Sepakbola Kita: Permainan (Tak Selalu) Indah, Mudah Diatur?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 January 2019 16:00
Watyutink.com - Menurut data situs FIFA, Indonesia berada di urutan 159 peringkat dunia. Kekuatan sepakbola kita di Asia Tenggara berada di atas Singapura, Malaysia, dan Brunei--meski masih di bawah Vietnam dan Thailand.   

Posisi kita relatif stabil sejak Oktober lalu. Kala itu, Indonesia naik signifikan empat tingkat ke posisi 160 dunia. Di tingkat junior, Timnas Indonesia U-16 menjuarai turnamen bergengsi Piala AFF U-16 bulan Agustus lalu. Senior mereka, meski akhirnya kalah, cukup memberi harapan. Sementara itu, di liga nasional, musim kemarin kita menyaksikan antusiasme dan euforia masyarakat menyambut kompetisi Liga 1. Sebuah laporan bulan April 2018 menyebut, Persija Jakarta, juara Liga 1 musim ini, menyedot penonton terbanyak. 
            
Di tengah optimisme dan euforia itu, dunia sepakbola kita hari-hari ini diramaikan pemberitaan soal mafia yang mengatur pertandingan dan skor alias match fixing dan match setting. Kepolisian RI lantas membentuk Satuan Tugas Antimafia Bola sejak 20 Desember lalu. Baru sepuluh hari bekerja, Satgas menerima 229 laporan pengaduan masyarakat. 

Laporan masyarakat itu konon turut mencatut nama pengurus dari 27 klub. Dalam laporan itu pula, yang layak dijadikan bahan informasi, klarifikasi, konfirmasi dan verifikasi ada 48 laporan. Hal itu menunjukkan rahasia umum yang hidup di masyarakat pecinta bola sudah jadi fakta.         

Sampai di sini, kita, masyarakat pecinta sepakbola tanah air harus menerima kenyataan, prinsip fair play tak selalu dianut. Lantas, bisakah sepakbola kita bebas dari mafia judi lewat bersih-bersih oleh satgas bentukan Polri? 

Kita patut memuji kinerja satgas. Target mereka bukan orang rendahan. Satgas Antimafia Bola telah menetapkan lima tersangka, termasuk Anggota Exco PSSI Johar Lin Eng. Selain lima nama yang sudah disebut, nama Vigit Waluyo, pemilik klub PS Mojokerto Putra (PSMP), juga berpeluang jadi tersangka.  
Masalahnya, jika bersih-bersih satgas selesai apa dengan itu tuntas pula persoalan mafia bola? 

Sudah jadi kebiasaan budaya kita, masalah tak diselesaikan hingga ke akar. Takutnya, soal mafia bola juga. Setelah 48 laporan ditelisik dan para tersangka ditangkapi lalu apa? Bukankah para mafia bola bisa berganti orang dari A ke B ke C dan seterusnya?

Maka, sejatinya, yang harus dituntaskan bukan semata menangkap para pelaku match fixing dan match setting. Lebih penting dari itu adalah menjawab pertanyaan: kenapa sepakbola kita mudah disusupi penjudi dan pengatur pertandingan?  

Kita bisa telisik, mungkin sekali persoalannya terletak pada kesejahteraan insan sepakbola, mulai dari pemain, pelatih, penilik klub, wasit, hingga pengurus PSSI. Bayangkan, bila gaji Anda telat dibayar oleh klub, lalu ada yang menawarkan segepok uang asal mau mengalah untuk tim lawan, apa yang akan Anda lakukan? 

Ya, tidak semua pesepakbola bisa bergaji miliaran rupiah sepekan seperti pemain top di liga-liga Eropa. Namun, memberi kesejahteraan insan sepakbola kita mungkin bisa jadi salah satu solusi untuk mengurai soal kusut mafia bola. Bukankah kita ingin sepakbola kita indah dimainkan dan dinikmati?  

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior 

Pertanyaan yang menarik soal Satgas Antimafia Bola ini adalah kenapa baru sekarang mafia bola diberantas? Menurut saya, kenapa baru sekarang, karena ada pengakuan di media oleh orang-orang yang tahu tentang praktik itu. Sebelumnya, untuk kalangan yang aktif di sepakbola, informasi (pengakuan) itu sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Maksudnya, mereka tahu ada mafia.  
 
Di dunia sepakbola kita, judi sudah biasa. Ada yang main taruhan, lalu pemain disogok, wasit disogok, itu sudah biasa. Jadi, masalahnya memang pengawasan dari PSSI secara internal yang selama ini nggak jalan. Selain kasusnya di-blow-up media, kelahiran Satgas Antimafia Bola oleh Polri juga karena Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga duduik di Dewan Penasihat PSSI. Jadi harusnya lebih mudah untuk diberantas (mafia bola ini).

Mafia bola selalu ada sejak dulu. Cuma sekarang memang tiba-tiba jadi mencengangkan karena ada beberapa anggota Exco PSSI yang kena (ditangkap polisi). Ini sudah jadi bahaya laten. Cuma memang ada pengurus PSSI yang berani membongkar, ada yang nggak berani, atau mendiamkan saja. Tutup mata. Kadang diberantas, kadang tidak. 
   
Salah satu yang dulu berani habis-habisan menindak mafia bola (mantan gubernur DKI) Ali Sadikin (menjabat Ketua PSSI 1977-1980). Waktu itu sampai dibongkar habis. Ada pemilik klub yang diadili dan dipenjarakan. Pemain top-top juga ada yang kena. Contohnya Iswadi Idris, kapten timnas waktu itu. Waktu Asian Games 1962 pun semua pemain bola kena suap. Bung Karno akhirnya memutuskan kita tak ikut cabang sepakbola, padahal kita favorit juara. 

Kebutuhan finansial yang menjadi penyebab utama pemain bola bisa disuap. Yang ideal itu sebetulnya begini. Judi tak bisa dilarang. Namun, selama para bandar dan penjudi tidak menyogok pemain, wasit, pelatih,. pemilik klub, masih aman. Tugas PSSI menjaga jangan sampai para bandar dan penjudi masuk mengatur skor. 

Di banyak negara kemudian dibentuk tim satgas seperti yang kita lakukan sekarang. Namun satgas itu sifatnya permanen dan ada dalam kepengurusan internal. Di PSSI kita yang ada hanya yang berkaitan dengan sanksi saja. Aspek penegakan hukumnya kita nggak punya. 

Sekarang kita dalam posisi menguntungkan. Kapolri kita duduk di Dewan Penasihat. Dia sendiri yang langsung mengawasi kerja satgas ini. Itu makanya kerjanya hebat. 

Satgas semacam ini harus permanen, jadi bagian internal PSSI. Ini yang belum pernah dilakukan di masa-masa kepengurusan PSSi selama ini. Kalau berani bikin (jadi permanen), hebat. Dan saya kira kini sudah waktunya. (ade)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan             Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi             Pilih Saja Dildo             Golput dan Migrasi Politik             Golput Bukan Pilihan Terbaik             Golput dan Ancaman Demokrasi