Pseudosains Harun Yahya, Kenapa Diminati?
berita
Humaniora
Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com) 18 July 2018 15:00
Pekan lalu publik dikejutkan kabar pihak berwenang Turki menangkap Adnan Oktar bersama 235 pengikutnya. Ia ditangkap dengan tuduhan mendirikan organisasi kejahatan, melanggar aturan hukum soal pajak, melanggar UU Anti Teror, penculikan serta pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Nama Adnan Oktar kurang dikenal di sini. Orang Indonesia lebih kenal nama lainnya: Harun Yahya. 

Nama Harun Yahya konon ia pilih dari dua nama nabi, Nabi Harun dan Nabi Yahya. Di Indonesia, namanya harum sebagai intelektual sekaligus saintis/ilmuwan. Ia menerbitkan gagasan-gagasan yang diklaimnya saintifik lewat berbagai buku dan cakram video. Buku maupun keping VCD/DVD Harun Yahya mudah ditemukan di lapak-lapak penjual CD dan buku agama, berjejer dengan DVD film-film religi atau video edukasi anak. Video-videonya juga tersebar di Youtube dan disebar di media sosial. Buku dan video bikinannya diburu mereka yang penasaran tentang pembenaran agama dan sains. 

Harun Yahya memang paling jago memadukan sains dengan tafsir agama. Ia menentang berbagai teori dan narasi sains yang sudah terverifikasi dan teruji sejak lama. Apa yang dihasilkan Harun Yahya lebih pas disebut pseudosains, seolah-olah sains padahal bukan. Seolah-olah apa yang diutarakannya teori yang lahir dari metodologi sains yang ketat, padahal tidak. Yang dilakukannya tak lebih praktik cocoklogi, mencocokkan fenomena alam dengan tafsir-tafsir agama. Sains yang sebenarnya mengenal metedologi, mulai dari hipotesis, pengumpulan data, dan pengujian yang ketat. Dari situ lahir teori yang bila ditemukan teori baru, maka teori lama gugur. 

Masalahnya, pseudosains alias ilmu semu yang dikemukakan Harun Yahya banyak diterima orang, dipercaya sebagai kebenaran ilmiah. Apa karena membawa embel-embel agama makanya teorinya dipercaya? 

Telah banyak publikasi yang membongkar kebobrokan moral Harun Yahya maupun kebohongannya. Namun di saat yang sama pula, tak sedikit yang tetap mempercayai apa yang ia bilang. Kenapa orang mengabaikan moralitas sosoknya? Kenapa Harun Yahya diperlukan bak kiai yang setiap perkataannya layak dipercaya?     

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)

Sebelum membahas Harun Yahya, perlu saya jelaskan dulu upaya para penulis untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan sains. Perlu dipahami, Alquran bersifat mutlak sedangkan sains bersifat relatif. Tidak bisa sains yang bersifat relatif langsung menjelaskan ayat-ayat Alquran yang bersifat mutlak. 

Yang dilakukan para penulis adalah menafsirkan Alquran dan menafsirkan sains agar dipahami awam. Penggabungan hanya pada tataran tafsir. Penafsiran Alquran perlu ilmu Alquran, sedangkan penafsiran sains perlu pemahaman sains itu sendiri. Artinya, kalau seorang penulis bukan ahli ilmu Alquran perlu merujuk pada tafsir umum yang sudah dibuat oleh ahli ilmu Alquran. Demikian pula, kalau bukan saintis pada bidangnya kadang tidak tepat menafsirkan sains.

Buku yang menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan sains kadang terjebak pada "pencocokan" yang menyimpang dari ilmu Alquran maupun sains karena yang menulis bukan ahlinya. Tafsir sains kadang juga terjebak pada pseudosains (sains semu) karena penulisnya bukan saintis pada bidang tersebut. Tafsir biologi paling tepat oleh ahli biologi, demikian juga tafsir astronomi oleh ahli astronomi.

Contoh, teori evolusi sering disalah-pahami karena penulisnya bukan ahli biologi, namun menafsirkan teori evolusi dengan ilmu lain, misalnya dicampuradukkan dengan sosiologi. Sains sering digunakan sebagai alat untuk memahami ayat-ayat Alquran tentang fenomena alam dan kehidupan makhluk hidup. Namun tafsir terus berkembang sejalan perkembangan sains dan batasan wawasan penulisnya. Tidak ada tafsir yang bersifat mutlak.

Harun Yahya dikenal karena paparannya yang menarik dengan gambar-gambar dan video. Gambar-gambar dan video sangat meyakinkan bagi orang awam, walau saintis mengetahui banyak informasi Harun Yahya yang keliru. Namun popularitas kadang lebih mempengaruhi opini publik.

Sosok sebenarnya Harun Yahya memang tidak banyak dipublikasikan. Orang hanya kagum dengan buku/video yang penuh gambar. Saya sendiri tidak pernah tertarik dengan buku-bukunya karena tahu banyak yang bersifat pseudosains.

Kita tidak boleh menganggap semua tafsir ilmiah sebagai "pencocokan". Tafsir ilmiah diperlukan untuk menjelaskan ayat-ayat tentang fenomena alam atau kehidupan. Contohnya, Alquran sering menyebut "tujuh langit". Sains yang harus menjelaskannya. Tafsir tujuh langit berubah sepanjang sejarah perkembangan sains.

Saat ini kita "berperang" di era informasi. Informasi yang keliru selalu ada, di samping banyak informasi yang benar. Kementerian Agama telah lama membentuk Tim Tafsir lintas disiplin ilmu untuk membuat tafsir Alquran sesuai sains yang benar. Saya termasuk anggota tim tafsir untuk ayat-ayat yang terkait astrononi. Tafsir ilmiah dimaksudkan untuk "melawan" buku-buku tafsir ilmiah yang hanya didasarkan pada pseudosains. Buku-buku tafsir ilmiah versi Kementerian Agama saat ini telah banyak disebarkan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Budaya

Kenapa pandangan-pandangan Harun Yahya diminati? Karena pandangannya disajikan dalam buku-buku yang sangat dan disandingkan dengan video-video yang enak dilihat. Topik-topiknya sendiri sensasional, menawarkan pandangan alternatif terhadap hegemoni sains. Kita memang harus akui, produk kayak (Harun Yahya) begini yang mengkritik sains Barat dan kemajuan-kemajuannya dengan sangat keras termasuk muatan teori konspirasi yang menyertainya, sangat menarik bagi umat Islam di Indonesia dan banyak tempat di dunia ini karena mengembangkan perasaan tertindas, sedang tersingkirkan. 

Abad 19 dan 20 sangat keras mulai dari kolonisasi Barat pada negara-negara Islam yang itu dipersepsi sebagai kekalahan. Orang Islam kemudian mencari jawabnya pada hilangnya peran agama dalam dunia modern. Nah, sains sangat dominan di abad 20. Kemajuan Barat sangat dibantu sains dan teknologi, sementara perasaan umat Islam sedang kalah. Maka, ketika ada kritik macam (Harun Yahya) ini, langsung menarik perhatian. Ditambah kemasannya yang menarik. Bila disimak, ia mencicil sedikit demi sedikit pandangan kreasionisme dan teori konspirasinya. Yang banyak adalah visualisasi tentang alam semesta. 

Nah, kemasan (yang keren) dan perasaan bahwa ini jawaban alternatif ketertinggalan dunia Islam dan umat Islam sangat kuat (menarik minat) orang Indonesia. Akarnya adalah perasaan minder dan terpinggirkan. Perasaan ini bukan tak ada dasarnya. Cuma respon tas hegemoni sains Barat banyak yang memilih responnya jadi anti-sains. Boleh kembali ke agama, tapi kembali ke agama sebagai sistem nilai, sistem etika. Tapi yang (dipakai) ini sebagai identitas dan alternatif bagaimana memahami dunia saat ini bekerja. Yang dipercaya kemudian adalah, "Sains Barat mendominasi bukan karena benar, tapi sebagai bentuk penjajahan dan ada konspirasi di balik itu karena hendak menghancurkan Islam."

Pandangan Harun Yahya yang kemudian populer di sini pada akhirnya anti-sains. Kalau soal keseimbangan agama dengan sains, Einstein juga punya empati terhadap agama. Harun Yahya memberi jawaban-jawaban memuaskan. Apalagi bila kita bicara cara ia mengemasnya. Orang-orang yang tergolong pintar pun senang dengan pandangannya, walaupun mengerti ada problem di video-video itu. Orang yang punya semangat sains di kalangan Muslim juga pada awalnya terbantu. Tapi, yang lebih banyak lagi, orang kemudian masuk ke ajakan Harun Yahya untuk anti-sains.Yang ia sampaikan sangat emosional. Teori Evolusi disederhanakan jadi sekadar manusia keturunan monyet adalah hasil konspirasi Yahudi. 

Namun, saya juga mesti bilang ada yang menikmati video-video Harun Yahya di bagian awal, tapi kritis terhadap pemikiran-pemikirannya. Tapi itu sedikit. Yang menarik kejadian di IPB (Institut Pertanian Bogor) awal 2000-an, (mahasiswa yang menonton video Harun Yahya) jadi benaran anti-sains. Padahal di kampus ia belajar sains. Sampai-sampai Prof. Wildan Yatim menulis esai merisaukan kenapa banyak yang terpengaruh pemikiran Harun Yahya yang sebetulnya pseudosains di kalangan mahasiswa IPB, orang-orang yang belajar dan berdisiplin sains. Yang disasar Harun adalah nalar emosional, bukan lagi nalar kritis atau nalar ilmiah. Orang senang merasa "terselamatkan" dari pandangan manusia keturunan monyet sekaligus dari konspirasi Yahudi. 

Saya sebenarnya kagum pada orang yang masih percaya Harun Yahya. Sebab, buat dia, semua selesai dengan jawaban: segalanya konspirasi. Orang jadi mengabaikan moralitas sosoknya. Ini semua karena mereka (yang percaya Harun Yahya) nggak punya pegangan, jadi ambil yang paling cepat. Ya, video-video dan buku Harun Yahya.  (ade)      

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF