Perfilman Indonesia Krisis SDM, Apa Solusinya?
berita
Humaniora
Image credit: harifilmnasional.id 04 May 2018 14:30
Tidak ada yang menyangkal perfilman Indonesia tengah bergairah. Tapi kok dikatakan krisis SDM? 

Tahun 2017 tercatat 121 judul film panjang rilis. Tahun lalu pula, tiket bioskop yang terjual untuk film nasional mencapai rekor tertinggi, 42,7 juta tiket. Naik 15 persen dari tahun 2016: 32,7 juta tiket. Selama dua tahun berturut-turut kita menyaksikan ada film yang mencatat jumlah penonton fantastis di atas 6 juta. Kata produser Chand Parwez Servia yang juga Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) pangsa pasar film nasional
kini 35 persen atau posisi ke-8 di dunia. Artinya, pangsa film nasional cukup baik.  

Saat ini banyak orang ingin mencoba bikin film, berharap mendapat untung alias filmnya box office. Di saat bersamaan, produser-produser di rumah produksi yang telah mapan kian giat membuat film. Tidak heran saban minggu bisa lebih dari dua film nasional tayang bareng, berebut penonton. Belum lagi film nasional juga harus bersaing dengan film impor dari Hollywood yang dibikin dengan bujet super-mahal. Alhasil, investasi di perfilman sebetulnya lebih mendatangkan risiko rugi ketimbang untung. 

Namun, selain soal ketakpastian investasi, perfilman kita punya segudang masalah lain. Salah satunya--seperti ditengarai sineas Joko Anwar di Twitter-nya beberapa waktu lalu--perfilman kita tengah menghadapi krisis sumber daya manusia (SDM). Sutradara Pengabdi Setan (2017) itu bilang, "Tahun ini, diperkirakan ada 150 film yang sudah atau akan diproduksi. Artinya, dalam satu bulan rata-rata ada 12 film yang diproduksi. Kalau 1 film rata-rata butuh 120 orang kru, berarti 12 film sebulan butuh 1400 orang kru. Dan jumlah kru sekarang nggak cukup."     

Ia melanjutkan, "Saat ini, kalau mau syuting, produser kesulitan mencari kru. Para sutradara udah mulai 'rebutan' penata kamera, art directors, bahkan asisten sutradara aja sekarang sudah rebutan. Belum lagi pemain." 

Secara kasat mata, apa yang dikatakan Joko terlihat dengan satu aktor main banyak film dalam setahun. Contohnya Reza Rahadian yang sering dicap "dia lagi-dia lagi." Di departemen teknis, juga terjadi hal serupa.
Tengok misalnya, daftar nominasi kategori Penata Suara Terbaik FFI 2017 lalu. Nama Khikmawan Santosa tercatat di empat film dari enam film yang meraih nominasi. Soalnya, bukan saja Khimawan penata suara terbaik kita saat ini, namun bisa jadi juga tak banyak yang menekuni profesi itu kini. 

Pertanyaannya lalu, kenapa hal itu terjadi? Bukankah saat ini lembaga pendidikan perfilman tak hanya satu? Kenapa lulusannya tak terserap industri film kita? Lari ke mana mereka? 

Seperti juga kata Joko Anwar, karena kekurangan kru dan pemain, mereka yang tak punya cukup skill yang akhirnya dipekerjakan. Hasilnya ketahuan: mayoritas kualitas film kita buruk. Maka, alih-alih mengembalikan uang investor atau mampu bersaing dengan Hollywood, film nasional kian diemohi penonton. Hal itu menjelaskan, dari 121 film rilis tahun lalu, hanya 11 film yang mampu meraih penonton di atas 1 juta. Kebanyakan merugi lantaran tak ditonton banyak orang. 

Lantas, adakah solusi bagi lingkaran setan masalah krisis perfilman kita?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Produser Film

Saya mulai merasakan tahun ini susah cari kru film. Tim kru film yang biasa bekerja bareng saya tidak bisa ikut gabung semua. Sebagai produser, tugas saya set-up tim untuk sutradara. Tapi kemarin, saya tak dapat kru-kru yang saya mau. Saya tak dapat penata artistik, penata suara, wardrobe stylish dan DOP (director of photography, penata kamera) yang saya mau, karena mereka tengah bekerja di syuting film lain. Maka, otomatis saya harus cari orang lain. Selain orang, sekarang yang susah dicari juga peralatan. Misal, mau sewa kamera anu, ternyata lagi disewa. Akhirnya diganti kamera yang lain. 

Di semua departemen, bukan hanya pra produksi atau post-produksi, kita kekurangan SDM perfilman. Tidak usah jauh-jauh, yang sering kita keluhkan soal skenario. Kita tidak punya banyak skenario bagus. Itu syuting saja belum, masih pra produksi. Dan saat syuting orangnya itu-itu saja, nggak banyak. 

Sebenarnya, orang film sudah merasa SDM-nya kurang. Namun, kami tak pernah menemukan itu sebagai problem sampai hari ini, ketika produksi film banyak. Semua syuting film. Orang-orang yang ingin dipakai sebagai kru tak bisa karena sudah di-book di tempat lain.  

Tapi peristiwa sekarang ini ada hikmahnya. Orang-orang yang tadinya tak kami lihat, lalu kami pekerjakan sebagai kru, ternyata (hasil kerjanya) bagus. Misalnya, DOP yang saya pakai kemarin, Ivan Anwal Pane. Dia
sebelumnya DOP Surat dari Praha dan Dear Nathan. Dia banyak mengerjakan iklan, dan baru kerjakan dua film panjang. Kami coba (pekerjakan dia), ternyata oke (hasil kerjanya). Dengan demand produksi (yang tinggi) seperti sekarang, orang-orang macam dia (Ivan) akhirnya muncul. Mereka yang berada di second layer (lapis kedua). Dia tak jadi pilihan pertama, tapi setelah dicoba ternyata bagus. Semoga mereka ini bisa jadi pilihan-pilihan baru buat produser dan sutradara. 

Membuat film butuh modal besar. Modal kan kepercayaan yang diberikan investor. Sutradara Wisnu Adhi yang pernah bekerja bareng saya bilang, "Selection crew is number one." Yang harus dilakukan pertama adalah memilih the right man on the right place. Saya bisa calling (pekerjakan) DOP anu, tapi bila sutradaranya tak cocok percuma juga. Pada akhirnya, buat saya, film bukan ajang uji coba. Maksudnya begini, ketika cari orang baru macam (Ivan) Pane pun saya cari tahu dulu siapa dia, bagaimana track
record-nya, kualitas gamabr seperti apa yang pernah dia hasilkan. Jadi bukan asal comot orang out of no where lalu dijadikan DOP.

Kelanggkaan SDM perfilman ini menurut saya buakn untuk orang-orang baru terjun ke film. Itu lain. Untuk yang baru bisa lewat proses magang. Saya selalu buka magang setiap kali produksi film. Yang terjadi sekarang, ini kesempatan untuk pekerja film yang selama ini tidak jadi pilihan pertama untuk tampil membuktikan (karya) mereka ternyata bagus. 

Bekerja di film butuh proses yang harus dilalui. Ketika ada yang menggampangkan dan tak melalui proses yang panjang, itu yang kemudian terjadi di industri kreatif kita sekarang. Orang yang tak tahu apa-apa
tiba-tiba jadi sutradara atau produser film panjang. Saya tumbuh bersama (sutradara) Angga Dwimas Sasongko sejak 2005. Dia butuh sembilan tahun untuk jadi sutradara yang dikenal. Nah, anak sekarang mau nggak melalui proses itu? Misalkan, ada 100 kompetisi film pendek di Indonesia, mana yang akhirnya jadi sutradara film panjang? Hanya satu, Wregas (Bhanuteja). Mana yang lainnya? (ade)       

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh