Rektor Impor, Apa Urgensinya?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 09 August 2019 16:30
Watyutink.com – Di tengah gencarnya membumikan kembali Pancasila di bumi Pertiwi, wacana impor rektor asing mencuat begitu saja. Membikin heboh sampai ke pelosok negeri. Pertanyaannya, apa sih urgensinya sampai harus merekrut orang asing menjadi rektor dalam negeri? Tak cukup hanya beras yang diimpor?

Tak habis-habisnya pertikaian di dunia pendidikan. Mulai dari sistem zonasi pendidikan yang masih diperdebatkan sebab menimbulkan berbagai masalah, mahalnya biaya pendidikan, peringkat pendidikan yang masih berada pada 107 dari 108 negara. Dan kini muncul pula ide ajaib untuk merekrut pimpinan tertinggi pendidikan tinggi dari negara lain.

Rencana Menristekdikti yang akan menjalankan kebijakan impor rektor asing menunai pro dan kontra ramai di masyarakat. Pasalnya, tak satupun Undang-Undang (UU) di Indonesia yang memperbolehkan orang asing menjadi rektor di suatu perguruan tinggi negeri. Kecuali, pemerintah merevisi kebijakan bahwa rektor terlebih dahulu aturan yang mewajibkan rektor perguruan tinggi negeri harus Warga Negara Indonesia (WNI).

Alasan utama kebijakan impor rektor ini klasik, peningkatan peringkat Universitas di Indonesia yang selama ini dianggap masih rendah. Memang, universitas di Indonesia masih berada pada peringkat yang kurang baik di dunia.

Berdasarkan data QS World University Rankings 2020 (22/06/2019), Universitas Indonesia pada peringkat 296, pada posisi 320 ada Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung (ITB) posisi 331, selanjutnya Institut Pertanian Bogor (IPB) antara rangking 601-650, terakhir Universitas Airlangga sekitar 651-700. Tapi apakah dengan merekrut orang asing menjadi rektor akan serta merta meningkatkan mutu pendidikan Indonesia?

Pro kontra pekerja asing memang selalu menarik untuk dibahas. Persoalannya, prosentase pengangguran di Indonesia juga masih tergolong tinggi. Tercatat pada Februari 2019  sebanyak 6,82 juta orang..

Berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Pengawasan Tenaga Kerja Indonesia (BN2PTKI), Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada 2018 turun 30,71 persen menjadi 173.452 pekerja dibandingkan tahun 2017. Jika kita melirik pada bidang pekerjaan lainnya, tenaga kerja asing pada level manajerial diperbolehkan di Indonesia dengan tujuan transfer teknologi atau transfer pengetahuan.

Meski tak ada kaitannya langsung dengan peningkatan angka pengangguran, rektor impor justru akan memicu persoalan baru seperti kecemburuan sosial dan tersingkirnya anak negeri di kandang sendiri.

Lagipula, sudah banyak kok perguruan tinggi yang melakukan kritik bahkan penolakan terhadap wacana rektor impor ini, seperti UIN Sunan Kalijaga, ITB, UGM, Unpad dan bahkan UI. Tak tanggung-tanggung bahkan sampai ada tudingan bahwa Menristekdikti tak paham persoalan pendidikan nasional.

Jika pemerintah memang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, maka sebaiknya dilakukan sejak pada tingkatan dasar. Lagipula, bisa mencontek Finlandia sebagai negara terbaik dalam bidang pendidikan tanpa harus impor sana sini.

Pendidikan seyogianya melakukan transfer ilmu (knowledge) dan transfer nilai (value). Lantas ilmu dan nilai yang seperti apa yang akan ditanamkan pada pendidikan tinggi kita? Apakah peringkat dunia memang satu-satunya bukti bahwa pendidikan sudah berjalan dengan baik?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Memang sedang hangat dan ramai diperbincangkan terkait Rektor Import ya, baik di kalangan rektor sendiri maupun masyarakat luas. Ada yang komentar singkat, cukup panjang dan panjang sekali. Ada yang bernuansa setuju sekali, antara yang pro dan kontra, dan ada yang kontra sekali. Semua memberikan justifikasi yang bisa diterima dengan baik.

Jika latar belakang utamanya itu, persoalan ranking universitas, yang terutama berdasarkan QS WUR, maka yang perlu kita ketahui, apakah semua perguruan yang hebat-hebat di Luar Negeri sudah tersertakan? Jika ya sudah, genjotan yang sedang dilakukan untuk masuk 100 besar itu sesuatu yang hebat.

Tetapi jika belum, tentu kita seperti mengejar angin. Dugaan saya sih belum. Karena QS WUR dasarnya aktif mendaftar. Jika tidak mau daftar, ya sehebat apapun tidak masuk ranking. Namun jika yang hebat-hebat di seluruh dunia ikut daftar, bisa-bisa posisi perguruan tinggi Indonesia berada di ranking lebih rendah dari ranking saat ini.

Tanpa mengurangi perankingan, maka sebaiknya mencari perangkingan yang lebih fungsional berdasarkan bidang keilmuan. Apakah perankingan bidang medical sciences, engineering, economics, law, humanities, agriculture, arts, psychology, education, dan sebagainya. Yang baru kita dengar, di antaranya bidang agriculture dan arts, semoga segera bisa disusul yang lainnya. Justru ranking berdasarkan bidang keilmuan lebih fungsional dan bermanfaat untuk banyak bidang keilmuan lainnya.

Hal lain yang harus dipertimbangkan, memang rektor bukan satu-satunya faktor yang sangat penting. Faktor kualifikasi dan kompetensi dosen, sarana prasarana yang mutakhir, dukungan dana untuk operasional tridharma perguruan tinggi serta jumlah mahasiswa asing, student and lecture exchanges, joint research and publication dengan perguruan tinggi asing sangatlah menentukan. Jika semua variabel itu tidak digarap secara simultan dengan menghadirkan rektor impor, maka diduga akan terjadi pemborosan, kehadiran rektor tidak banyak manfaat.

Belum lagi soal fairness dengan sistem insentifnya. Jika tidak dihitung matang sistem insentif di kampus secara berkeadilan, maka sangat pontensial akan timbulkan masasah.

Ditambah lagi faktor lain, misalnya bagaimana mekanisme pemilihan rektor. Rektor adalah academic leader, karena itulah proses rekrutmen perlu mempertimbangan track record di bidang academic leadership dan profesionalisme.

Demikian juga persoalan moral. Apakah bisa dijamin calon rektor Import memiliki ideologi yang tidak bertentangan dengan ideologi civitas akademika khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Ingat, bahwa setiap keputusan yang dibuat oleh pimpinan sedikit banyak dipengaruhi oleh ideologi dan filosofi hidup rektor. Semoga mereka bisa menyesuaikan. Namun prakteknya tidaklah mudah. (yed)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi