Saat Pangeran Arab Saudi Membeli Lukisan Yesus
berita
Humaniora

Sumber Foto: dailymail.co.uk

12 December 2017 16:00
Semula tak ada yang tahu siapa yang membeli lukisan Yesus Kristus karya Leonardo DaVinci berusia 500 tahun itu. Aslinya, lukisan bertajuk "Salvator Mundi"--yang berarti "Juru Selamat Dunia" dibuat Leonardo da Vinci atas pesanan Raja Louis XII dari Prancis. Lukisan itu terjual dengan harga 450,3 juta dollar AS atau setara Rp6,1 triliun di Balai Lelang Christie’s di New York belum lama ini.

Semula nama yang tersiar sebagai pembeli adalah seorang pangeran tak dikenal bernama Pangeran Bader bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan al-Saud dari Arab Saudi. Tapi belakangan terungkap pembeli sesungguhnya adalah Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman atau yang biasa dikenal dengan inisialnya MBS. 

BACA JUGA: Pilihan Politik Yuppies Muslim

Tentu saja pembelian lukisan ini mengundang decak sekaligus banyak pertanyaan. Pertama soal harganya yang fantastis. Memang patut diakui lukisan ini sangat berharga dan bernilai sejarah tinggi. Diketahui, lukisan ini bakal disimpan di Museum Louvre Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Louvre Abu Dhabi adalah museum pertama yang menggunakan nama Louvre di luar Prancis. Tempat ini akan menjadi “museum universal pertama di dunia Arab”, sebagai tanda ambisi global UEA yang kaya minyak. 

Selama ini, Dubai dan Abu Dhabi di UEA menjadi simbol kemakmuran dunia Arab. Gedung tertinggi dan tercanggih berada di sana. Namun, hingga kini masih jadi pertanyaan, apakah ambisi global itu sekadar proyek mercu suar? Bukankah rakyat Timur Tengah kebanyakan masih hidup diliputi kemiskinan, perang, dan pengebirian HAM, termasuk hak berpendapat dan hak kesetaraan bagi perempuan?  

Tambahan pula, Arab Saudi tengah gencar mengetatkan anggaran. Perilaku sang putra mahkota ini seakan menafikan gerakan tersebut. Tidakkah ini bisa dianggap pemborosan uang Negara?

BACA JUGA: Menghargai Keputusan Rina Nose Lepas Jilbab

Dilihat dari sisi lain, pembelian lukisan Yesus juga mengundang tanya berikutnya. Selama ini Arab Saudi menganut Islam aliran Wahhabi yang konservatif. Dalam ajaran Wahhabi penggambaran benda hidup, manusia dan hewan, dilarang, karena dianggap sebagai berhala. Di sana lukisan atau patung manusia dan hewan tak hanya dilarang, tapi juga wajib dihancurkan. Tambahan pula, ini lukisan Yesus yang dianggap Tuhan bagi umat Nasrani. Lantas, apa artinya bila kini ada pangeran Arab beli lukisan Yesus? 

Apakah tengah terjadi perubahan nilai, norma, atau keyakinan di kalangan elite kerajaan Arab Saudi? Apa ini lanjutan dari sikap moderat yang mulai muncul di negeri gurun itu setelah membolehkan wanita menyetir mobil dan nonton bola di stadion?

Di luar itu, yang menggelitik kita juga, ketika putra mahkota Arab Saudi membeli lukisan Yesus, kok kita di sini masih berdebat halal-haram mengucapkan "Selamat Natal"? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
 Dosen Pasca Sarjana UNUSIA, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara

Saat ini kita melihat perkembangan positif bagi dunia Arab dan kususnya dunia Islam. Karena Selama ini Arab selalu diidentikkan dengan Islam. Artinya, pemimpin dan masyarakat Arab sudah mulai berpikir agama tidak harus dipahami secara tekstual, tetapi juga harus dipahami secara fungsional. 

Fungsional itu artinya bagaimana agama berfungsi betul-betul untuk kemaslahatan ummat, sebagai sarana mengagungkan dan memuliakan Allah, serta menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga teks-teks (agama) yang dulu dianggap menghambat atau merintangi nilai-nilai kemanusiaan sekarang sudah diinterpretasikan--bukan diubah teksnya, ya--dikontekstualisasikan untuk lebih relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan sosial yang berkembang saat ini. 

Pembelian lukisan Yesus oleh pangeran Arab adalah langkah kebudayaan yang sangat konstruktif. Karena apa? Hampir seluruh teks-teks agama yang membahas soal lukisan mayoritas mengharamkan soal itu. Itu kalau dilihat dari fiqih-nya atau dari hukum mazhab. Tapi apa yang dilakukan pangeran Arab ini "beyond fiqih". Artinya itu tadi, dia mencoba mengembalikan fungsi dan norma ajaran agama pada yang bersifat kemaslahatan. 

Karena dengan (pembelian lukisan) ini membawa beberapa dampak positif. Satu, peristiwa simbolik ini bisa memicu ekspresi seni di dunia Islam. Kedua, ini bisa jadi momentum reinterpretasi pada pemikiran-pemikiran fiqih. Karena dalam fiqih berlaku kaidah "penetapan syariat untuk kemaslahatan ummat." Mungkin bagi pangeran Arab dengan membeli lukisan ini ia melihat sisi kemaslahatannya bagi ummat. 

Apalagi lukisan yang dibeli ini punya makna historis dan sosiologis. Peristiwa ini bisa mendekatkan relasi hubungan atau muasyarah antara muslim dan non-muslim menjadi lebih terbuka. Hal ini menjadi momentum simbolik secara kultural untuk membuka sekat-sekat yang selama ini terpisah, penuh prejudice dan sangat kaku. Nah, (membuat sekat) ini lebih membawa kemaslahatan. Itu yang mungkin dipahami oleh beliau (pangeran Arab) tersebut. Ini pembukaan (hubungan) yang luar biasa. Sebuah lompatan kultural yang sangat positif.  

Sedangkan di Indonesia, sikap simbolisme dan formalisme beragama saat ini dorongannya kok bukan pada agama, tapi dorongan ekonomi dan politik. Karena rata-rata yang masuk ke gerakan tekstual dan skripturalis itu adalah kelompok-kelompok yang punya ambisi kekuasaan dalam kehidupan bernegara cukup tinggi dan kepentingan ekonominya cukup tinggi. Sementara mayoritas kelompok yang tidak terlibat secara langsung dalam politik praktis kekuasaan dan ambisi ekonomi, mereka tak terkena (sikap formalisme) seperti ini. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Ada banyak spekulasi soal pembelian lukisan Salvator Mundi oleh Putra Mahkota Saudi, jika benar memang dia yang membelinya.

Dari sekian banyak spekulasi, tampaknya hal itu bukan dilakukan dengan alasan investasi apalagi passion terhadap karya seni. Keluarga kerajaan Saudi tidak dikenal sebagai kolektor barang seni. Sejarah persentuhan mereka dengan peradaban modern baru terjadi beberapa dekade terakhir. Selain itu, ada alasan keagamaan untuk tidak melakukannya seperti dijelaskan di atas

Spekulasi paling mungkin adalah, pembelian itu sengaja dilakukan untuk sebuah "publikasi". Mereka tidak mengincar lukisan-lukisan dengan harga lebih rendah (seperti yang biasa dilakukan oleh para kolektor pemula untuk pemanasan), tapi sengaja mengincar lukisan yang diduga akan membuat kehebohan.

Publikasi yang diinginkan adalah, pesan bahwa Kerajaan Saudi siap untuk berubah. Ini masih satu rangkaian dengan pernyataan-pernyataan Pangeran Abdullah bahwa Saudi akan menjadi kerajaan modern. Dengan membeli lukisan ini, pesan perubahan tidak hanya disampaikan lewat mengoleksi karya seni berkelas dunia, tapi sekaligus ingin menyatakan bahwa mereka tak lagi sepenuhnya tunduk pada para ulama. Bahkan, ini bisa sebagai tes, mana ulama yang bersuara nyaring dan mengkritiknya, mana yang diam saja.

Ini adalah peristiwa politik. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI