Perilaku Kecebong dan Kampret, Bukti Kegagalan Pendidikan Politik?
berita
Humaniora

Sumber Foto : suara.com (gie/watyutink.com)

09 July 2018 15:30

Setiap tim kesebelasan peserta Piala Dunia punya julukan masing-masing.Denmark disebut Tim Dinamit, tim Inggris dijuluki Three Lions (tiga singa), Prancis dipanggil Les Bleus (si biru), Jerman dapat sebutan Tim Panser. Julukan atau nama lain tak hanya berlaku di sepakbola. Jagat politik juga punya. Yang paling sering kita dengar, pendukung Joko Widodo disebut kecebong, sedang penyokong Prabowo Subianto dipanggil kampret.  

Sebutan kecebong dan kampret punya muasal masing-masing. Kecebong bermula dari perilaku Presiden Jokowi yang memelihara kodok di istana. Nah, kecebong atau berudu adalah bayi-bayi kodok sebelum menjadi dewasa. Tentang kampret lain lagi ceritanya. Dulu, sewaktu Prabowo kalah di Pilpres 2014, oposisi pemerintahan Jokowi menamakan diri Koalisi Merah Putih atau disingkat KMP. Singkatan itu dibaca "ka-em-pe" yang diplesetkan jadi kampret. Kampret kita tahu, adalah kelelawar kecil atau anak kelelawar. 

Tentu saja, sebutan kecebong bagi pendukung Jokowi datang dari pendukung Prabowo. Begitu juga sebaliknya. Kubu pro Jokowi yang memanggil pendukung Prabowo kampret. Artinya, dua julukan itu bersifat ejekan. Beda dengan julukan bagi tim kesebelasan di Piala Dunia yang julukannya melambangkan kekuatan tim (mis. dinamit, singa, panser). 

Kebiasaan ejek-mengejek ini mirip perilaku anak kecil yang biasa mengejek teman sebaya dengan julukan macam-macam (biasanya berasosiasi fisik, mis. gendut, pendek dsb.). Jika demikian adanya, apa saling ejek ini menandakan perbedaan pandangan dalam berpolitik masih dalam tahapan anak-anak? 

Baik mereka yang disebut kecebong maupun kampret sama-sama militan membela junjungan masing-masing. Mengkritik Jokowi, siap-siap saja diserbu pasukan kecebong. Mencerca Prabowo, para kampret bakal langsung membalas. Kedua kubu tak lagi rasional membela sosok yang dikagumi. Apa kekaguman ini datang dari rasa cinta yang membabi buta? 

Pada kecebong dan kampret kita bisa melihat pemisahan aliran politik masyarakat berdasar sentimen keagamaan. Pendukung Jokowi mengaku berpandangan moderat atau bahkan liberal. Sedangkan pendukung Prabowo mengaku kaum konservatif bahkan bersikap fundamentalis. Sayangnya, tidak lahir adu wacana yang cerdas dari dua kubu ini. 

Perang wacana tak berlaku akibat kelewat membela junjungannya. Alih-alih berdebat dengan argumentasi rasional dan konstruktif, kedua kubu lebih asyik saling ejek yang cenderung destruktif. Alih-alih saling memahami posisi masing-masing malah debat kusir tak berkesudahan. Lalu, apa perilaku ini cermin pendidikan politik gagal menyasar rakyat kebanyakan?

Memberi julukan dari nama binatang dengan konotasi negatif tentu tak baik. Tapi kedua pihak tampaknya tak peduli. Lantas, saling ejek dan membela membabi buta ini lahir dari rasa terancam masing-masing pihak
oleh pihak lawan? 

Kita tahu saling serang dan mengejek dimulai sejak Pilpres 2014, lantas berlanjut di Pilkada DKI 2017, dan sepertinya masih berlangsung pada Pilpres 2019. Lalu, bisakah kedua pihak berdamai? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?       

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi/ Dosen FIKOM Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama)

Dalam aktivitas komunikasi politik, ada aktivitas propaganda. Ada propaganda bersifat hitam (black) dan putih (white). Teknik propaganda ada dua,name calling propaganda dan glitering generalist propaganda. Name calling propaganda itu menyentu pada simbol-simbol emosional seseorang atau negara. Contohnya yang bersifat putih antara lain: Mein Kempf Jerman; Jepang Matahari Terbit; Negeri Jiran Malayisa; dan Inggris negara Ratu Elisabeth. Kalau untuk individu: Jokowi wong cilik. Kalau yang sifatnya hitam, name calling propaganda dibikin yang jelek-jelek. Sedangkan glitering generalisis, kebalikan dari teknik name calling tadi. Jadi propaganda dilakukan untuk menyodorkan mengidentifikasikan diri dengan hal yang serba luhur dan agung.

Dari dua teknik propaganda tadi, saya melihat salah satunya digunakan dalam menyebut istilah cebong sama kampret. Kenapa disebut cebong? Cebong adalah bakal anaknya katak/kodok. Artinya ada kodok besarnya. Istilah kodok dulu kita pernah tahu ada manajemen kodok. Manajemen kodok itu kaki dua menginjak ke bawah, tangan dua mengangkat ke atas. Itu sifat kodok dewasa. Nah kalau kecebong, itu karena dia anaknya kodok dia selalu berkelompok, mengikuti ke mana katak dewasa itu pergi. Dari situ saya melihat bahwa ada partai induk, ada sub-sub partai yang mengikuti. Nah dari sini pemisahan dan penggabungannya jelas.

Kalau kampret itu kan kalelawar. Makanya buah dan terkenal serakah. Artinya, itu adalah watak. Tapi sebutan kampret di sini adalah istilah yang dipakai sebagai alat propaganda. Hal serupa sudah pernah dilakukan jauh sebelumnya. Seperti misalnya kasus “Apel Malang dan Apel Washington”. Sebelumnya lagi Gus Dur pernah menggunakan sebutan “kolor ijo” dan “bambu kuning”. Kolor ijo kalau tidak salah merujuk pada militer, dan bambu kuning istilah untuk partai berbaju kuning kala itu. Militer bisa diredam dengan komunikasi dengan bambu kuning. Itu sebenarnya hanya media propaganda saja. 

Saya melihat hal-hal seperti ini tidak perlu dikhawatirkan, dan bukan sesuatu yang substansi. Itu menjadi sebuah simbolik yang perlu dipelajari. Karena bahasa itu kalau menurur Jurgen Hebermash adalah bahasa itu akan menjadi kekuatan, bahasa itu akan bermakna mana kalau dipegang oleh orang yang memiliki kekuatan. Jadi , power language nya. Seperti misalnya warna hijau, kalau saya yang memegang, tidak berarti apa-apa. Namun warna hijau kalau Jokowi yang megang, itu akan bersimbol bahwa dia adalah pimpinan tertinggi militer. Nah, itu adalah simbolik yang memiliki makna, artinya memilik kekuatan. Sekali lagi, bahasa akan memiliki makna, memiliki kekuatan tergantung siapa yang menyampaikan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Lembaga Studi Kebangsaan 1998 (LASTIKA’98)

Penyebutan dua kata ini adalah sebagai alat komunikasi propaganda dari masing-msaing kubu. Tapi sangat disayangkan, ini bunyinya negatif. Sehingga kemudian lebih terlihat saling menjatuhkan, mencela, yang kemudian membuat jarak yang besar antar kedua kubu. Kedua kata ini, kecebong dan kampret adalah kata-kata binatang. Dalam khasana bangsa Indonesia kalau binatang itu lebih ke arah konotasi negatif. Jadi ini sebenarnya bahasa komunikasi propaganda yang tidak baik.

Juga kemungkinan peenggunaan istilah dua kata itu akan berlanjut sampai Pilpres 2019. Ini dikarenakan adanya tools/alat yang kemudian membuat propaganda dua kata ini tetap digunakan, yaitu media sosial yang sekarang lagi marak kan. Jadi pertarungan politik pun tidak bisa memungkiri tools media sosial yang paling ampuh saat ini. 

Sementara itu apakah digunakan dua kata binatang ini menunjukan pendidikan politik di institusi-institusi seperti partai tidak berjalan? Saya rasa tidak seperti itu. Beberapa partai mungkin sudah sangat masif melakukan pendidikan politik di internal, tapi ada juga yang tidak melakukan. Nah kalau penggunaan istilah kampret dan kecebing ini memang hanya sebagai alat menjatuhkan lawan. Jadi sebenarnya tidak berhubungan langsung atau linier dengan partai politik. 

Kebanyakan yang menggunakan dua kata ini mungkin non partai politik lebih banyak, walaupun mungkin partai politik ada cuman lebih sedikit lah. Mungkin lebih banyak dari kalangan relawannya, garis kerasnya, dan segala mancem. Jadi ini berbeda, jangan disamakan atau dihubungkan dengan pendidikan politik termasuk yang dilakukan dengan internal di partai politik. Istilah ini bisa mucul sangat mendakak, kemudian jadi viral dan digunakan terus. Bisa jadi yang memprodusen kata itu bukan dari partai politik, tapi dari masyarakat biasa yang sering main di media sosial.

Pola main seperti ini sudah pasti menggeser perang wacana di antara para calon pemimpin. Saya pikir dari sebelum ada dua kata ini pun memang jarang kita temukan adanya pertarungan dengan wacana yang ideologis. Hanya terlihat pertarungan yang jatuh menjatuhkan dengan serangan membabibuta dengan tidak menggunakan data dan fakta. Itu tidak ada pendidikan politiknya.
 
Kalau misalnya ada pendidikan politik, pasti menarik. Narasinya kemudian akan memberikan pencerahan kepada masyarakat, hanya segelintir orang aja yang memiliki kesadaran itu, dan yang lebih banyak malah yang tidak memiliki kesadaran itu. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Umum Relawan Jokowi (ReJo)

Anjuran yang paling pas bagi kita pada situasi yang menghangat, yaitu, tentukan sikap. Manusia yang paling dilaknat Tuhan adalah orang yang tidak punya pendirian di saat kritis.  Hidup adalah pilihan, maka pilihlah yang memberi manfaat bagi kepentingan bangsa.

Sejalan dengan itu, pilihan yang memberi manfaat tersebut dapat menjadi  penerang di saat terjadi gelap, pepatah mengatakan "lebih baik nyalakan lilin sebagai penerang, daripada mengumpat pada kegelapan".

Kita semua bertanggungjawab moral dalam menjaga harmoni, jadikan diri sendiri sebagai tauladan, hentikan menghujat, Fitnah dan Hoax. "Andai kita belum mampu membuat orang lain tersenyum, maka janganlah membuatnya bersedih". Karna kita akan berdosa jika membuat seseorang terluka bahkan hanya sedih.

Semua kita marilah bicara sebanyaknya tentang program terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara yang bertujuan memajukan rakyat dalam segala bidang. Indonesia harus maju melesat untuk menjadi pemimpin dunia. (ast)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior, Kolumnis

Ini gejala set-back, mundurnya, kewarasan politik masyarakat. Kemunduran ini diaksentuasi dengan adanya media sosial, sebuah sarana komunikasi yang memudahkan masyarakat untuk mengaktualisasikan pendapat dan  sentimen-sentimen politik. 

Saling ejek antar-pendukung politisi seringkali hanya luapan emosi sesaat dan  instan, sebagian bersifat gurauan. Namun opini instan dan gurauan ini kemudian menciptakan polarisasi politik, yang konyolnya tidak bersifat ideologis. Dukung-mendukung politik hanya ceminan pengidolaan pada figur-figur personalitas politikus, bukan pada ide, agenda,  program, atau visi.

Situasi ini adalah cerminan politik tanpa ideologi di Indonesia. Politik begitu cair, dan partai politik lebih mirip fans-klub atau supporter pemilik partai (Prabowo, Megawati, SBY); tak beda dengan suporter kesebelasan sepak bola.

Politik yang cair ini meluber kemana-mana, masyarakat turut terkena imbas berbasah-basah dalam politik, ini terlihat dari fenomena munculnya "relawan-relawan," politik atau "tim sukses" pasangan politik yang bermunculan bagai cendawan di musim hujan. 

Masyarakat berpolitik tanpa partai, ini adalah ironis. Kegiatan politik, di luar masa kampanye dan pemungutan suara, mustinya domain aktivis parpol. Masyarakat mustinya memainkan peran sebagai civil society, yang menjaga jarak dari kegiatan politik praktis. Politik adalah pertarungan gagasan, bukan pertunjukan tontonan. Masyarakat, sebagai civil society, mustinya menjaga marwah politik elegan sebagai mode mengidentifikasi dan memilih pimpinan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Jangan Bersikap Norak!              Disvestasi Saham Freeport Harus Bermakna Subtantif             Cermati Proses Transaksi             Nothing Special Soal HoA Freeport             Berhati-hati Terhadap Manuver Freeport             Di Depan Uang, Agama Semua Orang Sama             Kasus BLBI: Konspirasi Politik yang Tidak Pernah Tuntas             Membaca Pikiran Mahfud MD             Prestasi Pencitraan Pemerintah atas Freeport             Tegakkan Aturan, Tegakkan Harga Diri Bangsa (Bagian-1)