Nasib Mantan Atlet, Dipuja Ketika Jaya Merana di Hari Tua
berita
Humaniora
Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com) 31 July 2018 17:30
Perhelatan Asian Games tinggal beberapa hari lagi. Tekad Indonesia sudah bulat, meraih prestasi terbaik selain menjadi tuan rumah terbaik. Beragam hadiah dijanjikan pemerintah bagi atlet yang berprestasi seperti  uang Rp1,5 miliar dan peluang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sangat menjanjikan.

Begitulah atlet zaman sekarang. Bila berprestasi bukan hanya pamor yang bersinar tapi rumah, mobil, penampilan pun turur bersinar. Limpahan bonus membuat hidup mereka jadi nyaman. Tapi bagaimana dengan atlet tempo dulu? Apakah mereka pun menikmati hasil jerih payah mereka?

Ada beberapa atlet yang kini sudah pensiun menikmati hari tua yang bahagia. Tak sedikit dari mereka terjun ke dunia bisnis bermodalkan uang hasil jerih payah mereka di lapangan olahraga. Mantan atlet bulu tangkis Indonesia, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma, salah satunya.

Pasangan suami istri peraih medali emas pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade ini kini menjadi pebisnis alat olahraga berlabel Astec, akronim dari Alan Susi Technology. Bukan hanya di dalam negeri, raket merek Astec juga banyak diminati atlet manca negara.

Namun sayangnya tidak semua mantan atlet bernasib baik seperti Susi dan Alan. Ada banyak mantan atlet yang bernasib ‘malang’ hidup dalam kondisi kekurangan. Di antaranya bahkan sangat memperihatinkan.

Siapa yang tak kenal Ellyas Pical. Mantan juara dunia tinju kelas Super Flyweight IBF (International Boxing Federation) ini pernah menjadi superstar di era 80’an. Setelah gantung sarung tinju Elly hidup merana dan hanya menjadi penjaga keamanan sebuah tempat hiburan malam di Jakarta. Elly bahkan pernah dipenjara selama tujuh bulan karena kasus narkoba.

Leni Haini, mantan atlet dayung peraih medali emas SEA Games  1997 dan 1999 serta tiga medali emas kejuaraan perahu naga Asia di Singapura tahun 1996 dan Taiwan tahun 1998. Di masa tuanya, Leni bertahan hidup dengan menjadi buruh cuci berpenghasilan tak menentu.

Nasib malang juga dialami Suharto mantan atlet balap sepeda era 80an. Di masa tuanya ia harus menjadi tukang becak untuk menghidupi keluarganya. Bahkan saat terkena sakit hernia, peraih medali emas Sea Games 1979 Malaysia ini harus mengikat perutnya dengan ban dalam sepeda. Beruntung KONI Jatim bersedia memberikan bantuan penyembuhan sakitnya.

Mengapa bisa begitu? Tidak adakah perhatian pemerintah terhadap para mantan atlet?

Mantan juara dunia bulutangkis Taufik Hidayat pernah berujar, dunia olahraga ibarat habis manis sepah dibuang. Saat berprestasi beragam perhatian dan apresiasi diberikan pemerintah. Tapi saat prestasi memudar perhatian pun hilang.

Pernyataan Taufik diamini oleh Ricky Subagja, mantan juara dunia bulutangkis ganda putra. Ricky mengatakan tidak ada jaminan hari tua bagi seorang atlet. Meski saat berprestasi banyak mendapatkan hadiah dan bonus, tapi hal itu tidak memberikan jaminan saat sudah pensiaun.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault meminta pemerintah membantu kesejahteraan mantan atlet. Pasalnya atlet adalah duta bangsa yang mengharumkan nama Indonesia. Hanya dua peristiwa dimana lagu Indonesia Raya berkumandang di luar negeri, saat kunjungan presiden dan saat seorang atlet menjadi juara.

Jika atlet adalah duta bangsa, mengapa nasibnya merana di usia tua. Apakah memang atlet hanya dipuja saat jaya dan merana kala turun arena? Jika profesi atlet masih kurang menjanjikan, bagaimana mungkin generasi muda tertarik menjadi atlet?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior 

Kalau menurut saya negara memang tidak mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk memperhatikan para atlet. Baik sumber daya maupun sumber dana yang terbatas.

Atlet adalah profesi yang pendek, hanya sampai akhir usia 20an. Memang ada beberapa cabang yang bisa bermain hingga di atas 30an. Tapi rata-rata usia karir seorang atlet memang pendek. Makanya kalau tidak pintar-pintar memanfaatkan prestasinya untuk mengejar keuntungan finansial maka saat sudah pensiun hidupnya jadi agak susah.

Walaupun berjasa bagi negara. Pemerintah sekali lagi memang tidak mampunyai kemampuan untuk mendanai atlet-atlet berprestasi ketika memasuki usia lanjut. Kalau pun diadakan tentu sangat baik, tapi hal itu tentu memerlukan dana yang cukup besar. Dan sayangnya pemerintah tidak mempunyai dana untuk itu. Penghargaan yang bisa diberikan paling hanya bintang jasa atau ditawarkan menjadi PNS.

Seorang atlet harus cermat saat memilih jalur profesional. Saat ini hampir semua cabang olahraga sudah beralih menjadi profesional. Bulu tangkis, bola voli, tenis, atletik, basket, apalagi sepak bola semua sudah menjadi profesional. Tentu dengan risiko yang tidak sedikit dan pengorbanan yang tidak mudah. Atlet profesional tidak bisa disambi dengan profesi yang lain.  

Menjadi atlet profesional artinya mengelola diri sendiri dibantu dengan beberapa tim ahli untuk mengikuti berbagai lomba atau kejuaraan yang tidak ada habisnya sepanjang tahun. Terlebih jika sudah level dunia, atlet tersebut bisa jadi harus bermukin di luar negeri.

Seorang atlet profesional bukan hanya tentang dia mengikuti kejuaraan, tapi juga bagaimana dia mengatur jadwal pertandingan dan mengatur penghasilan. Sebab dari mengikuti kejuaraan itulah sang atlet mendapatkan uang. Maka selain membutuhkan tim pelatih, atlet profesional pun membutuhkan tim manajemen yang baik. Seorang atlet bertaraf internasional memang pengeluarannya bisa mencapai angkat puluhan bahkan ratusan juta. Tapi itu akan sebanding jika penghasilan yang didapat dari berbagai kejuaraan dan sponsor pun berjumlah besar.

Namun sayangnya hal seperti itu belum dilakukan sebagian besar atlet nasional. Hanya ada beberapa atlet yang sudah benar-benar profesional. Baru sebatas seperti, bulu tangkis dan balap formula. Atlet sepak bola nasional pun sebagain besar masih berada di level kompetisi lokal.

Bisa jadi keengganan atlet benar-benar manjadi profesional disebabkan tidak mau meninggalkan keluarga, masih sibuk bekerja di bidang lain, dan sebagainya. Di luar negeri, banyak atlet memutuskan menjadi profesional jauh-jauh hari. Saat masih di bangku SMA sudah memutuskan menjadi atlet profesional. Berbagai tawaran beasiswa bidang olah raga pun banyak diberikan di sana.

Sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada kemajuan olahraga. Jika tidak diperhatikan bisa jadi Indonesia akan kehabisan atlet hebat. Bakat-bakat hebat yang dimiliki bangsa akan hilang begitu saja. Anak-anak muda akan memilih menekuni bidang lain yang lebih menjanjikan masa depan. Tentu amat disayangkan. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Semua ini kembali kepada goodwill dari pemerintah. Selama pemerintah tidak menjadikan olahraga sebagai prioritas dalam menata manajemen pemerintahan, selamanya akan seperti ini. Olahraga hanya akan berjalan seadanya. Sebaliknya jika ada goodwill pemerintah maka segala A to Z akan mendapat dukungan kebijakan yang lebih baik.

Di luar negeri, seperti Jepang, Korea, China dan sebagainya sudah ada kebijakan yang memberikan penghargaan kepada atlet berdasarkan prestasi. Level asia tentu berbeda dengan level dunia. Penghargaannya  bukan sekedar uang bahkan hingga jaminan masa depan mereka terima. Jadi bukan hanya piagam dan tepuk tangan.

Atlet adalah profesi yang tidak bisa dilakukan sebagai sambilan. Seorang atlet umumnya beralih profesi saat memasuki hari tua, saat merasa sudah tidak mampu bersaing di gelanggang. Nah ketika sudah turun gelanggang jika tidak ada goodwill pemerintah maka seorang atlet tidak lagi mempunyai ‘pegangan’.

Umumnya saat memasuki masa pensiun, seorang atlet akan menekuni dunia kepelatihan. Untuk menjadi seorang pelatih diperlukan sertifikasi dan rekam jejak yang jelas. Bukan sekedar mengikuti kursus dan lalu selesai. Untuk itu diperlukan goodwill yang jelas dari pemerintah. Artinya pemerintah menempatkan olahraga sama pentinya dengan pertanian, kesehatan, dan lain-lain. Jika hal ini sudah dilakukan maka penataan manajemen olahraga, termasuk juga tentang kepelatihan, akan dapat dikelola dengan lebih baik.

Sayangnya, goodwill itu belum ada. Pemerintah belum melihat olahraga sebagai sesuatu yang penting. Contoh nyata adalah kompetisi sepak bola di Indonesia. Saat ini semua klub peserta liga 1 dan 2 sudah profesional, bebas dari APBD dan dikelola secara mandiri oleh pihak swasta. Namun sayangnya saat akan bertanding harus mendapatkan izin keramaian yang kadang menjadi kendala. Belum lagi kendala yang lain, seperti izin masuk pemain asing dan sebagainya.

Pemberian goodwill ini bukan berarti menganakemaskan olahraga tapi mari kita lihat sesuatu dibaliknya. Dalam olah raga tidak ada batasan suku, agama, dan sebagainya. Semua menyatu dalam olahraga. Selain itu ada kepatuhan dalam olahraga. Siapa pun yang melanggar aturan dikenakan sanksi, kartu kuning, kartu merah dan lain-lain. Artinya olah raga bisa menjadi simbol pemersatu dan pengihibur bangsa.

Olahraga juga berguna bagi perkembangan generasi muda. Terlebih saat ini minat generasi muda, khususnya usia sekolah terhadap olahraga sangat besar. Orang tua pun senang jika anaknya mempunyai kegiatan yang positif dan berprestasi. Namun jika tanpa dukungan pemerintah maka bakat-bakat itu bisa hilang. Generasi muda akan memilih profesi lain yang lebih memberikan jaminan masa depan.

Padahal berbagai event olah raga dunia, seperti sepak bola, basket, motoGP, F1, dan lain-lain selalu menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Tapi sayangnya kita hanya jadi penonton. Kapan kita bisa jadi pelakunya? Ayo kita ubah hal itu.

Saat ini seluruh insan olah raga menunggu goodwill pemerintah. Tinggal kapan pemerintah mengajak insan olah raga duduk bareng membicarakan masa depan olahraga.

Asian Games sudah di depan mata. Perhatian dunia pasti tertuju pada kita. Indonesia juga berpeluang menjadi penyelenggara Piala Dunia 2022 setelah Qatar terancam batal menjadi tuan rumah. Dan jangan lupa Olimpiade 1934. Pertanyaannya, kita mau atau tidak? (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi