Polemik Melonjaknya Harga Tiket Pesawat dan Munculnya Dugaan Kartel
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 25 January 2019 15:00
Watyutink.com - Kenaikan harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik, ditambah dikenakannya tarif untuk bagasi di sejumlah maskapai penerbangan, hingga kini masih menjadi polemik. Pasalnya, harga yang melambung menjadi dua kali lipat dari harga biasanya, memberatkan masyarakat yang ingin menggunakan trasportasi udara. Mirisnya, harga tiket untuk penerbangan domestik lebih mahal dibanding penerbangan luar negeri.

Naiknya harga tiket pesawat setelah liburan tahun baru berakhir, dilakukan serentak oleh sejumlah maskapai. Bahkan ketika banyak masyarakat yang protes karena tarif yang terlalu mahal, lagi-lagi penurunan harga juga dilakukan secara kompak. Pertanyaannya, apakah benar ada indikasi praktik kartel dalam industri penerbangan kita?

Melihat kompaknya sejumlah maskapai penerbangan dalam menaikkan dan menurunkan harga tiket pesawat, munculnya dugaan persengkokolan dari beberapa pihak semakin menguat. Terlebih saat ini industri penerbangan hanya dikuasai oleh dua pemain besar, yakni Grup Garuda Indonesia dan Grup Lion Air. Jika demikian, apakah ada potensi kerja sama antar maskapai penerbangan untuk menggerek tarif?

Dengan munculnya dugaan adanya praktik kartel yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan penerbangan, bukankah seharusnya pemerintah melakukan investigasi mendalam dan evaluasi kepada masing-masing maskapai terkait? Tidakkah praktik seperti itu melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat?

Meski harga tiket sudah diturunkan, berdasarkan pantauan di sejumlah situs penjualan tiket seperti Traveloka, harga masih terbilang mahal untuk penerbangan domestik, khususnya penerbangan ke wilayah Indonesia bagian Timur. Bahkan maskapai Lion Air yang dikenal berbiaya rendah (Low Cost Carrier), masih mematok harga penerbangan domestik di atas Rp1 juta. Apa yang sebenarnya menyebabkan sejumlah maskapai kompak menaikkan harga tiket?

Dengan kondisi tersebut, ratusan penerbangan domestik dibatalkan karena menurunnya jumlah penumpang. Sehingga sejumlah jasa travel mogok untuk melayani jasa perjalanan domestik, karena mahalnya harga tiket pesawat. Tidakkah ini akan berpengaruh terhadap industri pariwisata di Indonesia?

Mahalnya harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik dan bagasi berbayar tentu akan membuat masyarakat berpikir ulang untuk melakukan perjalanan antar kota, khususnya ke wilayah Timur Indonesia, yang selama ini menjadi tujuan banyak wisatawan, seperti Lombok dan sebagainya. Selain itu, masyarakat juga akan berpikir untuk berbelanja oleh-oleh karena ada tarif bagasi yang juga mahal.

Lantas, tidakkah hal ini akan berdampak pada penurunan pendapatan UMKM, seperti pusat belanja oleh-oleh, kuliner, dan sebagainya, yang selama ini memiliki peran yang sangat besar bagi perekonomian di Indonesia? Apalagi jika melihat ada ratusan penerbangan domestik yang dibatalkan lantaran menurunnya jumlah penumpang, berapa besar kerugian yang didapat dari sektor industri pariwisata kita?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Managing Partner PH&H Public Policy Interest Group

Naiknya harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik, memang banyak memunculkan dugaan-dugaan terkait adanya praktik kartel antar maskapai penerbangan, atau kerjasama untuk menggerek tarif. Namun terkait masalah itu, biarkan KPPU yang melakukan investigasi. Karena sesuai UU Nomor 5 Tahun 1999 urusan kartel menjadi tanggungjawab KPPU, bukan Kementerian Perhubungan atau pun Presiden.

Meski demikian, sejauh ini harga tiket tidak melampaui tarif batas atas dan batas bawah, yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan melalui Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Pemerintah sendiri tidak bisa ikut campur terkait dengan naiknya harga tiket pesawat selama tidak melampaui batas yang telah ditentukan. Karena harga untuk setiap rute penerbangan dengan jadwal tertentu telah diatur langsung oleh masing-masing maskapai penerbangan secara bussines to bussines.

Sedangkan terkait dengan masalah bagasi yang berbayar, itu telah diatur oleh PM Perhubungan Nomor 185 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Karena pada Pasal 22 jelas diatur bahwa maskapai full service seperti Garuda maksimum bagasi gratis hingga 20 kg. Kemudian untuk maskapai medium service seperti Sriwijaya, maksimum bagasi gratis hingga 15 kg. 

Sedangkan untuk maskapai berbiaya murah atau LCC penumpang boleh dikenakan biaya, sesuai Pasal 22 PM Nomor 185 Tahun 2015. Terlebih semua maskapai LCC dunia juga mengenakan biaya untuk bagasi meski hanya 1 kg. Agar biayanya lebih murah, biasanya konsumen akan membeli secara online.

Jadi tarif yang dikenakan untuk bagasi pada maskapai LCC adalah sah. Jika selama ini maskapai LCC tidak mengenakan biaya untuk bagasi, itu sudah menjadi strategi maskapai untuk tujuan promo kepada penumpang. Namun dalam hal ini banyak konsumen yang tidak paham terkait penetapan harga tiket penerbangan dan bagasi.

Sementara itu, terkait dengan banyaknya penerbangan yang dibatalkan karena sepinya penumpang, bukan karena naiknya harga tiket pesawat, tetapi bulan ini sampai bulan Maret, memang sudah masuk Low Season. Hal itu juga tidak berpengaruh secara signifikan kepada sektor pariwisata kita.

Saat ini cash flow dari semua maskapai sudah dalam kondisi merah. Hal itu dapat membuat maskapai merugi dan gulung tikar, seperti kasus Sriwijaya Air. Dalam ilmu ekonomi, keseimbangan (equilibrium) diperlukan untuk keberlangsungan pelayanan dan kepentingan bersama. Jadi, apabila harga tiket pesawat dianggap mahal, maka konsumen bisa memilih moda transportasi lain yang lebih murah. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Transportasi

Saat ini kita belum bisa mengatakan apakah melonjaknya harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik, memang karena adanya praktik kartel atau bukan. Karena masalah ini tengah dalam investigasi KPPU. Namun seperti yang kita tahu, Lion Air sudah keluar dari Indonesia National Air Carriers Association (INACA), jadi kemungkinan tidak ada kartel antar Grup Garuda Indonesia dan Grup Lion Air.

Terkait dengan besaran tarif tiket pesawat yang dikenakan, banyak hal yang harus kita pilah satu per satu, terutama harga avtur pesawat. Barangkali di negeri kita harga tiket masih mahal dibandingkan negera lain. Contoh jelas bila ke mau Singapura ternyata lebih murah daripada pergi ke Jakarta. Atau tiket ke Jepang lebih murah daripada kita mau ke Papua misalnya. 

Mungkin saja ada struktur pentarifan kita yang masih mahal, atau bea tarif masuk pesawat kita yang masih cukup mahal. Jadi wajar saja jika ada isu bahwa masyarakat Aceh lebih memilih terbang dari Malaysia ke Jakarta, dibanding terbang langsung dari Aceh ke Jakarta. Karena masyarakat berpikir realistis untuk mengurangi tarif yang mahal.

Kita juga paham bahwa Grup Lion Air mendominasi slot penerbangan di dalam negeri, 40 persen lebih dikuasai oleh Lion Air, maka ketika lion mencabut tarif bagasi gratis, kebijakan ini ternyata diikuti oleh maskapai lain. Hal ini membuktikan bahwa tarif LCC kita no survival. Apalagi dunia penerbangan dituntut keselamatan yang tinggi. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF