Prabowo Klaim Menang Pilpres, Siap Menang Tak Siap Kalah?
berita
Humaniora
Sumber Foto : news.detik.com 18 April 2019 16:30
Watyutink.com - Tunggu, memangnya Jokowi sudah pasti menang dan Prabowow kalah? Bukankah yang mengumumkan kemenangan Jokowi hanya lembaga survei lewat masing-masing quick count atau hitung cepatnya. Well, hampir pasti sih. 

Tapi bukan itu poinnya. Begitu ketahuan hasil hitung cepat Hillary Clinton kalah di Pilpres AS 2016, ia menelepon Donald Trump, lawannya, mengucapkan selamat. Dengan berbesar hati, usai tahapan kampanye pilpres yang sengit dan membelah rakyat Amerika, ia menawarkan diri untuk bekerjasama demi negara sambil mengucap semoga Trump sukses dengan jabatan yang diraihnya. Hal itu tak kelihatan usai Pilpres 2019 di negeri ini kemarin. Hasil hitung cepat berbagai lembaga survei bilang Jokowi - Ma'ruf Amin unggul atas Prabowo Subianto - Sandiaga Uno di kisaran 55 persen versus 45 persen. Namun, Prabowo bergeming, ia mengklaim diri yang menang. 

Rabu, 17 April 2019 sore dan malam hari, Prabowo keluar dari rumahnya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, mengatakan ia menang pilpres berdasar hasil survei internal dengan angka pemilih 62 persen. Pada satu kesempatan ia bahkan sujud syukur. 

Orang segera teringat momen kala Prabowo juga sujud syukur lima tahun lalu, mengira ia telah menang Pilpres 2014. Maka, kontan saja klaim kemenangan ini mendapat banyak reaksi warga. Di dunia maya, tagar #PrabowoHalu mendominasi percapakan. Benarkah Prabowo tengah berhalusinasi jadi pemenang pilpres? Kenapa ia tak bersikap ksatria seperti Hillary Clinton?

Orang bisa berdalih, demokrasi Amerika telah dewasa. Usia negeri Abang Sam telah dua abad lebih. Saling sikut dan saling cerca semasa kampanye tapi akur begitu yang menang diumumkan, lumrah terjadi di sana. Kita, meski sudah 73 tahun merdeka, baru merasakan alam demokrasi relatif bebas selama 20 tahun terakhir. Jadi, wajar bila ada riak dalam praktek berdemokrasi kita. 

Nah, di situlah masalahnya. Pemakluman macam di atas rasanya sudah waktunya diakhiri. Seolah menganggap bersikap tak legawa menerima kekalahan dalam sebuah kontes adalah hal wajar karena demokrasi kita masih muda usia. Mengklaim diri menang, menuduh lawan main curang, serta tak menerima hasil sigi banyak lembaga riset yang menelurkan hasil seragam adalah bukti siap menang namun tak siap kalah. Benarkah demikian?  

Sikap ksatria yang patut dipuji justru dilakukan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Setelah melihat berbagi hasil hitung cepat menunjukkan PSI tak lolos ke Senayan, para petinggi menggelar jumpa pers mengakui kemalangan di pemilu kali ini. Partai yang digawangi kaum muda itu justru memberi contoh bagaimana berpolitik dengan beretika, santun, serta memakai akal sehat. Pertanyaannya lalu, bila yang muda saja bisa menunjukkan praktek politik dengan akal sehat, kenapa yang sudah tua dan punya pengalaman ikut nyapres berkali-kali tidak? 

Tentu saja, hasil hitung cepat bukanlah hasil sebenarnya. Rekapitulasi KPU yang jadi acuan alias real count. Namun, sebagaimana kita tahu, sebuah lembaga survei tak main asal comot sampel TPS untuk ditabulasi jadi hasil hitung cepat. Ada metodologi rumit untuk itu. Namun, ibarat mengambil sampel darah pasien untuk tahu apa seorang anak kena demam berdarah atau tidak, cukup diambil darah setitip, tak harus memeriksa berliter-liter darah di seluruh tubuh pasien. Logika sederhana itu harusnya sampai ke elite politik kita.  

Bila kemudian yang mensurvei patut dicurigai menggiring opini karena bagian dari konsultan politik yang disewa sang lawan politik, ya mari bertanya lagi: masak sih semua lembaga survei bisa dibeli? Apalagi nyaris semua lembaga survei mengatakan data yang seragam. Di sini kita jadi patut bertanya, siapa pembisik Prabowo yang menghembuskan angka-angka bahwa ia menang pilpres? Apa agenda dari klaim kemenangan ini?

Seolah sudah jadi suratan takdir lembaga survei, ketika menang diakui, dan saat kalah ditolak hasilnya. Yang terbaik memang menunggu hasil rekapitulasi suara KPU. Undang-undang telah mengatur mekanisme bila terbukti ada kecurangan pemilu mulai dari laporan ke Bawaslu sampai menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Selama ini, mekanisme tersebut telah berjalan dengan baik. Bukankah lebih elok bila Prabowo tak buru-buru mengkalim menang dan mengajak pendukungnya menunggu hasil akhir dari KPU? Bukankah lebih santun dan ksatria bila ia mendatangi atau menelepon Jokowi, mengucap selamat dan memulai merajut kembali perpecahan yang terjadi akibat pilpres? 

Kita tinggal menunggu kelanjutan dari dagelan politik ini. Apakah sikap tak siap kalah dari segelintir elite dan pendukungnya yang militan akan makan korban rakyat yang tak berdosa dan demokrasi kita? Sungguh amat mahal dan tak sepadan dengan ambisi politik kekuasaan elite.

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

SHARE ON
OPINI PENALAR

Beda antara Jokowi dan Prabowo dalam membaca hasil “hitungan-cepat” Pemilihan Presiden 2019: Jokowi, yang dinyatakan menang, tidak menyerukan kemenangan — berbeda dengan lazimnya pemenang dalam pilpres di luar negeri. Ia mengimbau semua untuk sabar menanti keputusan resmi dari sang wasit.

Sebaliknya Prabowo. Dengan cepat, entah berdasarkan data dari mana, menyatakan diri menang. Ia tak mau menunggu. Ia hanya mempercayai informasi yang dikukuhkan sumbernya sendiri..

Di tahun 2014 ia melakukan hal yang sama. Ia, di depan kamera televisi, bersujud mencium tanah, mensyukuri “kemenangan” yang sebenarnya palsu — dan banyak orang tahu itu palsu.

Terbukti kemudian klaim kemenangannya ditolak Mahkamah Konstitusi. 

Saya tak paham, mengapa hal yang sama sekarang ia ulangi: tidak sabar — seakan-akan ia takut akan kehilangan sebuah fantasi yang indah tapi sebentar. 

Ada yang mengatakan, itu perangai yang aneh. Ada yang mengatakan, itu tanda tak adanya sportivitas dalam diri Prabowo — menerima kemenangan dan kekalahan dalam bertanding dengan tenang, karena mengikuti aturan wasit yang sudah disepakati bersama. Ada yang mengatakan itu hanya taktik. 

Wallahu alam...

Catatan: Tulisan ini semula muncul di akun halaman Facebook Goenawan Mohamad, Kamis, 18 April 2019. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Dosen Pasca Sarjana UNUSIA, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara

Bertahan sampai titik terakhir adalah jiwa seorang ksatria. Tapi bertahan dengan menolak kaidah ilmiah yang sudah teruji dan diakui adalah mengingkari akal sehat. 

Seorang ksatria akan bertahan dengan cara elegan dengan menjaga kewarasan. Bukan dengan cara menista akal sehat yang biadab. Karena yang demikian itu sama dengan kelakuan para pecundang.

Tapi, namanya politik harus ada deal, negosiasi. Saya pikir yang terjadi saat ini adalah bagian dari proses untuk melakukan deal tersebut. Maka, sementara ini akal sehat dan bahkan kaidah ilmiah bisa dilanggar.  

Secara politik, pertama, seorang pimpinan tidak mungkin langsung mengecewakan pendukungnya. Dia harus menjaga soliditas pendukungnya. Karena jika ia langsung menerima hasil (pilpres) begitu saja, dia akan terlihat lemah di mata pendukungnya. Kedua, bila tidak ngotot, dia akan kehilangan bargain (posisi tawar). Dengan cara ngotot ini kan nanti ada proses negosiasi dan tawar menawar di dunia politik.

Yang kita lihat sekarang, hati nurani dan akal sehat dikalahkan dalam kerangka untuk menggolkan kepentingan. Ketika kepentingan lebih mendominasi dan melebihi dari semuanya (logika, akal sehat, hati nurani), bahkan Tuhan pun bisa dibajak untuk memenuhi ambisi dan kepentingan itu. Makanya dari kemarin-kemarin saya selalu mewanti-wanti, dalam dunia politik nilai dan moralitas jadi tumpuan. Politik adalah dunia yang vulgar, brutal, dan penuh pertarungan yang ketat. Dalam suasana seperti itu semuanya bisa diabaikan.              

Demokrasi kita masih dalam proses pendewasaan. Amerika mencapai titik seperti sekarang setelah berabad-abad prises pendidikan berdemokrasi. Kita melakukan proses demokrasi yang relatif bebas kan baru beberapa dekade terakhir. Jadi, kita harus lihat ini sebagai proses (pendewasaan politik) kita. Di zaman demokrasi kita yang mulai liberal ini masih terkontaminasi oleh ego, emosi, dan kepentingan yang lebih dominan.       
  
Saya yakin setelah KPU menetapkan siapa yang menang, suasana akan aman lagi. Bila mereka nanti ke MK, nanti sebulan-dua bulan lagi akan selesai masalahnya. Sekarang saja sedang panas-panasnya. Rakyat di bawah juga merasa tenang-tenang saja.

Yang ribut ini cuma elite dan pendukung elite yang khawatir kehilangan posisi. Yang kemarin memilih 01 atau 02 sama-sama tenang, tak ribut. Masyarakat punya self defense mechanism sendiri untuk hal-hal seperti ini, meskipun berusaha ditarik-tarik (elite politik) bahkan sampai membajak Tuhan dan melakukan politik uang, nyatanya rakyat kurang tertarik ikut-ikutan. 

Bahwa, sebagian rakyat kemudian tertarik memilih 02 (Prabowo-Sandi), yang saya amati, suara kubu 02 di 14 provinsi yang ia menangkan rata-rata daerah yang warna Islam formalisnya kental. Maka saya memahami daerah-daerah itu masih termakan oleh Islam politik dan simbolisme Islam. Hal itu kemudian dikapitalisasi oleh kubu Prabowo.Namun pada umumnya, mereka tak bisa menarik orang-orang untuk bersikap bermusuhan, anarkis, atau membuat kerusuhan. (ade)           

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Stabilitas Sangat Berdampak Pada Ekonomi             Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan             People Power and Power of Love             Polisi Tak Boleh Berpolitik             Laksanakan Reformasi Perpajakan Secara Konsekuen             Tunjukkan Sikap Politik yang Matang             Menagih Janji Deregulasi dan Perbaikan Infrastruktur Investasi             Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan