Pasca-kecelakaan Tol Cipali: Lindungi Sopir, Lindungi Penumpang
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 18 June 2019 17:30
Watyutink.com - Peristiwa kecelakaan maut di KM 150 Tol Cipali, Senin dini hari kemarin mirip adegan film aksi. Seorang penumpang merangsek ke depan, berusaha mengambil alih kemudi bus. Terjadi saling rebut kemudi. 

Sejurus kemudian bus yang menuju Cirebon itu oleng, menyeberang ke arah berlawanan. Tabrakan beruntun tak terhindarkan. 

Bus menghantam mobil Toyota Innova, truk dan menimpa Mitsubishi Xpander hingga ringsek. Kecelakaan itu menewaskan 12 orang, termasuk sopir bus dan enam orang yang berada di Mitsubishi Xpander. Penumpang yang disinyalir jadi penyebab kecelakaan maut terluka. 

Entah apa yang menyebabkan penumpang bernama Amsor menyerang berusaha mengambil alih kemudi. Ada yang mengatakan ia berhalusinasi, merasa terancam hendak dibunuh. Kita tak tahu kondisi kejiwaannya, apakah ia menderita suatu gangguan jiwa atau ada hal lain. 

Yang jelas, tak mungkin mengecek kondisi kejiwaan calon penumpang satu per satu. Lazimnya, pengecekan kondisi fisik dan mental berlaku untuk sopir bukan penumpang. 

Meski begitu, kecelakaan maut ini sejatinya bisa dihindari bila sang sopir dilindungi. Ia diberi tempat steril dari penumpang. Kenapa di bus Safari yang naas kemarin sopir tak dilindungi tempat steril?

Bus AKAP tanpa tempat steril untuk sopir hal lazim di negeri ini.Terutama untuk perjalanan menengah antara Jakarta ke kota di Jawa Barat seperti Kuningan, Majalengka, dan Cirebon. Tarif busnya tergolong murah bagi orang kebanyakan. Namun, akhirnya pihak PO juga malas meremajakan bus mereka. Bus-bus tua yang tak nyaman dan aman terus bersliweran di jalan. Apa pihak PO takut ditinggalkan penumpang bila beli bus baru dan menaikkan harga?

Kecelakaan di tol Cipali mengingatkan kita untuk pentingnya menjaga keselamatan pengemudi. Sebab, menjaga keselamatan sopir berarti juga menjaga keselamatan penumpang. Kenapa kebanyakan bus AKAP di Indonesia tak melengkapi dengan pelindung atau area steril bagi sopir? 

Apa saat uji KIR hal itu tidak termasuk dalam kompenen kelayak-jalanan? Jika tak diatur celakalah kita...

Bus Transjakarta yang beroperasi di dalam kota sudah meremajakan busnya dan dilengkapi area steril untuk sopir. Peremajaan bus AKAP, terutama di rute Jakarta dan kota-kota di Jawa Barat terbilang lambat. Apa kendalanya? Perlukah pemerintah turun tangan mengatasinya demi keselamatan pengguna angkutan umum?

Kita boleh senang kini sepanjang pulau Jawa terhubung tol. Namun bukan berarti infrastruktur jalan tol telah sempurna. Tol Cipali, misalnya, tak dilengkapi pembatas jalan. Andai ada, apa bisa meminimalisir dampak kecelakaan? Bagaimana bentuk pembatas jalan yang ideal?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat transportasi

Urusan angkutan umum ini memang cukup pelik dan memang harus segera diberesi. Mudah-mudahan lima tahun ke depan sudah selesai. Beberapa hal sudah mulai dibereskan, seperti terminal. Bus memang belum (dibereskan). 

Bus AKAP bervariasi kondisinya. Bus yang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur umumnya sudah baik dan tempat sopir steril. Rata-rata sudah bagus busnya. Tapi bus yang ke kota di Jawa Barat seperti Cirebon, Tasikmalaya, atau Cikampek umumnya belum dilengkapi itu dan tua usianya. Busnya butut-butut.

Buat PO bila mengganti bus baru dan harganya dinaikkan takut nggak ada yang naik. Ini jadi problem juga. Tapi memang harus diperbaiki, minimal standar keselamatannya. 

Kebijakan ruang steril untuk sopir di bus AKAP memang belum ada. Semoga dengan kejadian di Tol Cipali kemarin jadi pemikiran (untuk mengatur hal itu) juga. Dulu yang ada aturan pintu sebelah kanan sopir ditutup, untuk mencegah sopir kabur bila ad

Namun masalah utamanya begini, dulu ada Direktorat Keselamatan Jalan. Sekarang tak ada lagi. Sehingga hal seperti ini tak ada yang mengurus. Mereka yang bisa mendalami untuk mencegah kecelakaan seperti ini.

Di lokasi rawan kecelakaan perlu diberi Marka Profil. Begitu kena marka, bannya bergetar, sopir yang mengantuk, misalnya, bisa tersadar. Idealnya memang dipasang pembatas jalan gate rail. Tapi berapa kilometer harus dipasang, jalannya panjang sekali. 

Asupan pengemudi, takaran makannya harus diperhatikan. Dengan tol sepanjang ini sisi pengemudi harus diperhatikan. Jadi harus mulai dipikirkan kesehatan pengemudi, tak hanya memikirkan kondisi bus. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Transportasi

Kecelakaan di tol Cipali mengingatkan kita untuk pentingnya menjaga keselamatan pengemudi. Memang kita masih akui bahwa manajemen transportasi darat kita masih banyak yang belum professional dalam hal rekrutmen pengemudi, mengatur kesehatan/psikologi pengemudi, pergantian waktu pengemudi dan sistem pemberian insentif (penggajian) para pengemudi. 

Sebenarnya regulasi aturannya tetaplah ada (sesuai SPM) hanya saja perusahaan-perusahaan otobus masih kurang disiplin dalam hal tata kelola manajemen transport, hal ini dikarenakan ingin lebih efisien dalam hal pembiayaan produksi. 

Sarana bus sering dilakukan ramp-check, namun pengemudi jarang dilakukan check kesehatan dan psikologis. Terkadang hanya special event seperti mudik lebaran dan nataru, pengemudi bus hanya tes urin untuk mendeteksi kandungan narkoba.  

Dalam SPM Permenhub 28/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 46 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Usia kendaraan/bus antar kota antar provinsi (AKAP) serta angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) yaitu paling lama 25 tahun. Sebelum usia 25 tahun apabila selalu dilakukan ramp-check dan perawatan yang rutin niscaya operasional bus dapat terjamin keselamatannya. 


Kalau untuk bus AKAP kita masih lebih baik kira-kira usia nya masih 10 tahun. Kalau perusahaannya busnya bonafid ada juga usia nya bus dibatasi hanya 5 tahun, setelah 5 tahun busnya dijual. 

Ruang steril bagi pengemudi seperti bus BRT (TransJakarta) untuk AKAP masih belum ada standarisasinya untuk ruang steril pengemudi, makanya bila busnya AC lalu pengemudinya merokok sebenarnya juga sangat mengganggu para penumpang bus dan tentunya melanggar SPM. 

Dalam uji-kir tidak mengecek ruang steril pengemudi, hanya mengecek piranti keselamatan sarana bus (seperti: speedometer, ban, rem, sign

, wiper, spion, lampu depan/belakang dan lain-lain)


Lalu sering kita lihat, terutama musim mudik, bus AKAP memberi tambahan kursi di tengah dan sisi supir. Sesuai aturan standar maksimum kapasitas angkut bus sebenarnya tetap tidak boleh melebihi kapasitas beban dengan diberi tambahan kursi, karena tetap akan melanggar SPM. 

Logikanya bertambah 1 orang penumpang bila rata-rata berat manusia 50 kg (dikalikan saja akan ditambah berapa penumpang), bila semakin berat dari berat isi bus konsekuensi nya apabila semakin banyak tambahan penumpang akan mengganggu kinerja rem bus itu sendiri. Sayangnya pelanggaran SPM seperti kelebihan muatan Bus ini masih belum ada sanksi nya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung