Setelah Target Emas Asian Games 2018 Terlampaui
berita
Humaniora
Sumber Foto : ilustrasi kumparan-watyutink.com 30 August 2018 09:00
Ada yang berkelar, Presiden Jokowi lagi-lagi ingkar janji! Bilangnya mau beri 16 emas di Asian Games 2018. Nyatanya malah kebablasan lebih dari 30 emas. Janjinya masuk peringkat 10, ternyata kebablasan lagi di peringkat empat! Ada juga yang bercanda, pemerintah tekor karena harus membayar bonus atlet lebih dari yang ditargetkan. 

Soal pertama sekadar kelakar sindiran. Terutama menjawab ucapan Roy Suryo, mantan Menpora sekaligus petinggi Partai Demokrat, salah satu oposan,  yang pernah bilang "Optimis perlu, tapi harus  realistis juga" terkait target 16 emas. Sedang yang kedua tampaknya ditanggapi serius Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Pak Menteri menggelar jumpa pers bicara soal bonus atlet Senin (27/8/2018) lalu. 

Dikatakan, Kementeriannya mulai mendata jumlah medali yang dimenangi Indonesia di Asian Games 2018 guna menyiapkan anggaran bonus. Pemerintah, katanya, tetap pada keputusan semula: uang  bonus satu keping medali emas bagi single Rp1,5 miliar, untuk double, peraih emas masing-masing Rp1 miliar, dan beregu Rp800-900 juta. Semua bonus tak dipotong pajak. 

Prestasi atlet kita memang harus dihargai. Mereka sudah mengharumkan nama bangsa di panggung internasional. Yang jadi tanya kemudian, kenapa sejak awal kita menargetkan 16 emas dan peringkat 10 besar? Apa pemerintah tak percaya diri pada atletnya sendiri? 

Prestasi di Asian Games 2018 adalah yang tertinggi kita raih sepanjang keikut-sertaan kita. Bahkan melampaui prestasi saat kita jadi tuan rumah tahun 1962 (11 emas). Hingga akhir Asian Games 2018 Indonesia diprediksi bakal menambah koleksi emasnya. Namun, setelah emas-emas dikumpulkan dan bonus diberikan, lalu apa? 

Sepatutnya prestasi ini jadi batu loncatan ke ajang yang lebih prestisius, Olimpiade 2020 di Tokyo. Bila demikian adanya, pertanyaannya menjadi, realistiskah bila kita menargetkan meraih prestasi serupa Asian Games di Olimpiade?  

Mari kita kaji lebih dulu realitasnya. Mayoritas medali emas Indonesia diraih dari nomor-nomor pada cabang non-Olimpiade, seperti pencak silat, jetski, balap sepeda downhill, paralayang, dan wushu. Emas dari cabang Olimpiade hingga kemarin baru ada empat, yaitu angkat besi kelas 62 kg, rowing LM8+, bulutangkis dan tenis ganda campuran. Emas dari karate kumite -60 kg tidak termasuk karena di Olimpiade Tokyo 2020, kategori kumite putra hanya mempertandingkan -67 kg, -75 kg, dan +75 kg.

Harap tahu, hampir setengah emas kita raih dari cabang pencak silat. Ini cabang yang baru pertama diselenggarakan di Asian Games. Sebagai tuan rumah, kita memang punya hak mengusulkan cabang baru. Hak ini sering dipakai untuk mengusulkan cabang olahraga yang jadi keunggulan tuan rumah. Maka, walau nyaris menyapu bersih emas dari silat (14 emas), tak ada artinya karena cabang itu tak dilombakan di Olimpiade Tokyo 2020.  

Faktor tuan rumah juga harus jadi pertimbangan. Sejarah di SEA Games membuktikan, ketika jadi tuan rumah kita bisa jadi juara umum. Namun saat bertanding di negeri orang lumbung-lumbung emas kita kering. Maka, apa ini artinya kita hanya jago kandang? 

Yang penting dilakukan pasca-Asian Games adalah pembinaan atlet. Terutama di cabang-cabang yang dilombakan di Olimpiade. Negeri-negeri besar seperti AS, Rusia dan China banyak mendulang medali  dari cabang-cabang atletik, senam, dan renang yang melombakan banyak nomor. Sudah siapkah kita melakukan pembinaan tersebut? 

Satu hal yang mungkin tak disadari masyarakat. Prestasi olahraga tak pernah lahir lewat cara instan. Pelatihan dan pembinaan bertahun-tahun yang membuahkan hasil. China besar karena pembinaan atletnya dimulai sejak dini. Tengok hasil perolehan medali China di Asian Games, terpaut jauh dengan kita. Bisakah kita sebesar China kelak? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Inilah present surprise. Saya yang awalnya meragukan Asian Games XVIII 2018 bakal sukses karena terkesan tertatih-tatih di semua sektor, pun perlu memohon maaf kepada semua pihak yang berkompeten. Opening ceremony begitu spektakuler, antusiasme publik begitu hebat, dan para atlet-pelatih-ofisial kontingen Indonesia begitu heroik. Menggetarkan, mengharukan. Salut dan terima kasih atas segalanya.

Segenap anak bangsa ini sejak lama merindukan kegembiraan dan kebanggaan dalam kebersamaan. Kerinduan itu tertumpahkan sejak petang hari 18 Agustus 2018. Di tengah situasi yang belakangan penuh sekat dan riak, kebersamaan dalam kegembiraan dan kebanggaan itu sangat penting dan konstruktif. 

Dari sisi kuantitatif, pencapaian para atlet Merah Putih jelas perlu diapresiasi. Target mendongkrak harkat NKRI lewat perolehan medali emas dan lompatan posisi di klasemen antarnegara tercapai, itu jadi obat tersendiri bagi luka anak-anak bangsa yang kian menganga. Lupakan dulu perdebatan terkait pencapaian kuantitatif itu tak berbanding lurus dengan pencapaian kualitatifnya. 

Kita juga tahu kalau sebagian besar medali emas kontingen Indonesia mengalir dari sederet cabang yang belum jadi bagian dari Olympic Games. Soal ini, lebih tepat dan berguna jika semua pihak yang mengaku peduli bersedia duduk bareng, bertukar gagasan, lalu bersatu derap dalam upaya pembenahan konkret di semua cabang olahraga. Jangan hanya nyinyir tanpa solusi.

Jangan pernah lagi berharap keajaiban datang di arena olahraga. Prestasi terbentuk dari proses yang mengakar dari lapis terbawah dan berkelanjutan dalam intensitas yang terjaga. Semua cabang olahraga, apalagi olahraga terukur macam atletik dan renang. Statistik yang dibukukan dari proses penempaan berkelanjutan sangat menentukan strata pencapaian. Negeri ini butuh kebersamaan dan kesungguhan nyata buat menjalankan itu.

Tak kalah penting: disiplin dan saling peduli dalam menjaga infrastruktur keren yang terbangun lewat momen Asian Games XVIII. Jangan cuma ikut bertepuk, tapi cuek bebek terhadap keberadaan beragam infrastruktur yang sudah bikin kita bangga itu. Jangan lagi terulang tradisi buruk ini: sergap membangun, malas merawat.

Semoga saja dari momen Asian Games XVIII 2018 yang menggembirakan dan membanggakan ini segera pula terwujud goodwill buat menempatkan olahraga sebagai bidang prioritas. Tabik! (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior 

Mengenai kebijakan target (sebuah event olahraga) memang tidak fix. Jadi harus ada antara sekian sampai sekian. Itupun masih bisa meleset. Cuma mermang tolok ukurnya nggak ada. Semua serba spekulasi. Apalagi di cabang-cabang permainan, seperti bulutangkis, sepakbola. Susah diukurnya. Kalau yang terukur kayak renang dan atletik masih bisa (dibuat target), (karena) ada catatan rekor dan segala macam.  

Sebagai catatan, kita melewati target karena pencak silat. Kita menjadi wah, sangat banyak medalinya, masuk lima besar. Jika dikurangi perolehan medali pencak silat, masuk target. Padahal, pencak silat targetnya lima.

Namun, perolehan di Asian Games ini tidak bisa jadi ukuran target untuk Olimpiade 2020. Tapi paling tidak ada harapan di dua cabang yang akan dipertandingkan di Olimpiade nanti. Pertama panjat tebing, kita dapat tiga emas. Kedua, karate. Sekali lagi itu harapan. Jadi belum bisa diukur. Yang ada, lagi-lagi spekulasi.  

Namun, kini kita punya banyak pilihan cabang olahraga untuk mematok target. Selama ini, di Olimpiade yang ditarget meraih medali bulutangkis dan angkat besi. Jadi, kita sekarang punya dua tambahan cabang olahraga. 

Kita dapat banyak emas juga karena faktor tuan rumah. Ibaratnya, bikin para atlet bertanding kesetanan. Kedua, yang bikin kita banyak emas ya itu: bonus. Bonus untuk atlet yang jumlahnya cukup wah, Rp 1,5 miliar untuk peraih emas. Buat atlet, (bonus) itu luar biasa sebagai dorongan untuk berprestasi. Karena umumnya atlet tak bisa menggantungkan hidupnya dari olahraga. Jadi mereka berharap (bonus dari Asian Games) bisa untuk simpanan masa depan.

Untuk negara-negara Asia atau Asia Tenggara, bonus dari pemerintah atas prestasi atlet hal biasa, dan jadi motivasi. Tapi di negara Barat berbeda. Di sana, olahraga sudah jadi industri. Atlet merupakan profesi. Jadi mereka bisa hidup tanpa bonus pemerintah. Misalnya Lalu Muhammad Zohri. Kalau di Barat, dia sudah punya manager sendiri, pelatih pribadi, latihannya pun pakai sport science, serta peralatannya lengkap. Artinya, dia bisa menghidupi orang lain dari profesinya. 

Itu dimungkinkan karena rutin ikut kejuaraan. Sponsornya banyak. Sekali ikut lomba lari, mungkin yang didapat bisa ratusan ribu dollar AS. Itu untuk ekhsibisi saja. Jika bertandaing bisa lebih besar.   

Kita terpuruk di cabang-cabang terukur Olimpiade karena (negara lain) juga banyak berminat ke situ. Pesaingnya banyak. Perlombaannya juga banyak dan sponssornya banyak. Makanya dibutuhkan atlet profesional yang hidupnya dari situ saja. Negara kita nggak kuat begitu. 

Untuk atletik dan renang, biaya latihannya besar. Latihannya harus di Amerika kalau mau bersaing di level Olimpiade. Pelatih-pelatih top ada di sana. Biayanya mahal sekali. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas