Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh: Boeing 737 MAX 8 Laik Terbang?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (kan/watyutink.com) 12 March 2019 16:00
Watyutink.com - Nasib nahas menimpa pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET 302, yang jatuh di Kota Bishoftu, dan menewaskan 149 penumpang beserta 8 kru lainnya. Pesawat tersebut terbang dari Bandara Bole, Addis Ababa, menuju Bandara Nairobi, Kenya. Namun hanya berselang beberapa menit setelah lepas landas, Ethiopian Airlines ET 302 dikabarkan hilang kontak.

Penyebab jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dengan jenis Boeing 737 MAX 8 tersebut memang belum diketahui secara pasti karena masih dalam proses investigasi. Peristiwa itu juga mengingatkan kita pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang pada 29 Oktober 2018 lalu, yang menewaskan 189 penumpang, dengan jenis pesawat yang sama.

Artinya, dalam setahun terakhir, sudah ada dua kecelakaan maut yang menimpa pesawat dengan jenis Boeing 737 MAX 8. Bahkan jatuhnya JT 610 dan ET 302 memiliki beberapa kesamaan. Setelah lepas landas, pilot Ethiopian Airlines melaporkan ke menara ATC bahwa dia mengalami kesulitan dalam mengendalikan pesawat. Hal itu juga dialami oleh pilot Lion Air yang meminta untuk return to base karena mengalami masalah dengan pesawat yang terus menukik.

Tak hanya itu, kedua pesawat tersebut juga sama-sama hilang kontak dan jatuh hanya dalam waktu beberapa menit setelah lepas landas. Bahkan dalam dua kecelakaan yang terjadi, tak ada satu pun penumpang yang selamat. Jika melihat beberapa kesamaan tersebut, mungkinkah permasalahan pesawat yang dialami oleh pilot sama?

Pesawat Boeing 737 MAX 8 sendiri merupakan pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah, karena memiliki kursi yang lebih banyak untuk ukuran pesawat serupa pada umumnya. Selain itu, jenis pesawat tersebut juga hemat bahan bakar. Pesawat yang dijual dengan harga $121 juta per unit itu saat ini telah menerima 5000 pesanan, dan telah mendapatkan keuntungan hingga $600 miliar dari hasil penjualannya.

Sementara di Indonesia, ada dua maskapai yang memiliki pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 dengan total 13 pesawat. Dari jumlah itu, 12 diantaranya dimiliki oleh Lion Air, sedangkan satu pesawat lainnya dimiliki oleh Garuda. Lantas, perlukah belasan pesawat tersebut dicek kembali, khususnya oleh tim perusahaan manufakturnya sendiri agar kecelakaan yang pernah menimpa Lion Air JT 610 tak terulang lagi? Dan, bisakah Indonesia ikut serta dalam investigasi penyebab jatuhnya Ethiopian Airlines ET 302?

Walaupun kondisi pesawat dianggap baik-baik saja dan laik terbang oleh pihak maskapai, tak sedikit konsumen yang kemudian merasa ragu dan takut, terlebih pasca kecelakaan Ethiopian Airlines ET 302. Selain itu, konsumen juga tak dapat memilih jenis pesawat apa yang akan digunakan. Lalu bagaimana konsumen dapat yakin jika pesawat yang digunakan aman dan laik terbang terutama bila jenisnya sama dengan dua pesawat yang jatuh?

Meski demikian, larangan terbang untuk seluruh pesawat Boeing 737 MAX 8 telah diterapkan di Tiongkok dan Indonesia. Padahal seperti yang kita ketahui, pesawat jenis tersebut di Indonesia terbanyak dimiliki oleh maskapai Lion Air yang memiliki rute penerbangan cukup sibuk. Jika demikian, apakah larangan tersebut dapat mengganggu jadwal penerbangan dan dapat merugikan maskapai?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Managing Partner PH&H Public Policy Interest Group

Masalah yang dihadapi oleh pilot pesawat Ethiopian Airlines ET 302 yang jatuh di Kota Bishoftu kemungkinan ada kesamaan dengan masalah yang ada pada pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di peraira Karawang. Hal itu terlihat dari beberapa kemiripan saat kecelakaan terjadi, lantaran keduanya sama-sama jatuh beberapa menit setelah take-off. Terlebih jenis pesawat yang digunakan pun sama.

Kemungkinan kecelakaan tersebut terjadi karena baby sickness atau produk yang bermasalah. Itulah yang seharusnya diteliti terlebih oleh setiap maskapai penerbangan, agar dapat segera melakukan tuntutan kepada pihak Boeing, atau melakukan pengecekan bagian pesawat yang mengalami baby sickness.

Padahal sebelumnya pihak Boeing menyatakan telah melakukan pengecekan terhadap seluruh pesawat yang terjual, namun faktanya, hanya dalam kurun waktu enam bulan, sudah ada dua pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 yang jatuh dengan permasalahannya yang hampir sama, yakni pilot mengalami kesulitan dalam mengendalikan pesawat yang terus menukik. Oleh sebab itu, dibutuhkan review terhadap pesawat jenis tersebut.

Untuk kembali meyakinkan konsumen bahwa pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 aman, pihak maskapai yang memiliki pesawat jenis tersebut dan menjadi korban, harus melakukan tuntutan agar perusahaan manufaktur yang berkaitan melakukan pengecekan dan investigasi yang mendetail. Kemudian hasil investigasi itu diumumkan kepada dunia.

Sementara itu, tindakan Kemenhub yang menerapkan larangan terbang bagi pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 sudah sangat baik. Lebih rugi uang dibandingkan harus kembali kehilangan nyawa. Maskapai harus mengikuti aturan yang ada sampai investigasi selesai dilakukan dan diketahui apa penyebab jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ET 302 yang menewaskan 157 penumpang. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ahli Penerbangan Universitas Pancasila

Pesawat Ethiopian Airlines ET 302 dan Lion Air JT 610 mengalami kerusakan atau masalah yang identik, yakni crash atau jatuh ke bumi setelah take-off. Lion Air JT 610 jatuh 12 menit setelah lepas landas, sedangkan Ethiopian Airlines ET 302 jatuh setelah enam menit. Artinya, dalam kurun waktu kurang enam bulan, ada dua kecelakaan sejenis yang disebabkan oleh “repetitive trouble” atau gangguan berulang.

Oleh sebab itu, pengecekan harus dilakukan oleh pabrik atau perusahaan Boeing, operator atau maskapai, dan yang terpenting adalah regulator. Kemudian nantinya pihak dari Federal Aviation Administration (FAA) akan segera mengeluarkan semacam “notice to operator” atau bahkan “airworthiness directives (AD)” ke seluruh operator. Bisa berdasarkan “service bulletins (SB)” dari pabrikannya atau hasil investigasinya sendiri. 

Operator juga dapat memeriksa armadanya sendiri dan melaporkan temuannya ke pabrikan dan regulator. Guna melindungi konsumen atau penumpang, regulator Indonesia yakni Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, perlu melakukan tindakan berjaga-jaga (preventive action).

Tindakan pencegahan tersebut dilakukan dengan cara melarang terbang sementara pesawat Boeing 737 Max 8, melakukan pemeriksaan semua dokumen perawatan dan operasi pesawat, serta catatan riwayat pesawat sejak baru hingga kini untuk memastikan 3S (safety, security dan services) + 1C (compliance). Ketiga hal tersebut tentunya harus dijalankan dengan baik dan benar. Mengecek riwayat pesawat juga merupakan penyelesaian semua perintah, kewajiban, dan petunjuk kelaikan udara berupa AD maupun SB.

Sementara itu, penerapa larangan terbang bagi seluruh pesawat dengan jenis Boeing 737 MAX 8 oleh Kemenhub merupakan langkah yang baik. Daripada celaka, lebih baik berhati-hati. Larangan tersebut tentunya dapat menyebabkan gangguan sementara dalam penerbangan, tetapi itu lebih baik karena menyangkut nyawa manusia khususnya dan keselamatan penerbangan umumnya. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Transportasi

Kecelakaan jatuhnya pesawat kembali terjadi oleh Ethiopian Airlines ET 302 dengan pesawat Boeing 737 Max-8, pesawat yang sama dengan Lion Air JT 610 ketika jatuh di perairan Karawang Oktober 2018 lalu. Kejadian jatuhnya dua pesawat ini juga hampir sama, karena sama-sama tidak lama setelah take-off dan pilot ingin kembali ke bandara semula. 

Kedua pesawat juga sama-sama baru, masih mengantongi ratusan jam terbang, bahkan ET 302 jauh lebih baru karena baru terbang pada November 2018 lalu. Secara awam pasti bertanya, mengapa selama lima bulan terjadi dua kecelakaan dengan seri pabrikan pesawat yang sama dan keduanya pesawat terbaru pula. Tidaklah berlebihan apabila masyarakat kini lebih meragukan kemampuan pesawat B737 Max-8 ini untuk mengudara melayani publik. 

Ironisnya, setelah kecelakaan ET 302 FAA (Federal Aviation Administration) sebuah badan otoritas penerbangan Amerika Serikat, mengklaim bahwa B737 Max-8 layak untuk terbang, tanpa mengetahui hasil laporan investigasi kecelakaan ET 302 dan JT 610. Namun kontradiksinya di AS bahwa FAA sendiri belum mau menandatangani bulletin B737 Max-8.

Artinya, FAA sendiri sebenarnya masih belum mau mengakui produk Boeing seri B737 Max-8 tersebut. Tidak ingin gambling dengan produk gagal atau tidak, akhirnya Senat Amerika tetap memerintahkan FAA ke pabrik Boeing khusus untuk grounded seri B737 Max-8 ini. Perlu dicermati, tidak perlu menunggu kecelakaan ET 302 ini, Lion Air telah menghentikan order B737 Max-8 dari total 186 pesanan (11 telah beroperasi dan 1 jatuh JT 610). 

Akhirnya kini sedikitnya 8 negara (termasuk Indonesia) melarang B737 Max-8 untuk sementara dilarang terbang (temporary grounded). Sebuah langkah konkrit dari pemerintah RI untuk sementara melarang terbang tersebut patut kita apresiasi karena faktor keselamatan pengguna dan kru pesawat lebih diutamakan. 

Adanya temporary grounded oleh regulator, maskapai Garuda dengan satu pesawat dan Lion mempunyai 10 pesawat B737 Max-8, telah sepakat untuk menghentikan sementara sambil menunggu keputusan pemerintah mengenai nasib B737 Max-8 tersebut. Memang pasti akan terjadi kekosongan slot penerbangan (crowded time flight) untuk mengganti pesawat tersebut. 

Barangkali khusus Garuda tidak menjadi beban berat karena hanya punya satu pesawat yang dilarang terbang. Lion Air tentunya mempunyai tugas berat karena harus mencari pengganti atau menyewa pesawat baru untuk menukar 10 pesawat B737 max 8 dalam waktu yang sangat singkat. Pihak Lion memerlukan waktu transisi untuk mencari settle flight kembali. 

Apabila tidak dalam situasi routine maintenance, sebenarnya Grup Lion Air masih punya cukup banyak pesawat B737-800, B737-900ER dan A320-200. Terlebih dengan adanya kenaikan tarif penerbangan Lion (tarif bagasi) terjadi penurunan jumlah penumpang dan beberapa slot penerbangan Lion ada yang dibatalkan, sehingga ada beberapa pesawat yang batal terbang bisa menggantikan pesawat dari B737 Max-8 yang dilarang terbang oleh Pemerintah RI. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Mimpi Komunikasi Politik Bisa Lancar             Prioritaskan Revitalisasi Industri             Dukung Investasi UKM Naikkan Daya Saing             Aparat Terlalu Berlebihan             Semua Harus Menahan Diri             Dunia Usaha Tunggu Kepastian             Stabilitas Sangat Berdampak Pada Ekonomi             Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan