Pilih Hidup atau Mati Terlindas Teknologi?
berita
Humaniora

Sumber gambar: expressanalytics.com

01 October 2017 15:30
Penulis
Teknologi digital menembus batas negara, masa depan digital menggantikan peradaban manual. Bertahun lalu, Yahoo merajai sebagai raksasa dunia internet. Faktanya, hari ini terlindas oleh Google. Nokia yang merajai dunia dengan Symbian, tergilas oleh platform Android dan IOS. Pelaku teknologi pun "membunuh" pelaku teknologi lain. 

Benarkah terjadi perubahan perilaku di masyarakat? Nelayan sekarang, sebelum pergi ke laut mencari ikan, dapat mengecek kondisi cuaca dan tingginya gelombang laut dalam beberapa hari ke depan. Bahkan sudah ada teknologi khusus untuk melihat posisi ikan-ikan tangkapan (ikan besar atau kecil) dengan teknologi aplikasi.

Petani organik di Waingapu, NTT, menjual sayur-mayur melalui jejaring Facebook. Begitu juga para petani kakao di Sulawesi Barat, setiap pagi mengecek update harga penjualan kakao melalui jejaring teknologi smartphone. Minimal mereka akan mengecek via inbox SMS, karena tak memiliki ponsel pintar.

Dampak dari teknologi digital memang drastis. Dua youtubers cilik Lianindya Alifia (7) dan Anindita Niala (5) asal Pekanbaru berpenghasilan Rp50 juta per bulan dengan vlog-nya di Youtube. Keduanya telah mengunggah 252 video dengan 458.267 subscribe. Video mereka telah ditonton 395 juta kali. Sedangkan para pekerja kelas menengah di Jabodetabek, bekerja banting tulang dari pagi hingga malam-- belum mampu menyamai penghasilan dua bocah mungil itu. Benarkah teknologi digital (medsos) di kalangan kelas menengah cuma untuk narsis, tebar kebencian dan permusuhan, serta flirting?

Di sektor transportasi, keberadaan angkutan online benar-benar menyulitkan angkutan konvensional. Bayangkan, sopir taksi konvensional harus berputar-putar mencari penumpang. Bahan bakar mobil habis, tubuh lelah, penumpang belum tentu didapat. Sementara taksi online cukup menunggu saja, begitu ada panggilan lewat aplikasi langsung meluncur ke tujuan. Konsumen pun diuntungkan karena dijemput di rumah, tak perlu lagi ke pinggir jalan mencegat taksi.

Nah, fenomena apa ini? Mengapa sedemikian timpangnya pengaruh teknologi? Bagaimana mengatasi pergeseran kultur teknologi digital itu? Benarkah survive hanya untuk mereka yang menguasai teknologi masa depan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Praktisi PR dan Mobile Content Enthusiast

Teknologi digital menghadirkan peluang baru di bidang ekonomi. Banyak sektor yang terdampak disrupsi digital ini, termasuk media. Format baru dari konten media bermunculan dan kebanyakan merupakan konten yang lebih renyah dikonsumsi di perangkat mobile. Media pun terdorong untuk memahami bagaimana menjangkau audiens mereka di perangkat mobile ini. 

Video kini tidak perlu ada suara, karena kebanyakan memilih untuk menikmati konten video secara senyap di mobile, terutama saat berada di tengah keramaian. Lalu bagaimana dengan kontennya? Narasi video digantikan dengan caption. Bahkan konten video tidak harus full video karena bisa juga berupa ilustrasi, montage foto hingga GIF. Bahkan video berupa foto yang seakan-akan bergerak (cinemaraphs) sudah cukup, tentu dengan ditambah caption. Durasi pun tak perlu banyak-banyak, karena toh ketika menikmati video di perangkat mobile kemungkinan besar penggunanya sedang melakukan kegiatan lain pada saat yang sama. 

Lalu, bagaimana dengan media? Saya pikir penting untuk mempelajari bagaimana menjangkau audiens mereka di perangkat mobile melalui eksperimen. Biarkan sekelompok kreator video bereksperimen dengan konten video di medianya masing-masing untuk melihat apa yang bisa menarik perhatian orang di perangkat mobile – tentunya tetap dalam koridor etika media. Dengan obyektif mendapatkan format konten yang pas untuk media tersebut; baik untuk kepentingan bisnis maupun kepentingan publik. 

Saya optimistis akan muncul suatu bentuk konten yang ideal – yang memiliki keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kepentingan publik. Karena tentunya satu tidak bisa bertahan tanpa kehadiran lainnya. Dan tentunya bravo untuk para perintis yang sekarang sedang berkutat dengan konten video buatan mereka demi melayani kedua kepentingan ini. Sungguh, di tangan merekalah masa depan media berada. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pegiat Startup, Pendiri Nutizen dan NU Online

Dunia digital telah mengubah lanskap ekonomi, politik, juga budaya di awal abad 21. Ia membentangkan peluang yang tidak pernah ada sebelumnya: kesetaraan akses informasi, pengetahuan, ekonomi, hiburan, dan banyak lagi.

Dunia digital menjadi penggerak revolusi ekonomi dalam 20 tahun terakhir, bahkan revolusi politik di sejumlah negara pun tak lepas dari peran kekuatan digital, khususnya sosial media.

Oleh karenanya, kemampuan sebuah negara dan masyarakat dalam penguasaan dan penggunaan teknologi digital akan sangat memengaruhi perkembangan negara dan masyarakat tersebut. Dengan realitas di mana kesenjangan digital (digital gap) di Indonesia masih cukup tinggi, maka pekerjaan rumah Indonesia masih panjang.

Sebagai prasyarat mengarungi dunia digital dan menghindari kesenjangan yang menjadi kesalahan umum pembangunan, maka selain kecanggihan dalam penguasaan dunia digital, Indonesia juga harus memperhatikan persoalan kesenjangan. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF