Pasangan Berbeda Bangsa, Sulitkah Beradaptasi?
berita
Humaniora

Sumber Foto : posbelitung-tribunenews.com

24 September 2017 00:00
Penulis
“Wah, asyik ya, suaminya bule”, seringkali kalimat itu dilontarkan kepada pasangan berbeda bangsa. Pandangan orang lain tentu sebatas kulit luarnya. Sedangkan bagi pasangannya, beragam persoalan menyambut.

 

Pandangan umum, perempuan bersuami bule pasti secara finansial “tajir” alias banyak uang. Benarkah demikian? Apa semua bule memiliki karier atau pekerjaan yang menjanjikan?

 

Nyatanya, punya pasangan bule diimpikan sebagian perempuan Indonesia. Ada yang dinamakan “bule hunter”, perempuan mengejar cowok bule untuk dijadikan pasangan atau pacar. Fenomena bule hunter ini bisa menjerumuskan pada kasus scammers, penipuan lewat kencan. Banyak penipuan terjadi melalui kencan online di media sosial atau aplikasi di jejaring teknologi digital. Tidakkah mereka sadar akan bahaya itu? Atau, telah silau duluan dan terpikat bujuk rayu si bule?

 

Sejatinya, orang jahat tak hanya bule. Pria lokal pun bisa jadi penipu. Punya pacar atau suami bule juga ada untungnya. Sikap mereka yang terbuka dan demokratis jarang ditemukan pada pria lokal umumnya. Mereka juga menerima sikap persamaan gender, pria dan perempuan setara.  

 

Namun, yang harus dipikirkan seribu kali sebelum kencan serius dengan bule adalah, siapkah si perempuan menghadapi kerepotan bila menikah kelak? Diboyong keluar negeri? Bayangkan, dua manusia berbeda bangsa, bahasa, tradisi, budaya hingga karakter. Tidak mudah beradaptasi. Belum lagi, persoalan lingkungan hingga keyakinan agama serta urusan administrasi kependudukan. Siapkah punya pacar bule? Watyutink?

 

 

 

 

 

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pekerja Kreatif

Perempuan yang memiliki pasangan bule dan mengekslusikan pilihan lain. Fenomena ini ada sejak dulu. Dari zaman kolonial Belanda, orang lokal dapat pasangan Belanda-- otomatis kelas sosial naik. Meski sebagian orang di zaman sekarang ada yang berpikiran sama. Toh, fenomena ini tidak terjadi di negara kita aja, tapi di negara lain, yang terkenal dengan mail order bride nya.

Ada beragam alasan mengapa perempuan Indonesia memilih bule sebagai pendamping hidupnya, ada faktor kemapanan finansial, ingin melihat dunia dan bisa jalan ke luar negeri. Faktor kebebasan dan keturunan yang bagus. Faktor yang paling murni adalah “cinta” dan “takdir”.

Saya prihatin, banyak perempuan Indonesia beranggapan menikahi pria bule gampang, hidup terjamin, kaya raya dan lainnya. Tanpa menyelidiki dulu pria bule sama dengan pria manapun di dunia, ada yang brengsek/tak bertanggung jawab dan ada yang baik.

Cara menggaet pria bule diantaranya melalui media sosial dan online dating service. Paling ekstrim, menjaring pria bule di bar-bar hotel atau night club. Juga jadi guide sesaat para turis di Bali atau Yogyakarta, dimana komunitas seperti ini sangat besar.

Disayangkan bila ‘perempuan’ gunakan pesona tubuhnya untuk menarik hati pria bule tanpa memikirkan nilai moral. justru melupakan rasa hormat dan tidak menghargai diri sendiri. Sesuatu yang berbeda memikat hati, pun wanita Indonesia yang suka pria bule karena tradisi dan  budaya. Fisik yang berbeda dari pria lokal, juga pria bule melihat wanita Indonesia yang eksotis.

Modus lebih canggih, menyalahgunakan visa studi yang diberikan oleh universitas di Indonesia atau visa program pertukaran budaya-- tapi malah tidak pulang/mengabdi ke tanah air/negara setelah dibiayai oleh pemerintah/lembaga pendidikan yang mengirim, tapi justru memilih menetap di luar negeri setelah punya kekasih bule. 
 

Pengalaman saya dengan pasangan orang Inggris semata-mata, dia menyukai saya sejak awal kenal. Hubungan saya dan Sam, tidak selalu mulus, berpacaran selama 1 tahun membuat kami saling mengenal karakter. Pasangan pria bule itu berat, banyak perbedaannya; bahasa, budaya, makanan dan lainnya. Stigma di masyarakat sering salah. Buat saya bule seperti pria Indonesia kebanyakan.

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan, Warga Philadelphia-Pennsylvania, AS

Menurut saya, gak ada resiko kalau kedua-duanya saling mengerti. Benturan budaya pasti selalu ada. Misalkan, minum bir (minuman beralkohol) yang menjadi kebiasaan bule sampai selera makan yang berbeda hingga perbedaan agama. Tapi yang paling parah, gak mandi dalam beberapa hari.

Yang pasti, jangan harap bule mau menganut agama Islam secara total. Kalau dia beda agama, ya siap-siap mau tetap minum bir bareng, at least deh. Bule gak makan nasi dan beda selera makan atau kulinernya.

Kecuali punya pasangan bule yang sabar dan baik hati, dan itu jarang sekali. Jangan lupa, mereka cenderung mandiri, bahkan punya rekening bank yang terpisah. Orang bule ada yang terbuka dan tertutup. Tapi kalau hati sudah mantap ya jalani saja. Kalau gagal ya cerai. Jalani mumpung ada ditaksir dan naksir.

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF