Penipuan Bermodus Beasiswa, Siapa yang Salah?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 05 January 2019 13:00
Kuliah di luar negeri merupakan mimpi setiap orang, apalagi kuliah dengan biaya gratis atau mendapatkan beasiswa. Banyak calon mahasiswa yang mengejar beasiswa luar negeri agar bisa kuliah di berbagai universitas ternama yang bergengsi. Hingga banyak oknum yang memanfaatkannya. Terutama bagi mereka yang belum mengetahui bagaimana prosedur mendapatkan beasiswa luar negeri yang sebenarnya.

Seperti yang terjadi pada ratusan mahasiswa yang Indonesia yang tertipu dengan beasiswa gratis di Taiwan. Bukannya mendapatkan pendidikan yang layak, ratusan mahasiswa tersebut justru disuruh bekerja secara paksa di sejumlah pabrik, dengan upah minim. Sebelumnya, mereka dijanjikan untuk kuliah sambil bekerja. Tetapi justru lebih banyak kerjanya, karena mereka hanya kuliah selama dua hari setiap minggunya.

Mirisnya, iming-iming beasiswa gratis rupanya juga hanya bualan. Karena mereka diwajibkan membayar uang kuliah dari hasil kerja mereka di pabrik. Tak hanya itu, kampus yang dituju juga merupakan kampus kecil yang secara kualitas masih kalah dengan perguruan tinggi di Indonesia. Pertanyaannya, siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini? Dan, mengapa hal ini bisa luput dari pengawasan Kementerian Pendidikan?

Bukan hanya penipuan beasiswa gratis ke Taiwan. Penipuan semacam itu rupanya sudah seringkali terjadi. Beberapa bulan yang lalu, muncul juga kasus penipuan beasiswa ke Beijing atau sejumlah universitas di Cina. Kasus itu menimpa sejumlah mahasiswa yang tergiur dengan iming-iming dari agen palsu yang mengaku sebagai orang dari Kementerian. Mereka dijanjikan mendapatkan beasiswa gratis di universitas favorit tanpa tes.

Rupanya, lembaga pendidikan yang dituju belum memiliki sertifikat dari Kementerian Pendidikan Cina agar bisa mengadakan pengajaran dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Alhasil, karena mereka masuk tidak berdasarkan prosedur yang ketat dan tanpa tes, mereka semua mengalami kesulitan dalam berbahasa mandarin. Bahkan beasiswa gratis pun tak ada, dan mereka diwajibkan untuk membayar biaya kuliah hingga ratusan juta.

Meski demikian, hanya sedikit mahasiswa yang berani mengadukan penipuan beasiswa yang sebenarnya telah terjadi cukup lama. Faktanya, di Cina cukup banyak mahasiswa dari Indonesia yang bernasib sama. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang tinggal di daerah atau pedalaman di Indonesia yang tidak memiliki akses untuk menelusuri kebenaran beasiswa tersebut. Lantas, mengapa praktik ilegal tersebut terkesan dibiarkan?

Jika belajar dari kasus mahasiswa Indonesia di Beijing, bukankah seharusnya kasus penipuan beasiswa ke Taiwan yang belum lama ini mencuat tidak terjadi? Apakah pemerintah atau Kementerian Pendidikan belum menuntaskan kasus ini hingga ke akarnya?

Apalagi Kemenristekdikti sendiri juga memiliki program kerja sama pendidikan kementerian bertajuk Industry Academia Collaboration (IAC). Kemudian, di sela perkuliahan, peserta program IAC tersebut bekerja atau magang di industri. Akan tetapi biaya hidup dan biaya perkuliahan ditanggung oleh Taiwan. Tidakkah program ini harus kembali dievaluasi karena dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh pihak tertentu?

Apabila kerja paksa yang menimpa ratusan mahasiswa Taiwan memang bukan dari program IAC dan berasal dari agen beasiswa ilegal, apakah pemerintah akan tinggal diam? Mengingat banyaknya kasus serupa yang terjadi, mengapa pemerintah tak melakukan evaluasi ulang terkait kerjasama pendidikan Indonesia terhadap negara lain? Dan, upaya apa saja yang harus dilakukan agar kejadian serupa tak lagi terulang?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Apakah anda pernah ditipu atau tertipu? Apa yang anda rasakan? Sakit bukan? Ya, tentu sangat menyakitkan. Hati siapa yang tersayat dan sakit ketika mengetahui dirinya ditipu dan menjadi korban penipuan? Ya, pasti setiap orang akan merasa sakit dan tersayat hatinya. Paling kurang rasa sangat kecewa pasti menyelimuti hati. Nah, karena kena ditipu itu sakit dan menyakitkan, maka tidak ada seorang pun yang mau ditipu. Bahkan orang gila pun akan semakin gila kalau ia ditipu.

Walaupun tertipu itu sakit dan sangat merugikan korban penipuan, karena kesal dan malu. Namun, aksi-aksi penipuan selama ini semakin banyak dan menjamur dengan berbagai modus operandi dan korbannya pun bukan hanya orang-orang yang memiliki kurang ilmu, bahkan tidak sedikit korbannya orang-orang yang berpendidikan tinggi. Mungkin ini memang zamannya para penipu bergentayangan dengan segala bentuk tipu daya serta trik sukses menipu.

Galuh Ratnatika menulis bahwa ratusan mahasiswa Indonesia tertipu dengan beasiswa gratis di Taiwan. Mereka, bukannya mendapatkan pendidikan yang layak, ratusan mahasiswa tersebut justru disuruh bekerja secara paksa di sejumlah pabrik, dengan upah minim. Sebelumnya, mereka dijanjikan untuk kuliah sambil bekerja. Tetapi justru lebih banyak kerjanya, karena mereka hanya kuliah selama dua hari setiap minggunya.

Sungguh memalukan dan terasa pilu. Betapa tidak, maksud hati ingin meraih pendidikan gratis dengan fasilitas beasiswa, tetapi yang didapat adalah rodi paksa. Sayangnya, kasus ini seperti berada di tengah lumpur yang tidak mampu diangkat ke permukaan. Padahal, korbannya bukan orang bodoh. Namun, canggihnya trik penipuan ini membuat mereka bertahan hidup dalam perangkap penipuan. Ironis sekali bukan?

Ya, tentu saja sangat ironis. Karena yang tertipu adalah orang-orang berpendidikan yang seharusnya bisa mengidentifikasi dan menganalisis setiap tawaran dengan lebih teliti dan akurat. Apalagi selama ini praktik penipuan seperti tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri tersebut, sudah lama berlansung. Paling tidak, sejak mudahnya akses internet, praktik penipuan itu sudah terjadi, ditambah lagi di era digital ini. Ini memang zamannya penipu beraksi.  Kalau tidak hati-hati, maka siaplah jadi korban.

Kalau sudah begini, lalu siapa yang salah? Pasti yang akan kita salahkan adalah si penipu. Kita tidak mau menyalahkan diri sendiri. Padahal, si penipu yang salah, memang sudah tidak perlu kita salahkan lagi, karena si penipu memang sudah berbuat salah. Maka, setuju atau tidak, harus diakui bahwa kesalahan itu adalah kesalahan kita sendiri.

Dalam hal ini, kesalahan ada pada para mahasiswa yang menjadi korban penipuan itu. Terbukti, mereka tidak hati-hati dan tidak teliti dalam memilih lembaga pendidikan di luar negeri. Mereka hanya terbuai dengan informasi yang dangkal. Padahal di era digital ini, kita bisa melakukan tracking terhadap lembaga pendidikan yang kita pilih. Sebagai mahasiswa yang hidup di era serba digital, harusnya mampu menjajaki perguruan tinggi yang dituju. Namun, karena faktor kurang hati-hati, tidak teliti dan terlena dan tergiur oleh tawaran yang sangat menjanjikan, akhirnya berbuah pilu.

Selayaknya, kita tahu bahwa tidak semua beasiswa yang ditawarkan lewat media sosial atau lewat email itu adalah tawaran yang benar. Kita pun tahu bahwa beasiswa tersebut merupakan hal yang diinginkan oleh banyak orang yang bermimpi melanjutkan pendidikan yang semakin mahal dan sangat berat bagi semua orang. Maka setiap orang, baik yang kaya atau pun yang miskin, selalu berusaha untuk mendapatkan peluang beasiswa, baik dalam negeri, maupun luar negeri.

Apalagi ke luar negeri, maka harapan untuk bisa kuliah di luar negeri pun semakin tinggi. Tingginya animo para calon mahasiswa atau juga yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di luar negeri, maka banyak pihak yang memanfaatkan animo tersebut untuk menangguk keuntungan. Banyak sekali cara yang dilakukan, salah satunya adalah dengan menyebarkan informasi beasiswa lewat media komunikasi yang semakin mudah diakses oleh semua orang.

Oleh sebab itu, setiap orang yang mencari beasisa harus hati-hati. Jangan mudah tergiur dan jangan anggap bahwa semua undangan atau beasiswa yang ditawarkan itu sebagai the window of opportunities. Kita memang harus sadar bahwa para penipu itu sangat lihai dan selalu memnafaatkan segala kondisi. Rendahnya daya literasi mahasiswa kita, membuat ratusan mahasiswa menjadi korban di Taiwan.  Kasus ini tidak boleh lagi terulang. Pemerintah harus segera turun tangan. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

FOLLOW US

Hasil Survei Capai Steady State, Pergerakan Semakin Flat             Survei Kompas Bukan Acuan Satu-satunya Kalah-Menang             Pemerintah Desa Mestinya Netral             Petahana Alami Kepanikan             Hoax Berpotensi Ganggu Kualitas Pemilu dan Demokrasi             Membangun Kembali Link and Match dan Revitalisasi BLK             Harus Serius Kembangkan Competitive Advantage             Perempuan yang Terlibat dalam Terorisme Merupakan Korban             Kelompok Radikal Di Indonesia Telah Bertransformasi             Anggaran Apel Kebangsaan Kurang Proporsional