kesehatan dunia atau WHO telah menentukan batas toleransi stunting di suatu negara adalah 20 persen atau seperlima dari jumlah seluruh balita. Di Indonesia jumlahnya sudah melebihi batas toleransi. Bahkan 18,5 di antaranya termasuk kategori sangat pendek.

Global Nutrition Report 2014 menempatkan Indonesia di urutan ke-5 negara dengan kasus stunting terbesar di dunia. Indonesia juga berada di urutan ke-17 dari 117 negara dengan beban ganda masalah gizi, yaitu balita bertubuh pendek, kurus, dan kegemukan bersama dengan negara-negara di Asia dan Afrika.  Kondisi ini menguatkan kesan bahwa kasus stunting menjadi ancaman yang nyata bagi masa depan bangsa Indonesia.

Jika tidak ditangani secara serius bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negeri kaum Hobbit, negeri kaum kerdil. Hobbit adalah tokoh dalam serial film The Lord of The Rings. Ciri utama kaum Hobbit adalah bertubuh pendek. Tidak diketahui secara pasti apakah kaum Hobbit bertubuh pendek karena stunting atau bukan. Namun yang pasti stunting kini menjadi ancaman yang nyata bagi Indonesia.  

Stunting adalah kondisi akibat kekurangan gizi akut yang diderita balita. Jika berlangsung lama, stunting dapat menghambat perkembangan balita. Anak yang terkena stunting saat dewasa akan sulit berprestasi dan berpotensi menderita obesitas. Risiko penyakit jantung dan diabetes pun meningkat.

Ini ironi dengan semangat pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi. Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Price Waterhouse Coopers (PWC) memprediksi pada 2030 ekonomi Indonesia masuk dalam lima besar dunia. Sangat disayangkan jika pada tahun tersebut justru Indonesia dibanjiri penduduk yang terkena stunting.

Lebih mengkhawatirkan jika melihat demografi Indonesia pada 2030. Sebanyak 70 persen penduduk Indonesia berusia 15–64 tahun atau dalam masa produktif. Apa jadinya pembangunan di Indonesia jika sebagian besar penduduknya menderita gizi buruk? Alih-alih menjadi pendorong kemajuan bangsa, malapetaka akan terjadi karena banyaknya balita yang kelak menjadi tenaga produktif justru mengalami stunting.

Pidato Prabowo Subianto yang mengatakan bahwa pada 2030 Indonesia akan bubar boleh saja diabaikan. Tapi prediksi bahwa pada 2030 Indonesia akan menjadi negara Hobbit jauh lebih mengkhawatirkan. Data dan hasil riset menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin terjadi.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ysf)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua KIDI Periode 2014-2017 dan Pengurus ARSADA Pusat

Ini adalah fenomena kesehatan masyarakat saat ini yang terjadi pelayanan public health tidak berjalan dengan baik. Terutama pelayanan kesehatan ditingkat primer, seperti puskesmas bisa dikatakan saat ini menurun. Indikasinya adalah saat ini penyakit-penyakit yang semula dianggap sudah tidak ada ternyata muncul lagi. Beberapa saat yang lalu kita dikejutkan dengan munculnya wabah difteri. Indiksai lainnya adalah terjadinya kondisi kekurangan gizi kronis di masyarakat. 

Namun sejatinya kondisi ini tidak terlalu mengejutkan, sebab indikasi-indikasi awalnya sebetulnya sudah terlihat. Perkembangan kesehatan masyarakat tentu sudah dipantau secara berkala. Dari pemantauan berkala tersebut terlihat bahwa beberapa tahun terakhir kerap terjadi kasus gizi buruk. Bisa jadi hal ini merupakan rangkaian akibat dari krisis ekonomi yang pernah terjadi pada 1998.

Pada perkembangan manusia ada masa yang disebut golden age, yaitu usia 0–5 tahun.  Pada usia ini anak harus mendapat asupan gizi yang cukup. Jika tidak, maka perkambangan anak akan terganggu. Namun akibatnya tidak terasa dalam waktu singkat. Akan terasa beberapa tahun kemudian.

Kurang gizi itu kan kekurangan segala macam, protein,  kalori, dan sebagainya. Akibatnya adalah penurunan kualitas pertumbuhan anak. Terjadilah stunting. Dan nantinya saat anak itu dewasa organ-organ tubuhnya tidak seperti yang diharapkan. Bertubuh pendek, dan tingkat kecerdasannya juga rendah.  Kualitas kehidupannya juga menurun.

Sebetulnya merebaknya kasus stunting dapat diantisipasi jika pelayanan public health berjalan dengan baik. Puskesmas sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat kini seolah sudah beralih fungsi. Seharusnya puskesmas mengedepankan fungsi pembinaan pelayanan kesehatan atau fungsi promotif. Tapi saat ini puskesmas lebih banyak melakukan kegiatan pengobatan kuratif. Artinya puskesmas hanya menjadi tempat orang berobat.

Memang kasus gizi buruk dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga. Kemiskinan menjadi sumber utama terjadinya gizi buruk. Tapi jika kondisi ini bisa diketahui sejak dini maka penanganannya bisa lebih baik. Di sinilah peran puskesmas dalam melakukan pembinaan pelayanan kesehatan masyarakat. Selain itu pemantauan kesehatan masyarakat harus rutin dilakukan.

Untuk situasi saat ini mau tidak mau harus ada intervensi yang bersifat jangka panjang. Tidak bisa diselesaikan dengan intervensi sesaat. Misalnya, pemberian susu untuk balita dalam jangka panjang, hingga tiga tahun.  Selain itu juga pemenuhan gizi kepada balita-balita yang terindikasi gizi buruk.

Hal yang perlu diperhatikan juga pemberian pemahaman kepada para orang tua tentang pentingnya pemenuhan gizi bagi anak-anak. Pendidikan tentang gizi anak perlu diberikan kepada para orang tua. Di sinilah perlu peran pemerintah dalam mengatasi kasus stunting. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Managing Director Indonesia Sehat Amira, Ketua Gerakan Hidup Sehat (GHS)

Kita prihatin dengan masih tingginya kasus stunting (bertubuh pendek) di tanah air. Anak stunting  merupakan indikasi kurangnya asupan gizi baik secara kuantitas dan kualitas, yang tidak terpenuhi sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Kondisi ini menyebabkan anak memiliki tinggi badan cenderung pendek pada usianya.

Gizi buruk dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi yang perlu lebih diperhatikan yaitu pada kelompok bayi dan balita. Pemerintah telah merilis hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilaksanakan di Indonesia tahun 2017.Hasilnya, anak yang menderita gizi buruk sebanyak 906.000 anak atau sekira 3,8 persenb. Sedangkan gizi kurang dialami oleh 14 persen anak, gizi baik sekira 80,4 persen dan obesitas pada balita dialami oleh 1,8 persen anak Indonesia.

Beberapa faktor penyebab stunting antara lain; pola makan dan ketersediaan pangan menjadi faktor penyebabnya gizi buruk di Indonesia. Pola asuh yang tidak sesuai, sehingga menyebabkan kurangnya asupan gizi dan juga pola hidup yang tidak bersih, seperti buang air besar sembarangan, sehingga menyebabkan infeksi bakteri atau kuman. Infrastruktur juga mempengaruhi tingginya tingkat stuting pada satu daerah. Seperti akses distribusi transportasi membawa pangan ke suatu wilayah.

Uniknya, kasus kekerdilan tidak hanya terjadi pada keluarga miskin, tetapi juga keluarga menengah ke atas. Terutama ketika urusan makanan anak diserahkan sepenuhnya pada pengasuh yang cenderung memberikan makanan yang hanya disukai anak seperti yang manis maupun gurih tanpa memperhatikan kecukupan gizinya.

Stunting berdampak pada terhambatnya perkembangan otak dan fisik (kognitif dan psikomotorik), rentan terhadap penyakit. Stunting jelas mengganggu masa depan anak-anak. Tidak hanya postur tubuhnya yang kerdil, otak mereka juga dikategorikan kerdil karena tidak mendapatkan gizi yang baik. Stunting bukan sekadar masalah tubuh pendek. Anak yang mengalami kekurangan gizi pada seribu hari pertama kehidupan hingga usia dua tahun akan terhambat perkembangan kognitif atau kemampuan intelektualnya. Kita ketahui bahwa usia ini adalah masa emas dari seorang anak. Tentunya kita tidak mau anak-anak generasi penerus kita adalah orang Indonesia yang lamban dan penyakitan.

Dalam jangka panjang, stunting ini akan berdampak pada kesehatan reproduksi, kecerdasan serta produktivitas kerja. Sementara pada tingkat masyarakat dan negara, stunting menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan angka kemiskinan dan kesakitan sehingga beban negara meningkat, ketimpangan sosial dan menurunkan daya saing dengan negara lain.

Stunting bukan hanya masalah kesehatan tapi juga masalah pendidikan. Terutama tingkat pendidikan sang ibu turut memengaruhi peluang anak lahir dengan berat badan lahir rendah dan bertubuh pendek. Seorang ibu yang sudah cukup kemampuan fisik, psikis dan pendidikannya akan berpeluang lebih besar memperhatikan asupan gizi keluarga terutama anak-anaknya.

Beberapa solusi bisa masyarakat lakukan agar Indonesia bebas Stunting antara lain, calon ibu saat mengandung janin dan saat menyusui harus berupaya menjaga asupan gizi hariannya dan rutin memeriksa diri dan janinnya ke petugas kesehatan yang terdekat dengan tempat tinggal. Anak-anak dipantau rutin status gizinya lewat nama dan alamat tinggalnya oleh petugas kesehatan. Para peneliti di daerah terjun langsung mendekati mereka untuk pemantauan status gizi ini.

Terus digalakkan Posyandu, serta para tenaga kesehatan harus ikut berperan membantu menuntaskan masalah gizi di Indonesia. Kalau perlu mereka dari pintu ke pintu ke rumah warga untuk mendata dan memantau kesehatan ibu yang sedang hamil, beserta balitanya. Digerakkan pula tenaga-tenaga penyuluh ke tingkat wilayah RW/RT untuk sosialisasi gizi baik yang tidak selalu mahal tapi mencukupi gizi harian. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Manager, Climate Reality Indonesia

Pada Rapat Terbatas di Kantor Presiden RI minggu lalu, Jokowi membahas penurunan stunting karena setelah tahap percepatan pembangunan infrastruktur, Indonesia masuk ke tahap investasi peningkatan kualitas sumberdaya manusia.
 
Stunting disebabkan 1) faktor individu yang meliputi asupan makanan, berat badan lahir, dan keadaan kesehatan; 2) Faktor rumah tangga yang meliputi kualitas dan kuantitas makanan, sumber daya, jumlah dan struktur keluarga, pola asuh, perawatan kesehatan, dan pelayanan; serta 3) Faktor lingkungan yang meliputi infrastruktur sosial ekonomi, layanan pendidikan dan layanan kesehatan.

Stunting  merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia yang membahayakan kemampuan daya saing bangsa. Karenanya, upaya penurunan angka stunting adalah kerja bersama yang harus melibatkan semua elemen masyarakat dengan menggencarkan edukasi publik.
 
Kegiatan besar untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui edukasi publik memerlukan mobilisasi sumberdaya yang besar pula, sehingga dapat lebih efektif jika dilaksanakan melalui sebuah konsorsium yang dapat menggabungkan sumberdaya masing-masing.

Salah satu contoh konsorsium terkait masalah gizi adalah Konsorsium Indonesia Bergizi, yang digagas oleh Japfa Foundation di Jakarta pada tahun 2015, bersama para mitra dan jejaringnya; antara lain Omar Niode Foundation, para Akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, serta perusahaan Media Pangan Indonesia, dan  Selaras Hati Sejahtera.

Tujuan utama Konsorsium Indonesia Bergizi meliputi promosi dan fasilitasi lintas kemitraan antara pemerintah pusat, perusahaan, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah daerah untuk menciptakan kegiatan peningkatan gizi bagi seluruh masyarakat Indonesia, secara berkelanjutan dan terukur.
 
Salah satu kegiatan konsorsium adalah Konferensi Indonesia Bergizi bagi para pemangku kepentingan yang diadakan setiap tahun. Akhir tahun lalu Konferensi Indonesia Bergizi memilih tema “Perbaikan Nutrisi yang Berkelanjutan untuk Memerangi Stunting dalam Era SDGs Melalui Pendekatan Kewirausahaan Sosial.”
 
Kegiatan inti konferensi merupakan pertemuan strategis lintas pemangku kepentingan dalam membahas isu terkini gizi masyarakat dan upaya-upaya solutif dari sinergi kemitraan untuk menjawab permasalahan tersebut sebagai rekomendasi portofolio kepada pemerintah yang merupakan penentu kebijakan.
 
Karena generasi muda merupakan elemen masyarakat yang perlu dilibatkan dalam perbaikan gizi, Konsorsium Indonesia Bergizi mengadakan kompetisi yang ditujukan untuk memberikan ruang bagi pemuda Indonesia dalam menuangkan ide mereka dan berpartisipasi aktif dalam mencari dan memberikan solusi untuk perbaikan gizi di Indonesia.
 
Kompetisi di kalangan generasi muda merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat karena mendorong pesertanya untuk lebih memahami berbagai hal penting seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, perencanaan dan manajemen waktu, metodologi penelitian, serta kemampuan menulis, presentasi, dan komunikasi.
 
Dua jenis kompetisi yang digagas oleh Konsorsium Indonesia Bergizi adalah INZI Creative Project dan NutriTEEN.
 
INZI Creative Project merupakan sebuah kompetisi tahunan yang ditujukan untuk memilih gagasan kreatif anak bangsa yang berkaitan dengan peningkatan gizi di masyarakat. Tahun lalu tema kompetisi “Inovasi Ide Wirausaha Sosial Berbasis Teknologi Dalam Peningkatan Gizi di Masyarakat,” berhasil mengumpulkan 174 ide inovasi wirausaha sosial anak-anak muda dari seluruh Indonesia.
 
NutriTEEN (Nutritionist TEEN) mengajak remaja putri untuk menjadi Duta Gizi NutriTEEN dan terlibat aktif dalam upaya pembangunan gizi remaja putri.
Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi ke 10 sekolah-sekolah Menegah Atas di Jakarta Selatan yang menjaring hampir 700 siswi, diikuti dengan NutriTEEN Academy sebagai pembekalan dengan topik public speaking, gizi seimbang, kebutuhan gizi remaja, dan eating disorders.  
 
Acara puncak NutriTEEN memilih pemenang 1, 2, 3 dan favorit serta NutriSchool. Para pemenang kemudian terlibat dalam NutriTEEN in Action, edukasi publik di sekolah masing-masing, panti asuhan, car free day, dan puskesmas. Data menunjukkan bahwa beberapa kagiatan positif ini meningkatkan pengetahuan gizi dari audiens yang dicapai.
 
Pola Aktivitas Konsorsium perlu direplikasi di berbagai daerah di Indonesia untuk menggalang generasi muda menjadi champions yang berjuang untuk meningkatkan kepedulian dan mendorong aksi dalam menurunkan angka stunting di Indonesia. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Pemerintah bisa melakukan terobosan lain dalam penanganan kasus stunting (bertubuh pendek) dan wasting (bertubuh kurus). Rasanya sulit jika hanya mengandalkan Perpres No. 42/2013 tentang Percepatan Perbaikan Gizi, nyatanya sampai hari ini tidak cukup efektif.

Stunting dan wasting ini masalah kemanusiaan yang serius karena menyangkut hak dasar warga negara yaitu hak untuk hidup normal. Nutrisi yang cukup, pola hidup yang baik dan lingkungan tinggal yang memenuhi standar minimal harus menjadi perhatian dan arus utama kebijakan pemerintah dalam pembangunan. Bisa saja pemerintah mengajak pihak swasta dan masyarakat secara masif untuk bersama-sama mengatasi soal tersebut.

Hal ini menjadi penting karena kasus stunting dan wasting bisa berdampak pada tidak tercapainya harapan akan lahirnya generasi yang sehat secara fisik dan berkualitas baik. Dalam konteks itu, hendaknya masyarakat bisa secara bersama-sama memiliki kesadaran untuk terlibat dalam mengurangi bahkan menghilangkan angka stunting dan wasting di Indonesia. Kita semua harus mampu menjadikan angka-angka stunting dan wasting yang tidak baik sebagai kritik terhadap pemerintahan sekaligus menawarkan solusi serta turut membantu dalam penanganan.

Pemerinrltah pun sebaliknya tidak boleh sombong dan bersikukuh dengan argumen yang ngasal apalagi jika tidak faktual. Pemerintah hendaknya bisa menggerakan masyarakat untuk terlibat dalam penanganan kasus stunting dan wasting yang ada.

Harapan Indonesia akan menjadi negara yang tumbuh dan kuat mesti dirajut secara bersama seluruh anak bangsa. Tanpa keterlibatan semua pihak, rasanya sulit untuk mencapai harapan tersebut, siapapun presidennya. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF