Perempuan dalam Pusaran Ekstrimisme dan Radikalisme
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 19 March 2019 14:00
Watyutink.com - Pelibatan perempuan dalam terorisme bukan lagi merupakan hal yang baru. Sejumlah kelompok radikal atau jaringan terorisme di Indonesia khusunya, banyak yang memanfaatkan perempuan sebagai senjata untuk melancarkan serangan teror. Seperti yang belum lama terjadi di Sibolga, Sumatera Utara, di mana istri dari terduga teroris Abu Hamzah nekat meledakkan dirinya saat akan ditangkap.

Kasus itu bukanlah yang pertama, mungkin kita juga masih ingat bahwa serangan teror yang terjadi di Surabaya pada pertengahan tahun 2018 lalu juga melibatkan dua orang perempuan, yakni Puji Kuswati (43) dan Tri Ernawati (43). Puji pada saat itu membawa kedua putrinya dan meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jalan Diponegoro, Surabaya.

Sedangkan Tri Ernawati melancarkan serangan di hari berikutnya. Dia dan suaminya sama-sama meledakkan diri di gerbang komplek Markas Polisi Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya, dengan mengendarai sepeda motor. Namun, baik Puji maupun Tri rupanya bukan merupakan perempuan pertama yang terlibat dalam jaringan terorisme di Indonesia.

Pada tahun 2016, polisi juga berhasil menangkap seorang perempuan bernama Dian Yulisa Novi (28) yang berencana melakukan serangan teror bom bunuh diri ke Istana Negara. Beruntung, rencana tersebut berhasil digagalkan. Pertanyaannya, apakah saat ini perekrutan perempuan dalam kelompok radikal atau jaringan terorisme telah menjadi tren dan semakin masif?

Jika kita melihat beberapa fenomena kasus teror bom bunuh diri yang melibatkan perempuan, kita tahu bahwa peran perempuan dalam gerakan radikal tersebut merupakan pelaku utama. Bahkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Institute for Policy of Conflict (IPAC), menunjukkan perempuan mulai memegang peran penting dalam ekstrimisme dan radikalisme.

Sebelumnya, muncul anggapan perempuan terlibat terorisme karena ikut suami. Menjadi pelaku teror dijadikan sebagai bentuk kepatuhan pada suami. Dari kasus di Sibolga dugaan itu telah bergeser. Perempuan mengambil alih jadi pelaku aktif, dari objek menjadi subjek. Apa arti dari pergeseran peran ini? 

Selain itu, menurut Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, dalam wawancaranya mengatakan adanya indikasi lone wolf perempuan dalam jaringan teror di Indonesia. Jika demikian, apakah benar bahwa pemahaman radikalisme oleh perempuan lebih kuat dibandingkan laki-laki? Lantas, mengapa perempuan lebih mudah terpapar paham radikalisme?

Terlebih menurut analisis Polri, kelompok teroris yang terlibat dalam jaringan terduga teroris Abu Hamzah memiliki pola rekrutmen baru dengan melibatkan perempuan. Apakah itu artinya perempuan saat ini telah menjadi target untuk penyebaran paham radikalisme karena dianggap mudah terdoktrin? Lalu, apakah pelibatan perempuan dalam terorisme bisa dihentikan?

Bahaya perempuan yang menjadi pelaku teror telah kita saksikan di Surabaya dan Sibolga. Bahkan mereka tak segan mengajak anaknya sendiri jadi korban. Sosok ibu yang secara biologis dan psikologis dekat dengan anak juga menjadikan tingkat bahaya perempuan pelaku teror lebih tinggi ketimbang laki-laki pelaku teror. Bagaimana mencegah anak pelaku teror tak jadi korban dari pikiran sesat orangtuanya?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Perjuangan kelompok radikal telah mengalami beberapa kali proses transformasi dibandingkan gerakan yang berawal sejak puluhan tahun lalu. Pergerakan kelompok radikal tidak bisa dilepaskan dari pergerakan kekuatan geopolitik dunia. Banyak tokoh-tokoh radikal dunia dan nasional telah ikut berperan dalam proses transformasi tersebut, hingga mencapai kondisi masa kini, yang melibatkan perempuan dalam jihad.

Umumnya para pelaku terorisme memiliki pemahaman dan sikap ekstrim terhadap nilai tertentu. Kita mengenal ada yang sayap kanan seperti pelaku teror New Zealand, atau sayap kiri oleh kelompok sosialis, atau yang didasari oleh pemahaman agama tertentu.

Di Indonesia, pergerakan kelompok radikal diawali oleh gerakan DI/TII yang pada masa itu memperjuangkan penegakan syariat Islam secara penuh. Namun sejak tahun 1962, sebagian besar tokoh DI/TII sudah menyatakan kesediaan untuk mendukung negara Kesatuan Republik Indonesia, walaupun sebagian tokoh lainnya belum sepakat.

Di bawah rezim Orde Baru, pergerakan menjadi sangat ditekan, sehingga banyak tokoh harus mengamankan diri ke luar negeri, antara lain ke Malaysia. Namun pergerakan kelompok yang menginginkan penegakan syariat agama Islam tidak pernah surut. Tampil dalam berbagai jubah nama kelompok dan berafiliasi dengan kelompok internasional yang berbeda, perjuangan terus berkobar. 

Kemudian muncul kelompok-kelompok yang di kenal sebagai Jamaah Islamiyah, Mujahidin Indonesia Barat dan Timur, Jamaah Ansharut Tauhid dan Jamaah Ansharut Daulah. Perbedaan pengaruh dari kelompok Internasional juga turut mewarnai perbedaan perjuangan kelompok radikal di Indonesia. 

Kalau dulu JI dengan struktur yang ketat dipengaruhi oleh Al Qaeda. Kali ini JAD dengan struktur Yang cair dipengaruhi oleh ISIS. Seiring dengan perubahan kelompok dunia yang mulai melibatkan perempuan dan anak, demikian pula dengan Indonesia. Perempuan dilibatkan tidak hanya sebagai tenaga perekrut, tetapi juga sebagai penyedia jasa logistik, pendidik anak, memenuhi kebutuhan apapun, sampai menjadi tentara jihad.

Hal yang berbeda jika dibandingkan dengan kelompok radikal masa sebelumnya. Tak hanya itu, lebih jauh lagi, kelompok-kelompok yang ada pada masa kini juga bertransformasi dan mulai mengenal istilah lone wolf yang artinya bergerak sendiri tanpa koordinasi dengan jaringan kelompoknya. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Komisioner Komnas Perempuan

Jika kita melihat beberapa kasus terorisme di Indonesia, memang ada perubahan tren kurang lebih sejak sepuluh tahun yang lalu. Dimana peran perempuan dalam jaringan terorisme sudah mengalami pergeseran. Jadi kalau dahulu peran perempuan hanya sebagai pendukung yang berada di belakang layar, saat ini perempuan sudah berada di garda terdepan dan menjadi pelaku.

Akan tetapi kita perlu berhati-hati dalam melihat fenomena ini, karena muncul pertanyaan terkait betul atau tidaknya perempuan saat ini mengambil posisi di depan untuk kasus terorisme dengan adanya pergeseran itu. Namun yang perlu kita ketahui berdasarkan kajian yang telah kami lakukan terhadap perempuan yang terlibat dan bahkan sudah ditahan, bahwa ternyata mereka sebenarnya adalah korban.

Karena pada dasarnya, banyak dari mereka yang merupakan istri dari seorang narapidana teroris. Sehingga mereka merupakan korban dari doktrin ideologi radikalisme suami mereka. Terlebih kelompok-kelompok radikal tersebut mensyaratkan keataatan mutlak, antara istri dengan suami. Sehingga dalam pandangan mereka, suami merupakan wakil Tuhan yang perintahnya harus dipenuhi.

Sedangkan ada juga perempuan yang terlibat karena dijebak. Mereka dinikahi, terus kemudian dijebak ke dalam pusaran terorisme. Sehingga, hampi semua perempuan yang terlibat dalam ekstrimisme dan radikalisme merupakan korban. Hal itu juga dikarenakan adanya pola relasi yang tidak seimbang, dimana laki-laki lebih dominan, sehingga dapat dengan mudah mendoktrin ideologi radikal kepada istri mereka.

Menurut hasil kajian 90 persen perempuan yang merupakan istri seorang teroris, tidak mengetahui aktivitas apa saja yang dilakukan suaminya terkait dengan radikalisme. Mereka justru baru mengetahuinya setelah suami mereka ditangkap. Jadi, biasanya perempuan yang terlibat dalam terorisme merupakan korban dari ketidakseimbangan relasi dalam rumah tangga. Sehingga ada konsep dari diri mereka yang kemudian berubah.

Selain itu, saat ini gerakan terorisme juga menyasar buruh migran melalui media sosial. Jadi, internet atau media sosial saat ini juga menjadi salah satu alat yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk merekrut orang dan memperbanyak jaringan. Melalui media sosial ini juga banyak perempuan yang pada akhirnya terjebak di dalam jaringan terorisme. 

Terlebih buruh migran banyak yang mengalami keterasingan dan kekerasan. Sehingga banyak dari mereka yang mencoba untuk mencari ketenangan dengan mengikuti pengajian-pengajian yang beberapa diantaranya dijadikan sebagai media doktrin paham radikalisme oleh kelompok terorisme.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, perempuan merupakan korban dari sebuah sistem struktur sosial yang tidak seimbang dan juga korban dari struktur jaringan radikal yang memang menggunakan perempuan untuk mencapai tujuan terorisme. Bahkan banyak juga perempuan yang terlibat dalam terorisme dikarenakan oleh keputusasaan lantaran takut mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir