Polemik Versi Film Bumi Manusia, Pertanda Apa?
berita
Humaniora
Sumber Foto : uzone.id (gie/watyutink.com) 03 June 2018 18:00
Entah seperti apa perasaan Pramoedya Ananta Toer di alam kubur sana bila mengetahui salah satu anak batinnya, novel Bumi Manusia akan difilmkan. Hatinya mungkin riang akhirnya novel itu difilmkan anak negeri sendiri, sesuai angannya. Ia pernah menolak pinangan sutradara Hollywood Oliver Stone senilai 1,5 juta dolar AS.

Namun, perasaannya juga kini mungkin campur aduk bila melihat kontroversi dan polemik di seputar proses penggarapan versi filmnya.

Bila kini masih hidup, Pram, sapaannya, mungkin tak paham siapa itu Iqbaal Ramadhan, personel CJR yang ditunjuk sebagai Minke, protagonis utama Bumi Manusia. Mungkin juga ia tak tertarik membaca novel Dilan 1990 atau menonton versi filmnya yang dibintangi Iqbaal. Ada jurang generasi yang demikian dalam antara Pram dan pembaca/penonton Dilan 1990.

Ketika sutradara Hanung Bramantyo, yang ditunjuk Falcon Pictures (pembuat Warkop DKI Reborn dan Benyamin Biang Kerok) mengadaptasi Bumi Manusia ke film, memilih Iqbaal sebagai Minke publik tersentak. Mudah menuding pilihan itu semata didasari alasan komersil lantaran sebagai Dilan, Iqbaal berhasil mendatangkan 6 juta penonton lebih ke bioskop. Alasan Hanung usia si aktor sesuai dengan Minke di novel dianggap angin lalu. Yang jadi tanya lalu, salahkah bila sutradara dan produser memilih pemain berdasar alasan komersil?

Masalahnya memang Bumi Manusia bukan novel biasa. Pengarangnya telah berkali-kali dicalonkan meraih Nobel. Bumi Manusia dan tiga novel Tetralogi Buru lainnya (Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) telah diterjemahkan ke puluhan bahasa asing. Di masa Orde Baru novelnya dilarang. Orang harus sembunyi membacanya atau risiko dipenjara. Dengan serangkaian reputasi selangit itu masak komersialisasi yang dikedepankan?

Namun lagi-lagi, salahkah bersikap komersil? Harap diingat, tak murah memindahkan latar akhir abad 19 di novel ke film. Produser tentu juga ingin balik modal dan untung.

Masalahnya lagi, belum apa-apa Hanung sudah berkomentar di media Bumi Manusia versinya akan fokus pada kisah cinta Annelis dan Minke. Oalah, demikian dangkalkah penafsirannya atas karya besar Pram itu? Atau, tafsir macam begitu yang kira-kira pas (dan dengan begitu: komersil) untuk calon penonton generasi milenial dan Z?

Postingan yang viral di medsos ada ABG yang tak tahu siapa Pram maupun Bumi Manusia dan bilang "masih untung Iqbaal main film biar novelnya tambah laku" justru menandakan banyak hal. Pram ternyata hanya "bunyi" di generasi 1980-an ke atas dan pecinta sastra saja. Faktanya, Pram dan karya-karyanya tak diajarkan secara resmi di sekolah. Maka, salahkah bila anak zaman now tak tahu Pram dan Bumi Manusia?

Larangan atas karya-karya Pram tak pernah resmi dicabut hingga kini. Di sini soalnya jadi pendidikan sastra di sekolah. Orang Amerika membaca To Kill a Mockingbird karya Harper Lee sejak di sekolah, siswa kita hanya hapal judul-judul roman dan nama pengarang tanpa pernah membacanya. Ah, rasanya Pram lebih senang siswa-siswi Indonesia ramai baca karyanya ketimbang nonton versi film Bumi Manusia dengan pendekatan komersil. Bukankah demikian?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya

Saya pertama baca novel Bumi Manusia tahun 1987, waktu saya SMA. Buku itu masih dilarang di masa Orde Baru. Ada teman bawa buku itu ke seolah punya pamannya. Saya pinjam, tapi dia pun ketakutan dan saya cuma boleh meminjam satu hari. Jadi saya ngebut bacanya semalaman.

Karena bacanya buru-buru banyak ide-ide besarnya yang nggak saya tangkap. Tapi karakter-karakternya kuat menancap dan terasa visual adegan-adegannya. Buat perasaan saya terbanting-banting. Jadi, itu novel yang sangat berkesan, apalagi itu buku terlarang.

Beberapa tahun kemudian, awal 1990-an, saat jadi mahasiswa fisip UI, ketemu lagi novel itu sekaligus empat (tetralogi) di rumah seorang kawan. Saya mulai terkesan dengan pilihan kata, cara Pram membuka novelnya asyik banget. Saat itu juga mulai masuk ide (novel)-nya tentang nasionalisme.

Pram sempat bilang ingin membuat novel populer, makanya novelnya asik. Khusus novel keempat (Rumah Kaca) diskusinya sampai ke saya dulu ke saya. Teman-teman aktivis dan mahasiswa sejarah menilainya sebagai sebuah historiografi. Ada pula yang menimbangnya dari sudut kriminologi dan antropologi.

Tentang versi filmnya yang dikatakan sutradara Hanung Bramantyo akan fokus ke romance (kisah cinta) Minke dan Annelis, dari segi hak semua orang berhak. Dari segi salah benar, tak ada yang mutlak.

Tapi saat filmnya akan difilmkan Mira Lesmana dan Riri Riza dulu fokusnya juga akan romance. Hanung ketiban sial saja dia omong ke media. Kalau dulu Riri Riza jadi ambil mungkin takkan ada kontroversi karena citraannya (membuat) film bermutu. Hanung, di sisi lain, citranya sutradara komersil yang sukses. Hanung juga tak pernah eksis di festival film luar negeri. Kesannya dia jago kandang saja.

Yang mempertahankan gagasan kebangsaan di novelnya justru Garin Nugroho. Dulu (tahun 2004) Garin sempat akan buat filmnya. Tapi Garin dapat kesempatan mengembangkan versi film Bumi Manusia saat ia belum bikin Guru Bangsa: Tjokroaminoto dan lain-lain. Kekhawatiran orang (kalau dibikin Garin) filmnya jadi "aneh", penuh bahasa simbol dan macam-macam.

Dengan kecenderungan tiga pendekatan tersebut, Garin yang paling dekat dengan semangat novelnya. Apalagi kini banyak film Garin yang lebih berkomunikasi.

Kalau Hanung bilang mengadaptasi Ayat-Ayat Cinta lebih berat, mungkin karena itu film besar pertamanya. Saat itu ia diberi tanggung jawab besar membuat film dari novel populer dan ada beban harus mengembalikan uang investor juga. Saya percaya dia tak hendak merendahkan Bumi Manusia ketimbang Ayat-Ayat Cinta.

Kalau tafsirnya fokus ke kisah cinta sebetulnya tak masalah, karena inti plot novelnya demikian. Tapi kisah cinta seperti apa? Itu masalahnya. Pram memang merancangnya begitu. Di novel kedua timbul kesadaran perjuangan tentang HAM, novel ketiga mulai mengorganisasi gerakan dan yang ke-4 bagaimana kesadaran mengorganisasi gerakan dipandan orang lain, oleh pihak otoritas. Tafsiran tentang kisah cinta sah, tapi kecemasannya juga. Yang saya nggak ngerti kenapa orang jadi berantem, seolah ada dikotomi antara generasi old dan generasi zaman now.

Pram sendiri ingin novelnya jadi populer, artinya komersil. Tapi komersilnya Pram beda. Ketidaktahuan anak zaman sekarang soal Pram nyata. Jelas karena hingga kini Pram tak diajarkan di sekolah-sekolah. Itu dosa terbesar negara ini pada Pram dan sastra Indonesia. Padahal di Malaysia karyanya jadi bacaan wajib. Sudah saatnya Pram masuk kurikulum nasional. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Film

Saya masuk Kelas Bahasa di SMA di Sukabumi pada 2003, namun seingat saya, guru sastra yang mengajar sama sekali tak pernah menyinggung soal novel-novel tulisan Pram. Baru di tahun 2004, saat semester pertama kuliah Sastra Inggris, nama Pram disinggung seorang dosen. Di situ awal mula saya tahu lantas mencoba mencari novel Bumi Manusia, salah satu karyanya yang paling terkenal. Saya mendapatkan novel tersebut di toko buku bekas di Kwitang.

Sepemahaman saya kala kali pertama membaca novel tersebut, Bumi Manusia mengisahkan seorang pribumi Jawa bernama Minke, anak seorang Bupati di akhir abad ke-18 yang hidupnya berkecukupan, memiliki privilege (hak istimewa) bersekolah di Hogere Burger School -- setingkat SMA. Ia ketemu Annelies, putri Nyai Ontosoroh. "Nyai" sendiri bersinonim dengan Gundik Kompeni, maka Annelies adalah indo. Pernikahannya dengan Annelies tidak diakui sebagai pernikahan yang sah oleh pengadilan tinggi Belanda, Minke baru tersadar ada ketidakadilan, penindasan dan diskriminasi terhadap pribumi.

Ini menarik, ketika semangat "kebangkitan nasional" tersulut dalam diri Minke, apakah pemantiknya itu karena kepentingan pribadinya terusik? Bahwa tidak serta merta seseorang mau bela bangsa dan negara tanpa didasari alasan atau motif tertentu. Apa motivasi yang lebih luhur ketimbang cinta? Sama halnya dengan kisah Zainudin dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-- tak dapat meminang Hayati karena urusan adat istiadat, ia akhirnya berjuang, menjadi seorang penulis dan lewat karya tulisnya secara tak langsung ia melakukan "perlawanan" bahwa sebagian bangsa ini masihlah dikungkung adat istiadat yang semestinya sudah ditinggalkan, sudah tidak pada zamannya bahwa suku anu tidak boleh menikah dengan suku anu.

Tak bisa dipungkiri bahwa lda kisah cinta Minke dan Annelis, dari awal mereka bertemu yang dikisahkan begitu romantis hingga mereka menikah. Apakah kisah cinta mereka menjadi fokus utama Bumi Manusia? Barangkali ya dan tidak (ini amat subjektif), tetapi faktanya ia juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cerita. Memang Pram tak hanya bercerita soal cerita cinta mereka, ada konteks sosial dan peradaban kala itu, dan semangat kebangkitan nasional yang coba dikobarkan Pram lewat novel tersebut.

Tentang pemeran Minke, Iqbaal pasca Dilan 1990, kini menjadi salah seorang aktor yang paling diperhitungkan, bila bukan oleh penonton -- setidaknya oleh produser. Sesungguhnya, talenta aktingnya sudah terlihat saat ia bermain Ada Cinta di SMA bersama dua rekannya dari CJR -- dan terlihat Iqbaal yang paling bersinar di film tersebut. Dalam Dilan, ia menjadi semakin kharismatik sebagai aktor. Apakah ia pilihan terbaik sebagai Minke? Tentu perlu dibuktikan nanti kala filmnya sudah rilis, namun yang pasti Iqbaal juga bukanlah pilihan yang buruk -- di antara sedikit sekali aktor yang mempunyai karisma dan kelihaian akting yang mumpuni.

Tidak ada keharusan semua generasi mesti kenal Pram berikut karya-karyanya. Tak kenal Pram tak berarti kualitas intelektual seseorang lebih rendah ketimbang segelintir orang yang mengenalnya. Kontroversi yang ada lebih banyak menyorot soal casting Iqbaal sebagai Minke, dan pernyataan Hanung yang dikutip oleh media perihal fokus cerita film yang ia angkat berpusat pada kisah cinta Minke dan Annelies.

Apa akar kontroversi tersebut? Di era media sosial seperti sekarang, apa pun akan diributkan oleh netizen, sebab semua orang merasa mempunyai suara yang mesti didengar dan ada mimbarnya -- yakni media sosial. 

Keputusan memilih seorang aktor melibatkan banyak alasan. Setidaknya dengan proyek seambisius Bumi Manusia, barangkali keterlibatan Iqbaal dimaksudkan untuk menggaet sebanyak mungkin pangsa pasar film Indonesia -- yang mana golongan remaja bukan orang-orang tua bangkotan usia 40 ke atas yang mengaku paling paham Pram.

Perfilman Indonesia dibangun oleh anak-anak muda yang rajin nonton ke bioskop. Dan, bila Iqbaal konsisten mempertunjukkan kebolehannya seperti yang sudah-sudah, bisa jadi ia memang tepat dicast sebagai Minke. Ditambah usianya juga yang masih bisa dibilang usia SMA atau awal kuliah tentu tak terpaut jauh atau barangkali seumuran dengan Minke. Dian Sastro juga bisa berperan sebagai Kartini, meski usianya terpaut jauh (35 jadi Kartini umur 24 tahun) dan toh terbukti tidak mengecewakan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Film

Saya sudah membaca Bumi Manusia, dalam bentuk fotokopian ketika masih kuliah. Saya tak bisa mengklaim tahu persis apa “intisari” atau apa “yang hendak dikatakan Pram” di novel itu, karena saya berpendapat tak ada makna esensial teks seperti itu dan penangkapan saya bisa berubah. Saya cuma bisa sampai pada pengalaman estetik ketika membaca teks-teks yang ditulis Pram ketika itu, tahun 1990-an. Bagi saya, Bumi Manusia adalah bagian dari Tetralogi Buru yang bicara soal pembentukan kebangsaan Indonesia.

Yang saya dapatkan ketika membacanya adalah munculnya imajinasi tentang sebuah bangsa bernama Indonesia, yang bahan baku utamanya adalah pendidikan dan perlawanan terhadap ketidakadilan dan kolonialisme. Namun kompleksitas novel (apalagi tetralogi) itu bisa membuat orang punya pendapat berbeda tentangnya, dan dalam diskusi soal proses adaptasi ini, biar saja kita anggap terbuka dulu.

Bisa saja orang beranggapan kisah cinta ini fokus utama novel itu. Bagi saya tentu saja penafsiran seperti adalah reduksi besar-besaran dibandingkan apa yang saya pahami dari novel itu. Mungkin mirip belaka dengan menganggap novel 1984 karya George Orwell sebagai semata kisah cinta antara Winston dengan Julia.

Namun ini sama sekali bukan penilaian terhadap filmnya. Apakah dari penafsiran seperti di atas ini bisa lahir film yang baik? Itu adalah soal lain lagi. Tak penting apakah ambisi susastra dalam novel itu bisa teradaptasi ke dalam bentuk film, karena mediumnya saja berbeda, tentu pengalaman estetiknya akan juga berbeda. 

Soalnya bagi saya adalah bahasa seperti sinema apa yang akan digunakan Hanung Bramantyo untuk mewujudkan film itu. Lihat misalnya film seperti The Great Beauty (Paolo Sorrentino) yang fokusnya kecil dan personal (novelis yang berhenti menulis di novel pertama) tapi dengan skrip dan bahasa sinema yang jenius, hasilnya adalah film yang sangat baik dalam menggambarkan situasi kontemporer Italia. Semoga saja Hanung dan timnya berani mengambil risiko, terutama karena materi yang bisa diangkat dari novel itu menurut saya banyak sekali, sekalipun ketika filmnya dibuat dengan pusat cerita kisah cinta Minke-Annelies.

Saya tidak tahu siapa yang terbaik untuk memerankan Minke karena saya tak terlatih sebagai sutradara. Bagi saya, keterampilan sutradara untuk melihat potensi pemain dan mengolah bahan baku berupa aktor menjadi karakter film tidak bisa dibatalkan oleh pendapat penggemar novel, penonton filmnya atau bahkan penilaian kritikus. Keterampilan macam itu butuh pendidikan dan latihan. Tak fair dinilai dengan imajinasi yang sifatnya personal.

Sudah ada contoh seperti pemilihan Fedi Nuril menjadi Fahri yang sempat mengalami polemik sejenis sebelum filmnya dibuat. Dan jangan lupa juga bahwa film bisa mentransformasi bintang seperti Angelina Jolie ketika memerankan Lara Croft. Ia menjadi seorang bintang internasional yang dianggap punya kepedulian terhadap persoalan global sesudah syuting di Kamboja untuk film itu.

Apa keputusan yang benar pilih Iqbaal Ramadhan jadi Minke? Saya tidak mengerti apa ukuran “benar” di sini. Kita masih harus menunggu filmnya jadi untuk mengungkapkan “kebenaran” di balik polemik ini, apapun kebenaran yang Anda maksudkan itu–-dan kalau pun ada. Kalau ini soal Iqbaal bisa menarik generasi muda, tentu ini pilihan yang lebih baik ketimbang Fauzi Baadila misalnya karena Iqbaal lebih dikenal oleh publiknya sehingga lebih mungkin filmnya ditonton. Tapi itu masih tergantung pada banyak lagi hal lain karena sekali lagi film berbeda dengan novel dan prosesnya masih panjang, tergantung juga pada hal-hal non sinematis dan non naratif.

Dahulu juga Pram tidak diajarkan di sekolah-sekolah, bahkan karyanya dilarang. Karya-karyanya tetap terkenal dan dibaca luas juga, terutama jika ditilik dari infrastruktur sirkulasinya yang terbatas. Jadi itu bukan problem. Yang jadi problem adalah menganggap polemik ini problem generasional, atau problem komersialisasi versus kesetiaan terhadap idealisme politik. Itu menghinggapi para pembuat film ini dan juga redaksi media yang menanyakan pertanyaan seperti ini. Sejauh ini polemik masih berupa fans (atau kalau tak mau dikatakan fans, sebutlah publik pembaca Pram) yang khawatir dengan pilihan dan pernyataan pembuat filmnya. Novelnya tidak berubah, filmnya belum jadi. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF