Ojek Online Jadi Beringas, Mengapa?
berita
Humaniora

Sumber Foto: transonlinewatch.com  (gie/Watyutink.com)

09 March 2018 13:00
Penulis
Keberadaan angkutan online semakin tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kota besar. Baik ojek maupun taksi online kian diterima dan dirasakan manfaatnya. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi beberapa tahun lalu, saat angkutan online mulai mewabah. Kala itu mereka diburu dan dipersekusi layaknya penjahat. Masih belum hilang dari ingatan kita pengemudi ojek online yang dianiaya ojek pangkalan. 

Kini keadaaanya seperti terbalik. Di saat keberadaan angkutan online semakin diterima, muncul sikap berlebihan dari para pengemudi angkutan berbasis aplikasi tersebut. Jumlah mereka tak hanya banyak, namun juga mendominasi. Ojek online kini seolah menjadi “raja jalanan”.

Dan kita kini mulai mengalami efek buruknya. Beberapa waktu lalu terjadi perusakaan mobil oleh pengemudi ojek online di underpass Senen, Jakarta Pusat, hanya karena pengemudi mobil membunyikan klakson untuk meminta jalan.Kasus terakhir adalah pengeroyokan terhadap dua orang anak jalanan di Tambora, Jakarta Barat, yang mengakibatkan salah seorang korban tewas. Disinyalir penyebabnya adalah dendam karena pengemudi ojek online pernah dicopet korban. Kejadian ini menambah daftar kasus yang melibatkan ojek online.

Pertanyaannya lalu, mengapa para pengemudi ojek online jadi beringas? Apakah kini mereka merasa keberadaan angktan online yang kini diperlukan sehingga merasa berada di atas angin? Atau, karena jumlah mereka yang kini sangat banyak sehingga cenderung bersikap berani? 
Kenapa kelakuan geng motor yang brutal diadopsi sejumlah pengemudi ojek online?

Berbicara tentang ojek online kita juga bicara ironi. Di satu pihak perkembangan perusahaan ojek online semakin meningkat. Masuknya investor asing yang menggelontorkan dana dalam jumlah besar membuat perusahaan ojek online semakin menggurita dan merambah segala sisi kehidupan.

Tapi di sisi lain perkembangan perusahaan itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan mitra pengemudinya. Di awal keberadaanya tiga atau empat tahun lalu, kesejahteraan pengemudi ojek online bak kejatuhan bulan. Seorang pengemudi ojek online bisa meraih penghasilan besar.

Tapi itu cerita masa lalu. Kini untuk mendapatkan penghasilan setara dengan UMR DKI Jakarta saja terasa sulit. Beragam promo yang digulirkan perusahaan ternyata hanya memberikan keuntungan bagi pelanggan dan perusahaan, tapi tidak bagi pengemudi.

Persaingan mendapat penumpang pun semakin berat. Jumlah pengemudi online kini mencapai 250 ribu orang. Bisa dibayangkan betapa sulitnya mereka bersaing berebut penumpang saban hari. Sementara itu kebutuhan ekonomi keluarga tetap harus dipenuhi. Mungkinkah tekanan ini yang membuat pengemudi ojek online menjadi mudah terpancing emosi dan bertindak brutal? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ysf)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Tata Kota

Sebetulnya permasalahan ini berawal dari terjadinya kontestasi antara pengemudi online dan bukan online yang menyebabkan perseteruan antar kelompok. Dominasi ojek online yang semakin nyata membuat eksistensi kelompok lain tergerus.

Harus diakui bahwa keberadaan ojek online semakin hari kian diterima dan dibutuhkan masyarakat. Berbagai kemudahan yang ditawarkan sangat menarik dan membantu kegiatan sehari-hari masyarakat. Dengan kata lain, saat ini keberadaan ojek online sudah dibutuhkan oleh masyarakat.

Bisa jadi beberapa pengemudi menanggapi kondisi ini secara berlebihan. Mereka menjadi bagian masyarakat yang harus diakui keberadaanya. Dalam beberapa kasus muncul pula rasa solidaritas yang berlebihan. Jika ini terjadi maka ojek online tidak ada bedanya dengan geng motor yang seringkali melakukan kekerasan.

Sedikit saja ada pemicu, mereka bisa melakukan tindakan berlebihan. Yang sangat disayangkan adalah seringkali korbannya adalah masyarakat yang tidak tahu apa-apa. Pokoknya yang ada di sekitar mereka langsung diserang.  

Kekerasan yang dilakukan ditujukan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak boleh diganggu. Ini semacam kekerasan simbolik, semacam sinyal untuk jangan sekali-sekali mengganggu mereka.

Dalam mengatasi keadaan ini seharusnya pihak perusahaan aplikasi tidak boleh berlepas tangan. Perusahaan aplikasi harus ikut bertanggung jawab menyelesaikan persoalan ini. Pasalnya bisa jadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pengemudi adalah akibat dari tekanan dan eksploitasi yang dilakukan oleh perusahaan.

Di sisi lain perkembangan perusahaan aplikasi yang semakin meningkat dengan masuknya para investor tidak dirasakan oleh para pengemudi. Kita selama ini tidak tahu berapa sih keuntungan yang didapat perusahaan dari “berjualan” aplikasi. Yang terjadi hanyalah perusahaan berulangkali  menjanjikan bonus atau insentif kepada pengemudi. Padahal untuk mendapatkannya sangat sulit. Sangat terasa bahwa perusahaan mengeksploitasi para pengemudi. Perusahaan mendapat banyak keuntungan dengan kegiatan para pengemudi.

Seharusnya eksploitasi yang dilakukan perusahaan dibarengi dengan tanggung jawab untuk melindungi para pengemudi. Melindungi saat pengemudi menemui masalah, baik masalah saat bekerja di jalan seperti kecelakaan, penyerangan dan lain-lain maupun masalah saat tidak bekerja di jalan misalkan saat sakit dan sebagainya.

Selain itu perusahaan harus melakukan pembatasan jumlah pengemudi. Pasalnya dengan jumlah yang sekarang saja pengemudi sudah sulit untuk bisa mencapat bonus atau insentif. Pembatasan jumlah pengemudi pasti akan berdampak positif bagi pendapatan pengemudi.

Selain itu ada baiknya pengemudi bersatu membentuk satu wadah atau organisasi yang bisa menampung dan memperjuangkan keluhan mereka. Sehingga para pengemudi bisa mempunyai bargaining power ketika berhadapan dengan perusahaan aplikasi. Dengan jumlah yang sangat banyak pasti perusahaan aplikasi akan lebih memperhatikan keluhan pengemudi jika disalurkan melalui sebuah wadah atau organisasi.

Selama ini hubungan antara perusahaan aplikasi dan pengemudi adalah mitra. Artinya tidak seperti hubungan perusahaan dan karyawan. Seharusnya hubungan yang semacam itu tidak menghalangi perusahaan untuk memperhatikan kepentingan dan hak pengemudi. Inilah gunanya para pengemudi bersatu dalam sebuah wadah atau organisasi.  

Diperlukan pula kehadiran pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Terlebih permasalahan trasportasi adalah hal yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. Jangan sampai masyarakat selaku konsumen atau pengguna angkutan online merasa dirugikan. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Apa yang terjadi saat adalah analisa holistik terhadap layanan transportasi online. Kehadiran transportasi online adalah jawaban atas tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat atas tersedianya layanan jasa transportasi yang aman, nyaman, dan harganya terjangkau.

Untuk itu perusahaan harus dapat menjamin kualitas pelayanan. Karena ini terkait dengan sumber daya manusia, yaitu para pengemudi ojek online, maka perusahaan harus menghadirkan pengemudi yang berkualitas. Untuk itu diperlukan proses rekrutmen yang baik, tidak sekadar punya motor dan SIM. Tapi juga sisi psikologis.

Sangat disayangkan proses seleksi semacam itu tidak terjadi. Bisa jadi karena adanya permintaan yang cukup besar. Artinya ada demand yang cukup besar dan harus segera dipenuhi dengan supply pengemudi. Nah, disinilah letak permasalahannya. Seringkali kualitas atau kriteria para pengemudi terabaikan.

Sebagai ujung tombak perusahaan dalam memberikan pelayanan sikap para pengemudi bisa menentukan citra perusahaan. Pengemudi yang mampu melayani konsumen dengan baik akan memberikan efek positif bagi perusahaan. Sebaliknya pelayanan yang buruk dari pengemudi akan menurunkan citra perusahaan. Bahkan pada akhirnya akan menghancurkan citra perusahaan. Belum lagi dengan adanya oknum-oknum yang sengaja merusak tatanan atau sistem yang ada. Bukan hanya pengemudi yang memiliki motif jahat dan perilaku kekerasan tetapi juga pengendara lain.

Oleh karena itu penting bagi perusahaan transportasi online untuk meningkatkan kualitas rekrutmen dan seleksi pengemudi. Selain itu juga meningkatkan kualitas sistem untuk meningkatkan keamanan pengemudi dan pengguna. Pasalnya saat ini kasus pengendara kendaraan yang dilukai oleh pengemudi online meningkat namun di sisi lain kasus pengemudi yang dilukai oleh pengendara lain pun bertambah.

Seharusnya perusahaan transportasi online mengadakan semacam fit and proper test secara berkala terhadap para pengemudi. Pengemudi yang mempunyai profil psikologis tidak baik dan bermasalah dapat diputus kerja samanya. Diperlukan sistem yang mampu mendeteksi pengemudi bermasalah.

Profil psikologis pengemudi adalah hal yang penting. Pasalnya hal inilah yang sering menjadi akar permasalahan. Masalah lain, seperti ekonomi atau pendapatan pengemudi hanyalah pemicu. Dengan jumlah pengemudi yang cukup besar maka profil psikologis pengemudi yang tidak baik dapat menimbulkan masalah yang besar.

Terlebih sifat dasar manusia kalau sudah bersama-sama apalagi dalam jumlah besar muncul keberanian. Ini adalah perilaku instingtif manusia. Jika ada yang memicu, atau ”mengompori” maka akan muncul permasalahan seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir.

Perusahaan juga harus peka dan kritis. Artinya perusahaan harus memperhatikan kepentingan pengemudi, terutama dalam hal kesejahteraan. Meski hanya sebagai pemicu, tapi kesejahteraan sangat besar pengaruhnya bagi pengemudi.

Jika kesejahteraan pengemudi terjamin maka mereka akan bekerja dan melayani konsumen dengan baik. Jika konsumen puas maka pasar akan semakin meningkat dan tentu saja keuntungan perusahaan meningkat pula.Sebaliknya pengemudi yang tidak berkualitas akan membuat pelanggan kapok atau enggan menggunakan jasa mereka lagi. Akibatnya tentu saja penurunan keuntungan perusahaan.

Jadi yang utama dalam hal ini adalah perilaku pengemudi ojek online. Jika dari awalnya psikologisnya bermasalah pasti akan terbawa terutama saat mengemudi dan membawa penumpang. Ditambah dengan lalu lintas Jakarta yang macet, panas dan ditambah dengan beban ekonomi maka sedikit saja ada pemicunya mereka bisa langsung terpancing. Akibatnya adalah mudah melakukan kekerasan. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Saya piker tindakan kekerasan yang akhir-akhir ini terjadi tidak hanya dilakukan oleh pengemudi ojek online tetapi juga dilakukan oleh segala lapisan masyarakat. Gejala kekerasan semacam ini  seperti yang ditulis oleh Frederick Dickson terjadi akibat adanya keterbatasan sumber daya dalam masyarakat yang sedang membangun, baik sumber daya alam, pekerjaan dan sebagainya. Celakanya keterbatasan sumber daya itu terjadi tanpa disadari.

Namun keadaan ini juga terjadi karena meningkatnya kesejahteraan penduduk yang tanpa disadari telah meningkatkan kebutuhan hidup dalam jumlah dan ragamnya. Dulu makan sehari dua kali mungkin sudah cukup tapi sekarang harus tiga kali. Jenisnya pun semakin beragam sesuai dengan selera masyarakat. Mulai dari kelas kaki lima, warteg, hingga rumah makan bintang lima.

Meningkatnya kebutuhan itu sudah barang tentu dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan akan dana atau uang, dalam artian masyarakat membutuhkan lebih banyak uang untuk bisa membeli segala ragam kebutuhan tersebut. Hal ini menimbulkan persaingan dikalangan penduduk terutama untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Persaingan yang tidak disertai dengan peningkatan daya saing artinya kemampuan usaha dan lapangankerja dapat menimbulkan perkelahian dan perebutan yang tidak fair. Akibatnya adalah dicari pihak-pihak untuk dijadikan kambing hitam. Pihak-pihak itu bisa dari kalangan orang kaya, pengusaha, dan lain-lain. Atau mereka yang hidup dijalanan. Tidak sedikit terjadi persaingan antara PKL, UKM, dan warteg.

Nah, hal ini tentu membutuhkan pengaturan yang cermat dan tidak asal tambal sulam, misalnya butuh pekerjaan lalu langsung dibuatkan PKL berjualan di jalan. Bukan begitu caranya. Melainkan dengan meningkatkan daya saing mereka dan salah satu caranya melalui pendidikan. Mereka yang tidak punya daya saing dan pendidikan yang cukup perlahan akan tersisihkan. Salah satu contohnya adalah saat ini banyak lulusan SMA yang sekedar lulus hanya menjadi tukang ojek.

Persaingan yang tidak fair tersebut akan mudah memancing emosi, gerakan massa, dan kekerasan melalui simbol-simbol primordial atau kesamaan profesi. Mereka bersatu untuk menyingkirkan siapapun yang dianggap menghambat kegiatan mereka.

Ini adalah bagian dari gejala keterbatasan ecological dan ini yang harus diatasi, bukan gejalanya tapi akar masalahnya. Yaitu pendidikan untuk meningkatkan daya saing. Apapun fasilitas yang diberikan tidak akan ada gunanya tanpa pendidikan.

Sifat alami manusia ingin berkumpul menyatu dengan kelompok yang senasib atau satu identitas. Masalahnya adalah mengapa mereka harus berkumpul dan melakukan persekusi. Kalau berkumpulnya tentu tidak masalah, tapi mengapa mereka harus melakukan kekerasan? Bisa jadi karena kurangnya daya saing. Itulah penyebabnya.

Oleh karena itu peningkatan daya saing melalui pendidikan adalah penting dan bisa menjadi solusi pemecahan masalah. Dan semua pihak, perusahaan dan pemerintah perlu ambil bagian dalam hal ini. Perusahaan sebaiknya tidak hanya memberikan bonus atau insentif, tetapi juga memberikan pelatihan atau pendidikan. Sebab selama ini, saya rasa, hubungan antara pengemudi ojek online dan perusahaan sudah cukup baik. Secara ekonomi para pengemudi ojek online juga sudah cukup. Maka peningkatan kemampuan dan wawasan pasti akan bermanfaat bagi mereka.

Pemerintah juga harus membantu dengan membuat peraturan-peraturan yang tidak menyulitkan. Sebab seringkali tekanan yang dirasakan para ojek online bukan berasal dari perusahaan melainkan dari aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah. Meskipun jika peraturan itu dilaksanakan tidak terlalu sulit. Namun karena kekurangan sumber dan wawasan maka terlihat sulit. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI