Piala Dunia 2022: Siapkah Indonesia Mengganti Qatar?
berita
Humaniora

Sumber Foto :: Ariff Tajuddin via  16 September 2017 17:00

Penulis
Begitu Qatar dikucilkan Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman, Mesir, Libya ditambah Maladewa, orang bertanya: bagaimana nasib Piala Dunia yang dijadwal digelar di negeri itu?

Banyak pihak meragukan kelancaran perhelatan akbar sepakbola dunia itu. Krisis di Timur Tengah bisa memuncak jadi konflik terbuka. Stabilitas politik dan keamanan bisa terganggu. Padahal penyelenggara wajib menjamin keamanan peserta dan penonton.

Qatar sebagai tuan rumah terancam gagal, Indonesia berpeluang menggantikan. Apalagi hak menjadi tuan rumah, tengah berputar untuk kawasan benua Asia. Telah lama kita mimpi ingin menjadi bagian dari Piala Dunia. Menjadi peserta lewat jalur kompetisi, bersaing dengan kesebelasan negara-negara satu kawasan kualifikasi rasanya sulit. Tim sepakbola kita masih kalah jauh dibanding China, Korea, Jepang, Iran, atau Arab Saudi.

Jika jadi tuan rumah, Indonesia otomatis lolos kualifikasi. Sebagai tuan rumah, gengsi Indonesia di panggung dunia pun terangkat naik. Asia tercatat baru sekali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2002, saat Korea dan Jepang berkolaborasi.

Indonesia layak mengajukan diri ke FIFA bila Qatar batal menjadi tuan rumah. Paling sedikit sudah ada belasan stadion bertaraf internasional tersebar di Pasaman Barat, Tanjungpinang, Kudus, Jakarta Utara, Balikpapan, Makassar, Semarang, Yogyakarta, dan tentu saja Gelora Bung Karno, Jakarta.

Jika sebagian besar infrastruktur stadion telah siap, dan sisanya cukup di-upgrade, kenapa masih ragu mengambil peluang dari krisis Qatar? Apa belum cukup rasa percaya diri?

Manfaat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 sangat banyak. Manfaat ekonomi niscaya besar. Perhelatan akbar ini bisa memacu pembangunan sarana transportasi, perhotelan, dan pariwisata. Hal ini juga bisa memotivasi timnas dan PSSI untuk berprestasi. Begitu pula manfaat politiknya. Semirip kata pepatah: sekali rengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Andaipun ada suara sumbang, bahwa Indonesia masih rentan aksi terorisme maupun kejahatan lain, bukankah itu momen pembukti kemampuan bangsa Indonesia dalam mencipta rasa aman kepada dunia? Bukankah pemulihan rasa bangga bangsa ini malah akan memperkuat semangat gotong royong kita?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Insfrastruktur stadion berkelas internasional dan memenuhi regulasi FIFA memang tidak semenjamur seperti di Eropa. Tapi, insfrastukrur di negeri ini juga bukan langka. Tinggal peningkatan fasilitas dan kondisi stadion yang sudah ada dan menambah jumlahnya. NKRI membangun kota satelit saja bisa, apalagi hanya stadion representatif. Berderet stadion baru sudah terbangun dan oke. 

Jadi, dari sisi infrastuktur, mestinya pemerintah tak perlu kecil hati. Bentuk dan libatkan konsorsium berisikan kalangan pengusaha, pegiat bola, peneliti, arsitek, dan sejumlah ahli. Syaratnya: semua satu visi, etos, dan visioner. Brasil yang sesungguhnya lebih rapuh dari NKRI saja berkali-kali jadi tuan rumah hajat besar, termasuk Piala Dunia. 

Tim konsorsium menyusun konsep, program, strategi kampanye hingga pelaksanaan dan pembiayaan.  Tim ini bertanggung jawab kepada Presiden. Tidak perlu berputar-putar termasuk lewat DPR-RI yang hanya bikin rumit. Konsorsium tadi yang menyusun program rigid (ketat) guna membantu pemerintah. Ini sejarah spektakuler yang mungkin hanya datang sekali yang jika tidak dioptimalkan bakal menyesal sepanjang masa.

Soal keamanan, negara lain pun bisa setiap saat diseret dalam isu ini. Teroris ada di mana-mana. Ajak segenap elemen bangsa ini bersatu menggolkan "the dream come true" ini. Australia terlalu kecil buat merintangi potensi NKRI jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Naif jika negeri sebesar ini jadi sulit tidur hanya gara-gara Australia.

Menyangkut kualitas pemain, sejatinya kita tidaklah di bawah negara-negara terkemuka sepak bola. Faktanya, di tingkat anak-anak hingga remaja kita kerap menang dan termasuk jago. Tapi, di level senior (kini U-23 dan di atasnya), atlet dan timnas kedodoran.

Prestasi tidak bisa diciptakan instan. Itu pencapaian dari proses panjang, berkelanjutan, konsisten, dan butuh dukungan kebijakan pengendali negara. 

Pemerintahan Jokowi mengusung "Revolusi Mental" dan "Nawacita". Saya berkeyakinan salah satu implementasinya menempatkan olahraga sebagai prioritas. Bukan lagi sekadar minoritas dari sebegitu banyak yang hendak dikembangkan pemerintah.

Bahkan, Pancasila hakikatnya dengan gamblang terhampar di arena olahraga. Harmonisasi dan kebersatuan ada di olahraga, apalagi sepakbola. Olahraga tak mengenal batas SARA, pijakan utama Pancasila. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 

Cita-cita boleh setinggi langit. Tapi menjadi tuan rumah "Piala Dunia" pada lima  tahun mendatang ini, menurut saya, agak berlebihan.

Mengapa? Karena, Pertama untuk prestasi sepak bola kita di tingkat Asia Tenggara saja, Indonesia belum bisa bicara banyak, kok tiba-tiba mau menjadi tuan rumah kejuaraan sepak bola kelas dunia. Apa pantas?.

Kedua, itu semua stadion-stadion sepak bola yang sekarang ada, kalau nanti dinilai oleh FIFA, mungkin yang lolos hanya Gelora Bung Karno dan stadion Jaka Baring di Palembang. Itu artinya kita harus membamgun stadion-stadion baru. Nah, pada era ekonomi kita yang masih sulit seperti ini, apakah tepat kita membangun stadion baru yang berbiaya milyaran itu?

Ketiga, dengan hasrat menjadi tuan rumah event dunia yang sangat populer dan bergengsi seperti World Cup itu, apakah infrastruktur, sarana hotel, restoran, dan tempat hiburan di semua tempat pertandingan nanti sudah siap? Utamanya, dan ini yang sangat menentukan pula, adalah apa nanti juga sudah tersedia tranportasi yangg representatif. Sistem transportasi dari tempat penginapan pengunjung ke stadion penyelenggara pertandingan. 

Jadi kesimpulannya, hmmm ya tolong dipikirkan kembali deh niat mulia tersebut. (yed)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior 

Suka atau tidak Qatar sudah menjalani proses panjang yang sahih untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Qatar masih memiliki waktu yang mencukupi, sekitar lima tahun, untuk menyempurnakan persiapan perhelatan sepak bola global itu.

Sejak pertama kalinya diselenggarakan tahun 1930 di Uruguay, Piala Dunia tidak pernah berganti tuan rumah di tengah jalan. Pembatalan tuan rumah yang sudah ditunjuk, dengan alasan apapun, akan menjadi sengketa hukum, politik, dan bisnis internasional yang mencemarkan nama baik serta merugikan banyak pihak, termasuk FIFA, konfederasi, sponsor, dan lain-lain.

Rasanya mustahil jika tiba-tiba Qatar batal menjadi tuan rumah, lalu digantikan negara lain, termasuk Indonesia. Sekali lagi, pergantian tuan rumah belum ada presedennya di masa lalu.

Kalau pun terjadi pergantian, lalu Piala Dunia 2022 diputuskan tetap berlangsung di Asia, kans Indonesia terhitung kecil. Saat ini sudah ada dua negara yang masuk perhitungan, yakni Jepang atau Korea Selatan.

Mereka pernah menjadi tuan rumah bersama tahun 2002, tetapi sampai kini sangat berambisi untuk menjadi penyelenggara tunggal. Dari aspek infrastruktur kemampuan kedua negara tak perlu diragukan.

Dari aspek prestasi mereka juga sudah mencatat sejarah partisipasi yang cukup panjang. Jepang dan Korea Selatan baru saja memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia.

Jepang tidak pernah absen sejak Piala Dunia 1998 di Perancis. Korea Selatan lebih hebat lagi, selalu hadir sejak Piala Dunia 1986 di Meksiko dan sempat lolos sebagai semifinalis tahun 2002.

Kans Indonesia, sekali lagi, terbilang nyaris nihil. Mungkin dari syarat infrastruktur kita pasti mampu, namun dari syarat prestasi kita masih kurang meyakinkan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas