Senjakala Kesenian Tradisional Kita
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 06 January 2019 12:00
Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan beragam suku dan budaya. Ada banyak sekali kesenian tradisional yang dimiliki Indonesia, dan menjadi ciri khas negeri ini. Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki budaya dan kesenian tradisional masing-masing, seperti tarian, atau berbagai pentas seni lainnya. Namun sayang, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian tradisional di Indonesia semakin tak terlihat.

Berdasarkan data dari Kemdikbud, terdapat sejumlah kesenian yang hampir punah termakan oleh zaman. Seperti tari Merawai, tari Berjenjang, Boria Indra Perkasa, tari Inai, Berdah dan sebagainya. Selain sebagai pentas hiburan, tarian-tarian tersebut juga memiliki fungsi yang unik, yakni untuk pengobatan, upacara pengantin, atau berhajat. Pertanyaannya, apa faktor utama yang membuat kesenian tradisional itu hampir punah?

Mirisnya, menurut statistik Kebudayaan tahun 2016, yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada sekitar 167 kesenian yang diperkirakan akan punah. Jumlah tersebut mencakup seni pertunjukan, seni rupa, seni musik, seni tari, teater, kriya, tradisi lisan, sastra lisan, permainan rakyat, tutur, beladiri tradisional, serta tradisi. Apakah ini bukti bahwa pemerintah dan masyarakat telah melupakan budaya asli Indonesia?

Selain sejumlah kesenian yang hampir punah, adapula kesenian tradisional yang masih eksis walau terpojokkan. Seperti kesenian ludruk, wayang orang, wayang kulit, ketoprak, macapat, atau seni tari lainnya yang saat ini semakin terpinggirkan oleh kesenian modern. Dikhawatirkan kesenian semacam itu tidak akan berkembang dan akhirnya berada di ambang kepunahan. Adakah cara untuk menghidupkannya kembali?

Antusiasme masyarakat terhadap pentas seni tradisional pun dapat dikatakan rendah jika dibandingkan dengan kesenian moderen, yang pada dasarnya berasal dari budaya luar. Masuknya budaya barat, atau budaya K-pop yang sedang terkenal di kalangan remaja saat ini, lambat laun menggerus budaya di Indonesia. Apakah globalisasi dapat seganas itu memakan habis budaya atau seni tradisional di negeri ini?

Pendidikan di Indonesia saat ini juga tidak terlalu mengenal seni budaya tradisional kepada siswanya. Bahkan ada beberapa sekolah yang sudah tidak lagi menerapkan pelajaran seni budaya. Sehingga banyak anak-anak yang tidak mengenal atau mungkim tidak peduli dengan seni tradisional. Pada akhirnya, mereka mudah terpapar dengan seni modern yang berasal dari budaya luar. Tidakkah seharusnya pendidikan di Indonesia mengajarkan dan mengenalkan seni budaya terhadap anak-anak?

Melihat kondisi dan nasib kesenian tradisional di Indonesia, kita tahu bahwa harus ada perhatian lebih dari pemerintah dan kesadaran dari masyarakat untuk melestarikan budaya tersebut. Terlebih generasi millenial saat ini tidak begitu mengenal tentang budaya atau tradisi kuno di Indonesia. Lantas, bagaimana seharusnya pemerintah melestarikan berbagai seni budaya tradisional yang hampir punah? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya

Apabila kita melihat data yang dicatat oleh pemerintah terkait dengan kesenian tradisional yang hampir punah, artinya kita tahu bahwa pemerintah cukup memperhatikan. Bahkan sudah ada undang-undang untuk pemajuan budaya. Dalam hal ini, pemerintah sudah memiliki platform yang serius untuk mengurus masalah kebudayaan di Indonesia.

Kita juga tidak bisa menyalahkan pemerintah apabila kesenian budaya tradisional di Indonesia kurang maju. Karena untuk memajukannya juga perlu adanya kesadaran dari masyarakat. Pasalnya, budaya yang perlu dimajukan tak hanya kesenian tradisional, tetapi bahasa daerah yang hampir punah pun perlu kembali dihidupkan. Salah satunya dengan adanya pendidikan kebudayaan, khususnya di tingkat sekolah.

Pengetahuan terkait dengan kebudayaan tradisional seperti kesenian, bahasa dan sebagainya, perlu dicatat atau didata untuk kemudian dikembangkan. Oleh sebab itu, untuk memajukan suatu kebudayaan, diperlukan sebuah pendataan. Selain itu, perlu juga dibicarakan terkait mekanisme pembiayaan dalam hal kesenian tradisional agar tetap eksis di tengah modernisasi yang terjadi di masyarakat.

Kemudian untuk memajukan kesenian tradisional yang ada di setiap daerah, perlu ada peran dari pemerintah setempat dalam membuat berbagai pagelaran budaya untuk menarik perhatian para turis. Artinya, kesenian tradisional atau pun pentas seni bisa dijadikan sebagai tujuan wisata di daerah masing-masing. Jadi, pemerintah daerah perlu memberikan dana dan pelatihan kepada setiap komunitas seniman.

Selama ini yang menjadi masalah terpinggirkannya kesenian tradisional, adalah komunitas seniman tradisional yang tidak bisa bersaing dan berkompetisi dengan kesenian modern. Jadi yang harus dipikirkan adalah bagaimana mengintegrasikan progra. kesenian tradisional ke dalam program pemerintah, khususnya di bagian pariwisata.

Hal tersebut tentunya dibantu oleh perusahaan lokal atau CSR untuk memajukan suatu seni tradisional di masing-masing daerah. Pasalnya, pemerintah hanya memajukan suatu kebudayaan yang menguntungkan di bagian pariwisata saja, sementara yang tersentuh atau tidak terjangkau wisatawan tidak terlalu diperhatikan. Oleh sebab itu dibutuhkan kerjasama dengan perusahaan swasta. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sastrawan, budayawan.

Faktor utama penyebab punahnya suatu budaya, karena pada dasarnya kita tidak menganggap hal itu penting. Sedangkan bagi pemerintah sendiri kebudayaan itu hanya merupakan produk dalam bentuk kesenian, tari-tarian, dan sebagainya. Namun yang menciptakan atau memproduksi kesenian itu, seperti tatanan masyarakat atau sistem kebudayaan, kurang diperhatikan.

Dalam hal ini pemerintah hanya menginginkan produknya saja. Sementara sesuatu yang besar yang telah menciptakan kebudayaan itu tidak pernah dirawat. Pasalnya yang dapat dilakukan oleh pemerintah hanya mendata apa saja yang akan punah dan apa saja yang belum dipatenkan.

Kemudian bagi sebagian masyarakat yang masih menjalankan kesenian tradisional, melainkan tak menganggapnya sebagai hiburan, melainkan sebagai kegiatan keseharian, yang membuat mereka menjadi bagian dari kesenian itu. Namun itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat, dan tidak dibangun dalam ruang lingkup masyarakat yang lebih besar.

Jadi, seharusnya bukan kesenian yang akan punah itu yang didata oleh pemerintah, tetapi justru yang perlu diperhatikan dan dibangun adalah tatanan kemasyarakatan yang masih bisa melahirkan bentuk-bentuk kesenian baru. Artinya, jika suatu kesenian sudah menjadi punah dan mati, maka lahirkanlah kesenian yang baru. Karena pada dasarnya, masyatakat akan terus memproduksi untuk melahirkan kesenian baru.

Sehingga identitas negeri kita tidak akan pernah hilang hanya karena beberapa kesenian tradisional yang hampir punah, karena kesenian akan lahir kembali. Namun yang menjadi persoalan, mata rantai produksi kesenian tradisional itu diputus, karena pemerintah tak lagi memperhatikan tatanan masyarakat atau sistem kebudayaan yang berpotensi melahirkan budaya baru.

Hal itu terlihat dari bagaimana pemerintah saat ini mencoba untuk menyesuaikan budaya kita dengan perkembangan di dunia yang kiblatnya ke barat. Masuknya budaya barat ke Indonesia lah yang sebenarnya membuat kesenian tradisional kita semakin terpinggirkan. Oleh karena itu yang perlu kita lihat adalah seperti apa masyarakat kita memposisikan kesenian sejak dulu?

Padahal apabila masyarakat kita memposisikan kesenian atau budaya tradisional sebagai suatu bentuk aktivitas sehari-hari, maka masyarakat Indonesia akan terus berpegang pada budaya yang menciptakan kerukunan dan tatanan masyarakat yang baik. Namun faktanya, identitas itu mulai hilang dari diri masyarakat saat ini, seperti yang terjadi di Pilpres, dimana masyarakat saling berkelahi, karena tidak lagi berbasis pada kebudayaan kita. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Girang Pangaping Adat Masyarakat Adat Karuhun Sunda Wiwitan Cigugur dan Panglima Jaringan antar Desa GEMPUR

Di Indonesia ada sekitar 267 lebih wilayah yang memiliki adat dan trarisi masing-masing, bahkan usianya sudah ratusan tahun dari sebelum negara ini berdiri. Kesenian pada dasarnya merupakan produk budaya dari masyarakat tadisi dan meerupakan kekayaan tradisi yang dimiliki Indonesia.

Apabila kita melihat banyak kesenian tradisional yang hampir punah, maka itu dikarenakan masyarakatnya sendiri tidak dilindungi. Lantaran selama ini masyarakat yang memiliki tradisi dan nilai adat hanya dianggap sebagai suaka budaya. Mereka tidak dilindungi tapi dipaksa untuk menciptakan atau melahirkan kearifan lokal.

Dalam istilah lain, masyarakat tradisi ini dihabisi tetapi tidak boleh mati. Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan tidak menjadi prioritas bagi calon anggota legislatif. Sehingga, kebudayaan kita yang hampir punah ini tidak akan menjadi fokus utama untuk diperhatikan. Padahal kesenian tradisional ini kerao menjadi sebuah seni pertunjukkan glamour di perkotaan. Namun masyarakat tradisi yang menciptakannya tidak diperhatikan.

Sehingga faktor utama punahnya suatu produk kebudayaan, dikarenakan tidak adanya dukungan dan fasilitas dari pemerintah terhadap masyarakat tradisi yang menciptakan itu semua. Bahkan pemerintah juga pernah menghambat Undang-undang Pemajuan Kebudayaan, jadi akan menyulitkan budaya kita untuj lebih maju.

Dirjen Kebudayaan saat ini memang sudah cukup berani untuk membuat terobosan-terobosan baru dalam menciptakan produk kebudayaan, namun hal itu dilakukan tanpa adanya regulasi, sehingga masyarakat tradisi tak mendapatkan perlindungan. Oleh sebab itu, banyak masyarakat adat yang keluar dari wilayah mereka karena tergiur dengan dunia yang lebih modern.

Meski demikian, modernisasi bukanlah penyebab utama dari punahnya suatu budaya, karena modernisasi hanya merupakan godaan. Sementara itu yang memiliki peran utama dalam punahnya kebudayaan adalah tidaknya adanya regulasi terhadap pemajuan kebudayaan. 

Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan itu masih RUU, karena anggota legislatif kita lebih tertarik dengan produk politik dibanding dengan produk kebudayaan yang pada dasarnya merupakan kekayaan yang kita miliki, dan bisa dijadikan sebagai investasi negara. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Kata, orang bijak, tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Ya, tampaknya, ungkapan orang bijak itu memang benar dan terbukti. Sejalan dengan perjalanan waktu, semua yang ada pada diri kita, masyarakat kita, dan masyarakat dunia mengalami perubahan. Hampir tidak ada yang tidak berubah. Kalau pun ada yang tidak berubah dan menyesuaikan dengan perubahan itu, maka ia akan tertinggal atawa ditinggalkan. Itulah mungkin disebutkan bahwa dunia ini fana. Dalam istilah lain, tidak ada yang kekal, semua berubah menurut zamannya. Kita pun saat ini, menyaksikan segala macam perubahan yang sangat pesat, seiring semakin majunya perkembangan teknologi yang mendorong globalisasi berjalan begitu gegap gempita.

Nah, di tengah gegap gempita perubahan itu,  manusia berubah. Perubahan yang paling nyata adalah gaya hidup. Pola gaya hidup pribadi dan masyarkat kita di tingkat, lokal, nasional dan global, bagai roda yang berputar dengan begitu cepat, yang kadangkala tidak bisa kompromi, walau ada keinginan atau hasrat banyak orang agar hal-hal atau karya pemikiran yang tradisional tersebut tidak diubah atau harus dilestarikan. Alasannya, karena itu adalah tradisi,  asset bangsa yang harus dijaga atau dilestarikan. Tentu saja tidak salah dan boleh-boleh saja atau memang selayaknya dipertahankan sebagai identitas bangsa yang kaya dengan karya seni tradisional. Namun, kita sering lupa dengan apa yang pernah kita dengar di sekitar kita, bahwa setiap zaman ada generasinya dan setiap generasi ada zamannya.

Oleh sebab itu, tidak salah kalau kita dan pemerintah wajib melestarikan kekayaan seni tradisional kita yang masih ada. Sebagai generasi tua, yang melahirkan atau mewarisi seni tradisional dari generasi sebelumnya merasa sangat prihatin dengan semakin hilangnya seni tradisional di daerah kita masing-masing. Ini penting agar anak-anak kita generasi mendatang tidak melupakan tradisi nenek moyangnya. Sehingga, di satu sisi, kesenian tradisional yang ada di Indonesia ingin dilestarikan, namun di sisi lain semakin menghilang dan  terlupakan. Seni tradisional mengalami nasib serupa dengan sejumlah pekerjaan atau juga kearifan lokal yang kini digerus oleh zaman dan dihadapkan pada proses disrupsi. Ada yang hilang, dan  bertambah banyak lagi  yang muncul. Bukan mustahil, seni yang dahulu eksis, kini dan di masa depan akan hilang.

Salah satu pertanyaan analitis kita adalah mengapa itu terjadi? Secara sederhana kita menjawab bahwa zaman terus berubah, membawa hal-hal yang baru dan lebih dekat dengan selera pemilik zaman masa ini.  Seni-seni tradional yang dulu lahir dan tercipta dari olah pikiran dan tradisi masa lalu, zamannya generasi baby boomers atau generasi zaman old, yang mungkin dirasakan cocok dengan selera generasi X hingga Y, sementara kini generasi Z yang memiliki selera berbeda, akan tidak sesuai cita rasa seninya dengan yang tradisional. Generasi Z akan lebih cendrung menyukai seni-seni kontemporer, seni-seni yang legi trend atau sedang booming seperti seni K-Pop Korea dan seni modern dari negara-negara barat.  Apalagi, budaya rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, apa pun seninya, pasti dikatakan asyik dan menarik serta ditiru. Tentu banyak  faktor yang bisa digali, internal, maupu factor eksternal yang berakibat pada hilang dilupakannya seni tradisional satu per satu. Ini adalah akibat yang tidak kita inginkan sebagai bangsa yang besar dan kaya akan seni dan budaya.

Galuh Ratnatika mengingatkan bahwa data statistic kebudayaan tahun 2016 yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada sekitar 167 kesenian yang diperkirakan akan punah. Jumlah tersebut mencakup seni pertunjukan, seni rupa, seni musik, seni tari, teater, kriya, tradisi lisan, sastra lisan, permainan rakyat, tutur, beladiri tradisional, serta tradisi. Sangat memprihatinkan, bukan? Jelas menggalaukan kita. Bukan mustahil bila kekayaan seni tradisional yang dahulu sangat membanggakan kita,  semakin banyak hilang tanpa ada lagi jejak rekamnya. Idealnya  ini tidak boleh terjadi, oleh sebab itu, kendatipun kita dihadapi oleh tantangan zaman yang membuat kita pesimis, upaya untuk melestarikan itu tetap harus ada. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang harus diperbuat, siapa yang harus berbuat dan bagaimana caranya.

Tentu banyak cara yang bisa dilakukan, apabila kita mau melestarikannya. Salah satunya adalah leat basis pendidikan. Pendidikan seni tradisional harus menjadi bagian dari kurikulum yang bukan hanya membangun kesadaran akan pentingnya merawat seni tradional, tetapi diikuti dengan praktik dan penyediaan ruang acara yang cukup. Selain itu, bisa dilakukan dengan menyimpan semua rekan jejak seni tradisional tersebut di museum seni. Last, but not least, pemerintah harus siap membuat kebijakan dan menyediakan anggaran yang proporsional. Mau? Tentu harus mau. (grh)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi             Pilih Saja Dildo             Golput dan Migrasi Politik             Golput Bukan Pilihan Terbaik             Golput dan Ancaman Demokrasi             Edy Rahmayadi Cuma Puncak Gunung Es Rusaknya Tata Kelola Sepakbola