Sisi Gelap Dunia Hiburan: Artis dalam Pusaran Prostitusi
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 09 January 2019 17:00
Berita mengejutkan datang dari dunia hiburan, dimana kepolisian berhasil mengungkap prostitusi online yang justru melibatkan sederet artis wanita ternama di Indonesia. Salah satunya adalah Vanessa Angel, seorang aktris yang masih sering terlihat di layar kaca. Pertanyaannya, mengapa bisa seorang artis yang memiliki penghasilan tinggi terlibat dalam bisnis haram itu?

Vanessa sendiri terciduk oleh polisi di salah satu hotel di Surabaya saat sedang melakukan hubungan suami istri dengan seorang pengusaha. Bahkan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan, diketahui bahwa aktris FTV tersebut terlibat prostitusi online dengan tarif Rp80 juta sekali kencan. Apakah ada faktor lain yang menyebabkan artis tertarik untuk menjual diri dengan cara seperti itu?

Tak hanya itu, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait, termasuk mucikari yang telah mengeksploitasi Vanessa Angel untuk meraup keuntungan, terungkap juga bahwa ada 45 nama artis dan 100 model yang terlibat dalam prostitusi tersebut. Apakah artis memang rentan terhadap kasus prostitusi?

Begitu maraknya kasus prostitusi di Indonesia yang seolah tak pernah ada habisnya. Bahkan prostitusi yang melibatkan artis pun tak hanya sekali ini terjadi. Di awal tahun 2018, kasus prostitusi artis juga pernah terbongkar. Sederet nama artis papan atas ikut terlibat di dalamnya. Tak main-main, tarif yang dikenakan untuk satu kali kencan bisa mencapai ratusan juta. Lantas, apa yang membuat prostitusi menjadi pekerjaan yang banyak diminati, khususnya di kalangan artis?

Prostitusi atau pelacuran sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan yang melanggar norma-norma kemasyarakatan, norma agama, dan norma hukum. Namun selama ini, mereka yang menjadi PSK tak pernah dikenakan hukuman, hanya para mucikari atau germo yang ditetapkan sebagai tersangka. Bukankah dengan begitu akan membuka peluang lain bagi pelaku prostitusi untuk menjajakkan diri mereka di lain tempat?

Artinya, kasus prostitusi tak akan pernah ada habisnya. Terlebih mereka yang berasal dari kalangan artis memiliki jaringan yang lebih banyak kepada pengusaha atau pejabat yang menjadi sasaran empuk untuk melakukan kegiatan prostitusi. Hal itu menggambarkan sisi gelap dari dunia hiburan itu sendiri. Dan, mereka yang merupakan sosok public figure akan berpengaruh kepada masyarakat lain. Adakah cara untuk mencegahnya?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior

Ini adalah paradoks dengan realitas dunia film dan hiburan yang luar biasa maraknya. Produksi  film layar lebar kita ada lebih dari dua ratus judul per tahun. Sedangkan sinetron serial maupun FTV lebih dari 100 ribu jam pertahun. Belum lagi pekerjaan sebagai MC, video klip, bintang iklan dan sebagainya. Lahan untuk berekspresi dan mencari nafkah bagi para selebriti meningkat pesat dibandingkan dua dekade sebelumnya.

Di dunia medsos saja, IG, FB, dan lain sebagainya sudah melahirkan banyal milyuner dari kalangan artis. Menurut catatan, beberapa artis yang memiliki akun dengan follower belasan juta, bisa hidup ongkang- ongkang kaki tanpa bekerja keras. Bahkan ada yang memasang tarif Rp60 juta untuk satu spot iklan.

Maraknya dunia film itu cukup menjelaskan puluhan artis populer di era ‘90an bahkan tahun ‘70an kembali berkiprah. Sangat mengharukan puluhan artis itu ada yang sampai menjadi bintang untuk sinetron kejar tayang dan syutingnya stripping setiap hari.

Namun di balik itu semua, dunia artis sejak dulu memang selalu dikaitkan urusan seolah-olah mereka longgar ikatan moral, dengan beberapa contoh artis yang mudah kawin cerai, dan juga pernah dianggap terjebak dalam pusaran prostitusi.

Di tahun ‘80an, masyarakat dihebohkan oleh beredarnya daftar artis papan atas yang ditawarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Setelah beberapa wartawan melakukan investigasi, ternyata nama dan foto-foto artis itu disalahguhgunakan oleh para muncikari. Mereka menjadikan nama dan foto artis sebagai selling point untuk memuluskan pekerjaan mereka.

Setelah ditelusuri lebih dalam, muncikari itu mengakui mereka hanya memiripkan jualannya dengan wajah-wajah artis. Padahal, beberapa nama artis sudah mereka cemarkan karena mereka menyebarkan nama dan foto artis berikut dengan tarifnya.

Sementara itu, sebutan “artis” sendiri pada beberapa orang, terutama yang terindikasi terlibat prostitusi online, sebenarnya sudah menimbulkan kemarahan para artis sungguhan. Masalahnya, sebutan artis itu sekarang mudah betul dilekatkan kepada seseorang, dibandingkan artis-artis pendahulunya.

Sekedar informasi, di masa lampau artis film dan musik berhimpun dalam organisasi profesi yang besar dan kuat seperti Parfi dan Papri, Papmi dan sebagainya. Menjadi anggota organisasi itu tidak mudah. Mereka harus menempuh proses panjang termasuk ujian kompetensi yang terukur. Bandingkan dengan keadaan sekarang. Seseorang yang main sebagai figuran saja langsung dianggap artis. Main satu dua sinetron publikasinya langsung diblow up seakan artis ternama.

Tampaknya begitulah rentannya profesi artis sekarang yang menyebabkan ia mudah dimasuki oleh orang yang menyalahgunakan profesi itu. Seperti kasus prostitusi di Jawa Timur. Sampai sekarang saya sendiri mempertanyakan duduk perkara kasus yang menimpa dua artis VA dan SA.

Terdapat beberapa kejanggalan dalam kasus itu. Pertama, bagaimana polisi bisa menggerebek kamar hotel yang diduga dihuni oleh orang yang tidak terikat perkawinan. Pasal hukum apa yang digunakan polisi untuk melegitimasi tindakannya. Kalau benar ada aturannya, polisi harus berjaga di seluruh hotel untuk memeriksa surat nikah pasangan yang mau menginap.

Kedua, polisi juga bersikap diskriminatif terhadap pelakunya. Kalau betul itu pelanggaran hukum, kenapa polisi melepaskan pria hidung belang. Bahkan sampai sekarang identitasnya masih dirahasiakan oleh polisi. Sedangkan terhadap artisnya, baru beberapa jam setelah menggerebek hotel, identitas pelaku diumbar ke publik. Sampai ke soal tarif.

Tetapi sampai hari ini belum ada media menginvestigasi apakah begitu keadaan sebenarnya. Sebagian wartawan kita pun seperti terpukau menjadikan informasi polisi sebagai satu-satunya kebenaran. Nama hotel saja ikut disembunyikan. Padahal locus itu penting dalam kasus pidana. Muncikarinya pun seperti disembunyikan.

Ketiga, polisi tidak menjelaskan darimana daftar 45 atau 100 nama artis dan model yang terlibat dalam prostitusi online tersebut. Juga apakah betul sudah diverifikasi mereka yang tercatat itu sebagai artis, betul-betul artis.

Keempat, Vanessa Angel akhirnya dilepas setelah lebih 24 jam diperiksa. Belum bersalah secara hukum, tetapi namanya tercemar dunia akhirat untuk perbuatan yang belum terbukti kebenarannya.

Kelima, praktik polisi seperti itu membuat Komnas Perempuan bereaksi keras. Saya juga belum jelas betul duduk perkaran kasus artis online itu. Yang sudah pasti nama artis sudah tercemar, termasuk dunia artis secara keseluruhan.

Perlakuan sama kalau polisi menangkap artis pemakai narkoba. Sudah banyak artis yang mereka tangkap tangan. Sebanyak itu juga polisi tidak pernah mengungkap keberhasilannya menangkap bandar atau pengedar tempat artis itu memperoleh narkoba. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Konon prostitusi adalah salah satu pekerjaan yang paling tua dan paling mudah bagi orang-orang tertentu. Prostitusi pada dasarnya muncul karena situasi sosial dipersepsikan sebagai tidak ada cara lain untuk bisa memperoleh nafkah dengan segala keterbatasan diri. Masalah ini menjadi heboh karena ternyata pelakunya adalah artis atau public figures.

Tapi yang jelas ada dua pelaku disini sesuai prinsip supply dan demand. Pribadi atau karakter manusia dapat dikatakan rumit sekaligus unik. Dalam konfigurasi kepribadiannya ada faktor inteligensi, emosional dan sosial plus spiritual. Bagaimana seseorang menalar berbagai situasi kompleks dalam hidupnya, memiliki keterampilan untuk mencari solusi dan menahan diri untuk mentaati batasan hukum, agama dan etika.

Kebutuhan primer manusia adalah makan, tidur dan seksual. Namun dengan batasan hukum agama dan etika, proses pemenuhan kebutuhan tersebut diupayakan untuk dikendalikan sesuai dengan tayangan norma yang berlaku. Ketika unsur emosional lebih menguasai diri untuk memperoleh kenikmatan sesaat, hal ini dipengaruhi oleh kapasitas pengambilan keputusan seseorang di bagian prefrontal korteks otaknya.

Baik bagi pemakai jasa prostitusi maupun sebagai penyedia jasa dan pelaku jasa prostitusi, masing masing berusaha memenuhi kebutuhan primer hidupnya. Ada yang sudah menikah, ada yang belum, ada yang terus menerus karena terjebak kenikmatan daur reward yang akhirnya memperkuat perilaku itu sendiri.

Reward bagi pengguna jasa adalah pemenuhan kebutuhan seksual, plus kebanggaan karena bisa melakukannya dengan seorang artis. Reward bagi penyedia jasa adalah uang yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan reward bagi pelaku jasa adalah uang yang bisa dipakai memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidup yang meningkat di samping kebutuhan seksual.

Masalahnya UU RI baru menjerat penyedia jasa yaitu mucikari belum pelaku dan pengguna. Namun, pada banyak kasus yang lebih sering terjadi, yakni kasus human trafficking, yang paling dulu harus dihukum adalah pengguna jasanya bukan pelaku.

Karena pada banyak kasus, pelaku adalah korban yang dijerat oleh penyedia jasa dengan memanfaatkan kemiskinan. Sementara pada kasus VA saya belum bisa menentukan sebelum melakukan pemeriksaan apakah ada manipulasi dan intimidasi sehingga terjadi prostitusi.

Di dunia artis sendiri kerap terjadi jebakan demi kemasyuran dan ketenaran sehingga terjebak dalam Lingkaran human trafficking. Karena hukum kita belum menjerat pengguna jasanya. DPR selaku penyusun UU belum mau membuat UU untuk Praktek prostitusi. Padahal dibanyak negara sudah melakukan model hukuman bagi pembeli seks.

Selama di Indonesia masih menganut abolition, maka akan selalu terbuka kesempatan bagi para mucikari. Keterbatasan untuk memiliki pengetahuan tentang hukum, situasi sosial, kapasitas pengendalian diri, melindungi diri dari jebakan dunia prostitusi.

Banyak artis Muda terjebak. Itu pun karena hukuman sosial dari media dan masyarakat. Padahal pelaku adalah saksi korban. Tidak akan terkena hukum, tetapi yang paling berat adalah hukuman sosialnya, karena pelaku prostitusi akan di-bully netizen.

Oleh sebab itu, media juga harus cerdas, pasalnya perempuan itu Ibu Bangsa, harus dilindungi dari praktek macam ini. Karena keterbatasan pengetahuan dan pengendalian dirinya. Ingin jadi terkenal, ingin tampil maksimal, ingin masuk ke dunia gemerlap, kemudian mereka dimanipulasi. Dan, saya sendiri ingin sekali mendampingi VA dan mencari unsur-unsur psikologis yang bisa digunakan untuk membela.

Selama ini berapa kali kasus prostitusi online merebak, kejadiannya lagi dan lagi. Karena tidak ada hukumnya. Saya berharap media mau berimbang seperti anda. Jangan asal ngejar rating dan justru melakukan kekerasan kepada para korban.

Menanamkan nilai moral penting, tetapi harus didukung oleh penguatan kapasitas pengendalian emosi dan kecerdasan sosial, selain itu juga meningkatkan keterampilan dan kompetensi agar mampu menghasilkan nafkah. Namun pada kasus yang melibatkan prostitusi, harus dipahami bahwa prostitusi adalah bagian dari perdagangan manusia. Umumnya kasus human trafficking, karena prostitusi tidak semata mata karena sukarela. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Ruang Steril Sopir Bus AKAP Belum Diatur             Susi Cuma Orang Kecil             Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar