Pulang Tak Pulang Rizieq Shihab
berita
Humaniora

Sumber Foto: merdeka.com

 

20 February 2018 19:00
Pertanyaan besarnya dahulu: mungkinkah Rizieq Shihab pulang? Sudah lima kali ia disebut bakal pulang, tapi urung dengan berbagai alasan. Rabu besok, 21 Februari 2018, yang keenam. 

Sejak akhir April 2017, imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu meninggalkan tanah air, memilih melanjutkan hidup di Arab Saudi. Ia pergi kala sejumlah kasus hukum menjeratnya sebagai tersangka, mulai dari penodaan Pancasila, tuduhan makar, hingga dugaan penyebaran pesan singkat berkonten pornografi dengan Firza Husein. Ia telah melewatkan demo besar umat Islam Reuni 212 dan aksi bela Palestina.  

Rizieq pergi keluar negeri karena merasa bakal diperlakukan tidak adil dalam proses hukum di Indonesia. Makanya, ia meminta jaminan bakal pulang bila pemerintah tak menzaliminya. Yang dimaksud tak menzalimi boleh jadi, menyitir pendapat Ketua DPD FPI Jakarta, Novel Bamukmin, adalah pengehentian penyidikan alias SP3. Mengapa SP3 harus jadi prasyarat kepulangan Rizieq Shihab? Sebegitu takutkah dia mendekam di balik jeruji penjara?  

BACA JUGA: Pilihan Politik Yuppies Muslim

Ingat, Abu Bakar Baasyir yang tua renta, kita tahu, ksatria menghadapi peradilan dirinya. Baasyir punya pengikut fanatik yang bejibun, tapi buktinya sidang Bassyir tidak rusuh meski pengikutnya dikenal bernyali besar karena acap diasosiasikan dengan teroris. FPI bukan teroris, 'kan?

Harusnya Rizieq juga tak perlu mengemis SP3. Toh, dia mengklaim, chat mesum merupakan rekayasa kepolisian untuk mendiskreditkan dirinya. Kalau memang begitu, mengapa tidak dihadapi? Lagipula, yang memvonis bersalah atau tidak bukan polisi, tapi hakim.

Memang, mengingat Rizieq ulama dan pemimpin ormas Islam, pengungkapan kasus chat mesum dengan Firza bakal berimplikasi besar di masyarakat. Apa ini jadi alasan ia tak kunjung pulang? 

BACA JUGA: Melihat OKI Memperjuangkan Kemerdekaan Palestina

Jika kasus ini dibawa ke pengadilan, segala pertanyaan soal chat mesum itu mau tak mau bakal terungkap. Walau kemudian ia tak terbukti bersalah, the damage has been done. Apa konsekuensi tersebut yang ia ingin hindari? Apa ia ingin membiarkan masyarakat melupakannya dari ingatan kolektif?

Sebetulnya, yang paling baik ia pulang ke tanah air dan membela diri secara ksatria. Bila ia dinyatakan bersalah oleh sebuah proses peradilan yang dirasanya tak adil, Rizieq malah berpeluang jadi martir. Namun itu tak ia pilih. Ia lebih suka hidup tenang di Arab Saudi sana, dekat dengan Baitullah.

BACA JUGA: Kala Ada Ustaz Bolehkan Sogok Syariah

Pilihan yang amat disayangkan. Namun apa ini pilihan terbaik bagi umat, membiarkan kisahnya menggantung tak dituntaskan secara hukum yang dengan begitu situasi negeri relatif tenteram?

Jika Rizieq Shihab terus-terusan menghindari kasus hukum, publik juga terus-terusan bingung siapa sejatinya yang benar? Klaim Rizieq atau tuduhan polisi? Lebih mengkhawatirkan lagi ini akan menjadi preseden buruk bagi umat muslim: ada ulama gentar dengan proses hukum bikinan manusia. Bukankah seharusnya takut hanya kepada Allah? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade/mry)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar komunikasi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia

Catatan Redaksi: Pada 10 Juni 2017, Ade Armando mengucap sumpah mubahalah di media sosialnya, siap dilaknat bila Rizieq Shihab tak melakukan chat mesum dengan Firza Husein.

Saya rasa, kini dengan sengaja dibangun kesan: "Kalau sampai gue ditahan, maka akan terjadi kerusuhan." Kesan itu yang ciptakan dari pihak Rizieq sendiri. Sebetulnya itu ancaman. Dari pihak polisi atau kubu pendukung Jokowi tidak ada kekhawatiran.

Artinya begini, kami percaya polisi bersikap profesional saja.Kalau seseorang layak ditahan, maka ia akan ditahan. Apalagi karena Rizieq Shihab ini sudah menunjukkan itikad yang tidak baik. Untuk menahan seseorang harus ada alasannya, entah dikhawatirkan akan menghilangkan barang bukti atau melarikan diri. Sementara itu sudah terbukti ia melarikan diri. Maka, hampir pasti, kalau ia pulang maka akan ditahan untuk melanjutkan proses penyidikan.

Nah, sekarang dibangun kesan bahwa pendukung Rizieq akan marah. Di sisi lain, dengan cara begini mereka (pendukung Rizieq) bisa menunjukkan pada publik bahwa kalau Rizieq nggak pulang sebetulnya karena dia ingin menciptakan perdamaian. Dia nggak ingin terjadi kerusuhan. Itu narasi yang ingin (mereka) bangun atau diciptakan.

Padahal, seandainya mereka (Rizieq dan pendukungnya) konsisten atau muslim yang baik, seharusnya kalau dulu mereka menuntut agar Ahok ditahan, maka semestinya mereka tidak bersikap mendua sekarang. Mereka seharusnya mengatakan: "Kami percaya dengan proses peradilan di Indonesia." Artinya, kalau mereka sekarang bilang, Rizieq nggak akan diperlakukan dengan adil, seharusnya mereka tak percaya dengan peradilan terhadap Ahok.

Buat saya, ini semua menandakan, semakin tercium kemungkinan bahwa Rizieq memang bersalah. Semakin ia berkeras seperti saat ini, semakin keras dugaan kita bahwa chat mesum itu benar. Itu yang ingin dia hindari. Karena kalau sampai ada penyidikan, apalagi sampai ke pengadilan, chat itu harus dibongkar sebagai barang bukti. Harus dipertontonkan di pengadilan. Itu akan sepenuhnya menghancurkan kredibilitas Rizieq. Proses (penyidikan hingga peradilan) saja sudah menakutkan. Belum lagi apa ia akan dihukum (divonis) bersalah atau tidak.  

Ada beberapa hal terkait kepulangan Rizieq. Pertama, menjadi buronan itu tidak menyenangkan. Seterjaminnya hidup di sana, tetap jauh dari keramaian. Jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat. Kedua, barangkali juga pemerintah Arab Saudi sendiri sudah merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Selama ini keberadaannya difasilitasi pemerintah Arab Saudi. Ketiga, diduga ia harus pulang karena akan ada pemasukan aliran dana yang besar seandainya ia berada di tanah air dan mengarahkan umatnya mendukung salah satu kandidat (tahun 2019). Jadi salah satu nilai ekonomi berada di Indonesia sangat besar. Jadi ada beberapa hal yang buat dia lebih menguntungkan berada di Indonesia. 

Namun, (faktor ekonomi) itu ada syaratnya. Untuk bisa tinggal lagi di Indonesia dia harus hidup tanpa tuduhan (chat mesum) dan proses hukumnya. Jadi ini buah simalakama (buat Rizieq). (ade)      

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua DPD FPI Jakarta

Awalnya, Habib Rizieq sudah matang merencanakan untuk pulang bersama isterinya pada tanggal 20 Februari ini. Namun setelah melihat kondisi, yang mana ulama juga ada yang menyuruh segera untuk pulang, ada juga yang meminta tetap bertahan selama polisi belum memberikan Surat Perintah Penghentian Perkara (SP3).
 
Permintaan SP3 itu bukan karena takut kepada kepolisian, karena rasa takut hanyalah pantas kepada Allah SWT. Apalagi Habib Rizieq. Akan tetapi, ini tidak lepas dari situasi Indonesia yang sedang memanas, sehingga kedatangan Habib Rizieq akan digunakan untuk kepentingan Pilkada dan Pilpres 2019.

Atas dasar itu, sebagian besar alumni 212 meminta Habib Rizieq untuk tetap bertahan di Saudi Arabia, meski beliau luar biasa kangen memimpin umat islam. Sebab kepulangannya akan sia-sia dan dapat dipastikan akan dijadikan untuk melakukan politik balas dendam yang luar bisa. Terlebih akan mengusut semua kasus hukumnya yang notabene adalah rekayasa.
 
Saya yakin 100 persen bahwa Habib Rizieq adalah korban kriminalisasi dari kepolisian. Seperti kasus mengejek ideologi Pancasila yang dilaporkan ke Polda Jawa Barat, padahal itu urusan tesis yang harusnya tidak dikriminalisasi. Kemudian kasus pornografi, yang jauh-jauh hari sebelum kasus chat WhatsApp dengan Firza Husein, Habib Rizieq telah membuang nomor handphone-nya sembari mengumumkan bahwa nomornya tidak bisa dihubungi.

Jika bukan kriminalisasi, seharusnya kepolisian mencari terlebih dulu dan menangkap penyebar gambar tersebut sebagaimana Buni Yani, yang terjerat UU ITE gara-gara mengunggah video Ahok. Sehingga jangan mengusut Habib Rizieq terlebih dalu, tapi tangkap dulu penyembar gambarnya. 

Kalau negara ini fair dalam menegakkan hukum, kita akan siap. Sejak berdiri, FPI sudah tiga kali menjalani proses hukum. Semuanya adalah kriminalisasi. Memang negara ini menjauhi para ulama, karena akan dikuasai asing dan aseng. (myr)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor

Nggak mungkin Rizieq Shihab pulang (ke Indonesia). Karena kalau pulang ia akan ditangkap dan menyelesaikan semua persoalan hukumnya. Karena ini negara hukum. Nah, ketika ia tidak pulang kita jadi bertanya-tanya, jangan-jangan kasus hukumnya benar? Makanya juga, ketika ia pertama kali pergi ke Arab Saudi saya sudah mengatakan, "Buat apa dia pergi? Lebih baik hadapi saja kalau merasa nggak bersalah." Kalau pergi begitu kan seperti membenarkan (tuduhan-tuduhannya), dan bahwa dia melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan.     

Ini juga menunjukkan mereka tak konsisten. Kemarin saat Ahok, mereka menuntut ditahan dan diadili. Tapi sekarang menuding terjadi kriminalisasi. Ya, begitulah mereka. Seharusnya kalau berani berbuat, berani juga mempertanggung-jawabkan. Kalau berbuat tapi nggak mau menanggung risikonya ya konyol. 

Akhirnya yang disodorkan adalah narasi-narasi yang menurut saya pengecut. menurut saya, tidak ada umat Islam yang mau (bikin) rusuh. Saya Islam, nggak apa-apa kok kalau dia pulang dan proses hukumnya tetap jalan. Narasi-narasi yang ada (dari mereka) ini yang menurut saya provokatif. Kalau mau pulang ya, pulang saja. Kalau mau ditangkap, ya tangkap saja.        

Dugaan saya, isu (kepulangan) ini sengaja dibuat agar jamaahnya tidak melupakan namanya. Hari ini kan tahun politik, nama Rizieq Shihab akan tenggelam diganti isu-isu politik yang lain. Nah, (bila mulai tenggelam) mereka munculkan lagi dengan isu-isu kepulangan dia. Kita lihat saja, nanti juga akan muncul lagi isu pulang. Jadi, (isu kepulangan Rizieq) ini hanya demi mempertahankan memori masyarakat saja.  

SP3 tidak bisa dikeluarkan seenaknya. Harus dibuktikan dahulu (ia tak bersalah). Buat saya, kalau merasa tidak bersalah ya ikuti saja proses hukum. Ahok itu salah satu contoh. Apapun hasil peradilannya, ia berani menghadapi konsekuensi apa yang telah ia lakukan. Ahok saja berani, kok ini sebagai imam besar takut pulang. Ini kan nggak benar. Kami menduga di proses pengadilan nanti akan terbuka semua (soal perkaranya). Jadi kami menduga itu yang menyebabkannya tak pulang. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF